Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 191 coklat pesan buat Vina


__ADS_3

Satu tahun berlalu sejak hari dimana Aku menambatkan hatiku pada seorang gadis kecil yang polos dan lugu,,


Kini tak terasa ujian kenaikan kelas sudah dimulai,


Semangatku berkali-kali lipat untuk belajar, menghafal dan mengulang semua pelajaran setahun belakangan, alasannya hanya ingin menunjukkan yang terbaik didepan Vina, Aku tak ingin terlihat bodoh dihadapannya.


Maka ketika ujian dimulai, Aku siap dan bisa menyelesaikan semua soal tepat waktu dengan keyakinan 80 persen jawabanku benar.


Paling tidak Aku bisa meraih 10 besar dikelas.


Bel berbunyi dua kali,, itu tandanya ujian selesai. Semua siswa mengumpul kan kertas ujian nya di depan.


Guru pengawas meninggalkan ruangan dengan membawa hasil ujian keluar.


Aku menatap kearah gadis impianku, ia terlihat tengah bercakap dengan Nina, dan tanpa diduga disaat bersamaan Vina menoleh kearahku.


Aku berinisiatif mendekatinya, membuat Vina buru-buru memalingkan wajahnya.


Aku memilih duduk disampingnya tepatnya di bangku Nina, Sedang Vina terlihat begitu gugup sampai-sampai ia terjebak olehku tengah merapatkan bibirnya dan memejamkan mata.


"Kamu gak keluar?"


Sapaku, membuat Vina perlahan membuka mata.


"Hmm... iya.. Males"


Jawabnya gugup.


Hampir satu tahun mengenal nya, tapi Vina masih saja gugup bila berdekatan denganku.


Aku terus memperhatikan gelagat Vina yang semakin canggung dan salah tingkah, lucu dan menggemaskan, mulai dari membuka dan menutup buku berulang kali, membetulkan rambut hingga beberapa kali memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu kenapa sich,, kayak ga nyaman gitu?"


"Oh... Ehh.. Ehm... Enggak kok, biasa aja"


jawabnya gugup, dan lagi-lagi Vina mengulangi aktivitas tak bermanfaat itu lagi.


Dengan senyum, Aku mengambil buku dari tangannya, kemudian menyimpannya di dalam laci, lalu kusentuh dagunya,, hal itu membuat Vina menatapku sedikit tercengang.


"Vin,, Aku suka melihat kamu lagi bingung kayak gini,,"


Ujarku lalu beranjak meninggalkan Ia yang masih dalam keadaan termangu.


Hingga ujian matpel ke 2, Aku masih dengan semngatku yang lagi-lagi karena Vina,


entahlah, bagiku Vina bagaikan doping untukku menjalani hari.


Bahagia,, hanya itu yang Aku rasakan setiap kali Aku menatapnya.


Ujian selesai, Aku bergegas meninggalkan ruang kelas lebih cepat dari Vina dan yang lainnya.


Sengaja bersandar di balik dinding disamping pintu kelas,, menunggu Vina hanya untuk mengajaknya pulang sekolah bareng meski Aku tau rumahku dan rumahnya tak sejalur.


Tak lama menunggu,


"Dirga..."


Ucap Vina dan Nina terkejut melihat keberadaanku.


"Bukan nya kamu......"


"Sengaja, nunggu kamu"


potongku cepat.


"Vin...bareng ya"


Sambungku sembari bergegas mengambil posisi di samping Vina menuruni anak tangga.


Sepanjang koridor sekolah antara Aku, Vina dan Nina hanya saling diam.


Hingga Nina berinisiatif meninggalkan kami berdua.


"Eh...aku duluan ya...udah laper lagi.."


ujar nya kemudian berjalan cepat lalu berlari.

__ADS_1


Ada lega ketika Nina pergi, setidaknya ada kesempatan lagi untuk berdua dengan Vina,, dan itu membuat hatiku bersorak sorai gembira bukan main.


Sementara Vina terlihat sangat canggung dan terus menatap langkah Nina yang semakin menjauh.


"Udah,,biarin Dia duluan"


Vina menolehku lalu mengangguk dan tersenyum.


Aku dan Vina berjalan menuju halte dan duduk berdua disana.


Seketika rasanya ingin sekali memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu, agar ini tak cepat berakhir, tapi sayang Aku tak mampu dan Terlebih ketika kulihat Bis yang berjalan mendekat ke halte, itu artinya sekian detik lagi... Vina akan meninggalkanku pulang,


Begitu Bis datang,,


"Aku pulang ya,,"


Pamit Vina lalu melangkahkan kaki menaiki bis.


Hemm...entah kenapa, rasanya Aku tak rela kehilangan momen duduk berdua dengannya.


Tiba-tiba saja ide konyol muncul di otakku.


Dengan cepat Aku melompat naik ke atas Bis sebelum Bis benar-benar melaju meninggalkan halte.


Vina yang tak menyadari Aku menyusulnya terlihat kaget begitu melihat Aku berjalan kearahnya dan duduk disampingnya.


"Loch...kok kamu naik?"


ucapnya bingung.


Aku hanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ehm...bukan nya bis ini bukan ke arah rumah mu kan??"


Sambung Vina.


sekali lagi,, Aku mengangguk.


Vina yang bingung memalingkan wajahnya dariku,


Ujarku mencoba menebak isi hatinya.


Vina mengerutkan dahinya.


"Ihhh...dibilangin gak usah mikir.."


ujarku yang sekali lagi menebak isi hatinya.


Vina lalu menatapku.


"Kenapa?? bingung ya?.. Aku tau kamu lagi mikir apa?" Tanyaku.


"Ehm..mikir apa??"


Jawabnya.


"Mikir,, kenapa Aku tau kalo kamu lagi mikir..hahaha"


Aku tertawa lepas,


Melihatku tertawa, Vinapun ikut tertawa.


Sepanjang perjalanan kami tak banyak bicara,, hanya diam, sesekali kami beradu pandang, kemudian tersipu malu.


Ingin sekali Aku jujur,, bahwa Aku suka Dia, tapi... kenapa mulutku rasanya berat untuk bicara.


"Dir,,setelah halte ini.. Aku turun di halte berikut nya,"


Vina memberitahuku, Aku meresponnya dengan anggukan.


Tibalah di halte tujuan, kami berdua turun.


"Dir,, Aku pulang ya, kamu gimana?"


Tanya Vina.


"Aku juga mau pulang, rumah mu dimana?"

__ADS_1


Tanyaku, berharap suatu saat nanti ada kesempatan untuk Aku berkunjung kesana, dan mudah-mudahan saja... kelak, saat Aku datang kesana, Aku dan Vina bukan sekedar teman seperi saat ini.


"Masuk jalan itu"


Vina menunjuk sebuah jalan lebar untuk masuk di sebuah perumahan komersil.


Vina melambaikan tangan, kemudian bergegas melangkah meninggalkanku,,


Dengan cepat, segera ku tangkap lengan itu untuk menghentikan langkahnya.


"Vin,,tunggu..."


Vina berbalik,


"Kenapa Dir.."


Aku hampir saja lupa, bahwa Aku sudah menyiapkan coklat spesial yang kubeli kemarin, kenapa kusebut spesial?


Karena Aku menyelipkan secarik kertas pesan disana.


Segera kubuka tas dan mengambil sebatang coklat, lalu menyodorkannya di depan Wajah Vina.


"Nich...buat kamu, makasih ya untuk semangat hari ini"


Vina termangu,,


Aku berbalik lalu berlari menyebrang jalan, menanti Bis untuk pulang.


Tak lama menunggu dari kejauhan, nampak Bis yang akan mengantarku pulang, Aku melihat Vina yang masih terpaku menatapku.


melalui kaca jendela Bis kulemparkan senyuman pada Vina yang disertai lambaian.


......................


Hari kedua ujian,


Sekolah masih tampak sepi ketika Aku sampai disekolah,


Namun mataku dengan cepat mengenali 2 sosok yang tengah mengobrol di taman.


Aku berniat menghampirinya, namun niat itu ku urungkan, Aku ingin tau reaksi Vina setelah menerima coklat pesan dariku.


Sengaja berpura-pura tak melihat, Aku memilih berdiri membaca mading.


Tak lama kulihat Vina berjalan cepat kearahku, segera kualihkan tatapanku.


"Vin... Vina... Aduhhh... Kamu kenapa sich? woyy!! pelan aja jalan nya! Vin..capek tau...!!"


terdengar omelan Nina yang berusaha mengejar Vina.


Aku yang berharap Vina akan menghampiriku dengan senyum sumringah serta ucapan manis ternyata tak kejadian,


Sampai di depanku, Vina melengos membuang muka dengan wajah masam,


Semua itu membuatku kecewa bercampur bingung,,


"Kenapa Dia?"


tanyaku pada Nina, yang terlihat kepayahan mengejar Vina


"Kesambeeeeettttt...!!"


ketus Nina sambil terus mengejar langkah cepat Vina


Tett...teett...


Setelah semua siswa masuk kelas,


Ujian di mulai, semua fokus pada kertas ujian masing-masing.


Kusingkirkan terlebih dahulu rasa kesalku demi menjawab soal-soal penuh konsentrasi.


Selesai!


Aku segera mengumpulkan kertas ujianku dan pulang lebih awal dari yang lain, tak kuhiraukan Vina, Aku ingin Dia merasakan bagaimana rasanya di cuekin.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2