
Sampai diluar,
Tak kujumpai Daniel.
Sejenak berdiri mematung menatap ke jalan didepan kafe, berharap mataku masih sempat menemui Daniel diantara keramaian lalu lintas.
5 menit berlalu, kuputuskan untuk kembali masuk menemui Agung, namun baru saja Aku berbalik, tak sengaja Aku melihat bayangan seseorang tengah duduk berjongkok di balik pilar disamping kafe.
Aku mengenali warna pakaian itu, iya.. itu Daniel.
Pelan-pelan Aku melangkah mendekati, Daniel yamg tak menyadari kehadiranku masih tetap diposisi semula duduk berjongkok dengan menundukkan kepalanya diantara dua lengannya.
"Hai...."
sapaku memegang bahunya membuat ia terkejut mengangkat kepalanya menatapku.
Sadar bahwa yang menyapanya adalah Aku, Daniel segera bangkit berdiri.
"Ngapain disini?? kamu tak seharusnya disini!! kamu harus masuk, semua pasti mencari kamu apalagi Agung dia pasti sedang bingung"
Aku menatap Daniel yang terlihat tak semangat.
"Kamu kenapa, jangan bohong!!"
Todongku.
"Aku gak kenapa-kenapa cuma pusing"
Jawabnya.
Aku tersenyum,
"Aku tau, kamu sedang berbohong!! "
"Aku serius Vina... udah, jangan pedulikan Aku.. Aku baik-baik saja"
"Aku gak akan masuk, sebelum kamu cerita!"
Cebikku dengan melipat tangan di dada.
"Ayolah vin,,.. jangan seperti anak kecil gini, kamu udah dewasa udah mau nikah kan? Masuk!!"
Perintahnya.
"Aku gak akan masuk! kamu harus cerita dulu, kamu ngatain Aku anak kecil? Kamu gak sadar sikap kamu yang seperti ini bahkan sejak dulu, setiap ada masalah selalu lari! ngumpet!! ngambek!! apa itu bukan sifatnya anak kecil?!"
Aku menunjuk dadanya dengan jari telunjukku.
Daniel tak menjawab, mulutnya bungkam.
"Mikir!!!"
Sambungku kali ini menunjuk jidatnya dengan jariku.
Daniel menangkap cepat telunjuk ku kemudian melepasnya perlahan diudara.
"Udah!! Iya, Aku akui, Aku memang pengecut, selalu berlari dan bersembunyi setiap kali ada masalah, kamu benar!!"
Tuturnya pelan, namun terasa begitu dalam.
"Kamu bisa cerita Niel, ada apa??"
"Maafkan Aku,, Aku tak bisa menceritakan sesuatu yang mungkin akan merusak acara penting kamu Vin,"
Aku yang kaget dengan jawaban Daniel hanya menatapnya tak mengerti.
"Aku tak ingin jadi pengacau di hari bahagia kamu"
Aku mendekat,
"Mengapa seperti itu Niel? kenapa??"
"Suatu saat kamu akan tau,, tanpa harus memaksa untuk mencari tau kenapa Aku seperti ini, Kamu harus bahagia,, masuklah,, Agung menunggu kamu!"
Daniel membalik tubuhnya, menyelipkan tangannya disaku berjalan sedikit menjauh dariku kembali ke posisi awal.
Aku masih menatap punggung itu dengan rasa penasaran yang memuncak.
__ADS_1
Rasanya masih ingin disini menemani Daniel, seperti yang Pernah ia lakukan saat Aku hancur dulu.
Namun menyadari Agung pasti mencariku membuat Aku memutuskan untuk segera masuk.
Sekali lagi Aku menatap punggung itu sebelum melangkah meninggalkannya dan kembali masuk kedalam kafe.
"Vina,,, ya Tuhan... kamu darimana? Aku nungguin kamu dari tadi, ni baru mau keluar nyusulin kamu"
Ujar Agung yang kutemui tepat di depan pintu kafe.
"Ehm maaf...tadi Aku.... ehm... keluar sebentar"
jawabku terbata.
Aku tak ingin Agung berpikir macam-macam jika Aku menceritakan yang sesungguhnya.
"Ya udah,, sini....teman-teman Aku pada mau kenalan.."
Agung merangkulku mesra menuju meja-meja para tamu teman-temannya.
Aku menurutinya meski pikiranku masih tertuju pada Daniel.
Hampir setengah jam,
Tak kudapati Daniel kembali kedalam, perasaan gelisah mulai menyergap hatiku.
"Kalian tau gak Daniel kemana?"
Pancingku pada Nina dan Elza berpura-pura tidak tahu.
"Tadi sih pamit ya mau ke apotik, katanya beli obat pusing sama obat nyeri hati, eh.. tapi emang Daniel punya penyakit liver sejak kapan sih? kok Aku gak tau ya?"
Elza memutar matanya.
Aku menelan ludah,
Aku beranggapan, pusing dan nyeri hati yg dimaksud Daniel bukanlah penyakit yang sebenarnya, Daniel sedang menyembunyikan luka atas berlangsungnya acara ini, mungkinkah Daniel cemburu dan patah hati ketika tau Aku dan Agung akan segera bertunangan.
"Vin, kok melamun??"
Nina melambai-lambaikan tangannya didepan mukaku,
Jawabku kikuk.
"Nah... itu Dia udah balik!"
Seru Elza menunjuk pintu masuk Kafe.
Mata kami kompak melihat ke arah tunjuk Elza.
Daniel berjalan gontai menghampiri kami, senyum tergurat di bibirnya.
"Niel, gimana dapat obat livernya??"
Tanya Elza begitu Daniel baru saja duduk dikursinya.
"Hah?? Obat liver??"
Jawab Daniel bingung,
"Emang sejak kapan sih kamu mengidap liver, kok kamu gak pernah cerita?"
Sambung Elza lagi.
Dengan wajah yang masih bingung, Daniel menggaruk keningnya,
"Liver apa sih? siapa yang liver??"
tanya Daniel semakin bingung.
"Kan tadi kamu bilang mau beli obat pusing sama nyeri hati? "
Jelas Elza dengan wajah polos.
Daniel terbelalak kemudian menepuk jidat,
"Iya,, Aku sekarang gak hanya liver!! jantung juga!! Mata juga!! Darah tinggi juga!! sama satu lagi,,sesak nafas!!!"
__ADS_1
Tukasnya.
"Astaga!!!! kamu masih terlalu muda untuk komplikasi penyakit sebanyak itu!! Hem.... Aku jadi pengen nangis!!"
Rengek Elza sembari mengelus pipi Daniel,
Sementara Nina tertawa cekikikan sepertinya tau jika Daniel tidak sungguh-sungguh dengan ucapan tentang penyakitnya.
"Gak hanya itu, sepertinya Aku sekarang sudah hampir gila!!"
cetus Daniel lagi.
"Oh em jiiii.... kok bisa??? kamu serius??! masak iya sih...,, ganteng-ganteng gila!!"
Pekik Elza, membuat tamu-tamu sekitar meja menoleh menatapnya.
"Kok kayak judul sinetron sih za??"
seloroh Nina,
"Ahh... Nina!! itu ganteng-ganteng serigala!!"
Jelas Elza dengan wajah mencebik.
"Ohh,, salah ya..hhhhh"
Tawa Nina lebar sembari menggendong salah satu Baby twins yang mulai rewel.
"Ganteng?? Makasih loh za,, kayaknya baru kamu deh yang bilang kalau Aku ganteng!"
Daniel menepuk-nepuk pundak Elza yang cengengesan.
"Aku serius,, Kamu itu ganteng, baik.. tapi sayang..."
Elza menghentikan ucapannya seraya menatap Daniel sendu.
"Sayang kenapa??!"
Seruku dan Nina kompak,
"Ya.... Sayang aja hampir gila..."
Daniel melotot kearah Elza, disambut tawa dari Elza dan Nina.
Akupun tak tahan ingin tertawa, namun Aku takut Daniel tersinggung.
"Kamu ya za...!!! Habis ngangkat Aku tinggi-tinggi sampai kelangit, tapi setelahnya... Kamu tega hempas Aku ke bagian bumi paling rendah..ck...ck...ck.."
"Loh... kan kamu sendiri yang bilang semua itu, Aku gak salahkan??"
Elza menolehku dan Nina bergantian seolah meminta pembelaan.
"Iya... kamu gak salah,, Aku yang salah!!"
Daniel beranjak dari kursinya, kemudian berlalu meninggalkan kami.
Kami bertiga saling pandang,
Bersamaan dengan berlalunya Daniel dari hadapan kami, Agung datang.
"Loh sayang, itu Daniel kenapa? Dia mau kemana?"
Tanyanya sembari membelai kepalaku lembut.
"Gak tau,, ngambek kayaknya"
jawabku menatap Agung yang menanggapiku dengan mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menatap Daniel yang melenggang keluar kafe.
"Ihh... Bete!!!, Baperan banget sich dasar... Ababil!!! gitu aja ngambek,, marah!! padahalkan Dia sendiri yang memulai!! Sebel banget deh!!
Elza mengomel dengan wajah menekuk kesal.
"Udah, mungkin Daniel lagi ada masalah, jadi buat dia sensi, coba deh kamu susulin terus minta maaf,, "
Agung mencoba menasehati Elza, Aku dan Nina mengangguk menyetujui usulan Agung.
Sejenak Elza terdiam, kemudian mengangguk dan bergegas menyusul Daniel keluar.
__ADS_1
Bersambung***