
Sampai dirumah,
Bergegas turun dari mobil dan segera masuk kedalam kamar adalah pilihanku, rasa lelah jiwa raga menuntunku untuk segera mandi dan rebahan,
Setelah selesai mandi dan merebahkan tubuh ditempat tidur, Aku mengingat pesan yang kukirim pada Agung,
Dengan cepat kuraih ponsel dan memeriksanya,, namun Aku mengernyitkan dahi, merasa begitu heran,, banyak sekali pesan yang masuk,, tak hanya itu, 7 panggilan tak terjawab juga membuatku semakin bingung.
Segera kuperiksa, dan begitu terbuka,, pesan tersebut bukanlah berasal dari Agung melainkan dari kontak Dirga,, Dalam hati Aku berpikir kenapa Dirga mengirimiku banyak sekali pesan? apa dia merasa bersalah karena tadi bersikap cuek terhadapku? Sembari duduk diatas tempat tidur kubuka satu persatu pesan tersebut.
💌
"Vin, Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Benarkah seperti itu hubungan kalian sekarang?"
"Vina,, tolong balas, perjelas maksud pesan tadi,, apa benar, kalian sudah tidak terikat pertunangan,,"
"Vina, pleasee.... angkat!!"
"Vin, apa itu artinya Aku masih boleh berharap?"
Keringat dingin membanjiri tubuhku,, kenapa Dirga bisa mengirimiku pesan seperti ini?
Apa jangan-jangan??
Segera kulihat dan Aku cek lagi pesan yang Aku kirim pada Agung pada saat dimobil tadi.
Astaga!!!
Mataku terbelalak tak percaya,, bagaimana bisa Aku salah kirim.
Aku menepuk jidat, pantas saja Agung tak merespon pesan yang Aku kirim, ternyata pesan tersebut terkirim ke kontak Dirga.
Tak lama ponselku berdering,
Dirga kembali mencoba menelponku,
Ya Tuhan.... Apa yang harus Aku lakukan? Aku harus jawab apa? Aku memandang ponselku sembari berdiri dan kemudian berjalan mondar mandir, bingung dan gelisah itulah yang tengah Aku rasakan sekarang.
Dirga terus saja menelponku, meski beberapa kali Aku merijek panggilannya, dan membisukan ponsel adalah pilihanku saat ini.
Selain tidak tau apa yang akan kukatakan, Aku juga takut Mama akan mendengar percakapanku dengan Dirga.
💌
"Vina, Aku tak akan berhenti menelpon sebelum kamu mengangkat telponku dan berbicara!!"
Kembali kuterima pesan dari Dirga.
Sesaat memejamkan mata, kemudian Aku memutuskan untuk menerima telpon dari Dirga.
"Ya... Halo..."
Ucapku pelan,
"VINA... TOLONG BILANG PADAKU... BILANG DENGAN LANTANG BAHWA KAMU SUDAH BUKAN LAGI TUNANGAN AGUNG!"
seru Dirga dari seberang, terdengar keras dan berapi-api.
Aku menghela nafas berat,
"Ya..."
Ucapku pendek.
"Sumpah.... Aku gak tau,, sekarang Aku harus bersikap seperti apa mendengarnya, Aku gak tau Aku harus senang atau sedih dengan kabar ini!"
Ujar Dirga.
Tok... Tok... Tok!
Belum sempat Aku menjawab, tiba-tiba ketukan dari luar kamar mengagetkanku.
Buru-buru kumatikan telepon, dan melangkah kearah pintu untuk membukanya.
"Vin.... "
Panggil Mama tak lama dari ketukan yang terjadi berulang.
__ADS_1
Klek!
Pintu kubuka,
"Iya Ma....."
Jawabku.
"Diluar Ada Tante Ruri, katanya mau bicara sama Kamu.."
Deg!!
Jantungku kembali memompa lebih cepat, nafasku terasa begitu pendek,,
Rasa takut, cemas, gelisah tak bisa kusembunyikan lagi.
Apa yang akan dibicarakan Tante Ruri?
Ya Tuhan... Aku sungguh takut...
batinku.
"Vin, kok melamun? kamu kenapa berkeringat seperti ini? kamu sakit Nak?"
Tanya Mama sembari menempelkan telapak tangan di dahiku.
"Gak panas.."
Sambung Mama lagi,,
"Ehm... iya Ma,, Vina memang gak lagi demam cuma gerah aja mungkin"
Jawabku mencoba sedikit lebih tenang.
"Ya udah,, kamu temuin Tante Ruri ya... yuk..."
Ajak Mama.
Aku mengangguk dan berjalan beriringan dengan Mama menuju ruang Tamu.
Sampai diruang Tamu,
Kulihat wajah muram Tante Ruri yang tertunduk,
Sapaku begitu tiba dihadapannya.
Tante Ruri mengangkat kepalanya menatapku kemudian segera berdiri dan memelukku sangat erat.
Mama menatap kami dan tercengang melihat perlakuan tante Ruri padaku yang tak biasa.
Setelah beberapa detik, Tante Ruri melepaskan pelukan erat itu, kulihat kedua sudut matanya basah.
Seketika timbul rasa ibaku melihat perempuan setengah baya itu mengeluarkan air mata yang tak lain karena menangisi keputusan Agung yang melepaskan Aku dari ikatan pertunangan..
Perasaan bersalah itu kembali muncul,, andai saja keputusan konyol itu tak pernah terjadi... mungkin suasana ini juga tak akan terjadi.
Aku masih terdiam tanpa suara sesekali kulirik wajah murung pada Tante Ruri.
"Ri... Kamu kenapa? Ada apa? kenapa kamu memeluk Vina sampai menangis seperti itu? ada apa? apa sesuatu terjadi pada Agung?
Mama menyentuh bahu Tante Ruri dengan wajah cemas.
Tante Ruri kemudian duduk, diikuti Aku dan Mama yang kini duduk mengapitnya yang tengah tertunduk lesu.
"Ri,, kamu minum dulu ya... biar agak tenang sedikit"
Mama menyodorkan segelas teh hangat pada Tante Ruri.
Setelah menerima dan meneguknya, Tante Ruri menarik nafas panjang.
"Yuni.. Apa yang sebenarnya terjadi dengan anak-anak kita?"
Tante Ruri menatap Mama dengan wajah sendunya.
"Maksud kamu apa Ri,, maaf Aku gak faham dengan ucapanmu. Anak-anak kita kenapa?"
"Jadi.. kamu belum tau Yun?"
Tante Ruri kembali menunduk lesu.
__ADS_1
"Belum tahu apa Ri,, ? kok Aku jadi takut.."
Mama menatapku sesaat kemudian kembali menatap Tante Ruri.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi yang Aku tidak ketahui Ri?"
Mama kembali menyentuh bahu tante Ruri, yang lagi-lagi tak kuasa menahan air matanya.
"Ri... jangan bikin Aku deg-degan,, cepat beritahu,,apa yang sudah terjadi?"
"Anak-anak kita memutuskan menyudahi pertunangan mereka Yun!"
Ucap Tante Ruri dengan suara bergetar.
Mama yang mendengar itu sontak menutup mulutnya dengan telapak tangan kemudian menatapku meminta penjelasan tentang ucapan Tante Ruri barusan.
Aku menunduk, mencoba menghindari tatapan Mama.
"Vin, Apa benar yang diucapkan Tante Ruri?"
Mama beralih menatap tante Ruri yang kini terdiam menunduk lesu seperti tengah memikirkan beban berat.
Aku menatap Mama, dan tak kuasa menahan laju air mataku.
Mendapati Aku menangis, Mama menghela nafas seolah sudah mendapatkan jawaban dariku yang tak mampu bersuara dan sama sekali tak mengurai jawaban apa-apa.
Kami bertiga kini sama-sama terdiam, sebelum akhirnya Papa muncul, dan turut bergabung di ruang tamu bersama kami.
"Kenapa ini? Apa yang sudah terjadi kenapa kalian semua menangis?"
Tanya Papa bingung, raut tegang jelas sekali nampak di wajahnya.
"Vina Pa,, Vina dan Agung membatalkan ikatan pertunangan mereka?"
Ucap Mama pelan dan suara itu terdengar bergetar.
"Ya Tuhan... Kok bisa? kenapa? ada masalah apa?"
Tanya Papa.
Mama dan Tante Ruri kompak menggeleng.
"Vina,,!! coba jelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi, kenapa kalian bisa mengambil keputusan seperti ini?"
Papa menatapku tajam.
"Vina... Vina juga gak tau Pa... semua terjadi begitu saja,,"
Aku terbata mencoba bicara meski lidah terasa sangat kelu.
"Terjadi begitu saja gimana maksud kamu Vina??! kenapa kamu gak tau?! jelas-jelas hubungan ini Kamu dan Agung yang menjalani! Bagaimana bisa kamu sendiri tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi!!"
Papa berbicara dengan nada tinggi membuat Aku semakin merasa ketakutan,, sampai-sampai tangan dan kakiku gemetaran.
"Pa... sabar,, jangan emosi,,"
bela Mama terhadapku,
Aku membenamkan kepalaku kedada Mama dan menangis terisak disana.
"Tenang dulu ya Vin, coba kamu ceritakan pelan-pelan ada masalah apa antara kamu dan Agung hingga memilih untuk berpisah seperti ini?"
Tanya Mama sembari mengusap kepalaku.
"Antara Kami tak ada rasa cinta Ma,, keputusan untuk bertunangan kemarin hanyalah sebuah kesalahan yang tak pernah kami sadari sebelumnya.
Ucapku semakin terisak.
"Ya Tuhan...!"
Papa bersandar pada kursi dengan tangan memijat pelipisnya.
Sementara Mama hanya terdiam.
Tak lama, terlihat Tante Ruri mengeluarkan ponselnya yang berdering.
"Agung video call"
Ujarnya, membuat Aku, Mama dan Papa kompak menoleh kearah Tante Ruri.
__ADS_1
Bersambung***
"