
Meninggalkan cinta yang baru saja kurasakan indahnya, adalah hal yang tidak mudah.
Berada jauh dari Vina sungguh membuat Aku rindu, dan perasaan ingin bertemu pasti akan menjadi hal yang paling utama dan yang paling Aku tunggu-tunggu.
Ini bukanlah yang pertama Aku berada jauh dari Vina, karena jauh sebelum ini Aku sempat bertahun-tahun tak menatapnya hanya bertemu lewat suara, tapi entah mengapa.. kepergianku kali ini terasa sangat berbeda, sedih dan seakan tak rela berpisah darinya, mungkin karena status yang baru saja kusandang sebagai kekasih hatinya, sedangkan waktu itu tak lebih dari sahabatnya.
Tiada satupun hari yang kulewati tanpa merindukan Vina,, dan terkadang ketika Vina tak menjawab telponku, yang kulakukan hanyalah menyibukkan diriku dengan segala aktivitasku disini,, dan menghibur diri bahwa setelah semua urusan ini selesai,, Aku akan segera pulang menemui Vina dan pertunangan itu akan menjadi awal dari sebuah hubungan yang lebih serius.
Maka semangat itu akan kembali berkobar dan membakar segala keresahan yang Aku rasakan.
3 Bulan yang sangat berat hampir selesai kujalani, entah sudah berapa banyak rindu yang terpendam, kusimpan rapat untuk ku curahkan padanya saat Aku pulang nanti.
Seminggu sebelum kepulanganku,
Pagi-pagi sekali, Mama menelponku.
"Halo Gung...."
"Iya Ma...."
"Kamu belum buka pesan Mama ya,,"
"Oh... Mama kirim pesan apa? Agung belum sempat cek pesan yang masuk"
"Mama kirim foto pakaian yang akan kita pakai diacara tunangan kamu, udah jadi."
"Oh ya...??? Gimana Ma,, bagus gak,, punya Vina gimana?"
"Iya,, bagus kok... mewah banget,, coba deh kamu lihat,,"
"Oke Ma... ntar..."
Aku buru-buru membuka foto yang dikirim Mama,, mataku berbinar melihat betapa indahnya baju tersebut, sembari membayangkan betapa Anggunnya Vina ketika nanti mengenakannya.
"Halo.. Gung,, gimana udah lihat?"
Sapa Mama menyadarkan Aku.
"Eh... iya.. iya Ma... udah,, iya keren Ma..."
Jawabku terbata.
"Jadi kamu pulangnya kapan?"
"Sabtu Ma..."
"Kok mepet banget Gung... apa gak capek?"
"Iya Ma,, tapi nanti Agung usahain pulang lebih cepat"
Tak lama setelah obrolan antara Aku dan Mama selesai, panggilan berakhir.
Aku mencoba menelpon Vina,, namun hingga beberapa kali mencoba menelpon, Vina tak mengangkat panggilan dariku,, Aku menghela nafas,
Rasa tak enak hati menyusup pelan-pelan, entah kenapa sejak kemarin, Vina terasa menghindariku, terlebih hari ini.. bahkan Dia tak mau mengangkat telepon dariku.
Aku menyudahi rasa gelisahku dengan memilih berangkat ke kafe dan menyibukkan diri disana hingga malam.
Malamnya,
__ADS_1
Setelah selesai membersihkan diri,, Aku kembali mengecek ponselku, masih sama..
Tak ada kabar dari Vina,
Ahh... Vina,, tidakkah kamu rindu denganku seperti Aku yang selalu merindukan kamu dalam setiap desah nafas ini?
Begitu sibukkah urusanmu, hingga tak sempat memberiku kabar? sedang apa kamu sekarang?
Aku menekan tombol panggilan, nada sibuk menyambutku, lesu.. inilah yang kurasakan.
Perasaan tak enak kembali menyergap hatiku, menelpon siapa Vina? hingga telpon dariku tak diindahkan olehnya.
Mungkinkah Daniel?
atau... Dirgantara?
Aku menghembuskan nafas, perih sekali rasa hatiku, tiba-tiba kembali merasa menjadi orang yang tak penting dihidup Vina, padahal baru saja kukecap manisnya cinta yang ditawarkan Vina kala itu, tapi sekarang... Aku semakin merasa jauh,, bahkan lebih jauh dari saat masih menjadi sahabatnya dulu.
Entah sudah berapa kali Aku menelponnya, namun nomor Vina masih saja sibuk.
Aku menyudahi panggilan teleponku, lalu berbaring ditempat tidur, meletakkan lengan di dahiku, pikiranku menerawang jauh, bersama rasa perih yang terus berderit di hatiku, memikirkan Vina, yang Aku tak tau...apakah sempat memikirkan Aku di sekali saja dalam hari-harinya.
Setengah jam berlalu,
Ketika mataku hampir terlelap, sebuah panggilan Video memaksa mataku kembali terbuka,
Aku bernafas lega, ketika mengetahui Vina yang melakukan panggilan video kepadaku.
Rindu yang begitu menggebu membuatku dengan cepat menerima panggilan Video tersebut.
"Haloo... sayang.... sibuk banget dari tadi ditelpon gak masuk-masuk"
"Maaf ya..."
Jawabnya singkat, Kulihat wajah tegang Vina,
"Emang lagi telponan sama siapa malam-malam gini?"
Aku mencoba bertanya, dan berharap Vina tidak tersinggung dengan pertanyaanku.
"Ehm... itu...eh... telponan sama... ehmm sama Nina,, iya... sama Nina"
Vina gelagapan, dan menjawab dengan terbata, hal itu semakin membuatku yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan Vina dariku,, Dia gugup dan berkeringat.
Ya Tuhan,, perasaan apa ini? kenapa terasa perih, seolah sedang dikhianati..
"Sayang, kamu berkeringat... cuaca disana lagi panas ya??"
tanyaku lagi,
"Ehm... Enggak juga sih.. mungkin efek habis minum obat,"
Jawaban Vina membuatku terkejut, seketika rasa curiga berubah cemas, Aku sangat mengkhawatirkan Vina.
"Sayang kamu sakit??.. jadi gimana keadaan kamu sekarang? apa keluhannya,, sudah ke dokter??"
Cecarku yang kemudian bangkit dari tempat tidur
"Apa sih Gung, lebay deh... Aku cuma masuk angin biasa, minum obat dan istirahat juga ntar sembuh"
__ADS_1
Aku menelan ludah, ketika kecemasanku malah dianggap lebay oleh Vina,
"Sayang, kamu jangan gitu ah, jangan abai sama kesehatan, jangan sepelekan gejala masuk angin"
"Iya... iya... bawel... .!!!"
jawab Vina sembari tersenyum.
"Oh ya,,, kamu sudah lihat baju kamu buat minggu nanti?? tadi Aku dikirimin Mama fotonya"
Aku mengalihkan obrolan,
"Iya... udah,, keren... Aku suka"
jawab Vina, namun wajahnya tak ada ekspresi.
"Kamu pasti makin cantik pake gaun itu.."
Pujiku,
"Kamu pulang hari apa?"
Terlihat sekali Vina tak suka mendengar pujianku, ia mencoba mengalihkan obrolan,
"Hari sabtu pagi, kenapa?? kamu udah gak sabar ya ketemu Aku?? mau dibawain oleh-oleh apa?"
Sengaja ku goda Vina untuk mencairkan suasana yang canggung antara Aku dan Vina.
"Ehm... kamu selain gombal,, sekarang kamu juga tambah pede dan ge er!! udah, gak usah repot-repot, asal kamu hati-hati aja Aku sudah senang"
Mendengar Vina berbicara seperti itu, bukan main bahagia sekali hatiku, perhatian dari Vina seperti ini sangat langka,, dan ketika Aku mendapatkannya,, Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia.
"Oh Tuhan.... Aku tidak salah memilih perempuan, terimakasih telah mentakdirkan Ia menjadi jodohku!!"
Tanpa sadar, ucapan ini terlontar begitu saja,
Mendengar ucapanku, tak ada respon apa-apa dari Vina, ia hanya diam lalu memilih mengakhiri panggilan Video, dengan alasan mengantuk.
Aku hanya mengangguk menuruti kemauannya padahal hatiku masih sangat merindukannya,, tapi Aku bisa apa, Vina tak serindu yang Aku kira.
Aku hanya bisa menghela nafas,, menyadari bahwa sampai detik ini,, mungkin saja Vina
masih belum seutuhnya membuka hati untukku, sabar... hanya kata itu yang sepertinya bisa kusematkan dihatiku yang tengah risau.
Malam semakin tinggi, mataku belum bisa terpejam, pikiranku melayang jauh,, antara keyakinan dan ketakutan,, Aku yakin,, cinta ini begitu kuat untuknya,, namun Aku juga takut jika tenyata Vina masih belum bisa menyerahkan hatinya tulus kepadaku,, lalu bagaimana sebuah hubungan bisa berjalan jika salah satu nya masih ada keraguan, padahal kurang lebih seminggu lagi, pertunangan ini akan terjadi.
Ya Tuhan... sakit sekali hati ini... apa yang harus Aku lakukan, jika suatu saat ternyata benar,, bahwa Vina masih menyimpan Dirga dihatinya bukan Aku,,
Apa sebaiknya tak kuhubungi dulu Vina hingga rindunya tercipta,
dengan hati yang berantakan, kukirimkan sebuah pesan padanya.
"Sayang mulai hari ini, sampai hari minggu nanti, Aku tidak akan menelpon ataupun video call, sengaja Agar ketika bertemu, rindu kita Akan sangat menggebu"
5 menit, 10 menit, 15 menit hingga setengah jam lebih Aku menunggu memandangi layar ponselku, tak ada balasan dari Vina,
mungkinkah benar Dia mengantuk, dan saat ini sudah tertidur pulas.
Aku memaksa mataku untuk terpejam, ketika kurasakan rasa panas yang menguap bersama buramnya pandangan mata..
__ADS_1
Bersambung***