
Masih dalam kebingungan, Aku meninggalkan rumah Elza.
Sepanjang jalan, pikiranku berkelana memikirkan bagaimana bisa Elza tiba-tiba menciumku seperti tadi dan bisa-bisanya pula darahku berdesir, padahal itu hanya sebuah kecupan dikening yang mungkin tak ada arti apa-apa.
"Ahh... malas sekali memikirkan hal tak penting seperti ini, lagian si Elza juga sih,, ngapain cium-cium kening segala !!"
umpatku jengkel sembari mengusap bekas bibir yang menempel di keningku dengan telapak tangan.
Sampai dirumah,
Selesai makan siang masih ada sekitar 1 jam lagi sebelum pergi ke Mall 21 Aku memilih rebahan di kasur.
Lagi-lagi Aku teringat peristiwa mencengangkan yang terjadi tadi.
"Elzaaa!!!!"
Pekikku tak sadar.
"Hei... Apa-apaan kau didalam Niel !! kenapa teriak-teriak??"
Suara nyaring Ibuku terdengar dari balik pintu di iringi ketukan berulang di daun pintu.
"Ahh... sial !! Bisa-bisanya Aku keceplosan teriak seperti itu!"
Aku menggaruk kepala sembari beranjak membuka pintu.
"Aku mimpi Buk!"
Jawabku sembari nyengir.
Hap!!!
Cengiranku disambut telapak tangan yang menempel tepat dimukaku.
"Mimpi kau bilang?? Siang-siang begini?? Siapa Elza?!"
Pertanyaan dengan tatapan mengerikan dari Ibu membuatku bergidik.
"Teman Buk!"
Jawabku singkat.
"Katanya kau mau pergi, kenapa malah tidur?"
"Iya, ini juga mau siap-siap, dah ya Buk... bye..."
Aku melambaikan tangan kemudian menutup rapat pintu kamar.
Hufft...
Secepat kilat Aku menyambar Tas kecil dan jaket yang tergantung di balik pintu kemudian menghadap cermin dan menyisir rambutku dengan jari, tak lupa menyemprotkan Parfume di beberapa titik jaket.
"Buuukkk Aku pergiiii yaaaaaaaa!!"
Pekikku dari luar kamar Ibuku yang sudah tertutup tanda ritual tidur siangnya akan dimulai.
"Yaaaaaa, jangan pulang malam!!"
Balas Ibuku dari dalam kamar.
......................
Setelah menjemput Elza, Masih dengan perasaan canggung kami berdua tiba di Mall 21.
Belum ada tanda-tanda manusia-manusia itu disana.
Sepertinya Aku dan Elza yang lebih dulu sampai.
Memilih menunggu di pojok pintu masuk mall adalah pilihan Elza, katanya agar gampang terlihat.
Hampir 15 menit,
"Heii... Kalian udah lama sampai?"
__ADS_1
Tiba-tiba sapaan itu memecah kekakuan antara Aku dan Elza yang sedari tadi saling diam.
"Haii... belum kok, baru juga nyampe... Hai kak Agung"
Elza membalas sapa Vina, dan balik menyapa Agung.
Aku yang kembali melihat kemesraan antara Vina dan Agung memilih membuang muka.
"Oh ya.... Niel, kamu belum kenalkan sama Agung, nih kenalin dulu!"
Mendengar permintaan Vina, Aku menoleh, lalu berbalik badan menghadap Agung.
"Hai... Kenalin, Daniel"
Ucapku sembari mengulurkan tangan.
Agung menyambut dan menjabat erat jemariku lalu Tersenyum seolah merasa menang atas hati Vina, sungguh menyebalkan sekali melihat senyum itu.
"Hai Niel, senang sekali bisa kenal dan gabung sama kalian disini, Aku Agung teman SMPnya Vina dulu"
Ujarnya mantap membuatku semakin kesal.
"Ehm,, teman SMP ya? Aku teman SDnya!"
Balasku ketus, berharap Dia sadar, bahwa Akulah yang lebih dulu mengenal Vina.
"Vina........!!!"
Pekik Nina dari kejauhan, membuat acara perkenalan panas antara Aku dan Agung terhenti seketika.
Nina terlihat ngos-ngosan menghampiri Kami.
"Lah Non, kok keliatannya capeeekkk banget, santai donkkkk, "
Ujar Elza yang tengah sibuk merapikan Rambut Nina yang sedikit berantakan, dia juga mengeluarkan beberapa lembar tissue dan menyeka keringat didahi Nina.
"Iya... Aku lari-lari dari taxi kesini, takut kalian tinggalin"
Jawab Nina masih dengan nafas yang tersengal-sengal.
tanya Vina sembari celingak celinguk memperhatikan semua pengunjung yang baru saja masuk kedalam Mall.
"Mungkin Dia gak bisa datang kali?"
Jawab Nina.
"Enggak kok, tadi Dia Chat Aku katanya bisa"
Sepertinya hari ini Akan berjalan sangat membosankan, rasa-rasanya menyesal sekali Aku ikut, kalau saja Elza tak merengek meminta Aku untuk ikut, mungkin Aku lebih memilih rebahan dikamar sembari menuliskan seribu nama Vina di buku, kurasa itu lebih baik dari pada harus menyaksikan Betapa manisnya Kedekatan Vina dan Agung.
"Heyy.... Kalian berdua!! Ngobrol dong!!"
Seru Vina,
Tak lama, terdengar ponsel Vina berbunyi.
"Halooo cantik... kesini, liat ke kanan!"
Ucapnya sembari melambaikan tangan.
Dari kejauhan, nampak Tari juga melambai dan segera mematikan panggilan teleponnya.
"Maaf yaa... telat,"
Ujarnya begitu bergabung bersama kami.
"Gak papa.... kita juga baru nyampe"
Agung menjawab Tari.
"Ya udah, tunggu bentar ya, Aku beli tiket dulu"
Agung berjalan menuju loket.
__ADS_1
"Tunggu... Tunggu Kak!!"
Cegat Nina membuat langkah Agung terhenti,
"Ya, kenapa Moy?"
Jawab Agung dengan menyebut Nina dengan panggilan gemoy membuat Nina tersipu malu-malu.
"Maksudnya, kita ditraktir nonton nihh..."
ujar Nina bingung.
"Iya... gak papa kan?!"
Jawab Agung singkat.
"Ya gak papa sih,, malah senang, apalagi kalau sekalian sama traktir makan hehheh"
Nina cengar cengir.
"Huuuu.... Mau Luuu banget tu kan!!!"
Elza mentoyor pipi chubby Nina.
"Aww.... Ya Gak papa kan, siapa tau Kak Agung bersedia.... Hhaaahhaa"
Kali ini Nina tak kuasa menahan gelak tawanya.
"Iya Moy siappp..! Apasih yang enggak buat Nina gemoy, kesayangan semua umat!"
Ujar Agung sebelum berlalu meninggalkan Kami menuju loket untuk membeli tiket nonton.
Nina bertepuk kegirangan.
Hal tersebut semakin membuat hatiku cenat cenut, Aku merasa benar-benar kalah saingan dengan Agung.
Mereka semua terlihat suka dengan Agung, hal itu benar-benar membuat Aku jengkel, kesal dan cemburu.
"Huh... sombong!!! baru juga Mahasiswa, belum juga kerja, udah sok-sok an traktir!!"
Aku mengomel sendiri dengan wajah masam.
"Heyy.... kok ngomong gitu??!, ya bersyukur kali namanya ditraktir, bukannya terimakasih malah ngedumel udah kayak mamak-mamak!!"
Nina menepuk pundakku.
"Tau nih bocah, kenapa emangnya kalau Dia mau traktir?"
Elza ikut mencubit bahuku, sama sekali tak ada yang membelaku.
"Niel, Agung traktir kita bukan karena Dia sombong, itu Dia lakuin sebab dia senang kenal kalian, dan anggap aja ini bentuk rasa terimakasih Dia buat kalian yang menerima Dia sebagai teman"
Vina ikut-ikutan menasehatiku membuat hatiku terasa berdenyut.
"Iya... deh... Maaf Aku salah ngomong!"
Jawabku memutar bola mata dan membuang nafas kasar.
Tari tak banyak bicara, ia terus saja sibuk dengan ponselnya.
"Tar, Aku nitip ini lagi ya buat Dia, maaf merepotkan kamu lagi"
Setengah berbisik Vina menyelipkan sesuatu yang berwarna biru dibalik Tas Tari.
Tari yang tengah fokus pada layar ponselnya sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba yang baru saja Vina lakukan.
Begitupun dengan Aku yang bertanya-tanya tentang benda berwarna biru itu.
"Mungkinkah itu surat lagi? yang akan ditutipkan pada Tari untuk si cinta pertama Vina? Sebegitu pentingkah sosok Dirga bagi Vina? hingga sampai detik ini Ia masih mengharapkan balasan surat?"
Aku menelan ludah, ada sakit yang tiba-tiba menyergap di hatiku..
"Oh Tuhan... belum hilang kesalku dan rasa cemburuku pada Agung, kini hatiku harus panas menghadapi kenyataan jika Vina begitu mengharapkan cinta pertamanya,, Andai saja kamu tau Vin, Aku juga mengharapkan kamu,, karena kamu cinta pertamaku.."
__ADS_1
Ratapku sendiri.
Bersambung***