Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 163 Merasa kehilangan


__ADS_3

Aku sontak menatap Mata Papa yang serius memandangku tajam menyelidik.


Melihat itu Aku menelan ludah,


Bagaimana Papa bisa menebak bahwa laki-laki yang sedang kuceritakan adalah Dirga, padahal tak ada sedikitpun dari yang baru saja ku ceritakan sedikit saja mengarah kepada Dirga.


"Vin, kenapa diam? apa benar, orang yang sempat membuat kamu patah hati dan kini kembali datang lagi yang membuat ikatan pertunangan Kamu dan Agung akhirnya kandas adalah Dirga?"


Tanya Papa lagi.


Aku kembali memandang wajah Papa, sangar dan tak ada senyum sama sekali.


Ya Tuhan.... bagaimana ini??


Sungguh,, ketakutan dalam hatiku apabila ternyata Papa malah akan membenci Dirga jika Aku membenarkan tebakannya.


Bagaimana ini??


Aku harus jawab apa??


Aku menggigit bibirku sendiri, menahan ketakutanku.


"Vin,, jawab saja benar atau salah jika Dirga adalah orangnya?"


Sambung Mama sembari membelai kepalaku.


Aku menunduk,, kemudian mengangguk pelan.


Aku pasrah, jika setelah ini Papa akan membenci Dirga dan melarang Aku berhubungan dengannya lagi, karena dianggap sebagai biang dari putusnya hubungan antara Aku dan Agung.


Padahal tadi, Papa terlihat begitu dekat dan menyukai Dirga.


Ahhh... kenapa hubunganku sama Dirga tak pernah bisa mulus...


Aku membuang nafas.


"Papa sudah menduga!!"


Ucap Papa membuatku kembali menelan ludah dan menyiapkan mental menunggu kalimat amarah selanjutnya dari mulut Papa.


"Menduga apa Pa?"


Tanya Mama bingung.


"Menduga kalau antara Vina dan Dirga ada sesuatu"


Papa merubah posisi duduknya.


"Pa... Vina Mohon... jangan benci Dirga...."


Ujarku pelan sembari memberanikan diri menatap Papa, berharap Papa mau memaafkan semua yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Benci?? Kenapa harus benci?"


Jawab Papa santai,


Aku terbelalak mendengar jawaban Papa,


"Apa Vina gak salah dengar Pa? Papa tidak membenci Dirga??"


Tanyaku tak percaya.


"Iya,, kenapa Papa harus membenci Dirga,, Dia tak salah apa-apa,, yang salah itu kamu! dan harusnya Kamu yang Papa benci!!"


Telunjuk tangan Papa terasa tepat menghujam jantungku.


Wajah ku berubah lesu saat Mendengar kalimat terakhir Papa"


"Iya Pa... Vina salah.., Vina minta maaf...."


Aku menunduk dan tak terasa air mataku menetes. Rasanya sakit sekali hati ini ketika dibenci orang tua sendiri.


Mama memelukku,


Tak lama Papa beranjak dari kursinya, dan pindah duduk disampingku,


"Tapi... karena Anak Papa cuma kamu,, itu tak kan pernah Papa lakukan"


Mendengr itu, sontak saja Aku menoleh pada Papa serta mengusap air mataku dan menatap dalam-dalam mata laki-laki yang sangat Aku sayangi ini, senyum Papa terkembang, dan Papa merentangkan tangan menunggu pelukan dariku berlabuh di dadanya.


Dengan cepat kudekap tubuh gagah itu, sambil menangis terharu.


Tangisku pecah, terlebih ketika Papa menggeleng dan mengusap-usap rambutku dengan lembut.


Laksana anak kecil yang sedang bermanja-manja dengan ayahnya.


"Jadikan ini pelajaran Vin,,, ikuti kata hati,, karena hati tak akan pernah bohong,, jangan sekali-kali membuat keputusan saat hati sedang kacau,, dan semua harus dipikirkan dan ditimbang-timbang terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu"


Pesan Papa padaku.


Aku mengangguk,


"Iya Pa.... iya... Vina janji...."


Melihat itu, Mama tersenyum lega,, dan ikut memelukku.


"Untung saja Agung itu baik,, mau mengalah dan tak mempermasalahkan semua yang terjadi, coba saja kamu bayangkan seandainya Tunangan kamu bukan Agung,, yang ada kamu yang akan menderita, bahkan mungkin Dirga turut jadi korban kemarahannya, karena tak semua orang bisa terima diperlakukan seperti ini,, seolah-olah dipermainkan"


Aku manggut-manggut.


Papa benar,, Agung terlalu baik, sabar dan dewasa,, andai saja kejadian di bandara kemarin terjadi pada laki-laki lain,, mungkin Dirga akan babak belur dibuatnya, tapi tidak dengan Agung, Dia begitu pandai menyimpan sakit hatinya, menyembunyikan lukanya dengan sangat sabar.


Ah... Agung, terimakasih untuk kesabaran kamu selama ini,, kamu mengajariku banyak hal yang tak kudapatkan dari orang lain.

__ADS_1


"Ya udah,, nanti kalau suasana sudah mulai tenang,, kamu undang Dirga kemari,, sebagai seorang pacar,, bukan sebagai teman SMP"


Ledek Papa padaku lalu tersenyum.


Aku menyeka sudut mataku dari sisa air mata,, sembari tersenyum lega dan bahagia.


"Makasih Pa...."


Ujarku kembali memeluk Papa.


Terimakasih Tuhan,, masalah ini sudah berakhir, sekelumit cerita perjalananku bersama Agung akhirnya selesai, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang aku dapatkan,, dan Aku berharap,, semoga Agung pun bisa sesegera mungkin menemukan kebahagiaannya...Agar perasaan bersalah yang ada pada diriku segera berlalu, dan Tante Ruri bisa secepatnya mendapatkan menantu terbaik sesuai harapan dan keinginannya.


Aku akan selalu berdoa untuk itu.


......................


6 bulan berlalu dari hari itu,


Tak pernah kudapati lagi pesan dari agung seperti dulu, tepatnya setelah pesan terakhir yang Dia kirim malam terakhir waktu itu.


Begitupun telepon dan video call darinya, semua seolah menghilang tanpa bekas.


Sepertinya Agung memang sengaja menutup akses semua yang berhubungan denganku,,


bahkan, semua Akun media sosial miliknya sudah tak pernah aktif lagi.


Jujur, Aku benar-benar merasa kehilangan,, kehilangan sosok seseorang yang selama ini selalu ada untukku, Sosok yang selalu sabar dan perhatian kepadaku.


Tapi ya.. sudahlah, bukankah sejak dulu ini yang kuinginkan.


Pernah suatu hari, Aku mencoba menghubunginya sekedar ingin menanyakan kabar, tapi Agung tak mengangkat telponku, sepertinya Dia enggan lagi mendengar suaraku, bahkan ketika Aku mengiriminya pesan,, Agung hanya membacanya saja, tak pernah membalasnya hingga detik ini.


Aku tak bermaksud mengusiknya lagi, atau memberinya harapan lagi,, tapi setidaknya silaturahmi masih ingin sekali ku jalin... Agar tak terputus hanya gara-gara asmara.


Tapi ya sudahlah..


mungkin ini keputusan terbaik yang ia ambil, mungkin dengan begini Agung bisa menata hatinya lagi untuk lebih cepat move on dari perasaannya kepadaku dulu, Aku tak kan lagi mengganggunya biar waktu saja yang akan membuatku terbiasa kehilangannya.


Kabar terakhir dari Mama yang masih sering berkomunikasi dengan Tante Ruri mengatakan Bahwa Agung masih betah di Batam,,


Entahlah, apa yang mendasari alasannya betah berada disana hampir setengah tahun ini, apakah hanya alasan ingin menjauh dariku atau mungkin juga hatinya sudah terpaut seseorang yang ada disana?


Andai hubungan ini baik-baik saja, ingin sekali Aku mendengar ceritanya tentang siapa dan seperti apa perempuan yang membuat ia bertahan disana lebih lama.


Ah... lagi-lagi Aku merindukan masa-masa itu.


Aku beranjak dari tempat tidurku, duduk bersila memandang kearah jendela, rintik hujan masih turun pelan-pelan sejak semalam, cuaca yang terasa 2 kali lebih sejuk dari pagi-pagi minggu yang biasanya, membuat rasa malasku menyerang dan memaksaku untuk tetap berada di atas tempat tidur dan mengurungkan niatku untuk segera mandi dan keluar kamar.


Masih pukul 7 pagi, itu tandanya masih ada 3 jam lagi, sebelum Dirga datang menjemputku mengajak ku berkunjung kerumah Pamannya untuk mengenalkan Aku pada keluarganya, yang ia janjikan jam 10 nanti,,


Tak pernah kubayangkan, hari ini... untuk pertama kalinya Dirga datang kerumahku.

__ADS_1


Rasa-rasanya sulit kupercaya, semua seperti mimpi.


Bersambung***


__ADS_2