Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 47 Pertanyaan Agung


__ADS_3

Selepas magrib, kami semua pisah di depan mall 21, Aku dan Agung pulang paling akhir setelah semuanya berlalu meninggalkan kami lebih dulu.


"Yuk pulang,"


Ajak Agung padaku seraya menyambar tanganku dan menggandengku untuk menuju parkiran Mall.


Aku terbelalak, namun untuk menarik tanganku dari gandengannya sepertinya tidak mungkin, selain genggamannya erat, Aku juga merasa tak enak hati.


Dengan terpaksa Aku mengikuti saja seperti seekor kucing manis milik Tuannya.


Sampai di parkiran, Agung baru melepaskan gandengannya lanjut memasangkan helm dan menyuruhku segera naik di atas sepeda motornya.


Tak sampai disitu saja, Agung juga menarik lenganku melingkar di pinggangnya.


Aku benar-benar seperti sedang terhipnotis hingga menuruti saja semua perintahnya.


Agung tak banyak bicara, ia hanya sesekali menggodaku dengan tatapan dan lirikannya yang menurutku benar-benar memancing degup jantungku memompa lebih kencang.


"Ya Tuhan... perasaan apa ini?! Aku mohon, lindungi hatiku dari segala macam godaan yang bisa membuatku berpaling dari rasaku untuk Dirga."


ujarku dalam hati.


Tepat di taman kota, motor kurasakan berjalan melambat, perlahan berhenti tepat di depan tugu air mancur yang begitu indah berwarna warni yang sedang menyala.


"Gung, kok berhenti?"


Tanyaku bingung.


"Berhenti sebentar ya.... gak lama kok, "


ucapnya.


"Haduhh... Ada apa lagi nih?? jangan-jangan Agung mau nyatakan perasaannya"


tanyaku dalam hati sembari memejamkan mata ngeri.


"Vin, Aku mau tanya boleh?"


"Tanya Apa, ihh kok Aku takut ya..."


jawabku sembari mencoba tersenyum, membuang rasa gugup yang kini menyelimuti tubuh dan perasaanku.


"Jujur ya.. pernah gak sih, Aku terlintas di pikiran dan hati kamu saat kamu lagi sendiri?"


Pertanyaan Agung membuatku menelan ludah.


"Hahh... pertanyaan macam apa nich, jebakan??"


Batinku.


"Ehm.. maksudnya gimana, terlintas seperti apa dulu nich??"


Tanyaku pura-pura gak ngerti.


"Yaa... misalnya nih ya... sebelum tidur, kamu tiba-tiba mikirin Aku lagi apa? udah tidur atau belum ya kayak gitu-gitu dech..."


Agung memperjelas.

__ADS_1


"Ohh... gitu, ya pernah sich... "


jawabku.


"Ah... yang bener Vin, waduhhh jadi ge er nich..."


"Yeee... gak perlu ge er, lagian ya wajarlah kalau tiba-tiba kita ingat orang yang dekat dengan kita, lagian itu bukan suatu yang spesial"


"Ohh,, bukan yang spesial ya... Maaf, Aku terlalu percaya diri, hahahh... Aku tau yang spesial itu cuma Dirgantara, iyakan??"


Glek!!


Aku menelan ludah, tak kusangka Agung akan menjawab seperti itu.


Kini Aku merasa tak enak hati, ditambah dengan raut wajah Agung yang berubah canggung.


"Gak gitu maksudnya.... cumakan, memang kita udah dekat, udah kayak saudara jadi ya biasa aja"


Aku mecoba mencairkan suasana yang tiba-tiba beku.


"Iya... Biasa aja.."


jawab nya lagi.


"Ehm Vin, lusa Aku pulang... sebelum Aku pulang, Aku ingin kita ngedate berdua ya...soalnya Aku bakalan lama lagi baru bisa pulang lagi kesini, itu juga Kalau ada yang menginginkan Aku kembali"


"Loh.. kok cepat, katanya seminggu.. lusakan belum genap seminggu?"


Tanyaku kaget dengan keputusan yang dibuat Agung.


"Iya, gak papa... berubah pikiran aja"


"Dah yuk... kita pulang."


Agung kembali menyalakan Motornya dan kamipun melaju pulang.


Sepanjang perjalanan pulang, tak ada obrolan diantara kami, tak ada kejahilan seperti biasa yang dilakukan Agung terhadapku.


Dingin, sedingin angin malam ini.


30 menit berlalu,


Tepat didepan rumahku, motor berhenti.


"Vin, Masuk gih... dah malem... Aku langsung pulang ya...."


Aku benar-benar heran dengan sikap Agung, yang tak biasa.


"Kamu beneran gak mau mampir dulu, atau paling gak pamitan dulu kek sama Mama"


Ujarku yang sepertinya diterima dengn baik oleh Agung.


"Iya, Aku pamit aja dulu... "


Agung turun dari motornya dan berjalan disampingku.


Mama menyambut kami didepan pintu.

__ADS_1


"Malam tante.. Maaf ya Tante, agak malam soalnya tadi teman-teman ngajak makan dulu"


Agung mencium punggung tangan Mama.


Tak lama, Papa keluar menemui kami.


"Masuk dulu Gung!"


Sapa Papa.


"Ehmm.. Gak usah Om makasih, Agung langsung pamit pulang aja, Vina juga capek."


Agung juga mencium punggung tangan Papa.


"Ya udah Om, Tante.. Agung pamit ya..."


"Oh gitu, ya udah.. kamu hati-hati ya..."


Ujar Papa yang kemudian berbalik masuk kedalam rumah bersama Mama.


Tinggal Aku dan Agung yang masih saling berdiam diri.


"Ya udah Vin, Kamu masuk gih... Aku pamit ya..."


Agung berbalik melangkah meninggalkan Aku yang hanya terdiam dalam kebingungan.


"Nih anak kenapa ya... kok jadi aneh gini, apa kata-kata Aku tadi ada yang menyinggung hatinya?"


tanyaku dalam hati.


"Ehm... Gung... tunggu!!"


Panggilanku membuat langkahnya terhenti dan kembali membalik badannya.


Aku melangkah mendekatinya.


"Kamu kenapa? kok Aneh gitu?"


"Ahh.. Aneh apanya,, enggak kok.. biasa aja, udah... ni udah malem, sebaiknya kamu masuk"


"Tapi Gung...!"


Agung menggeleng kemudian melangkah mendekatiku, membenarkan poniku lalu mendekatkan wajahnya padaku.


"Ya Tuhan... Ada apa ini? jangan-jangan....."


Seketika tubuhku gemetaran, dan Aku memejamkan mataku.


Hanya beberapa detik,


"Weeyy.... Jangan tidur!!! bangun!!"


Aku tersentak ketika suara cempreng Agung menyadarkan Aku bersama jentikan jarinya di dahiku.


"Astaga!!! memalukan!! Apa yang baru saja kulakukan?!"


Aku menggerutu dalam hati.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2