
Waktu terus bergulir, sejak hari pertunangan itu, tak terasa hampir 2 bulan sudah berlalu,
Hubunganku dengan Vina masih baik-baik saja seolah tak ada masalah didalamnya meski Aku tetap merasakan semakin lama semakin terasa hambar
Raga Vina bersamaku, namun kutahu hatinya tetap masih menjadi milik Dirga.
Sampai detik ini, Aku gagal membuat Vina jatuh cinta kepadaku,, Aku gagal menggeser tahta Dirga dihatinya.
Mungkin,, memang Harus menyerah dan mengaku bahwa Aku kalah.
Besok pagi, Aku Akan terbang ke kota Batam, kota maju yang terkenal dengan industrinya,, untuk urusan kafe, sepertinya ini kesempatan buatku untuk bisa melupakan perasaanku pada Vina, beberapa hari ini sudah kupikirkan dan tekatku sudah bulat bahwa menyudahi pertunangan ini lebih baik sebelum semuanya terlanjur bergulir ke langkah yang lebih serius sementara perasaan itu tak pernah ada untukku.
Sabtu malam di kafe milenial,
"Kamu gak papa besok pergi sendiri?"
Tanyaku pada Vina yang besok akan datang ke undangan Daniel dan Elza, sembari memegang cangkir kopi milikku.
Vina mengangguk sambil mengunyah makanan miliknya.
"Jam berapa besok perginya?"
Tanyaku lagi setelah menyeruput kopi ditanganku.
Vina menelan makanannya dan menyeruput jus jeruk sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.
"Pagi,, mungkin jam 7, gak mungkin Aku gak menghadiri akad nikah mereka."
Jawabnya
"Salam aja buat mereka ya.."
Ujarku.
"Tapi kayaknya, besok Aku gak sendiri deh... katanya Mama sama Papa mau hadir juga.."
"Oh,, baguslah kalau begitu,, Aku jadi tenang"
Aku menatap Vina tersenyum.
Belum ku dapatkan waktu yang tepat untuk mengutarakan niatku.
"Kamu besok berangkat jam berapa?"
Kini giliran Vina yang bertanya.
"Abis subuh,"
Jawabku.
"Berapa lama?"
Tanyanya lagi.
"Gak lama,, paling semingguan atau ya... paling-paling lebih sedikit,, soalnya banyak orang lama yang Aku pindah kesana sementara, biar gak ribet,, nanti seiring berjalannya waktu,, mereka balik lagi kesini"
"Ohh.... "
Vina membentuk bulatan pada mulutnya.
"Kamu gak akan lama-lama rindu sama Aku,, tapi.... Aku juga gak yakin kamu bakalan rindu sama Aku.."
Ujarku tersenyum getir.
Vina terperangah mendengar ucapanku barusan, mungkin ia bingung atau mungkin juga merasa bersalah, entahlah.
Vina menatapku, dan Aku menyeruput kopiku sampai habis.
"Kok,, kamu bisa bicara begitu?"
Vina bertanya dengan tatapan bingung.
"Begitu gimana?"
tanyaku.
"Yang baru saja kamu ucapkan,,"
Terangnya.
"Oh,, gak lah... ya siapa tau,, kamu gak rindu Aku..he..he..he... Udah Ah,, kita pulang sekarang ya...."
__ADS_1
Aku yang merasa tak nyaman, memilih mengajak Vina segera pulang meski ini masih terlalu sore.
"Hah? sekarang?"
Vina melirik jam tangannya.
Aku mengangguk dan beranjak dari kursi,
Maafkan Aku Vin,, membuat kamu bingung malam ini.
Batinku.
"Udah mau pulang Pak, cepat sekali?"
Sapa seorang staf kafe padaku yang berjalan keluar.
"Ehm... Iya,, pulang dulu ya..."
Jawabku sembari tersenyum ramah, sementara tanganku meraih lengan Vina untuk kugandeng berjalan keluar menuju mobil.
Sampai di dalam mobil,
lidahku masih terasa berat untuk mengajak Vina bicara, Aku takut hatiku tak sekuat yang Aku harapkan,
Beberapa kali Aku menghela nafas membuat Vina menatapku, Aku balas menoleh Vina dan memberinya senyum tipis.
"Sayang... Aku boleh nanya? tapi... kamu janji jawab jujur"
Ujarku membuka percakapan.
Membuat Vina menelan ludah, lalu menyeka keringat diwajahnya dengan tissue.
"Mau nanya Apa? kok Aku jadi tegang ya..."
Jawabnya menatap lurus mataku.
"Kamu mencintai Aku?"
Tanyaku serius.
Vina seperti terhenyak mendengar pertanyaanku lalu terdiam.
"Sayang,, apa kamu mencintai Aku?
Vina mengangguk pelan.
"Kamu yakin? kamu sedang tidak membohongi perasaan kamu? Apa selama ini kamu bahagia bersama Aku? Apa kamu nyaman? Apa kamu yakin benar-benar menginginkan hubungan ini?"
Cecarku.
"Gung,, kenapa nanya seperti ini? Aku yang memutuskan menjalin hubungan ini, itu sudah cukup membuktikan bahwa Aku serius"
Mendengar itu Aku menggeleng dan tersenyum.
"Aku mencintai kamu.. sangat mencintai kamu Vin,, Aku tak ingin hubungan kita justru membuat kamu tersiksa"
kutatap dalam mata Vina dan kupegang bahunya.
"Kamu ngomong apa sih Gung?"
"Gak apa-apa, Aku cuma ingin kamu bahagia.."
Aku meraih jemari Vina dan mengecupnya.
"Udah ah,, jangan aneh-aneh.. Aku jadi takut"
Jawab Vina membuat Aku tersenyum,, kemudian membelai rambutnya.
Tak lama, mobil beranjak pelan meninggalkan pelataran parkir kafe, suasana jalan masih sangat ramai, selain ini adalah malam minggu, ini juga belum terlalu malam,
Sampai didepan rumah,
Mobil berhenti,
Aku bersandar pada jok mobil,
Begitupun Vina.
"Sayang, dirumah kamu ada headphone?"
Tanyaku membuat Vina semakin bingung.
__ADS_1
"Headphone? untuk apa?"
Vina balik bertanya.
"Buat dengar lagu,,"
Jawabku sembari menoleh kearah Vina masih dalam posisi bersandar.
"Ada sih,, tapi gak tau masih berfungsi baik atau enggak,, udah lama soalnya gak pernah dipake,, terakhir waktu masih SMA."
Vina mencoba mengingat-ingat.
"Ehm... ya udah,, nih buat kamu aja..."
Aku menyodorkan bungkusan paper bag yang berisi headphone yang kubeli sebelum Aku menjemput Vina tadi.
Vina menerima Paper bag itu dari tanganku.
"Apa ini??"
"Headphone!"
Jawabku
"Kok... ngasih Aku ini,, ehm... buat apa?"
Vina membuka paper bag coklat itu, lalu kembali menatapku.
"Gung,, ada apa sih sebenernya? tadi kamu ngomong aneh, pertanyaan-pertanyaan kamu juga aneh tau gak,, dan ini lagi... buat apa kamu ngasih Aku barang ini? jujur ya.. aku bingung tau gak? kamu beda!"
Pertanyaan beruntun dari Vina.
"Enggak lah,, Aku gak beda kok... masih sama masih Agung yang dulu,, yang selalu sayang sama kamu."
Jawabku, meski hatiku saat ini sedang tidak baik.
"Lalu... ini maksudnya apa??"
Vina mengangkat headphone tersebut dan menunjukkan padaku.
Melihat itu, Aku tersenyum,,
"Oh... itu, Ehm... Aku ada lagu bagus banget, kamu pasti suka.. ntar abis ini Aku kirim,, tapi kamu dengernya pakai itu,, sambil rebahan menjelang tidur"
Jawabku sembari menunjuk headphone ditangannya.
Vina mengernyitkan dahiku bingung.
"Vin,, sini..."
Aku memberikode agar Vina sedikit mendekat padaku.
"Aku sayang sama kamu,, cinta sama kamu,, Aku hanya ingin kamu bahagia..."
Aku menyambar cepat tubuh Vina dan memeluknya erat sembari mengelus kepalanya.
"Agung, kamu kenapa sih?! gak biasanya loh kamu gini?!"
Vina menatap wajahku setelah Aku melepaskan pelukanku.
Aku hanya menggeleng.
"Mampir dulu?"
Tanya Vina padaku yang kini berdiri dihadapannya setelah sebelumnya bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Ehm... Aku langsung pulang aja ya... mau istirahat"
jawabku, hatiku benar-benar terasa pedih melakukan semua ini, rasanya tak rela melepaskan Vina, tapi ini harus kulakukan.
Vina diam dan terus memperhatikanku.
"Ya udah, kamu masuk... salam aja buat Om dan Tante."
Vina mengangguk.
Aku kembali memutari mobil dan masuk kedalam mobil, tanpa menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan seperti biasa, Aku tak sanggup melakukan semua itu lagi, hatiku terasa remuk, mengingat sebentar lagi Aku bukanlah siapa-siapa bagi Vina.
Mobil melaju meninggalkan Vina yang masih berdiri terpaku,
Maafkan Aku sayang... tapi ini lebih baik sebelum hati kita berdua sama-sama lebih hancur dari pada ini, jika hubungan ini kita teruskan.
__ADS_1
Aku merasakan sesak, yang tak pernah kurasakan sebelumnya..
Bersambung***