
Malam datang bersama rasa penyesalan dan rindu yang mengikis keyakinan dalam hati, membuat keraguan dan kebimbangan kembali mencuat setelah berusaha sekuat hati untuk menyingkirkannya dari pikiran-pikiran yang kini semakin bercabang,,
Keadaan sudah sangat jauh berubah, ketika dulu rindu ini membuahkan harapan tentang suatu hari nanti,, tapi kini... Rindu ini justru menjadi sebuah siksaan karena tau, ini tak mungkin lagi menjadi kenyataan.
Kini, mengubur sebuah perasaan cinta dalam-dalam adalah pilihan, namun tentu saja bukan cuma cinta yang terkubur tapi setengah jiwa ikut mati terbenam bersama seluruh harapan akan sebuah kebahagian masa lalu yang tak mungkin lagi bisa ku genggam.
Tuhan,, tolong Aku,,, lupakan Aku tentang Dia.. tentang kenangan bersamanya, dan tentang rasa yang pernah ada... ikhlaskan Aku untuk membuangnya, lalu kembali kepada jalan hidup yang telah kupilih sendiri.
Menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan perlahan, berbaring tenang dibalik selimut dan memejamkan mata,,
Rasa lelah dan kantuk membuatku memilih untuk tidur lebih cepat.
......................
Masih terlalu pagi, bahkan matahari masih samar dan malu-malu untuk menyapa,, namun dari dalam kamar, Aku mendengar suara orang yang sedang mengobrol dari ruang tamu yang letaknya berdepanan dengan kamarku.
Perlahan kubuka mata dan mencoba menajamkan pendengaranku.
"Mungkinkah ada tamu yang datang sepagi ini? Siapa jam segini sudah datang bertamu"
pikirku, melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.
Tak mau ambil pusing, Aku memilih untuk melanjutkan tidur, namun rasa penasaran membuat mataku enggan kembali terpejam.
Aku beranjak dari tempat tidur, berniat mengintip dari balik pintu kamar.
Tak ada siapa-siapa hanya Mama dan Papa yang sedang mengobrol berdua, tapi melihat keduanya, Aku tau mereka sedang membicarakan pembicaraan serius.
Aku berjalan mendekati mereka.
"Ngobrolin apa sih Ma... Pa,, pagi-pagi gini,,?"
Tanyaku.
"Oh,, ini loh Vin,, kemarin, Tante Ruri menelpon Mama, katanya setelah tunangan ini,, mereka gak mau menunggu lama-lama, paling dalam 3 bulan kedepan.. mereka mau datang melamar untuk pernikahan kalian, dan minggu depannya akan dilaksankan akad nikah hingga resepsi, menurut kamu gimana?"
Deg!!
Jantungku berdegup mendengar berita yang baru saja dikabarkan Mama,
Aku menelan ludah, terkejut, hingga membuatku terdiam terpaku tanpa tau harus menjawab apa.
Sungguh nafasku terasa sangat pendek, dan seketika ruangan kurasakan begitu panas.
"Ehm... Apa Agung dan kamu sudah ada rencana mau akad nikah dan resepsinya dimana? pakai adat apa? terus pestanya konsepnya gimana?"
Tanya Mama.
__ADS_1
Aku menggeleng, bingung, kalut dan benar-benar merasa pikiran dan hatiku sedang sangat benar-benar kacau.
Bagaimana tidak, menghadapi hari pertunangan saja, hatiku sudah nyaris hancur berantakan,, dan kini harus ditambah dengan berita lamaran, akad nikah, dan resepsi yang sama sekali belum pernah terbayang di benakku.
Semua itu menjadi beban baru yang menimpa kepala dan hatiku yang tiba-tiba terasa bagai ada batu besar yang menimpa lalu menghimpitku sungguh terasa sangat berat dan sesak.
"Lamaran? Akad Nikah?? resepsi?? ya ampun Ma,, Vina belum mikir sejauh itu,, kok udah ada rencana seperti ini? sementara Vina dan Agung saja belum ada omongan sampai kesana."
Aku duduk di sebelah Mama dengan perasaan bingung.
"Iya juga sih,, tapi gimana dong.. Tante Ruri bilang ini permintaan dari Agung sendiri, tapi kok Agung belum ngomong sama kamu ya..."
"Entahlah Ma... cuma Vina jadi makin pusing, pertunangan untuk hari minggu ini aja, Vina belum seratus persen yakin!"
Tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulutku, membuat Papa dan Mama tercengang mendengar ucapanku.
"Belum yakin?? Maksud kamu?? belum yakin gimana? Haduhh Vin,, tolong donk.. jangan main-main ya Vin!! ini bukan hanya tentang hubungan kamu sama Agung aja, tapi ini menyangkut dua keluarga!"
Mama menatapku tajam dengan nada cemas dan sedikit tinggi,,membuat Aku merasa sedang di hakimi.
Aku terdiam,, kemudian menunduk mencoba berpikir untuk merangkai kata yang tepat demi menjelaskan kepada Mama tentang maksud dari kata-kata yang baru saja ku ucapkan.
"Vin,, jawab... kenapa diam? maksud kamu belum yakin itu gimana? jangan bikin Mama sama Papa berpikir yang bukan-bukan"
Mama kembali bertanya meminta penjelasan dari ucapanku.
kilah ku.
"Oh,, gitu,, tapi... kamu gak sedang berbohongkan? gak ada yang sedang kamu tutup-tutupi kan Vin?
tuding Mama menatapku penuh curiga.
Aku sedikit tersentak mendengar ucapan Mama, sembari menggeleng, Mataku mengalih cepat, menghindari kontak mata dengan Mama,, yang membuatku semakin merasa bersalah karena terlalu banyak kebohongan yang kuciptakan beberapa hari terakhir ini.
"Ma... udah lah,, kok malah jadi kayak mengintrogasi Vina gitu,, nanti malah bikin Vina makin gak siap loh.."
Bela Papa padaku.
"Kamu gak kemana-mana kan hari ini?"
tanya Mama.
Lagi-lagi Aku menggeleng.
"Ya udah,, banyakin istirahat dirumah,, seminggu ini kamu terlalu sibuk"
Aku mengangguk.
__ADS_1
Papa hanya diam tanpa berkomentar apa-apa, kemudian berlalu dari tuang tamu.
Tak lama, Mama juga meninggalkan Aku menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Tinggal Aku sendiri, termenung dalam sepi.
Suara ponsel yang berdering nyaring memanggilku untuk kembali masuk ke dalam kamar,
Dirga menelpon,
Hatiku berdebar tak karuan, namun untuk mengangkat telpon darinya, Aku takut Mama akan mendengar percakapan kami dan malah akan menambah masalah baru.
Tak ingin mengambil resiko,
Aku memilih membisukan ponselku, padahal dalam hatiku bukan main ingin sekali rasanya mendengar suara, tawa dan berbincang lagi kepadanya.
Tapi, ya sudahlah... bukankah Aku sudah memutuskan untuk melupakan, dan mengubur semua cerita masa lalu yang pernah terjadi.
kemudian kembali meletakkan ponsel itu diatas meja.
Aku tak ingin bermain api lebih lama lagi, Aku tak ingin api itu akan membakar, bukan cuma Aku,, tapi semua perasaan orang-orang disekitarku.
Aku memejamkan mata dan menggeleng pelan, mencoba menenangkan hati dan perasaanku yang mungkin sudah tak berbentuk lagi.
......................
Waktu berjalan maju,,
Hari yang sebenarnya teringin sangat kuhindari akhirnya tiba.
sejak subuh, Aku sudah terjaga.. dengan segala kegundahan hati yang tak kunjung mereda.
Mama dan beberapa keluarga dari sebelah Papa terlihat sibuk dengan segala urusan pesta pertunanganku dengan Agung.
Beberapa karyawan EO juga terlihat mondar mandir demi menyiapkan segala keperluan dan kebutuhan untuk sebuah pesta pertunangan yang sudah disepakti sebelumnya.
Aku menghela nafas, kemudian kembali ke kamar, duduk di tepi tempat tidur memandang gaun yang tergantung di belakang pintu, yang nanti akan kukenakan,
Seketika hatiku perih, mengingat semua yang terjadi.
Sanggupkah Aku?
Menjalani semua ini meski tidak dengan hati,,
Perlahan Aku melangkah kembali keluar, mengamati sekeliling ruangan yang akan digunakan sebagai tempat pertukaran cincin yang akan terjadi beberapa jam lagi yang sudah selesai dihias dengan nuansa pink putih, indah dan sangat terlihat elegan.
Bersambung***
__ADS_1