
Aku terus memperhatikan gelagat Tari yang kurasa aneh, tidak seperti biasanya lantang dan lepas ketika tertawa bersama kami, beberapa hari ini ada sesuatu yang sepertinya berusaha ia simpan sendiri.
Ada ada dengannya? apa mungkin Tari tengah dirundung masalah namun sengaja ia tutupi dari kami agar tak membebani kami?
Namun untuk bertanya rasanya bukan saat yang tepat.
Sampai di depan gerbang sekolah, sebuah senyum lebar menyambut kami berempat, siapa lagi kalau bukan si Kakak Mahasiswa.
"Hai.. "
Sapanya melambaikan tangan pada kami.
"Hai kak Agung.... ya ampun makin kece.... masih ingat Aku gak?"
Nina maju satu langkah dari kami mendekati Agung sambil mengulurkan tangannya manja.
"Masih donk... sigemoy Nina kan??"
Agung menyambut tangan Nina dan tersenyum hangat.
"Ohh... so swiiittt, makasih ya masih inget Aku,, pake dipuji gemoy pulak... hati Aku jadi meleyottt Kak."
Nina tak berhenti nyengir dengan pipi merah seperti tomat masak.
"Hai Tari... dan ehmm... ini...."
Sapa Agung pada tari serta menunjuk Elza yang belum ia kenal.
"Oh... Aku Elza Kak,, siswi tercantik dan termodis tahun ini versi mata para siswa siswi satu sekolahan"
Elza mengulurkan tangan pada Agung sembari tersenyum penuh percaya diri.
"Sipp... kerennn..kerenn... "
Puji Agung terhadap Elza.
Aku hanya menggeleng-geleng melihat teman-temanku dengan pesonanya masing-masing.
"Ehm... guys, Aku duluan ya... bye Gung..."
Tari meninggalkan Kami.
"Ya udah.. Aku juga duluan ya Vin, Za, Kak.."
Pamit Nina.
"Oke, hati-hati ya Nin..."
Ujarku.
Baru beberapa langkah Nina berjalan, ia kembali lagi.
"Oh.. Iya, za... kamu masih hutang sama Aku ya..."
Ujarnya menunjuk muka Elza.
"Hah.. Hutang?! Hutang apaan ihh"
"Ya hutang buat ceritain gimana kalian dulu dan tentang si Daniel tadi!! Aku gak mau tau besok datang lebih pagi, Oke!!!"
"Owhh.. itu, Oke... beres... kamu juga ya.. ceritain gimana Si Dirga!? sampe membuat Kamu hampir menjadi pagar makan tanaman!! Hahhah"
Gelak tawa Elza pecah.
Obrolan singkat Nina dan Elza membuat Aku tepuk jidat namun tidak dengan Agung, Dia terlihat senyum-senyum ketika mendengar nama Dirga disebut.
"Elza gak mau tau nih tentang Aku?"
Goda Agung setelah kepergian Nina.
" Ehm... emangnya boleh?"
Tanya Elza ragu.
"Boleh dong... Hahaha!"
"Kakak udah punya pacar?"
__ADS_1
Tanya Elsa cekikikan lalu menutup mukanya malu-malu.
"Ahhh... pertanyaannya...... langsung skak mat"
"Jawab dong "
"Oke... Dijawab, Aku belum punya pacar meski dari dulu punya gebetan"
"Hah.... serius?? kok bisa? kenapa?"
Gak berani nembak ya??"
"Ohhh.. tentu saja bukan itu za... sebab gebetan Aku udah terpikat dengan satu nama yang tak bisa Aku geser!"
Jawab Agung dengan melirikku genit sambil memainkan alis matanya.
Aku yang menerima perlakuan itu buru-buru membuang muka.
"Waduhhh, kasian... padahal cakep ya... tapi.. mungkin satu nama yang dimaksud itu lebih cakep kali ya..."
Sontak jawaban Elza membuat Aku tertawa terbahak-bahak begitupun Dengan Agung.
Sementara Elza menatap kami bingung.
"Udah ah.. ceritanya nanti lagi, trus kamu gimana pulangnya, naik apa za?"
Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Nah... itu dia Vin, ahh lagian Daniel bisa-bisanya ninggalin cewek kece kayak Aku. Ngambeknya sama siapa, Aku yang jadi korban, ngebete in banget ihh, awas aja besok!!"
Elza menggerutu.
"Apa mau Aku pesanin ojek?"
Tanyaku lagi.
"Ah gak usah Vin, Aku naik Bis aja, paling kalau Aku sampe digoda-godain sama abang kernetnya, Daniel orang yang paling bersalah!"
Gerutu Elza lagi, kali ini disertai cemberut.
Tanya Agung senyum-senyum.
"Abisnya siapa suruh ninggalin Aku!! ya udah, Aku pulang ya...Bye... sampe ketemu lagi Kakak Kece..."
Elza berlari meninggalkan kami ketika sebuah Bis terlihat muncul berjalan pelan dan Akhirnya berhenti di depan gerbang.
Ahh... Bis sekolah, semua mengingatkanku lagi pada kenangan bersama Dirga, dimana Bislah yang selalu menjadi saksi kebersamaan kami setiap pulang sekolah, baik damai maupun sedang berselisih paham.
"Yuk Vin..."
Ajak agung, menyadarkanku dari lamunan tentang kenangan Dirga.
Aku mengangguk lalu menerima helm yang diberikan Agung.
"Sini Aku bantu"
Agung memakaikan helm dikepalaku, di detik berikutnya jemarinya merapikan poni yang menutupi mataku.
Hatiku terasa hangat, namun tak bergetar, mungkin jika yang melakukan ini adalah Dirga, akan lain cerita yang kurasakan.
Ahh... Dirga, apa kabar kamu? apa mungkin semudah itu kamu melupakan Aku?"
Lagi-lagi Aku memikirkan Dirga.
Baru saja Agung menyalakan Motornya, dan hendak melaju, mataku menangkap seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari kami.
"Loh... Itu Daniel? Jadi Dia sebenarnya belum pulang? Ngapain disana??"
Batinku.
Menyadari Aku memergokinya, Daniel buru-buru berbalik Arah dan meninggalkan tempat dimana tadi Dia berdiri.
Hampir setengah Jam, Kami tiba di sebuah Kafe anak muda, dimana tempat berkumpulnya muda mudi seusia kami, dengan tempat yang nyaman, harga bersahabat dengan kantong palajar.
Duduk di kursi pojok, dengan udara segar dari angin yang bertiup sepoi-sepoi kembali membuat otakku berfantasi membayangkan alangkah bahagianya Aku, jika yang tengah duduk dihadapanku saat ini adalah Dirga, tentu suasana ini akan berubah menjadi romantis.
"Vin.. teman-teman kamu Asyik ya..."
__ADS_1
Agung membuka percakapan setelah selesai mesan menu.
"Ah... apa Dir?"
Aku keceplosan karena tidak fokus dan otakku saat ini tengah memikirkan Dirga.
"Apaan? Dir? Dirga maksudnya? Kamu lagi mikirin Dirga ya?"
Agung tersenyum tulus tak ada raut marah maupun kesal yang tergambar diwajahnya.
"Ah.. sorry.. sorry Gung.. Hehe.. Aku gak fokus, tadi kamu ngomong apa,?
Tanyaku salah tingkah.
"Santai... gak papa, jangan tegang, tadi Aku bilang teman-teman kamu asyik"
Ulang Agung.
"Ehm... Iya.. hehhe emang asyik"
Jawabku tak enak hati.
"Apalagi Elza, lucu ya..."
"Ahhh.. Iya, Dia emang gitu orangnya, suka ceplas ceplos, lemot, lucu, tapi seru cocok banget sama Nina"
"Oh iya, tadi yang Dia maksud Daniel itu siapa? Pacarnya ya...?"
Deg!!
Hatiku tersentak mendengar nama Daniel mengingat kejadian barusan tadi, seperti sedang dejavu, kala dulu Dirga pernah melakukan hal itu saat Aku bersama Agung, kini semua terulang dengan sosok Daniel.
"Tuh.. bengong lagi..."
Agung melambaikan tangan didepan wajahku.
"Ih.. siapa yang bengong, enggak kok.. bukan, Daniel itu salah satu sahabat kami juga, sama Elza selalu bareng berangkat dan pulang sekolah,, cuma tadi Danielnya ngambek trus pulang duluan deh ninggalin Elza."
Jelasku.
"Ohh... gitu,, Emangnya kalian berlima ini semuanya jomblo ya, kasiannnn"
Ledek Agung.
"Ahhahhah... iya ya, kok Aku baru nyadar.."
Aku tertawa mendengar ujaran Agung barusan.
"Tapi Aku yakin banget, diantara kalian berempat ada yang disukai Daniel, mustahil banget gak ada yang nempel dihatinya"
Glek!!!
Aku tersedak minuman yang baru saja masuk ke kerongkonganku.
"Pelan-pelan dong Vin!"
Dengan cepat Agung mengambil tissue dan menyeka minuman yang mengalir di bawah bibirku.
"Ahh.. Agung... pleaseee... Jangan buat Aku menggeser Dirga dari hatiku"
Batinku.
"Eh tapi Vin, siapa tau kamu yang malah ditaksir Daniel hahah, gimana? Apa kamu mau? gimana orangnya, apa tampan mengalahkan Aku?? "
"Ya ampunnn pedenya bilang tampan hahh"
Aku melengos sombong.
"Kalau sampai kamu menerima Daniel, ahh hatiku sakit sekali Vin, mungkin hatiku akan patah bukan cuma sekali tapi dua kali masak iya, lagi-lagi Aku kalah saingan!! "
Agung melipat tangannya di dada dengan mata menatap langit seolah tengah berpikir.
Aku melempar sedotan kearah Agung diselingi tawa renyah kami berdua.
Siang ini, lagi dan lagi Agung berusaha meluluhkan hatiku.
Bersambung***
__ADS_1