
Selesai makan, hari sudah mulai gelap, Aku melirik jam tangan yang menunjukkan pukul tujuh malam, setelah obrolan pendek disertai candaan-candaan ringan, kami semua pisah di depan mall 21,
Kini tinggal Aku dan Vina, yang masih berdiri di area parkiran,
Kuraih tangan Vina, untuk ku gandeng menuju motor yang terparkir.
"Yuk pulang,"
Ajakku padanya, sempat kulirik wajah kaget Vina, yang terbelalak menatapku bingung, namun tak ada respon lain seperti marah atau menarik kembali tangannya, hal itu membuatku berpikir ini kesempatan baik untukku sedikit demi sedikit akan membuat Vina nyaman dan siapa tau bisa membuka hatinya untuk luluh dan menerimaku.
Sampai di parkiran, Aku memasangkan helm dan menyuruhnya segera naik di atas sepeda motor.
Aku juga juga menarik lengannya melingkar di pinggangku, semua kulakukan dengan jantung yang berdetak tak beraturan, begitupun hati yang terus berdebar-debar, Satu hal yang paling kutakutkan hanyalah kemarahan Vina, tapi ternyata itu tidak terjadi,, Vina hanya diam.
Tentu saja itu membuatku semakin percaya diri.
Diatas motor, Aku tak banyak bicara hatiku deg-degan, bergetar dan terus berdebar.
"Ya Tuhan... semoga saja Vina tak menyadari kegugupanku, dan semoga Dia tidak mendengar debaran hatiku.
beberapa kali Aku menarik nafas dan menghembuskan pelan demi mengatur nafas yang sudah tak beraturan.
Sesekali ku lirik wajah Vina melalui kaca spion motor,, dan sialnya Aku terjebak ternyata Vina juga tengah melihatku, untuk membuang kecanggungan itu, sengaja ku mainkan alis mata ku menggodanya,, dan itu malah membuat Vina segera membuang muka.
Aku tertawa dalam hati, mungkinkah saat ini Vina tengah salah tingkah karena ulahku.
Nampak dari kejauhan lampu gemerlap taman kota, tiba-tiba terlintas niatku untuk mengajak Vina berhenti sesaat disana,, sejenak Aku berfikir untuk mengungkapkan perasaanku, namun niat itu segera kuurungkan,, rasa takut akan sebuah penolakan, itulah alasannya. Karena sepertinya ditolak akan jauh lebih sakit dibanding menahan segala rasa demi hubungan yang baik-baik saja.
Biarlah,, sampai tiba suatu saatnya nanti Vina Tetap akan menjadi milikku jika jodoh kami tergaris untuk bersama.
Namun, bila memang garis takdir mengharuskan kami tetap sebagai sahabat,, Aku juga ikhlas,, bagiku bahagia itu ketika melihat Vina bahagia itu sudah cukup.
Tepat di taman kota, laju motor kuperlambat, dan perlahan berhenti tepat di depan tugu air mancur yang begitu indah berwarna warni yang sedang menyala.
"Gung, kok berhenti?"
Tanya Vina dengan heran.
"Berhenti sebentar ya.... gak lama kok, "
ucapku, sambil menatap wajah manis nan anggun yang tengah bingung, membuatku semakin gemas.
"Vin, Aku mau tanya boleh?"
"Tanya Apa, ihh kok Aku takut ya..."
Vina menjawab sembari senyum-senyum.
"Jujur ya.. pernah gak sih, Aku terlintas di pikiran dan hati kamu saat kamu lagi sendiri?"
Aku hanya ingin memancing seberarti apa Aku dimatanya.
"Ehm.. maksudnya gimana, terlintas seperti apa dulu nich??"
__ADS_1
Vina balik bertanya.
"Yaa... misalnya nih ya... sebelum tidur, kamu tiba-tiba mikirin Aku lagi apa? udah tidur atau belum ya kayak gitu-gitu dech..."
Aku memperjelas pertanyaanku.
"Ohh... gitu, ya pernah sich... "
Mendengar jawaban Vina, mataku terbelalak lebar, hatiku membesar, dan terasa berdenyut- denyut memompakan rasa bahagia luar biasa.
"Ah... yang bener Vin, waduhhh jadi ge er nich..."
Aku menghembuskan nafas, dan melebarkan senyumku.
"Yeee... gak perlu ge er, lagian ya wajarlah kalau tiba-tiba kita ingat orang yang dekat dengan kita, lagian itu bukan suatu yang spesial"
Rasa bahagia luar biasa yang baru saja Aku dapatkan secepat kilat berubah menjadi kecewa, rasa gembira yang melambung tinggi tiba-tiba terhempas ke bumi.
"Ohh,, bukan yang spesial ya... Maaf, Aku terlalu percaya diri, hahahh... Aku tau yang spesial itu cuma Dirgantara, iyakan??"
Ditengah rasa kecewa, kupaksa tersenyum bahkan tertawa untuk menutupi sendu yang kini menyelimuti hatiku yang tiba-tiba menciut.
Beberapa saat terdiam, Vina kembali mengangkat wajahnya dan kembali menatapku.
"Gak gitu maksudnya.... cumakan, memang kita udah dekat, udah kayak saudara jadi ya biasa aja"
"Iya... Biasa aja.."
Jawabku, seketika Vina menatapku, melihat tatapan itu Aku semakin malu, malu karena terlalu percaya diri dan begitu yakin bahwa Vina tengah membuka hati untukku padahal kenyataannya, Vina masih sama,, masih menganggapku tak lebih dari sahabatnya.
Apalagi, Dirga diam-diam sudah kembali,, bukan tidak mungkin besok atau lusa Dia akan menemui Vina kembali dan mereka...
Ahh... Tuhan,, Aku tak sanggup, Aku tak sekuat itu.
"Ehm Vin, lusa Aku pulang... sebelum Aku pulang, Aku ingin kita ngedate berdua ya...soalnya Aku bakalan lama lagi baru bisa pulang lagi kesini, itu juga Kalau ada yang menginginkan Aku kembali"
"Loh.. kok cepat, katanya seminggu.. lusakan belum genap seminggu?"
Tanya Vina kaget dengan keputusan yang kubuat tiba-tiba.
"Iya, gak papa... berubah pikiran aja"
Jawabku sembari tersenyum.
"Dah yuk... kita pulang."
Aku kembali menyalakan Motor menuju rumah Vina.
Tepat setengah jam, kami tiba didepan rumh Vina.
"Vin, Masuk gih... dah malem... Aku langsung pulang ya...."
"Kamu beneran gak mau mampir dulu, atau paling gak pamitan dulu kek sama Mama"
__ADS_1
Iya, Vina benar rasanya tidak sopan jika tak berpamitan dan mengantarkan Vina sampai didepan pintu.
"Iya, Aku pamit aja dulu... "
Ujarku lalu turun dari motor dan berjalan disisi Vina.
Tante Yuni menyambut kami didepan pintu.
"Malam tante.. Maaf ya Tante, agak malam soalnya tadi teman-teman ngajak makan dulu"
Aku mencium punggung tangan Tante Yuni.
Tak lama, Papa Vina keluar menemui kami.
"Masuk dulu Gung!"
Sapanya
"Ehmm.. Gak usah Om makasih, Agung langsung pamit pulang aja, Vina juga capek."
"Ya udah Om, Tante.. Agung pamit ya..."
"Oh gitu, ya udah.. kamu hati-hati ya..."
Kedua orang tua Vina kembali masuk kedalam rumah.
Tinggal kami berdua yang masih saling berdiam diri.
"Ya udah Vin, Kamu masuk gih... Aku pamit ya..."
Aku berbalik melangkah meninggalkan Vina yang mematung.
"Ehm... Gung... tunggu!!"
Panggilan itu membuat langkahku terhenti dan kembali membalik menghadap Vina.
Vina berjalan pelan kearahku.
"Kamu kenapa? kok Aneh gitu?"
"Ahh.. Aneh apanya,, enggak kok.. biasa aja, udah... ni udah malem, sebaiknya kamu masuk"
"Tapi Gung...!"
Belum sempat Vina melanjutkan ucapannya, Aku segera menggeleng kemudian melangkah mendekatinya, merapikan rambutnya yang berantakan, kemudian menyelipkan poninya kebelakang telinga, menatap matanya yang kini menatapku lekat.
kupandang wajah itu, wajah manis yang membuatku tak bisa berpaling lagi darinya, kudekatkan wajahku,, tergerak Aku untuk mengecup bibir tipis itu, terlebih ketika terlihat Vina memejamkan matanya, seolah isyarat bahwa ia siap untuk itu, ditengah hasratku yang menggebu, Aku menggigit bibirku sendiri lalu menggeleng, menepis semua perasaan dan keinginan aneh ini.
Sekuat tenaga Kutahan hasratku.
"Weeyy.... Jangan tidur!!! bangun!!"
Aku menjentikkan jariku di dahinya, membuat Vina tersentak kaget dan membuka matanya, wajahnya bersemu merah jambu.
__ADS_1
Bersambung***