
Waktu terus berlalu...
Bertahun-tahun berada jauh dari Vina, tak membuatku bisa menghapus rasa ku padanya, meski secuil saja.
Bahkan setiap hari, rasa ini bertambah kuat mengakar, rindu terus terpupuk, dan cinta masih melekat erat.
Kini Aku bukan lagi Mahasiswa yang kesana kemari menawarkan bisnisku disekitaran kampus,
Selepas wisuda dan menyandang gelar sarjana, Aku malah tak tertari untuk ikut berlomba-lomba mencari kerja, dengan bekal tabunganku selama menjadi mahasiswa berotak bisnis, Aku mencoba membuka bisnis distro kaos anak-anak muda, dan Aku bersyukur pilihanku di dukung penuh Mama dan dan kedua saudaraku.
Satu tahun berjalan, ide bisnis ini ternyata berkembang dan mulai dikenal oleh anak-anak muda, hal itu membuatku semangat membuka cabang-cabang baru, bahkan tak hanya di Samarinda, kota-kota besar lainnya juga termasuk Palembang kota kelahiranku. Hal itu yang membuatku memutuskan untuk mengajak Mama kembali ke Palembang dan menetap, selain karena memang kota kelahiran, Vina juga menjadi alasanku untuk kembali.
Setelah merambah dunia fashion, Aku melebarkan bisnisku dengan coba-coba membuka kafe, dan sama halnya dengan Distro milikku, kafe pun kini menjamur dimana-mana.
Setiap hari kusibukkan diri dengan segala macam kegiatan, agar Aku tak terlalu memikirkan kisah cinta yang masih belum ada ujungnya, hal ini juga yang kini selalu menjadi topik utama dikeluargaku ketika mengobrol mengingat usiaku yang sudah matang, namun belum sekalipun mengajak perempuan untuk dikenalkan pada mereka.
Pagi minggu, rasa rindu membuat Aku ingin bertemu.
"Haloooo... Gung,"
sapanya ketika Aku menelpon.
"Hai.... Selamat pagi kesayangan... pasti belum mandi"
"Kok tau, hehehe"
"Taulah,, kan udah biasa... hahaha"
"Kenapa nelpon pagi-pagi gini?"
"Mandi gih, dandan cantik,, Aku mau ngajak ngedate"
"Ngedate? kemana??"
"Terserah deh,, pokoknya keluar dulu, nanti kita omongin lagi dijalan.., buruan ya.... Aku luncuran,, Aku rindu!!!"
Diusia yang sudah matang, Aku tak pernah lagi menahan apa saja yang ingin Aku utarakan termasuk kata-kata rindu, cinta dan kasih sayang kepada Vina, sudah cukup selama ini Aku menahannya.
Aku tak peduli lagi akan seperti apa tanggapan Vina terhadapku.
Bahkan selama ini, Vina tau.. bahwa Aku masih mengharapkannya, dan menutup hatiku untuk cinta yang lain.
Klik!!
Panggilan dimatikan,
Aku tiba didepan rumah Vina yang sebelumnya Aku sempat mampir ke steam untuk cuci mobil terlebih dulu, Aku ingin semuanya sempurna dimata Vina.
"Cie... tumben kinclong,"
Ledeknya sembari menunjuk mobil dengan lirikan mata.
"Iya donk... kan yang mau dijemput gak suka kalo dekil"
"Mau masuk dulu??"
Tanyanya.
"Langsung aja yuk, pamit dulu sama Mama"
ujarku.
Usai berpamitan, kami berdua meluncur meninggalkan rumah, tanpa tau kemana tempat yang akan dituju.
"Ehm... sebenernya, kita mau kemana sih?"
Tanyanya di sela-sela alunan musik slow yang tengah diputar didalam mobil.
Aku menoleh kemudian tersenyum.
"Aku belum dapat ide, menurut kamu.. enaknya kemana?"
tanyaku balik.
"Ehm.... Situ yang ngajak ngedate, tapi malah situ yang bingung"
Vina melengos.
__ADS_1
"Dih... ngambek Non?"
Dengan lembut kuraih tangannya dan menggenggamnya, lalu sebuah kecupan mendarat di punggung tangan lembut itu.
"Jangan ngambek ya,, maaf... Habisnya Aku gak paham, tempat tongkrongan yang asyik, mau ke Kafe Aku, kamu selalu nolak kan?"
"Gimana kalau kita nonton bioskop aja, kebetulan kabarnya ada film romantis, siapa tau kamu bisa terbawa suasana dan......"
"Dan apa??!"
Sambung Vina cepat.
"Dan.... bisa romantis juga sama Aku hehheh"
Mendengar itu, Vina lantas menarik tangannya dan mencebik.
"Vin, kamu harus tau,, perasaanku masih belum berubah,, tetap menunggu seperti dulu"
Ujarku tanpa menolehku dan tetap fokus pada kemudi.
Vina terdiam menarik nafas,
"Gimana, setuju?
Tanyaku lagi.
lalu Vina mengangguk,
" Serius?? Kita jadian??"
jawabku cepat.
Mendengar itu, Vina menoleh dengan memicingkan mataku kearahku.
"Eeh, itu.. maksudku serius kita nonton?? hehhehe"
Aku tertawa lalu buru-buru merevisi kalimatku ketika lirikan tajam itu menyorot kearahku.
Mobil melaju kearah Mall 21.
Tiba di pelataran parkir Mall,
ujarku, mencegahnya ketika hendak membuka mobil, dengan cepat Aku turun dan dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan turun kesayangan....."
Vina hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala menanggapi perlakuanku pagi ini.
Pelataran parkir masih nampak kosong, hanya ada beberapa mobil saja disana, mungkin karena ini masih pagi, belum banyak pengunjung yang datang.
Baru saja beberapa langkah kami meninggalkan mobil, mataku melihat perempuan bertubuh bulat yang wajahnya masih sangat Aku kenal.
"Eh... bukannya itu gemoy... ya??"
Aku menunjuk kearah sepasang suami istri yang baru saja turun dari mobil hitam dengan dua anak kembar.
"Oh... iya, itu Nina sama keluarganya"
Ujar Vina,
"Samperin yuk..."
Ajakku menarik lengan Vina.
Vina mengangguk tersenyum.
"Nin....Nina.....!!"
Seru Vina kemudian melambai ketika Nina menoleh.
"Haiiiiii Aunty Vina....."
Jawabnya sembari melambaikan tangan Balita yang berada didekapannya.
"Halo twins....,,"
Sapa Vina segera mengambil alih salah satu anak kembar Nina lalu menggendongnya.
__ADS_1
"Ini siapa nih.... yang Aunty gendong??"
Vina menatap gemas Baby Twins.
"Rania Aunty...."
Jawab Nina.
"Lagi mau jalan-jalan ya Twins??, iya?? aduh..duh...duhh.. cantik banget cihh... gemooyyy kayak Miminya nich...."
Tak henti-hentinya Vina mentoel pipi gembul Baby Twins Rania yang tengah ia gendong.
"Udah pantes kok Vin.. mau gak?"
Bisikku dekat telinganya sedikit menyenggol bahunya.
"Mau apa?!"
Tanya Vina bingung sembari mengernyitkan dahi.
"Punya Baby?"
Jawabku pelan setengah berbisik.
"Cie... ada yang pingin punya Baby... buruan Kak, ditunggu undangannya"
Sambung Nina.
"Bukan lagi Nin, pengen banget malah, tapi sayang... Ibu Baby nya belum siap..wkwkw"
Aku tertawa sembari melirik Vina.
Mendengar penuturanku, Suami Nina merespon.
"Loh.. kok bisa belum siap??"
Tanyanya, membuat Nina dan Vina saling pandang lalu tersenyum geli.
"Maksudnya Kak Agung, Dia belum punya calon buat Jadi Ibu dari Babynya Pi..."
Nina menjelaskan sementara Suaminya hanya mengangguk bingung
"Vin, terima lamaran Aku ya... trus kita nikah, trus bikin Baby twins"
Bisikku lagi membuat
Vina terperangah, matanya membulat seiring mendaratnya cubitan maut di pinggangku.
Setelah obrolan pendek itu, Kami berjalan masuk Mall bersama-sama.
"Eh... Iya Vin, beberapa hari yang lalu, Aku ketemu Dirga"
ucapan Nina jelas sekali masuk ke telingaku.
Mendengar itu, Aku menatap Nina kemudian beralih menatap Vina, kulihat wajah tegangnya,
Jelas sekali nampak bahwa Vina masih sangat berharap akan kehadiran Dirga dihidupnya, meski sudah bertahun-tahun lamanya tanpa kepastian.
Hati ku rasa tergores,
Tapi Aku bisa apa?
hanya menelan ludah berharap hatiku akan baik-baik saja jika suatu hari Dirga memanglah jodoh untuk Vina.
" Eeh, maksudnya bukan ketemu sih,, lebih tepatnya melihat.."
Nina memperjelas ucapannya.
"Dimana?"
Tanya Vina dengan suara bergetar.
"Di.... Baby... shop"
Jawab Nina terbata.
Aku sedikit terkejut mendengar tempat itu, bukankah itu toko perlengkapan Bayi, untuk apa Dirga kesana?
__ADS_1
Apa jangan-jangan???
Bersambung***