Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 57 Dia tak bersamaku lagi..


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu saja tahun demi tahun berganti, rasanya berat sekali menyembunyikan rasa suka terhadap sahabat sendiri tapi lebih berat lagi jika Aku harus kehilangan Dia ketika Dia tau bahwa persahabatan kami di nodai rasa cinta.


Menutupi kenyataan harus kulakukan setiap kali berhadapan dengan Vina yang begitu tulus menganggapku sahabat terbaiknya.


"Ahh... Vin, melihatmu bahagia saja itu sudah cukup buatku, tak perlu kau tau bagaimana hatiku"


Kata-kata itu yang selalu menjadi penguatku.


Sampai ketika, hari yang membuatku resah, sedih dan gelisah itu hadir.


Dimana hari itu adalah hari kelulusan kami di sekolah dasar,


Aku yang tak pernah tau tentang Vina dan sekolah tempatnya menyambung belajar sempat syok saat tau bahwa ia tak memilih sekolah yang sama dengan ku dan yang lain.


Semua baru Aku ketahui siang ini di halaman sekolah, ketika Elza, Tari dan Vina tengah berpelukan menangis.


Aku yang sedang bersama Diki menghampiri mereka dan menanyakan perihal kesedihan mereka.


"Za... kalian kenapa, terharu karena kelulusan kok kayak mau pisahan!!"


Ujarku ketika sampai di hadapan mereka.


"Iya, harusnya kita bahagia... selamat datang putih biru, selamat tinggal putih merah, iyakan Niel!"


Sambung Diki.


"Kalian berdua gimana sich... ya kita sedihlah.... kalau salah satu dari kita setelah hari ini gak akan sama-sama lagi.. Hu... hu... hu.."


Tangis Elza pecah.

__ADS_1


"Hah?? Maksudnya apa?? siapa yang tidak akan sama-sama kita??"


Tanyaku dengan perasaan yang berubah tidak enak, hatiku menjadi deg degan.


Sambil menyeka Air matanya, Elza menatapku.


"Vina!!"


Jawabnya singkat.


Deg!!


Jantungku berdetak.


Ada perasaan takut didalam hati yang tiba-tiba saja hadir bersaman dengan nyeri yang samar-samar kurasakan.


Aku dan Diki saling pandang kemudian menatap Vina.


Tanya Diki bingung.


"Aku gak melanjutkan di SMPN 61, Papa sudah mendaftarkan Aku di SMP PESONA BANGSA."


Vina menjelaskan sambil terisak.


Jleb!!


Nyeri seketika menusuk hatiku,


itu artinya Dia tak lagi bersamaku seperti tahun-tahun belakangan.

__ADS_1


SMP pilihan Ayahnya adalah salah satu sekolah swasta terbaik disini, dan alasan lainnya mungkin karena Sekolah itu letaknya tak terlalu jauh.


Aku sebenarnya ingin menangis, menjerit dan memeluknya seperti yang Elza dan Tari lakukan tapi itu tidak mungkin, Aku cuma bisa memandangnya dan menelan ludah sebagai penawar rasa gelisahku saat ini untuk menghadapai kenyataan hari-hari kedepannya tanpa Dia.


Sampai siang dan kami semua memutuskan untuk pulang, terselip keinginan untuk Aku menyampaikan rasa sukaku padanya, tapi keraguanku ternyata lebih besar dan membuat Aku mengurungkan niatku.


"Vin.. "


Panggilku sembari berlari kearahnya yang sudah dijemput Mamanya.


Vina menoleh, dan tersenyum.


"Vin, sampai jumpa lagi ya lain waktu... semoga sekolah baru menyenangkan"


Ujarku mengulurkan tangan mengajak bersalaman sebagai tanda perpisahan.


Vina menyambut tanganku dengan wajah berbinar,


"Iya, sama... sukses ya buat kalian, Kalau nanti kalian ada waktu.. main ke rumahku ya... jangan lupain Aku"


"Mana mungkin Aku melupakan Kamu Vin, sedang hatiku sudah kau bawa pergi"


Ucapan vina kala itu selalu ku ingat dan kusimpan di dalam hati.


Bukan kalimat spesial, tapi bagiku ini momen yang tak terlupakan dimana tanganku dan tangannya bertaut, sungguh hatiku bergetar kala itu.


Setalah Hari itu, Aku tak pernah lagi bertemu, Vina pergi membawa sebagian hatiku.


Hari-hariku di sekolah biasa saja tak ada yang spesial, meski Tari, Diki dan Elza menemaniku, tetap saja ada yang kurang.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2