Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 110 Camping


__ADS_3

Setelah menelpon Mama, Aku mematikan ponselku, Aku takut Agung menelponku,, sedang Aku tak menyiapkan jawaban jika Agung bertanya sesuatu hal tentang diriku saat ini.


Dirga tak kunjung kembali,


Akhirnya Aku memutuskan untuk membuka pintu dan menikmati udara malam di daerah pegunungan.


Brrrr....


Udara dingin menyambutku ketika baru saja pintu terbuka,


Aku merapatkan tangan dan melipatnya di tubuhku sembari menggosok-gosok bahuku sendiri.


Dengan menggunakan Syal dan topi yang diberikan Dirga siang tadi, Aku memilih duduk di teras Villa menikmati pemandangan yang untuk pertama kalinya Aku jumpai.


Nampak di depan sana, beberapa pengunjung mendirikan tenda, menyalakan api bahkan ada pula yang tengah berkumpul mengadakan acara bakar-bakar.


Sungguh bahagia mereka, melewati liburan dengan sangat menyenangkan,, tetapi Aku?


Apa ini bisa disebut liburan yang menyenangkan?


Atau ini hanya sekedar kebahagian terakhir kami sebelum memulai kehidupan yang baru,, yang kami sendiri tak pernah tau apakah kami masih bisa bahagia setelah ini.


Aku mengusap wajahku,


kemudian Aku berniat mengirimkan pesan pada Dirga untuk bertanya kemana Dia, namun belum sempat pesan terkirim, sebuah panggilan telepon kuterima.


"Dirga..."


Ujarku pelan.


"Haloo sayang...,, lagi nunggu Aku ya??"


"Iya... kamu dimana? kenapa gak balik-balik?"


"Aku disini,, coba kamu balik badan?"


Perintah Dirga.


Mendengar itu, Aku mengerutkan dahi kemudian menuruti perintahnya untuk berbalik,


Tak ada siapa-siapa, Aku mengerucutkan bibirku merasa sedang dikerjain Dirga.


"Dir, jangan bercanda deh... kamu dimana??"


"Sini sayang... lihat kedepan,, hey.... sini lihat sini!!"


Mendengar itu, Aku semakin bingung, namun pandanganku menuntun Aku untuk melihat kearah yang lebih jauh, nampak disana,, Dirga tengah melambaikan tangannya, berdiri di depan sebuah tenda kuning dengan Api unggun tak jauh dari tempat ia berdiri.


Melihat itu, Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.


"Nah,, senyum gitu donk... kan cantik"


"Sok tau,, emangnya nampak dari sana"


"Yang pasti,, Aku tau kamu lagi tersenyum bahagia,, iya kan?? Love you sayang.... love you..."


Ujar Dirga lewat telepon.


"Aku kesana!!"


Jawabku tanpa membalas ucapan cinta Dirga.


Aku berjalan sedikit berlari menghampiri Dirga yang tengah berdiri menantikan kehadiranku dengan merentangkan tangannya.


Sampai di depan Dirga, Aku menghentikan langkahku, berdiri menatapnya dengan senyuman.


Dirga berjalan mendekat, dan mendekap tubuhku.

__ADS_1


Suhu dingin yang sedari tadi terasa menusuk ke tulang, seketika berubah hangat, menyelimuti hati dan perasaanku.


Aku menyandarkan kepalaku pada dadanya, hingga detak demi detak jantungnya terdengar bagai melodi indah ditelingaku, desah nafasnya berirama seiring dengan getaran hati yang terasa membelai kerinduan selama ini.


Oh Tuhan, salahkah jika Aku merasa nyaman? Salahkah Aku, jika Aku sebenarnya tak ingin ini berakhir?


Dirga mengecup pucuk kepalaku, lalu berkali-kali mengucapkan kalimat-kalimat cinta yang membuat Aku semakin tak bisa lepas dari rasa yang seharusnya diakhiri malam ini.


Beberapa menit saling terpaut, Dirga merenggangkan pelukannya dan perlahan melepaskan lingkar tangannya.


"Sayang,, sini ikut Aku..."


Dirga menggandeng tanganku menuju tenda yang pintunya terbuka.


"Kita duduk sini.."


Ajak nya.


"Kamu juga sewa tenda ini?"


Tanyaku sambil memperhatikan sekitarku.


"He.. ehmm.."


Dirga mengangguk.


"Tak cuma tenda,, Aku juga tadi beli jagung... sama ini..."


Dirga mengeluarkan beberapa tongkol jagung dan beberapa botol minuman ringan.


"Jadi maksudnya.... kita camping nich??"


"Ya... bisa dibilang gitu,, Aku cuma mau ini menjadi momen terindah yang akan selalu kita kenang disaat kita...."


"Sstttt... udah,, gak usah di ucapin,, "


Dirga kembali menyunggingkan senyumannya dan mengecup jari telunjuk yang belum sempat kutarik.


"Tunggu ya,, Aku bakarin jagung buat kamu,, "


Dirga beranjak mendekati bara api yang sudah ia siapkan sebelum Aku datang.


Tak lama, Aku menyusul dan mendekatinya yang tengah membakar jagung.


"Nich,, udah jadi... kamu pegang dulu... Aku mau cari air panas, untuk bikin kopi"


Dirga beranjak meninggalkanku dengan membawa botol bekas air mineral.


Terlihat Dirga mendekati salah satu tenda pengunjung yang cukup jauh dari tenda kami.


Tak lama kemudian terlihat Dirga kembali dengan berlari kearahku.


Aku hanya memperhatikan Dirga yang tengah sibuk sendiri dari mulai membakar jagung, mencari air panas, menyeduh kopi hingga menyiapkan alas duduk untukku.


Aku beranjak mendekati Dirga.


"Sibuk banget dari tadi..."


Sapaku.


Dirga menoleh dan tersenyum lalu meraih pinggangku kemudian melabuhkan kecupan di dahiku.


"Demi kamu"


Ujarnya pelan.


Kami duduk di depan tenda menghadap ke api unggun sembari menikmati jagung bakar dan segelas kopi panas.

__ADS_1


"Vin, kamu tau gak... sampai detik ini,, Aku masih berharap ini bukan malam terakhir buat kita,, sampai detik ini,, Aku masih berdoa,, untuk sebuah keajaiban jalan cinta kita"


Dirga menolehku sesaat kemudian kembali memalingkan wajahnya pada api yang membara didepan kami.


Aku menarik nafas, belum bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk Dirga.


Meletakkan gelas kopi disampingku dan menjatuhkan kepalaku pada bahu seseorang yang sejak dulu menetap dihatiku.


Dirga menempelkan pipinya pada kepalaku, lalu kebisuan kembali terjadi diantara kami.


Saling diam, seolah tengah menyelami rasa masing-masing, mencoba ikhlas atas apa yang akan terjadi setelah ini.


Tak ingin larut dalam kesunyian malam,


Aku mencoba kembali membuka percakapan.


"Dir, Aku mau nanya, dan sebenernya juga... Aku masih penasaran, seperti apa hubungan kamu dengan Tari?"


Aku mengangkat kepalaku dari sandaran bahu ternyaman itu.


Dirga menggeser tubuhnya menghadapku.


"Kamu cemburu? Kami cuma teman sayang,, Tari baik... Dia adalah teman pertama saat Aku baru tinggal dirumah Paman, Kami cukup dekat ditambah lagi kami sama-sama tergabung dalam Voli di daerah tempat tinggal kami,, Dia orangnya tertutup, tak pernah cerita tentang masalahnya,, sampai pada akhirnya kami dapat kabar, orang tuanya bercerai, dan meninggalkannya sendiri, sejak saat itu Tari tinggal bersama Neneknya, sampai dia lulus SMA, dia kerja sana sini demi kuliahnya, dan Tari kembali terpukul ketika Neneknya meninggal beberapa saat sebelum Dia wisuda, setelah itu Aku tak pernah tau lagi kabar tentangnya.. kata Syintia, Tari pergi keluar kota dapat panggilan kerja."


Aku tertegun mendengar cerita Dirga tentang Tari yang sama sekali tidak ku ketahui, seketika perasaan kesal, geram, marah dan benci yang pernah tercipta untuk Tari lebur mengurai menjadi kesedihan yang mendalam.


Sahabat macam apa Aku? sehingga masalah Tari seberat itu saja Aku tidak tahu,, Aku benar-benar tak menyangka, bahwa hidupnya seberat itu.


"Vin,, jangan membenci Tari,, Aku gak mau hati kamu diisi dengan kebencian,, biarlah... suatu saat, Tari akan menyadari kesalahannya.."


Aku menatap Wajah Dirga kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Ehm.... Kalau Aku boleh gak nanya? Aku juga penasaran,, dan kepikiran terus.."


Dirga balik bertanya,


"Apa?"


"Ehm... Foto kamu sama laki-laki selain bersama Agung, yang dikirim Tari ke aku itu siapa?"


Mendengar itu, senyumku terkembang..


"Kenapa,, cemburu ya??"


Aku mentoel pipi Dirga, dengan cepat Dirga menangkap telunjukku.


"Iya,, Aku cemburu... sangat cemburu... sebab Aku melihat cinta tulus di matanya untuk kamu!"


Aku terperangah mendengar ucapan Dirga.


Bagaimana mungkin seorang Dirga bisa menilai cinta yang tulus dari mata seorang daniel hanya dengan melihat foto.


"Sayang.... Kenapa? kenapa kamu diam? apa dugaan Aku benar?"


Dirga menolehku.


Aku menarik nafas, lalu menunduk.


"Dia siapa??"


Tanya Dirga mengangkat Daguku.


"Dia Daniel,,"


Ucapku singkat.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2