
Hampir Pukul 4 fajar, hujan baru saja berhenti menyisakan basahnya bersama embun yang kini membalut pucuk-pucuk daun teh yang menghijau segar.
Aku yang semalaman tak dapat pulas, kini memilih beranjak dari sisi Dirga, yang masih terpejam nyenyak.
Kupandang wajahnya yang sedang lelap, ada perih yang menggores hati, betapa tidak... Tinggal hitungan jam lagi... wajah itu mungkin tak lagi bisa kupandang sedekat ini.
Pelan-pelan Aku membuka resleting tenda, dan berjalan keluar, berniat kembali ke Villa untuk mengganti pakaian, agar bisa pulang ke Palembang setelah subuh, supaya sampai dirumah tidak kesorean dan bisa menjemput Agung di bandara.
Sekali lagi Aku menoleh kebelakang, menatap sekali lagi wajah laki-laki yang sejak dulu sangat kucintai, dan hari ini... harus ku ikhlaskan jika memang cinta ini harus berakhir.
Aku berlari meninggalkan tenda menuju villa.
Sampai di Villa Kuputuskan untuk mandi dan memakai kembali pakaian kemarin.
Langit mulai cerah, matahari mulai muncul dengan sinarnya malu-malu.
Kurasakan kepala sedikit pusing akibat tidak tidur semalaman, membuatku mengurungkan niat menyusul Dirga di tenda untuk membangunkannya.
Aku memilih kembali duduk di sofa disamping tempat tidur, dan memilih untuk mengiriminya pesan.
Belum sempat mengetikkan pesan, Dirga sudah lebih dulu menelponku.
"Halo sayang, lagi apa? turun ya... Aku udah pesankan kamu sarapan,, "
Ujarnya, Aku berjalan membuka pintu dan memandang kearah tenda Dirga.
Disana Dirga tengah berdiri dengan ponsel di telinga, kemudian melambaikan tangan kearahku.
"Love yu..."
Ujarnya lagi,, membuat hatiku berbunga-bunga.
Aku menutup telepon dan berlari menghampiri Dirga yang tengah menantikan Aku.
Sampai di depan Dirga,
"Pagi sayang,, kok kabur gak bilang-bilang..? Aku nyariin kamu!!"
Dirga merentangkan tangan bersiap menyambutku untuk berlabuh dipelukannya.
Tanpa ragu, kuterima permintaan itu, memeluk hangat tubuh yang mungkin setelah hari ini tak kan pernah lagi dapat kusentuh.
"Kamunya tidur nyenyak banget, Aku gak tega banguninnya."
Jawabku melihat wajahnya dengan menengadahkan kepala.
Dirga mengecup keningku.
"Yuk sarapan, ini Aku udah pesan sarapan"
Dirga menunjuk 2 kemasan styrofoam dan 2 cup minuman didalam tenda.
Dirga menarik lenganku untuk masuk kedalam tenda kemudian membukakan Styrofoam yang berisikan bubur ayam hangat dan 2 cup kopi panas.
Aku memperhatikannya, seorang lelaki yang tengah sibuk meladeniku, Dia yang sejak dulu selalu kuimpikan, kupikirkan dan kubayangkan bahwa suatu saat nanti bisa hidup bersamanya, dan kini.. semua menjadi kenyataan, cintaku tak bertepuk sebelah tangan, Diapun sama memikirkanku, dan mengkhayalkan kebersamaan seperti Aku.
Tapi yang menyakitkan adalah ketika semuanya telah nyata didepan mata, justru perpisahanlah menjadi akhir segalanya.
__ADS_1
Tuhan... Andai masih ada waktu, tolong beri Aku waktu sedikit lebih lama bersamanya untuk merasakan kebahagiaan ini,
Waktu... Aku mohon,, jangan cepat berlalu... dan Cinta,, Aku minta jangan pergi secepat ini,, Aku baru saja mengecapi rasa yang kudahagakan sejak dulu.. tapi hari ini semua akan berakhir hanya dalam hitungan jam.
Tanpa sadar, Air mataku jatuh menetes membasuh luka yang kembali tergores.
Buru-buru Aku menyekanya dengan punggung tanganku sendiri.
Dirga melihat itu,
"Sayang... Kamu menangis??"
Dirga meletakkan kembali gelas kopi yang baru saja hendak ia teguk, kemudian mendekatiku.
Aku menatapnya, tersenyum getir lalu menggeleng pelan.
"Kamu berat? hati kamu tak bahagia? kamu terpaksa? kamu tak mencintai Agung? jawab Aku!!"
Cecar Dirga mengguncang bahuku.
Tangisku pecah, dadaku terasa menyempit, kerongkonganku sakit.
"Ya Tuhan,, Perasaan apa lagi ini??!"
ujarnya dengan nada tinggi.
Dirga keluar dari tenda dan berdiri membelakangi Tenda.
Aku menundukkan kepalaku dalam tangisan yang tak dapat kuhentikan.
Tak berapa lama, Dirga kembali masuk kedalam tenda,,
Aku tak menjawab, isak ku semakin menjadi.
"Vina,, ini belum terlambat untuk menyudahi kebohongan hati! jujur!!! Kamu tersiksa dengan pertunangan minggu nanti??"
Kamu tak mencintai Agung kan?? bilang itu benar!! Vina Jawab??!"
Hardik Dirga padaku.
"Kamu tak rela atas perpisahan ini!! Kamu tak rela jika kita cukup sampai disini??! Kamu dan Aku... kita....!! sama-sama saling mencintai!! kita hanya terjebak dalam kesalahpahaman selama ini!! kita... cinta sejati,, kita abadi... iya kan?? jawab Aku kumohon??!"
Suara Dirga terdengar bergetar, matanya memerah perlahan basah.
Sungguh, hatiku benar-benar tak sanggup lagi jika harus mendengar kalimat-kalimat itu lebih banyak lagi.
Aku menegakkan kepala, mengusap air mata lalu menggeleng,,
"Kamu salah,,!! hubungan kita saat ini hanya lah sebuah klarifikasi,, tak lebih dari hanya sekedar bagian dari cerita masa lalu!! cinta kita bukan sejati!! ini hanya cinta monyet yang belum usai!! dan hari ini semuanya akan berakhir!! buka mata kamu!! perasaan cinta kita yang dulu sudah mati!! hanya saja... kita terlambat untuk menyadari hanya karena terbawa suasana dan cerita dari masa lalu!!"
Ungkapku dengan air mata yang kembali mengalir.
"Tapi... tapi... kamu sama Agung..."
"Aku bahagia,, Aku dan Agung saling mencintai! dan kami akan bertunangan minggu nanti,, !!"
Cetusku.
__ADS_1
Dirga menelan ludah,,
Kemudian menunduk, lalu meraih gelas kopi dan meneguknya habis.
Selera makanku tiba-tiba lenyap, Aku memilih keluar tenda meninggalkan bubur ayam yang ternganga tak tersentuh.
Sebelum keluar, kutoleh Dirga..
"Kita pulang sekarang!!"
Dirga mengangguk, dan menyusul keluar.
Setelah mengambil barang-barang di Villa, Aku dan Dirga menuju mobil dan bersiap pulang ke Palembang,
Tepat pukul 6 pagi, mobil meluncur meninggalkan lokasi perkebunan teh puncak gunung dengan segala cerita yang tercipta.
Antara Aku dan Dirga saling diam,, tak ada senyum seperti hari-hari kemarin.
Tak pernah kusangka, kisah kami akan berakhir seperti ini.
Aku memalingkan wajahku menghadap kaca jendela mobil, menatap hamparan perkebunan teh.
Ada cerita disini, tertulis singkat dan tertuang dalam wadah asmara kilat.
Mataku kembali basah, mengingat semua kata-kata yang kuucapakan pada Dirga tadi.
Sebuah kebohongan yang sangat bertentangan dengan kata hati, namun itu harus kuucapkan agar Dirga bisa mudah melupakan Aku dan move on dari kisah yang tak mungkin menjadi kenyataan ini.
Aku tak ingin semakin terbuai oleh ketidak pastian hati,, terjatuh dalam keindahan fantasi yang suatu saat pasti akan menghilang.
Aku tak ingin berlama-lama berada dalam keraguan hati yang penuh kebimbangan.
Aku menyeka air mata, menarik nafas dalam-dalam mencoba meyakinkan hati bahwa inilah pilihan terbaik.
Perjalanan terasa begitu sangat lama, mungkin karena hening yang sedari tadi menyelimuti kami.
Hampir tengah hari, begitu mobil sampai di gerbang Kota,
"Dir, kita langsung ambil mobil ya... Aku mau jemput Agung di bandara"
Ujarku setelah hampir 6 jam membisu.
Dirga menolehku sesaat, tanpa menjawab sepatah katapun, kemudian terlihat mengaktifkan ponselnya.
Nampak Dirga menelpon seseorang menggunakan handsfree,
"Kamu bawa aja mobil yang Aku bilang kemarin tolong kamu antar ke bandara sekarang!!"
Ujarnya kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Mendengar itu, Aku kembali bertanya-tanya tentang siapa Dirga sebenarnya, siapa orang yang baru saja Dia perintah mengantar mobil ke bandara.
"Dir... Jadi,, Aku??"
"Aku akan langsung antar kamu ke bandara setelah makan siang"
jawabnya ketus.
__ADS_1
Bersambung***