Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 37 Wejangan Tari


__ADS_3

Aku berjalan sangat cepat, sesekali kupaksakan kakiku untuk berlari kecil menuju kelas, kutinggalkan Daniel yang masih berdiri terpaku dengan tatapannya yang entah tak kumengerti.


Hanya saja, ada rasa yang seharusnya tak ingin Aku pikirkan yang terus saja menggodaku.


"Uhh... jangan sampe... jangan sampe... jangan sampeee"


Ucapku berulang begitu tiba dikelas.


"Vin, apaan yang jangan sampe?"


Tanya Elza bingung.


"Ehh... itu Anu.. hahha.. gak tau!!"


Jawabku asal.


"Ihh.. kamu makin aneh deh say.... kamu sakit? Kamu panas?"


Elza mendekat dan meraba-raba jidatku.


"Oh.. em..jiiiii... Vina demam???"


Seru Nina dari depan pintu, kemudian berlari menghampiriku.


"Eng... tapi, kok gak panas?"


kini giliran Nina yang ikut-ikutan meraba jidatku.


"Ih... Apaan sih, siapa yang demam, Aku sehat udahhhh ya... "


Aku menepis tangan Nina dan Elza.


Tari yang menyaksikan tersenyum simpul.


Tak lama berselang,


Daniel masuk kedalam kelas,


Kami sempat beradu pandang namun buru-buru kualihkan pandanganku dan berpura-pura sibuk.


"Vin, soal yang tadi... Aku minta maaf ya"


Tak kusangka Daniel menghampiri mejaku dengan mengulurkan tangannya didepan mukaku.


Aku hanya mengangguk, tanpa menolehnya dan tanpa menerima uluran tangannya.


Menyadari bahwa Aku tak merespon tangannya, Daniel menarik kembali tangannya dan berjalan meninggalkan mejaku.


"Ih... serem, kok ada yang aneh sich, pada ngerasa gak sih Tar, Nin?"


Celetuk Elza membuatku membalik badan mwnatapnya yang berada tepat dibelakang mejaku.


"Aneh apanya?"


Tanya Tari.


"Itu, yang barusan! Kok Vina ma Daniel dingin gitu, kalian berantem ya Vin?"


Tanya Elza.


"Vin emang beneran Kamu lagi berantem sama Daniel?"


Sambung Tari.


Aku menatap Tari dan menggeleng.


"Lah... itu tadi??"


"Apanya??"


"Itu, tadi kok Daniel minta maaf gitu?"


"Ohh... itu cuma salah paham dikit kok"


Jawabku bersikap biasa saja.

__ADS_1


Nina dan Elza manggut-manggut dengan menatap Aku dan Daniel bergantian.


"Tar... Aku mau nanya dong..."


Aku akhirnya memberanikan diri bertanya pada Tari pasal Dirga mumpung Guru belum datang.


"Nanya apa? tanya aja Vin.. kayaknya penting banget"


Tari melepaskan buku dari tangannya dan berbalik menghadapku.


"Ehm.. Tar, kenapa ya... kok Dirga belum balas suratku, Apa Dia lupa sama Aku ya?"


"Wah... kalau itu, Aku kurang tau Vin, setelah ngasih surat kamu, Aku gak banyak omong langsung pulang. Mungkin Dia sibuk jadi belum sempat"


Jawaban Tari sedikit memberiku harapan baru, Tari benar mungkin belum sempat balas.


"Ehm, Vin, emangnya Dirga dan Kamu dulu sempat pacaran atau gimana sih.."


Tanya Tari.


Mendengar itu, Aku terdiam untuk beberapa saat, dan berpikir.


"Apa kuceritakan saja semuanya pada Tari"


"Vin...."


Sapa tari yang melihatku bengong.


"Ehm... gimana ya Tar, sebenarnya antara Aku dan Dirga itu gak ada apa-apa, tapi kami dekat bahkan sangat dekat, uniknya meski tak ada jalinan, kami memiliki rasa rindu jika tidak bertemu, dan anehnya kami juga bisa merasakan cemburu."


Aku bercerita sembari mengenang masa laluku kala itu.


Tari terlihat sangat antusias mendengarkan Aku bercerita, sesekali terdengar Dia mengatur nafasnya.


"Lalu, kenapa kalian tak jadian saja?"


Pertanyaan Tari membuat Aku menelan ludah,


"Entahlah Tar, Dirga tak pernah membahas hubungan kami, Dia juga tak pernah menyinggung soal perasaannya padaku atau sebaliknya. Dirga hanya memberiku segala perlakuan manis, kata-kata manis dan tindakan-tindakan spontan yang membuat Aku berdebar"


Aku seperti tengah larut dalam hangatnya rindu, meski hanya bercerita tentang kisahku dan Dirga.


Aku terperangah mendengar penuturan Tari barusan.


"Apa?? Nembak duluan, gak mau lah Tar, mana bisa kayak gitu.. Aku malu"


Aku menundukkan kepalaku,


Tari ada benarnya, kenapa saat pertemuan terakhir hari itu tak kubilang saja kalau Aku sayang Dia, mungkin kejadiannya tak kan seperti sekarang.


"Dari pada gini, gak jelas.. ini namanya menggantung"


Volume suara Tari yang agak naik satu tingkat membuat Elza dan Nina memanjangkan telinganya.


"Hah... siapa yang digantung??"


Tanya Nina,


"Apa?? ada yang bunuh diri??"


Elza yang selalu gagal faham beranjak dari bangkunya mendekat pada kami.


"Sssttt... gak ada yang digantung, apalagi sampe bunuh diri!! Udah ya.... silahkan kembali ketempat duduk masing-masing"


Ujarku tersenyum geli.


"Ehm.. Tar, kamu ada nomor ponsel Dirga? "


Tanyaku penuh harap.


Tari menggeleng.


Mulutku mengatup kecut,


"Ehm... Kalau akun media sosialnya kamu tau?"

__ADS_1


Tari juga menggeleng.


"Dirga tidak main medsos kayaknya.."


Jawab Tari membuat Aku menghela nafas putus asa.


"Aku coba tulis surat lagi buat Dia boleh?"


Tanyaku pada Tari.


Tari mengangguk.


Namun baru beberapa kata tertulis, Aku memutuskan untuk mengurungkan niatku.


Melihat Aku meremas kertas surat yang baru kutulis.


Tari memainkan alisnya bertanya.


Aku menggeleng.


"Gak usah ajalah Tar, biarin aja.. kalau Dia ada hati suatu saat Dia tidak sibuk, Dia pasti membalas suratku."


Ujarku meski hatiku terasa sekali kosong.


"Oke deh, ntar kalau pulang sekolah hari ini Ketemu Dia ntar aku tanyain balasannya ya"


Ujar Tari.


"Makasih ya Tar,"


Aku memeluk Tari, bagiku Dia adalah sahabat terbaik lebih dari saudara yang selalu saja ada dan bisa menjaga rahasiaku.


Melihat Aku dan Tari saling rangkul, Nina dan Elza buru-buru mendatangi kami dan segera merangkul kami.


Indahnya persahabatan kami yang sering disebut teman- teman lain sebagai paket lengkap.


Mendekati jam pulang,


Sebuah pesan kuterima.


"Vina cantik, Abang udah teronggok di depan gerbang"


Sebuah pesan yang membuat Aku nyengir, Agung selalu saja bahasanya aneh.


"Siapa? Kok senyum-senyum gitu?"


Tanya Tari.


"Agung, yang kemarin Aku kenalin kekamu"


"Oh, Aku pikir dia Pacar kamu,"


"Bukan, dia teman, sahabat dan saudara bagiku"


Jawabku.


"Kamu yakin, Dia juga menganggapmu seperti itu? Melihat dari bagaimana cara dia memperlakukan kamu, Aku tau kalau sebenernya Dia inginkan hal yang lebih"


Tari seperti tengah membuka pikiranku.


"Kenapa kamu diam?? Apa sebenarnya kamu sudah tau kalau sebenarnya Dia gak mau cuma kamu anggap saudara?"


Tari lagi-lagi mencecarku dengan wejangan dan pertanyaan yang sulit kujawab.


"Kenapa kamu gak buka aja hati kamu buat Dia, orangnya keren, gak kalah tuh dari Dirga"


Ledek Tari kali ini sembari tertawa.


Aku menarik nafas dalam, Tari benar Bahkan Agung sudah sangat sering bilang perasaannya terhadapku namun selalu kutanggapi dengan candaan.


Hal itu sebab hatiku sudah terisi satu nama, dan itu abadi sampai detik ini.


Agung saja sudah membuatku pusing, dan tambah hari ini, sikap aneh Daniel cukup membuat Aku merinding.


Semoga saja Apa yang kurasakan adalah salah, Daniel tak memiliki rasa apa-apa padaku agar hubungan kami tidak canggung dan persahabatan ini tetap akan baik-baik saja.

__ADS_1


Sebab sampai detik ini.. tak ada satu namapun yang bisa menggeser posisi Dirga dari hatiku.


Bersambung***


__ADS_2