
Sepanjang jalan pulang, Aku seperti manusia bodoh, linglung tak tau harus apa dan bagaimana.
Pikiranku terisi penuh tentang Vina, Vina dan Vina..
Sesaat terbersit tanya dihatiku, apa keputusanku ini sudah benar..?Jika iya mengapa sulit sekali Aku menepis bayang wajah Vina dari otakku.
Sampai dirumah,
"Kok cepat Gung?"
Mama melirik jam dinding kemudian menatapku heran,
"Iya,,"
Jawabku singkat, kemudian ngeloyor masuk ngelewati Mama.
"Eh... Tunggu... Tunggu..."
Cegah Mama yang dengan cepat menyusulku dan berdiri di depanku.
"Apa Ma?''
Jawabku yang terpaksa berhenti melangkah.
"Kok murung gitu? kenapa? Ada masalah ya?"
Selidik Mama.
Aku menggeleng, kemudian melanjutkan langkahku masuk kedalam kamar meninggalkan Mama yang berdiri dalam kebingungan.
Aku belum siap untuk menceritakan niatku pada Mama,, Aku masih belum punya cukup nyali, untuk melihat kekecewaan Mama ketika tau Aku memutuskan menyudahi pertunanganku dengan Vina.
Sampai Dikamar, Aku membuka ponselku dan mengirimkan dua file lagu seperti yang sudah ku janjikan pada Vina di mobil tadi.
Setelah terkirim, Aku sengaja memberi Vina waktu untuk mendengar dan meresapi lagu tersebut.
Setelah kurasa, Vins selesai mendengar lagunya, Aku menelpon Vina, namun sebelumnya, kukumpulkan dulu segenap keberanianku, lalu dengan menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya.
Halo... Vin.."
Sapaku begitu telponku diangkat,
Namun tak kudapati sahutan Vina, hanya isak yang sayup-sayup terdengar ditelingaku.
Beberapa saat hening,, Aku kembali mencoba memanggil Vina.
"Vin..."
"Ya..."
Suara pelan itu akhirnya terdengar.
"Kamu menangis??"
Tanyaku.
Vina tak menjawab.
__ADS_1
"Menangislah... biarkan air mata itu mengalir bebas.. melepaskan segala rasa yang kamu simpan.. jangan ditahan,, makasih kamu sudah mengikuti saranku untuk mendengarkan lagu ini menggunakan headphone menjelang tidur,, Aku cuma ingin tau reaksi kamu,, jika tiba-tiba matamu basah, barangkali masih ada sisa masa lalu yang belum tuntas yang sedang memaksa masuk kembali menuju pikiran dan hatimu, sisa masa lalu itu adalah seseorang yang pernah membuat kamu sangat bahagia,, dan kini harus kamu lepas karena hal yang tidak memungkinkan.
Karena itu,, maka menangislah.. biarkan matamu basah,, jangan diusap... "
Ujarku pelan,,
Dan kata-kataku membuat isak tangis Vina semakin menjadi.
Kubiarkan ia menangis hingga puas, hingga sedu sedan dan isaknya itu bisa menyadarkan Aku jika memang Aku tak pernah ada dihatinya seperti Dirga.
Agar Aku dapat lebih mudah melupakan semua rasa yang pernah ada.
Cukup lama saling diam, dengan panggilan yang masih tersambung, Aku bisa dengan jelas mendengarkan tangisnya yang membuat hatiku seperti tersayat setiap kali isak itu terdengar.
Tak lama,
"Gung..."
Sapanya.
"Ya..."
Jawabku,,
"Kenapa kamu melakukan ini? ada apa? apa ini yang membuatmu terasa berbeda 2 bulan terakhir ini,,?"
Tak kusangka Vina ternyata merasakan perubahanku.
Aku pikir, Vina tak peduli dengan itu.
"Kamu merasakan perubahanku?"
Tanyaku.
"Vina,, sebetulnya Aku tidak berubah,, Aku hanya sedang bingung,, "
terangku.
"Bingung? bingung kenapa?"
"Bingung dengan sikap kamu,, bagaimana bisa kamu menjalani hubungan dengan Aku tapi hati kamu tersiksa"
Hatiku terasa perih mengucapkan kalimat ini, terbayang bagaimana mesranya Vina dan Dirga dimobil waktu itu, terngiang semua cerita Ayumi tentang mereka.
"Gung,, maksud kamu?!"
Tanya Vina dengan suara yang terdengar panik.
"Aku sudah tau semuanya Vin,, Kamu masih belum bisa melupakan Dirga dan kamu juga belum ikhlas dengan hubungan kita.."
seperti ada benda tajam yang menghunus didadaku.
"Gung... Aku..."
Sela Vina, namun dengan cepat kupotong.
"Kenapa kamu bohong sama Aku Vin,, tentang status Dirga? kalau ternyata Dirga belum menikah apalagi punya anak,, padahal kamu sudah tau itu"
__ADS_1
Teringat Aku bagaimana Ayumi menceritakan tentang Dirga yang mengenalkan Vina kepada mereka saat di mall, hatiku bagai terhempas lebur tak berbentuk.
"Gung Aku bisa...."
Lagi-lagi Aku tak memberi kesempatan untuk Vina berbicara.
"Kamu masih mencintai Dirga,, masih sangat mencintai Dirga... begitupun sebaliknya..Aku tak ingin menjadi penghalang untuk kalian,, Aku tak ingin kamu melepaskan kebahagian kamu demi Aku, sementara kamu sama sekali tak mendapatkan kebahagiaan itu dari Aku."
"Agung Please... kasih Aku kesempatan buat menjelaskan,, Aku..."
"Aku gak sejahat itu Vin,, Aku ikhlaskan kamu.. jika memang kebahagiaan kamu adalah Dirga,, bukan Aku."
Ingin sekali kuceritakan padanya bahwa Aku melihat adegan mesra dimobil saat diparkiran bandara kala itu, namun kenapa Aku tak sanggup...
Terlebih ketika Aku mendengar tangis itu pecah bersama isak yang semakin menggema ditelingaku.
"Hapus Air mata kamu Vin, jangan menangis lagi.. kita akhiri sandiwara ini,, dan kejarlah kebahagian kamu yang sebenarnya."
Tanpa kusadari, sesuatu mengalir dari sudut mataku.
Perih sekali ketika kita harus merelakan seseorang yang kita cintai untuk pergi mengejar cintanya dan jelas itu bukan Aku.
Masih banyak yang ingin Aku sampaikan, tapi rasanya Aku sudah tak sanggup lagi, sesak di dada yang terasa semakin menghimpit membuatku harus menyudahi panggilan ini.
"bye Vina..."
Ucapku pelan sebelum tombol matikan ku tekan.
Aku duduk ditepi tempat tidur, memegangi kepalaku yang terasa sangat berat,,
Ya Tuhan,, ternyata rasa ini sungguh sakit.. merelakan Vina terlepas dari hatiku ternyata tak semudah yang Aku bayangkan,
rasanya seperti kehilangan separuh jiwa,, hampa dan melayang, bagaimana Aku bisa melanjutkan hari-hariku kedepan jika saat ini saja rasanya Aku hampir mati.
Aku mohon kuatkan Aku Tuhan, bahkan ini saja belum selesai... masih ada babak lain dimana Aku harus menjelaskan pada Mama dan keluargaku tentang keputusanku ini agar Mama bisa mengerti tanpa membenci Vina.
Sungguh Aku tak ingin rasa sayang Mama pada Vina berubah ketika tau tentang Dirga.
Vina, apa saat ini kamu sedang mencemaskanku?
atau malah sebaliknya lega dan senang karena terlepas dari sandiwara hati?
Kuputuskan untuk mengiriminya pesan.
"Vina.. jangan risaukan Aku, Aku baik-baik saja.. dan jangan pula bertanya-tanya tentang mengapa Aku memilih keputusan ini,, karena bagiku.. level tertinggi dalam mencintai seseorang itu adalah ketika kita ikhlas melepaskannya demi untuk melihatnya bahagia."
Aku menghembuskan nafas setelah melihat pesan yang kukirim telah terbaca, hatiku berdebar menunggu akan seperti apa balasan pesan dari Vina.
Entah kenapa, Aku masih berharap Vina menahanku, padahal Aku sendiri yang ingin melepaskan Vina.
Tak lama, balasan kuterima.
"Aku gak tau harus bicara apa,, dan Aku gak tau harus bagaimana... kamu begitu baik,, sangat baik... maafkan Aku....maafkan Aku"
Sedikit kekecewaan tergores, membaca isi pesan balasan Vina.
"Tak perlu bicara apa-apa,, mengenai pertunangan kita,, anggap saja itu tak pernah terjadi,, Aku akan bicara sama Mama,, kamu tenang saja... Mereka akan sangat mengerti,, Setelah ini, Aku sudah memutuskan untuk tinggal lumayan lama di Batam, setidaknya sampai diantara kita sudah terbiasa dan siap untuk bertemu lagi, dengan status yang berbeda,,"
__ADS_1
Balasku lagi.
Bersambung***