Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 145 Melihat Daniel dan Vina


__ADS_3

Vina masih saja terlihat gelisah,, entah apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan, Aku hanya mencoba berpikir positif, jika saat ini Vina tengah dilanda ketegangan, hanya itu.


Tak lama,


Matanya terlihat berbinar, senyumnya melelebar, dan segera beranjak berdiri lalu melambaikan tangan, ternyata kehadiran teman-temannyalah yang membuat Vina berubah kembali ceria.


"Vina... uuhh,, kangennn... udah hampir sebulan gak sih kita gak ketemu??"


Elza berlari menghampiri Vina begitupun Nina, mereka memeluk Vina, dari pemandangan itu, Aku tau betapa Vina sangat dicintai sahabat-sahabatnya.


Cinta?? kata itu kuucapkan begitu mataku menatap Daniel,, satu-satunya sahabat laki-laki Vina yang selalu ada untuknya, bahkan Vina pernah bilang bahwa Dia adalah sahabat sejak masih bocah sekolah dasar.


Sejak awal Aku melihat gelagatnya, entah kenapa Aku percaya jika Daniel seperti menyimpan rasa pada Vina.


Seperti hari ini...


Daniel Diam mematung matanya nampak mengamati seisi ruangan, bahkan kaos couple yang tengah kami pakai tak luput dari perhatiannya.


"Iya ihh... sama, Aku juga rindu sama kalian, sayang ya... Tari gak ada disini..."


Vina nampak bersedih ketika ia menyebut nama Tari.


"Iya, kemana ya tuh anak, sama sekali gak ada kabar, hilang gitu aja kayak ditelan Bumi!"


Jawab Elza.


"Eh.. Iya, sebenarnya ini ada acara apa sih, kita semua diundang tanpa tau dalam rangka apa?"


Sambung Nina yang memperhatikan seisi kafe.


"Bau-baunya ada udang dibalik batu.. hahhha"


celetuk Elza.


"Iya sich, dilihat dari baju couple yang mereka pakai kayaknya kita semua udah bisa nebak, ya gak Niel??"


Ujar Elza lagi kali ini menyenggolkan bahu pada Daniel yang sejak kedatangannya hanya diam.


"Nanti ya... , kalian akan tahu.... sabar.. ini surprise.. hehe"


Aku menjawab sembari melirik Vina.


"Kalian duduk aja dulu,, pesan dan makan apa aja terserah..."


Sambungku mempersilahkan semua untuk duduk di meja yang berdekatan dengan meja kami, lalu Aku meninggalkan mereka menuju panggung kecil yang sudah disediakan.


Dari atas panggung, Aku melihat Daniel tak henti menatap Kearah Vina, cemburu menyergap hatiku seketika.


Tak hanya itu, Daniel beranjak dari kursinya dan duduk mendekati Vina, mataku menangkap sesuatu di tangan Daniel.


Sebuah kotak merah, seketika hatiku bertanya-tanya, benda apa itu?


Tiba-tiba Vina menolehku, dan sedikit terkejut tau bahwa Aku memperhatikan mereka.

__ADS_1


Hatiku terasa panas ketika tangan Daniel menyentuh bahu Vina sembari menatapnya penuh arti.


Namun tak lama, Daniel melepaskan tangannya dari bahu Vina, diwajahnya tergurat kesedihan, entah apa yang mereka bicarakan, hingga membuat Daniel seolah terluka.


Aku terus memperhatikan mereka dari atas panggung, lagi-lagi hatiku panas kali ini giliran Vina yang menyentuh Bahu Daniel, sesaat setelah itu,, terlihat Daniel meraih tangan Vina dan mengajak bersalaman, dengan wajah sedih kemudian berlalu meninggalkan Vina.


Mungkinkah Daniel benar-benar jatuh cinta pada Vina, dan hari ini ia kecewa dengan acara ini?.


Tak lama setelah kepergian Daniel, Elza dan Nina mendekat pada Vina.


Rasanya ingin sekali Aku menemui Daniel, untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, namun waktu sudah hampir siang, sudah saatnya Aku membuka acara.


"Minta perhatiannya sebentar ya teman-teman...!"


Kata-kataku mengawali pengumuman dari atas panggung, membuat semua mata menyorot dan fokus tertuju kepadaku, termasuk Vina dan semua teman-temannya.


"Pertama-tama Aku mau mengucapkan terimakasih dulu buat kalian semua yang sudah menyempatkan waktu untuk datang memenuhi undangan.


Hari ini adalah hari spesial buat Aku dan seseorang yang sedang duduk disana!"


Aku menunjuk Vina, membuat semua mata beralih menatapnya,


"Aku mau bilang, bahwa berdirinya Aku disini untuk menyampaikan kabar gembira dan sebuah pengumuman bahagia kepada teman-teman semua, tapi sebelumnya Aku mau Vina!! untuk kesini menemaniku berdiri"


Sambungku lagi, membuat Vina sedikit terkejut, Aku melangkah turun, dan berjalan pelan menghampirinya, tak henti kutebar senyum bahagiaku,,


Sampai didepannya, mataku menatapnya lembut, meraih tangannya membantu untuk berdiri dan menuntunnya kembali menuju panggung kecil, tempat ku berdiri sebelumnya.


Sampai diatas panggung, pandangan mata Vina justru tertuju pada Daniel yang terus menunduk, Aku menarik nafas melihat itu, dan kembali berbicara,


Perempuan cantik yang pertama kali ku kenal di bangku Smp, Dan Dia adalah cinta pertamaku..."


Mendengar itu, Vina dengan cepat menolehku dan menatapku tak percaya,


jelas sekali nampak keterkejutan diwajahnya mengetahui bahwa Dia adalah cinta pertamaku.


Sekilas kutatap matanya, dan kembali berbicara,


"Bertahun-tahun Aku memperjuangkan untuk mendapatkan hatinya, bertahun-tahun itu pula Aku menjaga hatiku berjuang untuk mendapatkan cintanya, dan tepatnya kemarin, Tuhan mengabulkan doaku, Dia membuka hatinya untuk menerima cintaku, dan kami berencana pertunangan akan kami gelar 3 bulan lagi"


Tepuk tangan dari seisi kafe menyambut kalimat demi kalimat yang Kuucapkan.


Namun satu hal yang mencuri perhatianku,


Daniel, ya... hanya Dia yang tak menunjukkan kebahagian.


Dia tertunduk dan lesu.


Pandanganku beralih kepada Vina, dan benar,, seperti dugaanku, mata Vina terus memperhatikan Daniel, terlebih ketika Daniel beranjak dari kursinya, berjalan keluar meninggalkan kafe.


Wajah cemas ditunjukkan Vina lalu,


"Ehm... Gung, maaf.. Aku keluar sebentar.."

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa dan tanpa menunggu jawaban dariku terlebih dahulu, Vina berlari turun dari panggung, lalu keluar kafe,, dan Aku sangat yakin Vina sedang mengejar Daniel,


Darahku terasa berdesir panas, rasa cemburu seketika mengoyak rasa bahagia yang baru saja terhampar didepan mata.


Aku memijat pelipisku yang tiba-tiba saja berdenyut, mencoba meredam segala bentuk rasa yang bisa menghancurkan momen bahagia hari ini.


Aku memilih turun menemui dan bergabung dengan sahabat dan teman-temanku di meja mereka, sembari menunggu Vina kembali.


Namun hingga 10 menit berlalu, Vina tak kunjung kembali, perasaan cemas dan was-was membuatku memutuskan untuk menyusul Vina keluar.


Dengan hati berdebar dan bertanya-tanya Aku melangkahkan kaki keluar kafe,


Sampai didepan pintu kafe yang terbuat dari kaca, Aku bisa melihat jelas Keadaan diluar,


Mataku menangkap Vina tengah berbicara serius dengan Daniel, entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Rasa penasaran yang besar membuat Aku melangkah semakin mendekat.


Dari sorot mata Daniel, Aku tau... Dia sedang terluka dan kecewa,


Beberapa kali terlihat olehku bagaimana Daniel mencoba menyembunyikan perasaannya, namun mata itu tak bisa berbohong, bahwa ada cinta yang sangat kuat disana.


Aku bisa melihat mereka dengan jelas,, namun Aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan,


Perlahan Aku membuka pintu kafe dan berjalan mendekat dan sembunyi-sembunyi.


"Suatu saat kamu akan tau,, tanpa harus memaksa untuk mencari tau kenapa Aku seperti ini, Kamu harus bahagia,, masuklah,, Agung menunggu kamu!"


Kalimat Daniel yang baru saja kudengar,


Deg!!


Jantungku berdebar mendengar itu,,


Ternyata benar,, Daniel patah hati..


Daniel membalik tubuhnya, menyelipkan tangannya disaku berjalan menjauh dari Vina.


Sementara Vina masih menatap Daniel yang kini membelakanginya.


Tak lama, Vina sepertinya akan bergegas masuk kedalam.


Namun baru beberapa langkah, Vina kembali berhenti dan menoleh lagi kearah Daniel, menatapnya sekali lagi dengan tatapan lain.


Kesempatan itu kugunakan untuk kembali menyelinap masuk kedalam kafe tanpa disadari Vina, dan berpura-pura seolah baru saja akan keluar mencarinya.


Tiba didepan Pintu, Aku berdiri siap menunggu Vina,


"Vina,,, ya Tuhan... kamu darimana? Aku nungguin kamu dari tadi, ni baru mau keluar nyusulin kamu"


Ujarku,


"Ehm maaf...tadi Aku.... ehm... keluar sebentar"

__ADS_1


jawabnya terbata,


Bersambung***


__ADS_2