
Pagi terakhir sebelum kepulanganku ke Samarinda, itu artinya hari ini hari terakhir Aku mengantar Vina dan bertemu dengannya.
Karena besok Aku akan pulang.
"Hai... Pagiii"
Sapaku begitu Vina keluar dengan tergesa-gesa menemuiku.
"Pagi, Ayok berangkat, agak ngebut ya.... Aku kesiangan!!"
Ujarnya segera naik keatas motor.
"Bukannya memang biasa berangkat jam segini ya??"
Jawabku heran.
"Iya tapi itu biasanya Aku udah siap sarapan, ini gak sempat!"
Jawabnya lagi.
Ah,, pas sekali.. Seperti ada filling, sebelum berangkat menjemputnya Aku sengaja membeli roti dan susu untuk kuberikan padanya.
20 menit akhirnya tiba disekolah.
"Aku masuk ya..."
Vina turun dari motor dan menyodorkan helm padaku lalu bersiap meninggalkanku.
"Vina tunggu...!!!"
Aku menahannya.
Vina kembali berbalik,
dan Aku menyodorkan kantung yang berisi susu dan roti.
"Apa ini?"
"Entahlah, tadi sebelum berangkat kerumah kamu, hatiku tergerak untuk membelikan kamu itu, dan ternyata benar, kamu mungkin sedang butuh itu"
Vina membuka kantung tersebut dan melihat isinya.
"Aku pulang ya.... semangat untuk hari ini"
Pamitku.
"Ehm... Gung, Makasih ya... kamu hati-hati"
Vina tersenyum dan melambaikan tangan.
......................
Semalam, Aku meminta Vina untuk ngedate bersamaku malam ini, dan tadi sore Aku juga mengingatkannya melalui pesan.
Waktu yang ditunggu-tunggu tiba,
Tepat pukul 7 malam, Aku tiba di rumah Vina.
"Eh Agung, mau keluar ya sama Vina?"
Tanya Papanya Vina yang kebetulan membukakan pintu.
"Ehm... Iya Om, boleh kan Om?"
Ujarku sedikit canggung.
Tak lama Vina dan Mamanya keluar,
"Boleh, asal pulangnya jangan larut malam ya Gung, besok Vina sekolah."
"Siap Om, maksih ya Om"
"Ya udah, Ma.. Pa... Vina pamit ya..."
Dengan sopan, Aku dan Vina berpamitan untuk pergi.
Kami melaju menembus keramaian kota, dan berhenti di taman kota.
"Ehm... Vin, awalnya Aku mau ngajakin kamu ngedate di kafe, tapi dijalan tadi Aku berubah pikiran, dan memutuskan ngajakin kamu kesini, kamu gak masalahkan Aku ajak kesini?"
Ujarku sembari turun dari motor dan berjalan bersisian dengan Vina menuju bangku taman.
Vina menoleh lalu mengangguk dan tersenyum.
"Maaf ya, nunggu lama... "
Ujarku begitu menemui Vina setelah kembali dari membeli cemilan dan minuman, kemudian membukakan botol minuman untuknya.
"Malam ini kamu cantik, makasih ya..."
Pujiku.
Vina mengernyitkan dahi.
"Makasih?? untuk apa??"
__ADS_1
"Makasih, untuk malam ini.. kemarin... dan hari-hari lainnya selama Aku disini"
"Iiih, serem ah... pake maksih-makasih gitu... biasa aja"
"Ehm... Vin, Eng.... ah... udah ah gak jadi!!"
Sebetulnya Aku sudah berniat mengungkapkan isi hatiku, walau apapun jawaban Vina, namun lagi-lagi nyaliku menciut, apalagi kalau bukan tak siap jika harus sakit karena ditolak.
"Apa?? Mau ngomong apa sih?? Ngomong aja, ntar jerawatan loh...."
Desaknya.
"Hahhahh... enggak jadi, Aku lupa mau bilang apa hehheh"
Aku tersenyum lebar.
"Ih... aneh!!"
"Biarin aneh, yang penting kece?"
jawabku congkak.
"Idiihhh.... sombong banget.!!!"
Vina mengacak-acak rambutku, untuk pertama kalinya Vina bersikap selepas itu terhadapku, dengan cepat kutangkap lengan itu, sembari kutatap matanya lembut, tak berkedip, nafasku memburu, wajahnya dan wajahku kini hanya berjarak sejengkal saja.
"Ehm... Maaf... becandaaa!!!"
Ujar Vina lalu menarik cepat lengannya dari tanganku.
Aku kembali duduk dengan posisi awal, sembari menghembuskan nafas.
"Ehm... Vin, nanti pas Aku pulang, kamu jangan rindu ya... sebab Palembang Samarinda itu cukup jauh, gak bisa ditempuh pakai motor butut sewaanku ini! Hahhaha"
Aku berusaha mencairkan suasana yang sempat beku sesaat.
"Hahahh,, bukan Aku yang rindu, malah motor sewaan kamu yang rindu!"
Vina menunjuk Motor sewaanku.
"Iya ya... Dia hebat loh... setia banget sama Aku selama Aku disini Tapi besok Dia Akan kutinggalkan, kira-kira Dia sedih gak ya??"
Aku memandang motor tua itu.
"Bisa jadi.. wkwkwk"
Jawab Vina sembari tertawa.
Aku menatapnya lagi, kemudian membenarkan rambutnya yang tertiup angin malam.
"Kalau kamu??"
Vina terdiam, beberapa detik kemudian,
"Aku?? Maksudnya??"
"Sedih??"
Ulangku sembari membelai kepalanya lembut.
"Ehm... Ya,, sedih juga sich... itu artinya kita akan lama lagi baru bisa ketemu"
Vina memegang tanganku, membuat debaran itu kembali muncul.
Hingga tanpa terasa 2 jam berlalu.
"Vin, udah malam.. kita pulang ya... nanti Aku dimarahin Papa kamu karena kemalaman"
Aku beranjak dari bangku Taman bersiap untuk mengajak Vina pulang.
Vina mengangguk.
Aku mengulurkan tangan, dengan sedikit canggung Vina menerima tanganku untuk berdiri.
Diatas motor, saat tengah melaju kami hanya saling diam, hingga kuberanikan diri menarik tangan Vina dan melingkarkan di pinggangku.
Baru saja motor melaju setengah jalan, Aku melambat, dan perlahan berhenti.
"Kenapa Gung?"
Tanyanya heran, dan spontan melepaskan lingkar tangannya dari pinggangku.
"Gak pa-pa... cuma pingin lihat wajah kamu lagi, candu!!"
Ujarku tersenyum tipis.
"Kamu sekarang punya hobi baru ya?"
"Hobi baru?? Apaan?"
"Ya.. hobi ngegombal!!"
kami berdua sama-sama tersenyum
"Ayok jalan lagi, Aku takut... ntar kita ditangkap polisi gara-gara mangkal disini..wkwkwk"
__ADS_1
Vina menepak bahuku.
"Vin, Aku....."
Tanganku meraih tangannya dan menggenggam dengan dua telapak tanganku.
"Aku... ehm... Aku masih ingin bersama"
lanjutku dengan sorot mata menatapnya lekat tak berkedip.
"Gung.... kamu kenapa sih?? jangan liatin Aku gitu donk, Aku takut!!"
Vina menutup mataku dengan telapak tangannya dan mengusap wajahku.
Aku tersenyum.
"Udah ah, yuk pulang!!!"
Ajak Vina lagi, motor kembali melaju.
Sesampainya dirumah,
"Kamu mampir dulu kan?"
Tanyanya sembari menyerahkan helm.
"Iya, sekalian pamit sama Mertua.. ups... hahah"
Aku tertawa begitu mendapati Vina melotot.
"Ma.. Pa, Agung mau pamit, besok pagi mau balik ke Samarinda."
Ujar Vina menemui kedua orang tuanya yang masih berada di ruang keluarga.
"Oh, besok ya Gung, loh bukannya kata Vina Kamu disini seminggu ya? emang besok itu udah seminggu ya??"
"Belum Om, iya harusnya seminggu, cuma ada satu hal yang mengharuskan Agung memangkas liburannya, hehhe jadi harus pulang besok"
"Ohh, gitu... kamu hati-hati ya.. sampaikan salam Tante sama Om buat Mama kamu"
Sambung Tante Yuni.
"Iya Tante... nanti disampaikan, Oh ya Tante... Agung mau langsung pamit pulang, udah malam"
"Vin, Aku pamit ya... Kamu baik-baik, belajar yang benar, jangan sering keluyuran.. kan ntar lagi ujian Akhir"
Kalimat pertama yang keluar dari mulutku setelah orang tuanya masuk meninggalkan kami.
"Siapp... kamu juga, hati-hati disana... jangan rindu Aku ya..."
"Jangan rindu?? Tak mungkin...bahkan sejak pertama kali Aku meninggalkan kota ini, Aku selalu merindukan Kamu"
Aku meraih kedua tangan Vina.
"Vin, Seandainya Aku boleh jujur, sampai saat ini perasaanku masih sama sejak pertama kali Aku melihatmu di koridor sekolah, Aku mencintaimu sejak pandangan pertama itu!"
Akhirnya Aku berani mengungkapkan kata-kata yang sejak awal ingin kuucapkan.
"Vin, rasakan getaran ini,, masih sama seperti dulu, bahkan ketika Aku terus berusaha menepisnya dari sini, perasaan ini semakin tumbuh dan menjadi-jadi"
Sambungku sembari mengecup tangan Vina.
Vina terpaku, diam tak berkata-kata.
"Maaf,, jika hal ini membuat kamu tak nyaman Vin.... Aku pulang ya..."
Kulepaskan tangannya, berbalik bersiap pulang.
"Gung... !!"
Panggilan Vina seolah mencegahku.
Aku menghentikan langkahku dan kembali menolehnya.
Vina berjalan pelan mendekatiku.
Beberapa saat menatapnya, Aku tak bisa lagi menahan diri, kemudian memegang bahunya dan membawanya kedalam pelukanku.
"Aku sayang kamu Vin... sayang banget... tak peduli bagaimana perasaan kamu terhadap Aku..."
Beberapa detik terpaut, Aku melepaskan pelukan itu, kemudian kutangkupkan tanganku pada rahangnya, lagi-lagi Aku tak bisa mengkontrol diriku, kudekatkan wajahku pada wajah Vina, semakin dekat dan tiba-tiba saja kurasakan bibir tipis dan lembut itu kini sudah menempel di bibirku.
Sebuah kecupan baru saja kuberikan untuk Vina.
Manis dan membuat darahku berdesir.
Sebuah ciuman pertama untuk seorang cinta pertama.
Vina mendorong tubuhku menjauh darinya.
"Maafkan Aku Vin, Aku terlalu terbawa suasana"
Vina hanya diam menunduk.
"Tentang semua ucapanku malam ini, Aku tak pernah memaksa kamu untuk membalasnya, Aku cuma ingin kamu tau bahwa perasaanku tak pernah sedikitpun berubah, masih sama...!"
__ADS_1
Aku berbalik, dan segera menyalakan motor, sekali lagi Aku memandangnya sebelum berlalu meninggalkan Vina.
Bersambung***