Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 55 Cukup hati yang berantakan... penampilan jangan


__ADS_3

Aku masih terdiam dengan membiarkan jemari Daniel menggenggam jemariku, Aku berharap perasaanku yang tengah berantakan akan sedikit membaik, setidaknya Aku tidak sendirian, ada Daniel yang mencoba menguatkanku ditengah hujan yang masih mengguyur deras jalanan basah ini.


Daniel sahabat baikku sejak kami masih sama-sama di bangku sekolah dasar, perhatian yang besar memang sudah ia tunjukkan sejak dulu, entah apa itu tandanya memang ia menyukaiku sejak dulu seperti yang pernah diceritakan Elza kala itu.


Tapi biarlah itu hanya menjadi bagian masa lalu yang akan menjadi rahasia Daniel sendiri, Aku tak perlu tahu dan tak pula ingin mencari tahu.


"Vin, sudah lah.. berhenti menangis!! simpan air mata kamu, cukup sudah kamu menangisi hal yang mungkin tak pernah memikirkan kamu! Bahkan, saat ini pun Dia tak menepati janjinya!!"


"Tak ada yang berjanji sama sekali disini Niel!!"


ujarku dengan suara bergetar.


Daniel terperangah menatapku heran.


"Lantas?? untuk apa dan untuk siapa kamu duduk menunggu dan menangis di sini??"


Tanyanya bingung.


"Sudahlah, Aku tak bisa menjelaskannya,, kamu tak mungkin mengerti!"


Aku menarik lenganku kemudian merapikan rambutku yang berantakan oleh angin.


"Ya... Aku memang tak mengerti dan selamanya tak akan mengerti!!"


Daniel mengusap wajahnya kasar.


Aku menarik nafas panjang kemudian berdiri, berjalan maju ke tepi Halte.


Tanganku menadah rintik hujan yang tidak lagi deras.


"Hujannya sudah mulai berhenti, Aku mau pulang!"


Ujarku.


"Jangan sekarang!! masih gerimis!! Tunggu sebentar lagi, biar reda dulu"


Daniel menahan langkahku.


Mataku kembali menatap langit yang masih berwarna abu-abu, seperti gambaran hatiku siang ini.


"Daniel benar, meski gerimis namun jika Aku berjalan sampai kerumah, Aku juga pasti masih kebasahan"

__ADS_1


Pikirku.


Aku kemudian memutuskan untuk kembali duduk menunggu sebentar lagi.


Jalanan masih lengang, mataku menatap jauh jalanan yang basah.


Daniel kembali duduk disampingku yang kembali terdiam.


"Vin, Aku kenal kamu dari kita kecil.. kita berteman dan bersahabat bukan baru hitungan bulan, Aku mohon.. beri Aku kesempatan untuk peduli dengan apa yang sedang terjadi sama kamu"


Aku menoleh Daniel yang berbicara dengan tatapan lurus kedepan memandang setiap titik air hujan yang jatuh.


"Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi setidaknya biarkan Aku jadi pendengar setia untuk ceritamu, izinkan Aku menjadi tempat untuk kamu berbagi keluh kesahmu, saat kamu sendiri tak kuat dengan masalahmu"


Sambungnya lagi tanpa menolehku,


"Itu juga jika kamu masih menganggapku Danie yang dulu!"


Kini ia menunduk, entah apa yang tengah ia rasakan.


Aku menggeser tubuhku untuk lebih rapat padanya lalu menyandarkan kepalaku pada bahunya.


Daniel sepertinya kaget dengan tindakanku yang tiba-tiba bersandar padanya.


Beberapa detik berlalu hingga kurasakan tangan Daniel menyentuh kepalaku dan mengusap nya perlahan.


"Hujan sudah reda, ayo pulang Aku antar!"


Ucapnya.


Aku menyudahi sandaranku, lalu beranjak mengikuti perintahnya.


"Tunggu disini!!"


Daniel berlari menerobos rinai hujan yang turun malu-malu.


Aku memperhatikan tubuh laki-laki itu dari belakang ketika ia turun dari halte untuk memindahkan motornya yang ia parkir cukup jauh dari halte, mungkin agar Aku tadi tak menyadari kehadirannya.


Tak lama kemudian Daniel kembali dengan menunggangi sepeda motornya.


Ia memberi kode agar Aku segera naik.

__ADS_1


Aku turun dari tangga halte, dan menemuinya.


"Ehm... Kamu kesini, lalu Elza??"


Tanyaku yang tiba-tiba mengingat Elza.


"Dia kupesankan ojek online, udah buruan naik, takut hujannya deras lagi!"


Aku mengangguk dan segeran naik di boncengan Daniel, untuk pertama kali seumur kenal Daniel Aku diboncengin motor olehnya. Duduk dibelakang tubuhnya, membuat hidungku mencium jelas aroma pomade di rambutnya yang benar-benar maskulin, tak hanya itu, Aku juga baru menyadari ternyata Daniel menyukai parfum beraroma lembut,


"Ah.. apa-apaan Aku ini, bisa-bisanya hidungku mengendus semua aroma di tubuh Daniel!"


Mulutku berdecit.


Motor melaju menggilas jalanan aspal basah menuju perumahanku.


Motor berhenti tepat didepan pagar rumahku,


Aku turun dari motor Daniel, hendak berpamitan sebelum meninggalkannya.


"Aku masuk ya, makasih untuk semuanya"


Ucapku bersiap berbalik masuk.


"Vin, tunggu...!"


Cegahnya.


Aku kembali menatapnya.


"Sebentar...., Maaf..."


Daniel menarik lenganku agar lebih mendekat padanya yang masih duduk diatas motor yang masih menyala.


Tangannya kembali mengeluarkan sapu tangan, Disekanya sudut mataku kemudian pipi dan hidungku yang basah oleh rintik gerimis.


lalu ia menyelipkan rambutku pada telinga.


"Cukup hati dan pikiran kamu saja yang berantakan, tapi penampilan jangan!"


pungkasnya kemudian memberi kode untuk Aku segera masuk rumah.

__ADS_1


Tanpa menjawab apa-apa, Aku berlalu meninggalkannya yang masih menatapku lekat.


Bersambung***


__ADS_2