Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 119 Kembali masuk kerja.


__ADS_3

Tak lama,


Tante Ruri dan seluruh keluarga Agung mendekati kami berdua, disusul Mama dan Papa,


"Vina... ini tante Ruri dan yang lain mau pamit pulang"


Ujar Mama begitu sampai di dekatku.


Aku berusaha menebar senyum walau dihati masih gugup dan sangat takut atas apa yang baru saja terjadi yang mungkin tidak disadari baik dari keluargaku maupun keluarga besar Agung,, kecuali Agung sendiri.


"Ehm... Iya Tante,, kenapa gak sore aja? santai-santai aja dulu disini..."


Basa basiku pada tante Ruri yang merangkul pinggangku.


"Ah,, maunya sih gitu,, tapi ini si Mbak mau langsung terbang lagi ke Samarinda,, jadi mau gak mau pulang ini langsung packing lagi."


Jawab Tante Ruri sambil menunjuk Mbak Echa, kakak pertama Agung yang tinggal di Samarinda.


"Ohh,, gitu...."


Aku manggut-manggut.


"Agung,, mau ikut pulang atau mau disini dulu?"


Tanya Tante Ruri pada Agung.


"Ikut pulang juga Ma..."


Jawab Agung, mengagetkanku.


Sontak Aku menolehkan kepala dan menatap wajahnya bingung.


Bukankah tadi Agung bilang Dia akan mengajakku mengobrol?


Kenapa Dia berubah pikiran? ada apa ini? Apa yang sebenarnya yang ingin dibicarakan Agung tadi?


Agung menghindari tatapanku,


"Yuk, kita jalan sekarang aja...Tante,, Om .. Agung dan keluarga pamit ya..."


Agung menyalami kedua orang tuaku kemudian berjalan mendahului keluarganya menuju mobil.


Tante Ruri dan Mama terlihat saling pandang, kemudian sama-sama menatapku.


Mendapat tatapan dari keduanya membuatku salah tingkah.


Setelah cupika cupiki sama Mama, Tante Ruri menyusul keluarga yang lain masuk kedalam mobil dan berlalu bersama lambaian tangan dari seisi mobil.


Begitu mobil berlalu, Aku berbalik masuk kedalam rumah, namun baru beberapa langkah, Mama menghentikan langkahku.


"Vin,, Mama mau bicara.."


Aku menoleh, kudapati wajah serius Mama kala menatapku tajam.


Aku menelan ludah, kemudian berjalan menuju kursi di pojok rumah.


Duduk dengan perasaan gundah gulana, siap menunggu Mama membuka percakapan.


Setelah Mama duduk di sampingku, beliau memegang pundakku.


"Kamu sama Agung kenapa? berantem?"


Tanya Mama.


Aku menatap Mama lalu menggeleng.


"Lantas, kenapa sikap Agung seperti itu tadi,, dingin dan tidak berpamitan sama Kamu?"


Tanya Mama dengan nada curiga.


"Masak sih Ma,, kayaknya biasa aja... Mama salah tanggap tuh... mungkin Agung capek Ma.. makanya pingin cepat-cepat pulang"

__ADS_1


kilahku.


"Ya mudah-mudahan aja emang kayak gitu.. "


Mama beranjak dan berlalu meninggalkanku masuk ke dalam kamar.


Tak lama setelah itu, Aku juga memilih masuk kekamar, untuk mandi dan segera berganti pakaian, rasa gerah sudah sangat menggangguku.


......................


2 hari berlalu sejak pertunangan itu, cuti berakhir itu artinya Aku akan kembali masuk kerja menjalankan rutinitas seperti biasa.


Sejak 2 hari yang lalu, Tepatnya setelah kejadian Dirga menyanyi di acara pertunanganku,, Agung belum menghubungi lagi sampai pagi ini.


Aku sudah siap di depan cermin, dengan setelan blazer berwarna pink muda, Aku kembali mengecek ponselku tetap tak ada kabar dari Agung, kembali kumasukkan ponsel didalam tas, dan mataku tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisku.


Kuangkat jariku untuk memandang cincin tersebut lebih dekat.


Perasaan campur aduk menggenang dihatiku,, meski kini statusku sudah resmi menjadi tunangan Agung, tapi kenapa hati ini masih saja merasa belum rela jika harus sepenuhnya melupakan Dirga, yang harusnya kini tak lagi kupikirkan, tetapi malah semakin merindukannya.


Tok... tok.. !!


"Vin.....!!"


Panggil Mama sembri mengetuk pintu kamar.


"Iya Ma...."


Jawabku dari dalam.


"Ada Agung jemput kamu,, kamu udah siapa?"


Ujar Mama,


Aku terkesiap, lalu buru-buru mendekati pintu dan membukanya.


"Oh,, udah rapi... udah cantik... "


"Dimana Agung Ma?"


Tanyaku yang tak menemukan Agung ketika melihat ruang tamu.


"Di luar,, udah Mama suruh masuk,, tapi belum mau masuk,, ajak sarapan dulu gih..."


Perintah Mama lalu kembali menuju dapur.


Aku mengangguk lalu berjalan ke luar untuk menemui Agung.


Sampai didepan,,


Kulihat Agung sedang duduk di kursi teras sembari memainkan ponselnya.


Aku berjalan pelan mendekat,


"Hai... "


sapaku, lalu duduk di sampingnya.


"Hai... selamat pagi sayang...., waww... kamu cantik banget,, imut pake pink-pink gini"


Aku tersenyum.


"Kamu datang kesini buat...."


"Jemput kamu lah.... Tunangan tersayang"


Jawab Agung memotong cepat ucapanku.


"Kita masuk dulu yuk,, sarapan..."


"Oke,,"

__ADS_1


Agung beranjak dan mengikuti langkahku masuk kedalam rumah menuju ruang makan.


15 menit berlalu, Aku dan Agung bersiap berangkat menuju kantorku setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku.


Mobil melaju meninggalkan garasi rumah.


"Sayang... Aku boleh nanya?"


Agung menolehku sesaat kemudian kembali berkonsentrasi dengan jalanan didepannya.


"Apa?"


Jawabku singkat.


"Kamu belum bisa melupakan Dirga?"


Deg!!


Jantungku berdegup kala pertanyaan sensitif itu akhirnya lepas dari mulut Agung.


"Kok nanya gitu?"


"Ya gak papa.. Aku cuma ingin tahu,,"


"Kita bahas yang lain ya..."


Kilah ku.


"Sayang... melihat dari kejadian kemarin,, Aku tau,, kamu belum bisa sepenuhnya melupakan Dirga.. tapi kamu harus ingat sayang,, Dirga sudah lebih dulu move on dari kamu,, Dirga sudah mempunyai dunianya sendiri,, Dia sudah berkeluarga... dan kita,, akan membangun bahagia kita sendiri.."


Agung meraih tanganku dan menggenggamnya erat, sembari kembali menoleh sesaat ke arahku.


Aku merasakan himpitan di hatiku ketika mendengar ucapan Agung tentang Dirga yang sudah berkeluarga,


Andai saja Agung tau,, sampai detik Ini Dirga masih sendiri,, dan masih juga memikirkan Aku sama seperti Aku memikirkan dia.


Aku tak sanggup membayangkan jika suatu hari nanti Agung tau status Dirga yang msih sendiri,, ditambah tentang janji satu pekan yang pernah terjadi antara Aku dan Dirga minggu lalu.


Aku menghembuskan nafas pelan, membuat Agung kembali menoleh sesaat.


"Aku tau,, mungkin sulit sekali buat kamu untuk tidak memikirkan dirga lagi, tapi... setidaknya kamu berpikir.. ada seorang perempuan dan bayi yang harus dijaga perasaannya oleh Dirga"


Aku menelan ludah,, kemudian menoleh pada Agung lalu mengangguk.


"Iya... Aku tau itu, Aku tidak akan merusak itu semua,, hanya saja Aku mohon pada kamu,, Beri Aku waktu untuk mematikan perasaan yang pernah tumbuh subur ini secara perlahan-lahan,,"


Ujarku.


"Maksud kamu?"


Tanyanya.


"Aku belum siap jika setelah ini kita buru-buru menikah,, Aku masih belum berpikir kearah sana dalam waktu dekat.. biarkan semua berjalan pelan,, tanpa harus memaksakan keinginan"


"Kamu gak mau kita segera menikah?"


"Bukan, bukan itu maksud Aku Gung,, Bukan gak mau menikah,, cuma jangan dalam waktu dekat,, beri Aku waktu untuk menyelesaikan semua problema hati yang masih berantakan ini"


Jawabku sembari memandang jauh nanar kedepan, dan anehnya... Bayang wajah Dirga malah muncul dengan senyumnya yang begitu manis.


Aku memejamkan mata dan menggeleng pelan.


"Haduhh.... Please Dir.... jangan datang sekarang disaat suasana tengah genting seperti ini,,"


Batinku,


"Oke,, kalau itu memang kemauan kamu,, Aku akan bicarakan lagi sama Mama,, padahal... Niatku cuma ingin agar kamu lebih cepat melupakan masa lalu"


Agung melepas tangannya yang tengah menggenggamku.


kemudian mengatupkan bibirnya seolah tengah berpikir.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2