Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 109 Menginap di Villa


__ADS_3

"Hei.... lihat sini donk, kok buang muka?"


Ujar Dirga menarik lenganku.


Aku menoleh tak dapat menahan senyum yang terus kusembunyikan.


"Aku suka liatnya..."


Dirga menatapku dalam, membuat dadaku bergetar.


Dirga beranjak, lalu duduk disampingku,


"Vin,, andai aja... takdir kita gak seperti ini,, dan Aku bisa melamar kamu untuk menjadi istriku,, bahagia sekali pastinya,, setiap saat Aku akan membuatmu tersipu seperti ini,, agar setiap saat pula Aku bisa melihat wajah gemas ini"


Dirga menyentuh pipiku, mengelusnya dengan lembut dan berakhir dengan sebuah cubitan manis didaguku.


Aku menatap wajah yang tengah memandangku lekat.


Terdiam saling pandang membuat hati bergetar sangat hebat, seolah tengah merespon bahasa jiwa yang sedang berkomunikasi lewat isyarat cinta melalui mata.


Dirga menggenggam tanganku, dengan mata tetap menyorot dalam tatapan hangat penuh cinta.


Aku terperangkap,, dan terjebak dalam romansa cinta yang sejak dulu ku impikan,, hingga rasanya tak ingin lagi berlari, selamanya ingin tetap seperti ini.


"Habis ini,, kita mau kemana??"


Tanyaku memecah kekakuan yang tercipta dengan hanya saling pandang.


Dirga menghembuskan nafas seolah baru kembali dari dunia awang-awang.


"Kita balikin ATV dulu,, dijalan nanti Aku pikirin"


Dirga berdiri kemudian menjulurkan dua tangannya menyambutku,, membantuku untuk berdiri.


Di atas ATV, tanpa aba-aba Aku segera melingkarkan tangan di pinggang Dirga membuatnya menoleh heran kemudian tersenyum manis.


Langit sudah sudah mulai senja, warna jingganya memancarkan rona yang berbeda kali ini, seolah turut merasakan bahagia yang lepas dari dua anak manusia yang tengah mengecapi sisa cinta yang masih tersisa.


Meski setelah ini, antara Aku dan Dirga tak pernah tau,, apa kami siap menghalau rindu yang pasti akan bertamu.


Sesaat setelah selesai mengembalikan ATV di tempat sewa,


"Kita kesana..!"


Tunjuk Dirga Pada Deretan sewa Villa yang tak jauh dari lokasi kami berdiri.


Aku menatapnya sesaat kemudian ikut melangkah meski ada sedikit ragu untuk menyetujui ide dari Dirga barusan.


Ditengah Perjalanan,


"Ehm... Dir,, kita mau bermalam disana?"


Tanyaku menghentikan langkah Dirga.


"Iya, kalau gak disana... mau dimana lagi? dimobil??"


Aku terdiam,


"Kamu kenapa Vin?"


Tanya Dirga.


Aku menggeleng.


"Sayang,, kamu takut??"


mendengar itu, Aku menunduk tak menjawab.


"Sayang... Yuk!"


Panggil Dirga, dengan menarik lembut tanganku untuk melanjutkan perjalanan menuju Villa.


Sampai di depan Villa,


"Sayang, kamu tunggu disini sebentar, duduk aja dulu.. Aku mau ngambil kuncinya disitu"


Tunjuk Dirga pada meja customer service yang berada lurus didepanku.


Aku menatap punggung itu berlalu dari hadapanku menuju meja customer servis yang berada tak jauh dari kursi tunggu.


Tak lama kemudian, Dirga kembali menemuiku.

__ADS_1


Dirga mengulurkan tangannya, dan Aku menyambut tangan hangat itu.


Setelah Aku berdiri,


"Nih,, kuncinya.. Villa no 12,"


ujarnya sembari menyerahkan kunci ke telapak tanganku.


Aku menerima kunci itu, namun mataku memperhatikan tangan Dirga yang tak memegang kunci lainnya, itu artinya Dirga hanya menyewa satu Villa saja,, dan itu artinya lagi bahwa Aku dan Dirga malam ini akan berada di dalam satu Villa,,


Aku menelan ludah kemudian melihat deretan Villa didepanku.


Mana mungkin Villa dengan ukuran sekecil itu, terdapat 2 kamar tidur, apa itu artinya Aku dan Dirga malam ini akan tidur didalam satu kamar?


Aku memejamkan mata dan tak sadar menggelengkan kepala.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Ehm... gak papa..."


Aku dan Dirga kembali berjalan menuju Villa no 12.


"Nih... Villa nya,, kamu pasti capekkan,, bersih-bersih aja dulu.. didalam udah disediakan Pakaian ganti untuk bermalam, di dalam juga ada air panas,, buat kamu mandi"


Ujar Dirga.


"Kok kamu tau? kamu udah sering kesini ya? sama siapa??"


Tanyaku menatap mata Dirga penuh curiga.


"Ha ha ha... Apaan sih nanya gitu? pake nanya sama siapa? Ohh,, kamu lagi cemburu ya? gak lah sayang,, Aku tau ya karena tadi di sana, Mbaknya yang jaga itu yang ngasih tau,, ngasih pilihan juga,, mau yang ada servis atau cuma Vila aja,, gitu!"


"Ohh...."


Aku manggut-manggut, membuat Dirga tersenyum lalu menyentil dahiku,,


"Jangan berpikir macam-macam,, Aku yang semacam aja jalannya gak lurus"


Mendengar itu, Aku ikut tersenyum.


Melihat Aku tersenyum Dirga mengacak rambutku.


"Ya udah,, kamu masuk ya.. Aku mau kedepan dulu"


Sampai di dalam, hanya ada satu buah tempat tidur single, satu buah sofa minimalis, disudut ruangan terdapat pintu yang setelah kubuka ternyata kamar mandi mungil. Aku kembali menutup pintu kamar mandi dan kembali menuju tempat tidur.


Diatas tempat tidur Aku menemukan tumpukan barang yang setelah kuperiksa terdapat satu buah handuk besar, handuk kecil, piyama dengan logo Vila serta sandal kamar.


Aku memperhatikan sekeliling ruangan, dan pandanganku terhenti pada sofa minimalis disamping tempat tidur.


"Apa mungkin,, nanti Dirga akan tidur di sofa ini?"


pikirku.


Huffthh....


Aku menghembuskan nafas,


Jantungku berdegup tak karuan,, begitupun dengan hati yang terus berdebar parah.


Ada rasa takut, tegang, cemas dan deg-degan bercampur jadi satu.


Aku beranjak dari tempat tidur membawa handuk kemudian bergegas mandi.


15 menit berlalu, Aku keluar dengan memakai pakaian ganti yang sudah disediakan.


Dirga belum juga kembali.


Langit sudah mulai gelap, dan tiba-tiba Aku teringat Mama.


"Astaga,, Aku lupa memberi kabar Mama jika malam ini Aku tak bisa pulang,, bagaimana ini? alasan apa yang akan kuberikan?"


dalam keadaan cemas, Aku duduk di sofa dengan memutar-mutar ponsel diantara jari-jariku.


"Nina,, iya Nina... Aku butuh bantuan Nina.."


otakku mengingat Nina.


Dengan cepat kucari kontak Nina dan segera menelponnya.


Nada tunggu terdengar,

__ADS_1


tak lama..


"Halo... Aunty cantik..."


Sapa Nina.


"Halo Nin, Aku mau minta tolong sama kamu"


"Vin,, kok suara kamu tegang gitu? minta tolong apa?? Kamu kenapa?"


Cemas Nina.


"Nin,, Aku lagi ada di perkebunan teh!"


"Hah?? kebun teh?? wisata Puncak gunung kebun teh? ngapain??"


"Iya, Aku lagi sama Dirga!"


"Hah?? SE... RI... US...??"


"Ya!! Aku serius,, nantilah Aku cerita.. yang pasti sekarang Aku mau minta tolong dulu sama kamu!"


"Tunggu... tunggu.... Jam segini masih disana?? kalian gak pulang??"


"Itu dia masalahnya Nin, Aku gak bisa pulang sekarang,, sepertinya Akan bermalam disini,, di Villa yang ada disini"


"Jadi sekarang kamu ada di Villa?! sama Dirga??!"


"Enggak, Aku sendiri.. Dirga keluar belum balik,, aku juga gak tau dia kemana."


"Ya ampun Vin, kalian nekat tau gak,, gimana kalau Agung tau ini? semua akan jadi runyam Vina!!!"


"Ssttt.... iya,, iya Aku tau itu Nin, makanya tolongin Aku,,"


"Tolongin apa??"


"Tolong Aku telpon Mama, bilang Aku menginap dirumah Kamu,, soalnya Aku tadi bilangnya main kerumah kamu ada acara gitu ya Nin,, please...."


Mohonku pada Nina.


Saat ini cuma Nina lah satu-satunya penyelamatku.


"Astaga!!! Vina,, bawa-bawa Aku lagi!!"


"Nin,, please ..."


Ulangku.


"Iya... iya... Oke,, Aku bantuin kamu, Aku telepon Mama, tapi kamu janji besok pulang ya... jangan ampe kawin lari,, ntar Aku pulak yang kesalahan!!"


"Iya Aku pulang besok..makasih yaa... nanti kabari ya kalau udah selesai nelpon"


"Oke,, ya udah Aku telpon Mama sekarang!"


Nina mematikan telpon,


Aku menarik nafas sedikit lega.


Tak lama, Pesan masuk dari Nina.


"Aku udah telepon Mama, dan Mama bilang oke"


Mendapat pesan seperti itu dari Nina, Aku segera menelpon Mama.


"Halo Vin,,"


Sapa Mama.


"Makasih ya Ma... Udah diizinkan,,"


Ucapku pada Mama.


"Iya,, kamu jangan lupa loh besok jemput Agung"


"Iya Ma... ya udah ya Ma... bye"


Aku mematikan sambungan telepon, lalu merebahkan diri diatas tempat tidur,


"Tuhan.. Maafkan kebohongan yang untuk kesekian kalinya ini..."


Ucapku lirih.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2