Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 189 Ketos alay rifalku


__ADS_3

Perasaan kesal membuatku memutuskan untuk segera pulang, namun baru beberapa langkah meninggalkan gerbang sekolah, Kuurungkan niat untuk kembali kerumah yang sudah dipastikan akan membuatku semakin merasa galau, karena pastinya akan terus memikirkan Vina dan Agung.


Muncul ide untuk main kerumah Paman Usman saudara orang tuaku.


Aku segera membalik tubuhku dan kembali masuk ke gerbang sekolah menemui Salsa, yang kuingat tadi masih berada di kantin sekolah.


"Ca..."


Panggilku begitu tiba di kantin,


"Loh,, belum pulang?"


"Gak jadi,, Ca.. kita kerumah Cia yuk..."


Ajakku,


Terlihat wajah sumringah Salsa begitu mendengar tawaranku.


"Oke,, Aku juga udah lama gak kesana"


"Ya udah,, yuk..."


Salsa beranjak dari bangku kantin dan dengan segera kami meninggalkan kantin sekolah menuju rumah Paman Usman.


"Ehm... Dir,, kamu sebenernya kenapa sih?"


Tanya Salsa ditengah-tengah perjalanan kami menuju rumah Paman Usman menggunakan Bis.


"Nah,, itu dia... sebenarnya itu yang mau Aku ceritakan sama kalian,, nanti ya... pas udah sampai"


Jawabku melirik Salsa.


"Oh.. ehm... gitu,, Oke"


30 menit berlalu,


Sembari berlarian Aku dan Salsa tak sabar sampai dirumah Paman Usman yang pasti Akan sangat seru berjumpa Syintia dan Bella.


"Cia..... Cia... !!!"


Pekik Salsa dari jauh memanggil Syintia.


"Ssttt.... Salam dulu Ca!!"


tegurku atas sikap Salsa.


"Iya... Iya.. Assalamualaikum,, Cia.... Bella..."


Ulang Salsa.


"Walaikum salam.."


Sambut Bik Umi, istri Paman Usman.


"Abi, Caca... masuk Nak,, baru pulang sekolah ya..."


"Iya Bik,, Cia ama Bella udah pulang Bik?"


Tanyaku,


"Udah,, itu mereka lagi ganti baju... ya udah masuk dulu,, makan siang ya..."


"Iya Bik,, makasih Bik... ada sayur asem Bik?"


Tanyaku yang paling mengidolakan sayur asem masakan Bik Umi.


"Ada,, kebetulan Bibi masak sayur Asem sama Tempe penyet"


"Wawww... makin laperrrr"


Seruku yang segera berlari masuk disusul Salsa.


Tak lama,, Syintia yang biasa kami panggil Cia dan Bella keluar menemui kami yang sudah seperti orang kelaparan dimeja makan.


"Woyyy,, main makan duluan aja nich,, tuan rumahnya aja belum makan!"


Celetuk Bella, membuat Syintia, Aku dan Salsa terkekeh.


Tanpa membuang waktu, makan bersama segera berlanjut diselingi cerita sesekali saling lempar ledekan yang memantik canda tawa kami siang ini di ruang makan sederhana milik Paman Usman.


Suasana makan siang yang ramai dan seru yang tak mungkin kudapatkan jika Aku berada dirumahku sendiri.


"Cia,, Dirga mau curhat!"


Ujar Salsa ketika kami sudah sama-sama berada di kamar Syintia.


Syintia menolehku,


"Kenapa Bi? ada masalah disekolah ya?"


"Dia lagi jatuh cinta!!"


Celetuk Salsa senyum-senyum.


Mendengar itu,, Bella yang tengah membaca komik agak jauh dari kami, berlari mendekat dan segera menatap wajahku dekat-dekat.


"Abi jatuh cinta??! sama siapa? cantik gak? cantikan mana sama Aku Ca??"


"Bel,, apaan sih!!"


Aku mendorong muka Bella dari depan wajahku, membuat Salsa dan Syintia terkekeh.


"Aku aja gak tau,, sama siapa.. tapi Filling Aku sih,, sama cewek yang itu ya Dir?? bener gak??"


Kali ini Salsa yang menatap mataku dari dekat.


Aku menghela nafas,


"Udah,, biarin Abi cerita dulu"


sambung Syintia.


"Iya,, Aku jatuh cinta sama Dia sejak pertama kali melihatnya,, namanya Ervina.."


Aku memulai ceritaku.


"Tuh... benerkan,, cewek itu..."


celetuk Salsa.


"Cantik gak Ca??"


Potong Bella lagi dengan nada penasaran.

__ADS_1


"Cantik,, manis,, "


"Terus... terus... gimana? udah ditembak?"


Tanya Bella cepat.


Aku menggeleng,


"Dia gak suka Aku,, Dia kayaknya udah jadian sama ketua osis!"


"Wahhh... berat nih,, kalau saingannya ama ketos,, apalagi ketosnya keren.. Hemmm... Gimana Ca,, tampan gak ketosnya?"


Bella melipat tangan di dada sembari menunggu jawaban dari Salsa.


"Yaaa.. lumayan sihh,, tampan... tinggi, keren juga"


"Apaan sih ca,, kok muji-muji si Agung!! jangan-jangan kamu suka ya??"


Ujarku sewot merasa terpojok ketika saudara yang kuharap mendukungku malah memuji rifalku.


Salsa nyengir.


"Tapi Bi,, kok kamu malah mikirnya gitu? kan kamu sendiri belum tau kebenarannya.. kenapa gak nanya,, atau coba deh kamu pedekate dulu"


Saran Syintia membuatku berpikir beberapa saat.


"Gitu ya? tapi kalau ternyata..."


"Udah,, jangan kebanyakan mikir... nanti keburu jadian beneran baru nyesel"


Cia bener, Sepertinya besok Aku harus menemui Vina untuk pedekate.


batinku.


"Kalian nginap aja disini ya.. kan dah lama kita gak bareng-bareng,, nanti Aku bilang sama Ibuk untuk telpon kerumah kalian"


Ujar Syintia. Aku dan Salsa mengangguk senang.


......................


Keesokan harinya,


Sampai disekolah yang masih cukup sepi,, Salsa menunjuk ke arah perpustakaan.


"Dir, Tuh lihat Vina ke perpustakaan,, samperin gih... ingat ya,, jangan ketus!!"


Salsa mendorong tubuhku.


Meski agak ragu, Akhirnya Aku mengikuti saran Salsa.


Setiba didepan pintu perpustakaan, Aku melihat Vina sedang membolak balik buku di tangannya. Melangkah perlahan kemudian tanpa basa basi Aku lalu menarik buku yang tengah dibaca Vina kemudian menutup nya.


Vina yang kaget,, terperangah menatapku atas tindakanku barusan.


"Dirga..."


Ujarnya pelan.


Aku tak menjawab, hanya mataku saja yang lekat tak berkedip menatapnya.


"Ada apa??"


Tanyanya kikuk dan salah tingkah, membuat wajahnya semakin menarik untuk terus kupandangi.


Tanyanya lagi.


"Ya,, Aku tau..kamu pasti disini"


Jawabku yang tak melepas pandanganku dari wajahnya yang semakin memerah kemudian tertunduk malu.


"Ehmmm..Dir,, jawaban di mobil kemarin..Aku udah maafin kamu kok,,"


kata-kata itu keluar dari mulut Vina seiring dengan wajahnya yang terangkat dan matanya yang mulai berani menatapku.


"Makasih ya"


Ujarku tersenyum, namun sikap Vina yang gelisah membuatku merasa Vina tak nyaman berdua denganku di ruangan ini.


"Kenapa??,,kamu gak nyaman ya berada berdua dengan ku disini?"


"Ehhmm... Enggak kok"


Jawabnya cepat sambil menggeleng.


"Atau,, Kamu takut Agung tau??"


Cetusku.


"Agung??? Apa urusannya sama Agung?"


Tanya balik Vina.


Membuatku menertawakan pertanyaan konyol itu.


"Hhhahhhahha...kenapa balik nanya,,"


"Ya jelas Aku nanya,, lagian kamu aneh,,"


"Aneh??aneh apanya?"


"Ya iya donk,, aneh menyangkut paut kan sesuatu yang sama sekali gak ada hubungan nya"


terang Vina membuatku sedikit bingung.


"Jelas ada hubungannya,, kalo gak ada hubungannya ngapain sampe segitunya."


Pancingku.


"Ngaco ah...hubungan apa??sampe segitunya gimana maksudnya?? kamu bikin Aku bingung"


"Agung pacar kamu kan??"


Cetusku pada Vina


"Hahhhhhhaaa..."


Mendengar itu Vina tertawa.


"Ihhh..kenapa ketawa??"


Tanyaku bingung.


"Lagian kamu,,siapa yang pacaran..orang masih kecil ini..juga"

__ADS_1


"Jadi....kamu sama Agung???"


"Ya enggak lah....Agung itu anak nya teman Mamaku,, makanya kita kenal"


"Ohhh...."


Aku mengangguk lega.


Setidaknya sekarang Aku tau,, kalau Vina bukan punya siapa-siapa, apalagi pacar Si ketos alay.


"Ehhmm..Dir, emang kamu jutek sama Aku kemarin-kemarin kenapa sich..?"


Tak kusangka Vina akan menanyakan hal itu.


"Tanya aja sama diri kamu,, kenapa Aku jutek"


"Yaaa... Aku gak tau makanya nanya..gimana sich..."


"Sebel tau gak"


Tukasku.


"Kok sebel,,kenapa?"


"Ehmmm...ni anak... kamu sebenernya pura-pura gak tau atau gimana sih?? ya pokok nya sebel lah.. sama Agung"


Ingin sekali rasanya Aku bilang bahwa Aku cemburu,, tapi.. ahh... rasanya malu sekali.


Rasanya masih ingin bersama seperti ini, tapi bell masuk sudah dibunyikan,,


Aku hanya berharap akan ada banyak kesempatan berdua dengan Vina setelah ini.


Aku beranjak dari kursi yang berada di depan Vina, kemudian berdiri disampingnya lalu mengulurkan tangan pada Vina


Sontak hal itu membuatnya terkaget-kaget kemudian mengulurkan tangan menyambut tanganku,, untuk berdiri.


Ahh... sungguh seperti mimpi, pagi ini Aku bisa merasakan lembut dan halusnya tangan cinta pertamaku.


Seandainya saja waktu bisa kuhentikan.. Aku ingin lebih lama menggenggam tangannya.


Kami berjalan beriringan dengan tangan yang masih bergandengan.


Sesekali kami saling menatap, lalu tersenyum dan saling tersipu malu.


Sesampai nya di depan pintu perpustakaan, Vina menarik tangannya, dengan tetap berjalan disampingku.


Tak ada kata yang terucap lagi diantara kami,,hanya saling diam, dengan rona merah di pipinya, Vina terlihat begitu sangat menggemaskan, terlebih ketika Dia semakin tersipu-sipu dan memutuskan berlari meninggalkanku menuju kelas.


Dan begitu sampai di depan kelas, Vina berbalik dan menatapku kemudian tersenyum.


Tuhan,, Aku mencintainya... jadikan Dia jodohku...


Sebait doa yang tiba-tiba saja terlintas di pikiranku yang masih remaja ini.


konyol memang, dimana cinta terlalu cepat menyapa di usia yang masih belia, tapi inilah kejujuran hati ketika cinta datang dengan caranya tanpa di duga...


Ya... inilah cinta pertamaku.


Jam pelajaran Matematika yang berjalan selama 3 jam terasa begitu menyenangkan ketika hati tengah dilanda bunga-bunga asmara, semua terasa begitu ringan terlebih ketika curi-curi pandang mewarnai pagi ini didalam kelas,, ahh... semua menjadi semakin indah.


Tapi kebahagian ini harus rusak ketika istirahat tiba,,


Sang ketua osis lebay datang merusak kabahagian yang baru saja kurasakan,, benar-benar menyebalkan!!


Aku memperhatikan gelagatnya yang membuat Aku menjadi panas hati.


Apalagi ketika kulihat Vina menerima pemberian Agung, entah apa yang ia berikan Aku tak melihatnya jelas.


Aku tak tahan lagi melihat drama romansa mereka, kuputuskan untuk keluar dan memilih perpustakaan menjadi tempat menenangkan diri.


Baru saja Aku duduk untuk membaca, kulihat Salsa berjalan menghampiriku.


"Dir, gimana? sukses?? tadi kamu jadi nembak Dia??"


Aku menggeleng.


"Loh... kenapa,, bukannya tadi momennya pas,, cuma berdua aja?"


"Tadi sih iya, tapi sekarang enggak!!"


Ditengah obrolan Aku dan Salsa,


Prak!!


Suara hentakan sepatu membuat mataku dan mata Salsa mencari asal suara,


"Vina,,"


Gumamku dan Salsa serentak lalu saling pandang.


Dengan cepat Vina kembali keluar perpustakaan tanpa menyadari bahwa Aku melihat tingkah anehnya lalu mengikutinya keluar.


Berkali-kali Aku mendengar kata bodoh keluar dari mulutnya seolah tengah menggerutu sendiri sembari menunduk dan menghentak-hentakkan kaki dilantai,, terlihat lucu dan menggemaskan.


"Siapa yang bodoh??"


Tanyaku tiba-tiba membuatnya kaget menolehku.


"Eh..ehmm..anu...orang gila"


Jawabnya gugup kemudian matanya mengarah pada Salsa yang berdiri disampingku lalu berlari meninggalkan kami yang terus menatapnya.


"Kayaknya Dia salah paham deh Dir,, Dia cemburu tuh.. kejar gih...."


Ujar Salsa menunjuk Vina yang sempat kembali menoleh sebelum akhirnya melanjutkan berlari kearah taman.


"Masak?"


Tanyaku ragu.


"Iya... coba kamu temui"


Setelah berpikir agak lama, Aku memutuskan mengikuti saran Salsa.


Tapi kenyataannya Aku menyesal!!


Menyesal mengikuti saran salsa untuk mengejar Vina.


Setelah sampai Taman, Pemandangan menyakitkan hati kembali kulihat, bukannya cemburu dan sedang bersedih,, Vina malah terlihat bahagia duduk berduaan dengan si ketos Alay, sambil senyum-senyum dan bercanda mesra.


Tanganku mengepal geram, menyaksikan tawa renyah mereka,


Rasanya ingin kusudahi saja rasa sukaku pada Vina, tapi kenapa malah gak bisa,, sekesal-kesalnya Aku terhadap Vina tak sedikit mengurangi rasa sukaku padanya.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2