
Hari berlalu, meski bayang-bayang Dirga terus saja hadir disetiap langkahku, namun hidup harus terus berjalan, Aku tak bisa merenungi dan meratapi penyesalan tentang mengapa kala itu tak kuungkap saja terus terang tentang hati dan perasaan yang sesungguhnya.
Seragam putih biru telah kutanggalkan, dan hanya menyisakan sepotong kenangan yang tetap melekat hingga kini di dunia putih Abu-abu yang tak terasa 2 tahun sudah kujalani.
Kini semkin banyak perubahan yang tengah terjadi di hidupku,
Tentang sikap dan kedewasaan yang terus menerus semakin kuperbaiki.
Aku melangkah menatap diri yang semakin tampak berbeda.
Tubuhku yang kini mulai sedikit berisi, rambut yang semakin panjang sepinggang.
Aku menatap cermin di depanku, memperhatikan pantulan diriku sendiri sebelum berangkat kesekolah.
"Dirga... Apakah kamu masih mengingatku? Atau telah lama melupakanku?"
Hahhh... Aku membuang nafas, lalu mengerjabkan mataku ketika dering ponselku berbunyi.
"Agung..."
Ujarku girang.
"Halooo, orang sombong!!"
Sapaku cekikikan
"Yah... Payah!! Baru juga ngangkat telpon langsung di sambut kata-kata gak enak, salam dulu kek!"
Gerutunya dari sebrang sana.
"Iya deh... Assalamualaikum orang sombong!!!"
Candaku lagi.
"Ehmm... kamu apa kabar??"
"Baik dan makin cantik pastinya!"
ujarku sombong.
"Hah.. mulai... Eh, gak sekolah?"
"Sekolah donk... ini mau berangkat, kenapa jarang telpon?"
Cecarku setelah hampir beberapa bulan ini putus komunikasi dari Agung yang sebelumnya rutin menjadi teman curhatku.
"Iya.. Maaf ya, Aku sibuk, kenapa? rindu ya??"
godanya.
"Iya lah... Aku tu selalu rindu kamu!!!"
Ujarku yang mungkin membuat Agung berbunga bunga atau malah membuatnya ingin muntah.
"Minggu depan kita ketemu ya..."
__ADS_1
"Hah... serius??! kamu gak lagi bercandakan??"
"Enggak lah, Aku serius.. kuliahku sedang libur.. Aku Akan liburan satu minggu di sana,, dan Aku ingin menghabiskannya denganmu"
"Oke... iya..tau deh yang sekarang udah mahasiswa.."
Ledekku.
Tak berapa lama, Aku menutup sambungan telepon dan berangkat kesekolah.
Di SMA ini yang kurang lebih satu tahun lagi kujalani, tak terlalu banyak sahabat yang kumiliki, bukan tak ingin bergaul luas tapi menurutku tak ada yang lebih tulus dari sahabat- sahabat kecilku yang polos, di masa SMA, pertemanan sudah tak setulus itu lagi, sudah semakin banyak drama dan kemunafikan yang menyertai.
Hal itu yang membuat Aku tetap bertahan dengan hanya beberapa teman saja.
Mereka itu adalah Nina sahabat putih biru, sementara Daniel, Tari dan Elza adalah Sahabat merah putihku yang dipertemukan lagi di putih abu-abu. Mereka saja sudah cukup untuk ku, tak perlu banyak-banyak sahabat yang terpenting adalah kualitas persahabatannya.
Jam Istirahat tiba, semua siswa berlarian menuju kantin.
Begitupun Nina dan Elza yang terus menarik- narik lenganku mengajak makan mi rebus.
Sementara Aku dan Tari masih sibuk merapikan meja.
"Buruan Vin, Tar... lelet banget sih.. !"
Gerutu Elza.
"Iya nih, keburu padet kantinnya... !"
Nina menimpali.
"Sabar donk... Emangnya sudah selaper itu ya??"
Aku hanya nyengir menyaksikan perdebatan yang selalu saja terjadi di jam istirahat.
Daniel menghampiri kami,
"Yuk "Ajaknya singkat.
Daniel adalah satu-satunya Anak laki-laki yang sering ngintilin kami, bukan berarti Ia tak memiliki teman melainkan memang kamilah prioritas utamanya.
Di kantin, Aku yang duduk disebelah Tari tak sengaja melihat layar ponselnya yang tengah terbuka, nampaknya Tari sedang sibuk menguploud foto di media sosialnya.
Netra mataku melebar ketika menangkap gambar seseorang yang kukenal diantara beberapa orang di gambar tersebut.
"Tar.. itu foto apa?"
Tanyaku mulai mendekatkan kepala mencoba meyakinkan penglihatanku.
"Oh... ini, minggu tadi ada pertandingan voli antar RT di tempat tinggalku, ini teman-teman dekat rumah"
Jawaban Tari mengingatkanku kembali pada daerah tempat tinggal Dirga yang pernah Dia katakan kalau Dia akan tinggal di rumah saudaranya.
"Bukankah daerah itu adalah daerah tempat tinggal Tari?"
Tanyaku sendiri dalam hati.
__ADS_1
"Ahh... kenapa tak kusadari hal itu sejak dulu!!"
Aku kembali berkata dalam hati.
Sementara Tari sendiri sengaja memilih sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya karena memang ingin lebih lama diperjalanan, Tari paling suka berkendara dengan motornya saat awal pagi, menikmati tiap titik embun yang masih basah dengan udara lembab, begitulah penuturan Tari kepadaku waktu Aku bertanya padanya ketika pertama kali memutuskan sekolah di SMA yang sama denganku.
Aku bertambah yakin, bahwa benar yang baru saja kulihat adalah Dirga.
"Ehm... boleh Aku lihat sekali lagi?"
Tanyaku menadahkan tangan pada Tari.
"Nich..."
Tari memberikan ponselnya padaku.
"Ehm... Tar, benar gak sih ini namanya Dirgantara?"
Tanyaku sembari menunjuk salah satu wajah di foto tersebut.
"Kamu kenal?"
Pertanyaan Tari membuatku menarik nafas dan menghembus lega, itu artinya tebakanku benar, bahwa foto tersebut benar Dirga.
"Berarti benar ini Dirga?"
Desakku lagi.
Tari mengangguk dengan sedikit heran lalu menatap wajahku yang tegang.
"Kamu belum jawab, emangnya kamu juga kenal Dirga?"
Aku mengangguk pelan sambil tetap memandang lekat-lekat foto di ponsel Tari.
"Dia... Teman waktu Aku Smp."
Jawabku.
"Ehm... Iya Dia tinggal di sebelah rumah ku, baru juga sih.. Dia tinggal sama Pamannya."
Jelas Tari.
"Iya, Dia terpaksa tinggal disana karena orang tuanya kerja berpindah-pindah Kota"
Tari kembali menatapku.
"Kamu tahu banyak tentang Dirga? Apa dia pacarmu?"
Aku tersentak kaget mendengar todongan pertanyaan dari Tari.
Aku menggeleng,
"Aku dan Dirga hanya dekat, tak ada status apa-apa.. semenjak lulus kita tak pernah berkabar lagi, Ehm... apa boleh Aku menitipkan surat untuknya sama kamu Tar?"
Dengan spontan kucetuskan ideku pada Tari.
__ADS_1
Dengan senyum khasnya Tari mengangguk.
Bersambung***