Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 67 Aku bisa apa?


__ADS_3

Tak lama berselang,


Agung datang dengan tiket di tangan.


"Nih, Aku sengaja pilih Film ini, semoga kalian suka ya..."


Agung menyerahkan pada kami masing-masing tiket.


Sebuah Film bergenre remaja anak sekolahan.


"Ehmm.... Kakak kece, tau aja Film yang pas buat kita.. suka deh sama Film ini, Aku pernah nonton Trailernya, jadi ini tentang kisah cinta segitiga gitu guys!!!"


Elza sangat antusias menjelaskan cerita film yang akan jadi tontonan kami didalam.


"Masak sich, kok Aku gak pernah liat ya..."


Nina mengernyitkan dahinya memandang tiket ditangannya.


Agung senyum-senyum.


"Ada Nin, Aku juga pernah liat iklan promo Filmnya tayang di tv kok,"


Sambung Tari.


"Hadeehhh, ngapain sih nonton Film ginian.. cengeng nih, ujung-ujungnya nangis bombay... mending nonton Film Action, kan seru!!"


Celetukku berharap ada yang sepemikiran denganku.


"Ehhh... lu aja nonton sendirian Film kayak gitu, gua mah ogahhh!!! Film kok berantem mulu!!"


Elza yang berdiri di sampingku menepis bahuku.


"Ya, maaf ya Niel.. lain kali deh.. kita nonton Film Action, kalo yang lain pada gak mau, ntar kita nonton berdua mau??"


Jawab Agung senyum-senyum membuatku semakin jengkel.


"Apaan??? ihhh... sorry, gw normal Bro!!"


kilahku sembari melipat tangan di dada.


"Hehhh... kamu pikir Kak agung gak normal? sembarangan kalo ngomong, udah... Ssttt diem, jangan banyak protes!!"


Elza menempelkan jari telunjuknya pada bibirku.


Aku tau semakin Aku protes dan berusaha berdebat dengan Agung, Akan semakin sering Aku di bantah dan di dipojokkan oleh teman-temanku sendiri,


Agung berhasil memikat, bukan cuma hati Vina saja, melainkan hati semuanya.


Tak lama berselang pintu pun dibuka, kami semua masuk untuk menonton.


Di dalam, ternyata Vina duduk diantara Agung dan Aku, sementara Elza, Nina dan Tari duduk disebelah kami.


Beberapa cup pop corn dan minuman dibagikan oleh Agung pada kami.


Sepanjang acara Nobar, Aku sama sekali tak menikmati apa yang ada dilayar, hatiku terus terasa panas, sesekali Aku melirik Vina yang tengah seksama menyimak jalan cerita yang sedang ia tonton, begitupun Agung, dan teman- teman yang lain, bahkan Nina sampai terisak haru terbawa suasana.


Situasi yang benar-benar membosankan, Aku bersandar dan membuang nafas pelan, kemudian berpikir lebih baik tidur, namun baru saja Aku hendak merapatkan mata, terlihat olehku gelagat yang mencurigakan dari Agung.


Jemari Agung pelan-pelan meraba dan menggenggam tangan Vina.


Seketika mataku kembali terbuka lebar, rasa kantuk ku menghilang. Hatiku terasa panas, kulirik Vina yang sepertinya tak berusaha untuk melepaskan tangannya, apa mungkin Vina menyukainya?


Sesekali terlihat Vina menoleh Agung, sementara Agung tetap fokus menonton seolah tak terjadi apa-apa.


Darahku mendidih,


Ingin sekali Aku menarik tangan Vina dari genggaman Agung, tapi apa hak ku?


Aku bukan siapa-siapa.


Ingin sekali berteriak geram, tapi ini bioskop, bisa-bisa Aku akan di lempar puluhan botol minuman, dan diseret keluar dianggap gila. Andai saja Vina tau, bahwa Aku sedang terbakar cemburu.


"Ehm..... Ehmm... Heeemmm"


Mungkin saat ini hanya ini jurus jitu yang bisa Aku lakukan, berdehem Agar mereka tau, ada yang terganggu dan berharap bisa membuat mereka gerah.


Dan tak kusangka ini berhasil,


Spontan Agung menarik dan melepaskan genggaman tangannya dari jemari Vina. Dengan cepat pula ia merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap.

__ADS_1


Dari wajahnya Aku tau Agung tengah salah tingkah.


Sementara Vina menoleh kepadaku, terulas senyum simpul dari bibirnya, entahlah apa arti senyuman itu, mungkinkah Ia paham dengan perasaanku saat ini dan berusaha menenangkanku dengan caranya?


Ahh, rasa-rasanya Aku terlalu percaya diri.


Setelah itu, Vina terlihat menjauhkan tangannya dari lengan kursi, mungkin agar Agung tak bisa mengulangi tindakannya barusan.


2 jam berlalu,


Nobar selesai, Aku dan semua meninggalkan bioskop.


"Kita makan dulu kan.... Aku laperr.."


Rengek Nina manja pada Agung, entahlah hal itu membuat Aku jadi kesal.


"Iya Moy, kamu pilih deh mau makan dimana?"


sambung Agung.


Sungguh, Aku bagai manusia yang sangat tak berguna ketika Agung berada ditengah-tengah kami.


Wajah Nina berubah sumringah seketika.


"Ehmm... Kakak kece,, emang top dech, idaman ini mah,, bahagia banget pastinya yang jadi pacarnya...hahahh"


Nina memuji Agung didepanku dan semua membuat Agung benar-benar diatas angin sementara Aku hanya bisa menunduk merasa kalah.


"Sayangnya, tak semua orang mikirnya gitu moy... "


Jawab Agung dengan tetap mempertahankan senyumnya.


Hal itu membuatku mengangkat kepala dan menatapnya untuk mengetahui makna ucapannya barusan.


"Kenapa gitu Kak??"


Tanya Nina penasaran.


"Buktinya sampai sekarang, Aku belum bisa menaklukkan satu hati...masih kalah sama saingan.. berattt...hehheh"


Aku paham sekarang, saingan yang dimaksud Agung disini adalah Dirga,


Ehmmm... kebanting!! Nasibbbb....


"Uuhh... kasian, sama Aku aja kak.. hahha, dijamin bahagia lahir batin"


Ceplos Nina diiringi ketawa nakalnya.


"Eluuu yang bahagia, kak Agung menderita!!"


Elza mencubit pipi Nina.


"Ahh Elzaa!! sakiiittt! lagian kenapa harus menderita coba??"


Nina mengusap pipinya yang memerah.


"Iya donk... jelas menderita, bagaimana enggak!! Lu... jajannya banyak! nguras dompet, sama aja melihara Anak gajah!! wkwkkwk"


Elza tertawa lepas.


"Iihh... Elza, jahat banget! Masak Aku disamain sama Anak gajah!! emangnya Aku segemuk itu??!"


Nina menekuk mukanya cemberut.


"Ngacaaaa!!!!!!"


Seru Elza sembari berlari,


"Gak kok, Nina itu cantik, seksi, gemoy.. lucu.. dan yang pasti Nina itu baik"


Agung lebih dulu menghibur Nina, hingga membuat Nina kembali tersenyum percaya diri.


"Ya udah, kenapa gak jadian aja kalian, kan cocok.. yang satu baik, dan yang satu gemoy!"


Seruku spontan, yang membuat mata-mata didepanku segera menyorot tajam kearahku.


Agung hanya menanggapi nya dengan senyuman.


Kami kembali melangkah, menuju tempat makan yang telah dipilih Nina.

__ADS_1


Aku memperhatikan Vina yang tak berkedip memperhatikan Tari, sementara Tari sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


"Vin.. kok bengong?"


Aku menyenggolkan Kakiku padanya.


"Ah.. ehmm.. enggak kok, tuh lagi ngeliatin Tari Asyik bener sama hape"


Jawabnya.


Mendengar hal itu, Tari melepaskan ponselnya dan menyimpannya didalam tas.


"Ehm... Maaf ya,, hahha.."


"Lagi chat sama siapa sih? kok kayaknya sibuk banget?"


Tanya Vina.


"Enggak ada, cuma lihat-lihat medsos aja"


Jawab Tari dengan senyum aneh.


"Udahh.... makan yuk, ntar dingin gak enak!!"


Nina mulai sibuk meracik makanan yang Dia pesan.


Disela-sela waktu makan,


"Ehm.. Vin, maaf... "


Agung meraih dagu vina, dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya yang memegang tissue menyeka sudut bibir Vina.


Perlakuan manis Agung kembali terjadi saat tak sengaja sisa makanan tertinggal di salah satu sudut bibir Vina.


Mataku terasa panas, hatiku terasa ingin meledak, seiring detak jantung yang tak terkendali.


Rasanya ingin kutinggalkan saja mereka, tapi hal tersebut pasti akan membuat suasana berubah dan Aku tak ingin mengacaukan semuanya, belum lagi todongan pertanyaan yang akan terlontar dari si lemot cantik dan beruang cantik.


Aku tak siap untuk itu.


"So sweeeeetttt......"


pekik Elza diiringi tepuk tangan dari mereka.


Kuperhatikan pipi Vina yang bersemu, namun tak kusangka Vina balik menatapku, Aku terjebak dipandangan Vina.


Buru-buru Aku membuang muka,


"Vin, nich ya, kalau boleh Aku kasih saran, mending kalian jadian aja, resmikan disini mumpung ada kita yang akan jadi saksinya iyakan? bener gak Nin?"


Ujar Elza sembari menoleh Nina.


"Ngomong apa sih za..."


Jawab Vina malu-malu.


"Lah... dari pada ngarepin Si soulmate mu yang sampai sekarang gak tau dimana rimbanya iya kan?? mending yang pasti-pasti aja yang udah ada disini!"


Sambung Elza lagi.


Aku hanya diam, tak tau mesti berkomentar apa, lemah, payah dan tak berdaya ketika semua mendukung hubungan Vina dan Agung, mungkinkah Aku masih boleh berharap, suatu saat Vina menjadi milikku?


"Gak boleh gitu za, yang tau gimana Vina dan Dirga itu disini cuma Aku, mereka soulmate gak bisa di pisahkan, meski saat ini yaaaa... memang sedang pisah, tapi Aku yakin, hati mereka tetap terpaut!!"


Tutur Nina.


Uhuk..!!! Uhuk!!


Lagi-lagi Tari tersedak setelah mendengar tentang Dirga dibahas.


Membuatku semakin merasa ada sesuatu yang aneh dengan Tari.


"Tar... kamu gak papa?"


Vina menyerahkan selembar tissue pada Tari.


"Iya, gak Papa"


Jawabnya.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2