
Pergi dengan keadaan hati yang hancur berantakan membuat Aku harus lebih berhati-hati dalam mengemudi, tentu saja Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku.
Sekuat tenaga kukendalikan hati dan perasaanku agar tetap fokus pada jalan didepanku.
Bayangan wajah dirga dengan raut kecewa seolah terus mengikuti, serta kalimat terakhir yang ia ucapkan sebelum Aku masuk kedalam mobil tadi masih terdengar jelas ditelingaku.
Arrrggghhhhh.............!!!
Jeritku dari dalam mobil, meluapkan rasa amarah, kesal dan kecewa.
Dirgaaaaaaa!!!!! Aku benciiiiiiii sama Kamuuuuu!!!!! benciii!!!!!!!!!
Hiks... hiks....!
racauku sendiri dengan isak tangis.
Aku berhenti tepat didepan gerbang jalan masuk ke arah rumahku.
Aku tak mau Mama ataupun Papa melihatku seperti ini.
Mencabut beberapa helai tissue, menyeka wajah, hidung dan sudut-sudut mata.
Aku mengarahkan kaca pada wajahku, menyapukan bedak tipis pada bawah mata untuk menyembunyikan sembab.
Aku juga beberapa kali berlatih tersenyum pada kaca, agar sedihku tak disadari kedua orang tuaku yang terlalu peka terhadapku.
Merasa semua sudah aman dan baik-bik saja, Aku melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Aku berharap Mama dan Papa sudah tertidur pulas, mengingat ini sudah hampir jam 10 malam, Agar aku tak perlu Akting dan mengarang alasan jika mereka terlanjur menyadari sikap ku yang sedang tidak baik-baik saja.
Sebelum pergi bersama Dirga tadi, Aku sempat mengirimkan pesan pada Mama jika Aku akan terlambat pulang, jadi kuharap mereka tidak risau apalagi sampai menungguiku pulang.
Mobil berhenti di garasi, Aku turun dari mobil, sekali lagi Aku memastikan tak ada sisa air mata lagi diwajahku.
Merapikan diri dan menarik nafas panjang Aku melangkah untuk masuk kedalam rumah.
Begitu Aku mengeluarkan kunci cadangan untuk membuka pintu, ternyata Papa lebih dulu membukakan pintu untukku.
"Assalamualaikum Pa, belum tidur??"
Tanyaku sembari mencium tangan dan pipi laki-laki yang kini kurasakan semakin menua.
"Mana mungkin Papa bisa terlelap, jika putri kesayangan Papa masih belum kembali Vin,"
Ujarnya mengacak pucuk kepalaku.
"Papa so sweet banget deh,,,"
Aku melabuhkan diriku dalam pelukannya.
"Baru pulang Vin?"
suara Mama terdengar dari arah belakang.
"Iya Ma... "
Sahutku sembari berjalan mencari Asal suara.
__ADS_1
"Nih, Mama buatin kamu teh madu, diminum ya... setelah kamu bersih-bersih, ini masih panas"
Mama meletakkan secangkir teh madu diatas meja makan.
"Makasih Ma.... "
Aku juga memeluk hangat tubuh sang malaikat tak bersayap yang senantiasa memberikan aku curahan kasih sayang yang tak berbatas.
Setelah beres-beres, Aku kembali ke meja makan, meneguk teh madu hangat buatan Mama,
Sementara Mama masih duduk menemaniku menghabiskan minumanku.
"Vin, kamu jangan terlalu capek donk kerjanya, sampe-sampe jam segini baru pulang,"
"Enggak kok Ma,, enggak capek... ini tadi bukan urusan pekerjaan, tapi Vina pergi sama teman Vina, lama gak jumpa makanya kita pergi ngopi-ngopi sambil cerita"
terangku pada Mama.
"Teman?? siapa?"perempuan atau laki-laki?"
Glek!!
Sontak Aku menelan ludah, gelisah.
Aku sama sekali tak menyangka Mama akan bertanya sedetail ini.
"Ehm... Teman waktu SMP Ma,,"
Jawabku berharap Mama berhenti bertanya sampai disitu.
"Teman SMP? Agung kenal??"
jawabku mulai salah tingkah.
"Laki-laki atau perempuan Vin??, ingat ya Nak, minggu depan kamu udah mau tunangan sama Agung,, jadi Mama ingatkan agar kamu bisa menjaga hati dan perasaan Agung dan keluarganya ya Nak..."
Hatiku terasa seperti tersentil dengan nasehat Mama, tapi mana mungkin Aku cerita bahwa Aku habis bertemu dan menghabiskan waktu bersama Dirga,
"Ahh, maafkan Anakmu Ma terpaksa harus menutupi semua ini darimu"
Gumamku dalam hati.
"Iya Ma,, ya udah Ma.... Vina mau masuk kamar"
Pamitku pada Mama,
"Vin, tunggu sebentar, kamu belum jawab loh, laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan Ma.."
jawabku sembari berdiri bersiap meninggalkan meja makan menuju kamar.
"Oke kalau begitu, selamat malam Nak, selamat istirahat sayang..."
Aku membalasnya dengan kecupan di kening Mama, dan melangkah meninggalkan Mama.
Di dalam kamar,
__ADS_1
Aku yang sama sekali belum mengantuk memilih untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal.
Pikiranku tetap tertuju pada kejadian-kejadian yang kualami bersama Dirga tadi.
Aku sama sekali tak menyangka, bahwa hari ini akan menjadi hari pertemuanku dengannya, hari yang selalu ku nantikan sejak lama.
Namun dengan suasana yang berbeda.
Andai saja pertemuan ini sedikit lebih cepat, mungkin Aku tak akan sehancur ini sekarang,
Bayangan wajah sumringah Dirga ketika tau Aku belum menikah dengan Agung begitu tergambar jelas betapa dia begitu sangat bahagia, namun semua berbalik ketika Tau Aku akan bertunangan minggu depan, wajah Dirga yang semula bersinar seketika meredup sendu dan mengurai duka.
Ada perasaan bersalah yang hinggap dihatiku, bercampur kesal mengapa tak dari dulu ia katakan tentang perasaannya.
Mungkin ceritanya tak kan serumit ini.
Aku menyesal dengan keputusanku, sungguh... Aku menyesal!!
Aku mengepal jari-jariku dan memukul-mukul bantal yang tengah kupeluk.
Aku melirik Jam dinding, waktu sudah cukup larut malam, namun mataku masih sangat segar, tiba-tiba...
Astaga!!!
Agung!!
Aku sampai lupa, dari semenjak bersama Dirga tadi, sama sekali Aku tak memeriksa ponselku, jangan-jangan Agung menghubungiku.
Bergegas Aku turun dari tempat tidur dan merogoh tas mencari ponsel kemudian kembali keatas kasur.
Ahh... benar saja.... Terdapat banyak sekali pesan, dan sepuluh kali panggilan suara, serta tujuh kali panggilan Vidio.
Aku mencoba menghubungi Agung, hingga tiga kali namun tak ada jawaban.
Aku berpikir hanya ada dua kemungkinan, yang pertama mungkin Dia sudah tidur karena ini sudah hampir tengah malam, dan yang kedua mungkin saja dia ngambek.
Tapi untuk kemungkinan kedua, itu kemungkinannya sangat kecil, karena Aku tau Agung bukan tipe orang seperti itu.
Tapi.... tunggu, bukankah Dia sendiri yang bilang, sampai hari minggu dia tidak akan menghubungiku,
Aku segera membuka pesannya satu persatu.
*Vina, kamu sudah sampai rumah? istirahat ya sayang*
*Vin, kok gak bales,,, kan Aku bilang tidak akan menelpon bukan berarti kita tidak boleh berbalas pesan,, jadi balas ya sayang....*
*Vin, kamu kenapa? dimana?? Kamu baik-baik sajakan? tiba-tiba perasaanku jadi gak enak*
*Duh, Vin tolong jangan bikin aku cemas,, maaf Aku telpon,, Aku jadi gak tenang sekarang*
*Ya Allah Vin, kamu sebenarnya kemana sih,, lagi apa? kenapa gak ada kabar?*
*Vin, sampai malam pun kamu masih belum ada kabar, sebenarnya kamu kenapa sih sayang, Aku telepon Mama kamu juga gak bisa masuk*
*Aku berharap, kamu baik-baik saja sayang... segera hubungi Aku ketika kamu sudah membaca semua pesan-pesanku*
Aku menarik nafas, lalu mengetikkan pesan balasan.
__ADS_1
*Maafkan Aku ya Gung, tadi Aku gak pegang hape dan Aku ketiduran, Aku baik-baik saja.. sampai ketemu dihari minggu*
Bersambung***