Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 200 Ini Berat....


__ADS_3

Ayah.... Ibuk,, sedang apa kalian disana?


Seminggu sudah berlalu sejak kepergian kalian yang begitu mendadak,


Aku masih bergelut dengan duka,, bahkan air mata tak henti mengalir setiap kali mengingat hari itu,,


Aku bukannya cengeng Yah... Aku juga bukan Anak laki-laki yang lembek,, hanya saja hatiku terasa remuk, setelah kalian tinggalkan... Aku rapuh.. Aku terus saja berusaha untuk lebih kuat,, tapi Aku gagal.. jiwaku semakin terkoyak ketika mengingat kini Aku sendirian berjalan dalam suramnya kenyataan.


Bagaimana ini Yah...?? Bagaimana Aku harus berjuang menjadi Anak laki-laki kuat dan tangguh seperti yang kalian harapkan jika harapan itu adalah senyuman kalian yang seumur hidup tak kan bisa lagi kusaksikan.


Aku terlalu lemah untuk berpura-pura kuat,,


Ayah... Ibuk,, minggu depan Aku masuk SMA,, bahkan seragam putih abu-abu yang sempat kalian janjikan pun tak sempat kalian belikan apalagi untuk melihatku mengenakannya...


Ayah... Ibuk,, katakan bagaimana Aku harus hidup sekarang,, jika untuk melangkah saja rasanya kedua tungkai kakiku begitu sangat lemas.


Aku seperti patah arang,, hilang arah dan tujuan...


Tok.. tok... !!


Abi....!


Panggilan dari luar kamar menyadarkanku dari ratap kesendirianku.


Beranjak dari kursi dan berjalan membuka pintu kamar yang entah sejak kapan terkunci rapat.


Bahkan Aku tidak keluar dari kamar meski sekedar untuk makan dan mandi.


Tak peduli seberapa lengketnya tubuhku,, dan seberapa perih laparnya perutku,, bagiku tak ada yang lebih sakit dari kehilangan kedua malaikat nyata dalam hidupku.


Klek!


Aku kembali berbalik menuju tempat tidur setelah membuka kunci pintu kamar.


Bik Umi dan Paman Usman masuk dan berjalan mendekatiku perlahan duduk di sampingku.


Tangan Bik Umi mengusap kepalaku yang tertunduk.


"Abi,, sampai kapan kamu seperti ini,, percayalah Ayah dan Ibu mu akan sangat sedih dan kecewa melihat kamu seperti ini Nak,, kesedihan ini tak akan hilang jika kamu terus mengurung diri,, yang ada kamu akan sakit,, keluar ya Nak... mandi,, makan kita hadapi semua sama-sama"


Elus Bik Umi sekali lagi di bagian pundakku.


Membuat sejuk hatiku.

__ADS_1


"Bibik Mu benar Bi.... Ayahmu ingin melihatmu semangat,, disana Dia pasti bangga ketika melihat kamu sukses,, tidak seperti ini,, kita semua sedih dengan kehilangan ini,, tapi.. kehidupan tidak berhenti hanya sampai disini,, kehidupan harus tetap berjalan, masa depanmu masih panjang Bi... dan kamu harus buktikan itu pada kedua orang tuamu,, kalau kamu akan terus menjadi Abi sesuai harapan mereka Abi yang kelak bisa sukses seperti impian mereka"


Ucapan Paman Usman membuatku mengangkat kepala, menatapnya.


Paman Usman memberiku senyum semangat,


kata-kata Paman Usman ada benarnya,, Aku tak boleh terus-terusan seperti ini.. Aku ingin buat Ayah dan Ibuk bangga.


"Keluar ya Nak.. mandi dulu,, Bibik sudah panaskan Air untuk mandi,, mandi air hangat biar sedikit bisa menenangkan,, setelah itu sarapan,, nanti siang akan ada pengajian"


Jelas Bik Umi.


Aku mengangguk, Bik Umi dan Paman Usman menuntunku untuk keluar kamar,,


Sedikit terhuyung saat melangkah, kepalaku terasa pusing dan tubuhku terasa sangat lemas.


Sudah seminggu ini,, hampir tak ada nasi yang masuk keperutku, dan sudah seminggu pula Aku tak mandi.


Bik Umi mengantarku ke kamar mandi, sementara Paman Usman menyiapkan satu ember besar air hangat untuk Aku mandi.


"Mandilah... bersihkan dirimu,, Kami tunggu di meja Makan"


Ucap Bik Umi sebelum pintu kamar mandi kututup.


Tanpa menunggu lama, segera kuguyurkan Air hangat diatas kepalaku hingga membasahi seluruh tubuh, terasa hangat mengalir hingga keujung kaki.


Seketika rasa segar mengalir disekujur tubuhku, terasa nikmat dan hangat.


10 menit berlalu,


keluar dari kamar mandi dengan badan lebih segar, berjalan menuju kamar sepintas kulihat Paman Usman, Bik Umi, Cia dan Bella sudah menungguku di meja makan.


Kupercepat langkahku menuju kamar, untuk berganti pakaian,


didepan cermin, kutatap sendiri wajahku, mata yang terlihat sayu dengan kantung mata yang menghitam dan bibir pucat akibat dari berhari-hari tidak tidur.


"Aku harus kuat,, tak boleh seperti ini.. Aku laki-laki tak boleh cengeng!!"


Ujarku lirih, lalu keluar menuju meja makan.


"Selamat pagi Abiiiiiii!!!"


Sapa nyaring Cia dan Bella menyambut kedatanganku.

__ADS_1


Aku tak menjawab, hanya senyum dan anggukan kecil saja, lalu duduk disebelah Cia.


"Abi,, jangan sedih lagi ya.... kita semua janji,, Abi tak akan pernah kesepian,, kan ada kita..."


Ujar Bella menghiburku.


Lagi-lagi Aku hanya mengangguk.


Sarapan berlangsung hening, tanpa canda tawa seperti biasanya, hanya ada beberapa kali celoteh Bella yang tak disambut membuat Bella akhirnya memilih diam serius dan tak berisik.


Acara pengajian untuk Almarhum dan Almarhumah berjalan lancar, satu persatu tamu meninggalkan kediaman Paman Usman dan Bik Umi.


Tinggal beberapa tetangga saja yang masih tinggal untuk membantu Bik Umi berberes.


Aku berniat kembali ke dalam kamar.


"Abi....!"


Panggilan Cia menghentikan langkahku,


Aku menoleh.


"Abi,, udahan sedihnya ya... Kami rindu seorang Dirgantara Abinata yang ceria seperti dulu,, yang selalu bercerita tentang semua isi hatinya,, yang selalu jadi pelindung untuk Cia dan Bella"


Cia merangkulku,, begitupun Bella yang berlari mendekat kearah kami.


Aku menarik nafas panjang kemudian mencoba tersenyum untuk dua saudaraku itu.


"Abi,, kata Ayah... besok kita beli perlengkapan sekolah ya... Abi mau kan?"


Tanya Bella.


Aku mengangguk.


Menjelang malam,


Berbaring ditempat tidur dengan mata terbuka menerawang jauh menembus langit-langit kamar.


Masih seperti mimpi bahwa Aku harus menerima kenyataan bahwa kini Aku menyandang status yatim piatu.


Aku janji,, mulai besok ketika Bagun dari tidurku nanti... Aku harus lebih kuat,, lebih semangat dan lebih dewasa lagi..


Mataku terasa begitu berat, tubuhku lelah dan entah menit keberapa akhirnya Aku terlelap.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2