Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 180 Buku harian


__ADS_3

Setelah berada di dalam kamar, Elza duduk di tepi tempat tidur dan Aku mengikutinya.


"Za,, sebenarnya ini ada apa? Kamu sakit apa? dan bagaimana sebetulnya rumah tangga kalian?"


Cecarku penasaran.


"Aku sakit kanker Vin.."


Seketika tubuhku lemas, lututku gemetar mendengar jawaban yang meluncur dari bibir Elza.


Air mataku mengalir tak bisa tertahan, segera kudekap tubuh kurusnya.


Aku tak menyangka, sahabatku akan termasuk kedalam daftar pasien penyakit yang paling menakutkan ini.


Aku tak sanggup membayangkan hal buruk yang mungkin saja akan terjadi di hari-hari kedepannya.


"Za... kamu pasti sembuh... kamu pasti bisa,, kamu pejuang hebat"


Sambil ku usap pundaknya.


Elza melepaskan pelukanku, sambil tersenyum dan mengangguk.


"Kamu harus janji Vin,, jangan ceritakan ini pada Daniel,,"


"Tapi Za... "


"Vin.... Aku mohon....."


Elza menatapku sembari menangkupkan kedua telapak tangannya.


Aku menghela nafas,


"Vin,, Aku boleh minta satu hal dari kamu?"


"Apa Za... katakan saja,, jangankan satu hal, semua yang kamu mau pasti Aku berikan..."


Jawabku.


"Menikahlah dengan Daniel.."


Mendengar itu, mataku tebelalak lebar, tak kusangka Elza akan meminta permintaan yang sama sekali tak kan pernah bisa ku penuhi.


"Za... kamu ngomong apa?? permintaan macam apa ini??! mana mungkin itu terjadi!"


Elza menunduk, lalu kulihat air mata yang sedari tadi ia tahan mengalir.


"Iya... kamu benar,, ini sulit.. tapi,, Aku ingin melihat Daniel bahagia"


"Za... Sebenarnya ada apa? kenapa bicara seperti itu?"


"Aku tak bisa bahagiakan Dia Vin,, Daniel tersiksa hidup bersamaku, hatinya tertekan, sebab Aku tau di hatinya cuma ada kamu.."


Sssttt....!!


Aku segera meletakkan jari telunjukku didepan bibir Elza.


"Jangan bicara seperti itu za.... Apa Daniel memperlakukan kamu dengan buruk?"


Elza menggeleng,


"Daniel memperlakukan Aku dengan baik, bahkan sangat baik.. tapi Aku tau... hatinya terus memikirkan kamu"

__ADS_1


Elza beranjak dari tepi tempat tidur melangkah menuju lemari pakaian dan membukanya.


Ia mengeluarkan sebuah benda yang ia simpan dibawah tumpukan pakaian, lalu membawanya menghampiriku.


"Ini,, kamu baca.."


Sebuah buku Agenda berwarna hitam dan Aku masih mengingat buku ini, semasa SMA, Aku sering melihat Daniel menulis dibuku ini, tapi Aku tak pernah tau apa yang Dia tulis.


Tapi kenapa dengan buku itu?


Aku menerima buku Agenda itu dengan hati berdebar,,


Pelan-pelan kubuka lembar demi lembar buku tersebut.


Betapa kagetnya Aku mengetahui betapa banyaknya tulisan namaku disana, bahkan hampir disetiap lembarannya.


Dan mataku tak berkedip ketika membaca sebaris tulisan.


📒📖


"Kau cinta pertamaku,, sejak hatiku terlukis namamu, maka tak akan pernah ada cinta lain lagi setelah itu"


Aku melanjutkan membuka lembaran berikutnya.


📒📖


"Aku tak bisa lagi memendam dan menyimpan perasaan ini sendirian,, apapun nanti yang terjadi,, setidaknya Aku harus berani"


Keringat basi mulai meluap di hampir seluruh bagian wajahku, bersama dengan degup jantung yang tak beraturan.


Rasanya Aku tak ingin lagi melanjutkan membaca isi buku Agenda ini, tapi ketika Aku menatap Wajah Elza, mata nya mengisyaratkan agar Aku meneruskan membaca semua rahasia di dalam Agenda tersebut.


Dengan ragu, Aku kembali melanjutkan membalik lembar buku tersebut.


📒📖


Setelah membaca kalimat itu, ingatanku kembali pada saat malam sebelum Agung membuat acara pengumuman jadian kami di kafe milenial ketika dengan tiba-tiba Daniel datang namun urung berbicara dan memilih pulang.


Astaga!!


Berarti benar kata-kata Elza dan Nina kala itu, kalau Daniel datang untuk menyatakan perasaannya kepadaku.


📒📖


"Semangat itu kembali kupacu, berharap hari ini adalah hari keberuntunganku, berharap Dewi Fortuna sedang menyertaiku, dan kalung indah ini... semoga saja bisa segera melingkar di leher sang pemiliknya,, yaitu Dia pemilik hatiku"


📒📖


"Aku patah,, Aku hancur, bahkan lebur berserak dan berantakan.. Dia, yang selama ini kuharapkan,, telah lebih dulu dipilih dan memilih bahagianya sendiri,, dan itu bukan Aku!


Aku tak tahu,, bagaimana hati ini esok dan nanti.. ketika mahligainya redup, akankah masih bisa bertahan atau hancur berlahan,,


Dia,, orang yang selama ini selalu kuimpikan,, kini tak bisa lagi kuharapkan..


Dia cinta pertamaku, yang kini pergi membawa semua rasa cinta yang ada di dalam hatiku,, hingga tak bersisa,,


Tak akan ada lagi cinta.. tak mungkin ada..."


Mulutku menganga tak percaya dengan apa yang baru saja kubaca,, dengan tangan kananku, ku bekap mulutku sendiri.


Benarkah Aku yang membuat luka dihati Daniel, menancapkan duri dihatinya yang membuatnya tak bisa lagi mencintai cinta yang hadir dihidupnya.

__ADS_1


Lalu... Bagaimana dengan Elza? kenapa sampai ada pernikahan waktu itu?


Pertanyaan itu begitu bergejolak didalam kepalaku.


📒📖


"Dia hadir,,, merawat luka dan membalutnya dengan lembut,, hingga Aku perlahan bisa bangkit dan berusaha sembuh dari rasa sakit yang mendera,, berusaha untuk berdamai dengan rasa kecewa.


Dia begitu baik, dengan segala ketulusannya mencoba menyusup di antara kebekuan jiwa.


Dia begitu manis, hal yang tak pernah kusadari sejak dulu..


Tapi hatiku terasa hambar... semua rasa telah pergi bersama sang cinta pertama, mungkinkah Aku bisa membahagiakannya?


Sedang untuk kebahagianku sendiri saja Aku sudah tak punya!!"


Air mataku kembali jatuh menetes tepat di lembar yang tengah kubaca,


Aku tau sakitnya hati Elza mendapati kenyataan seperti ini.


📒📖


"Aku hampir gila,, gila karena tak bisa melupakan Dia,,


Dan Dia sang perawat luka,, Akupun tak ingin Dia terluka sepertiku..


Keputusan terberat dalam hidupku adalah ketika harus menyayanginya tanpa cinta"


Aku menatap wajah Elza yang menunduk, dengan bulir-bulir bening yang berjatuhan.


📒📖


"Aku menyayanginya... tapi sampai detik ini,, cinta itu tetap milik Dia, Maafkan Aku"


Aku menutup buku Agenda tersebut, tak sanggup lagi membaca lebih banyak tulisan disana yang mungkin saja Akan membuat hatiku lebih kacau.


Aku tak menyangka, semua ini akan terjadi dan Aku mengetahui rahasia hati Daniel dari sahabatku yang tak lain adalah Istri Daniel sendiri.


"Ya Tuhan... Bagaimana ini?? Aku sama sekali tak ingin melukai Elza yang mungkin sudah terluka sejak dulu, Aku juga tak ingin hari bahagiaku bersama Dirga berantakan hanya karena perasaan konyol Daniel!"


"Vin, Aku ingin kamu pertimbangkan lagi permintaanku, anggap saja ini permintaan terakhirku"


"Za... jangan ngomong gitu.. ini gak bener,, ini salah... Ini tulisan udah lama,, dan sekarang.. Aku yakin,, dihati Daniel hanya ada kamu.. percaya Aku ya...."


Elza tersenyum dan menggeleng,,


"Daniel menyayangi Aku hanya karena status yang mengikat kami Vin.. karena Dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab dengan semua keputusan yang Dia ambil meski ini memang keputusan yang salah.. tapi Dia menjalaninya dengan penuh keikhlasan, bahkan Dia tak pernah secuil saja lalai dalam tanggung jawabnya selama menjadi suami, tapi Vin.. hati tak bisa berdusta, wanita yang dicintainya seumur hidupnya adalah kamu bukan Aku"


"Elza... kamu dengerin Aku,, Aku gak bisa kabulin permintaan konyol kamu ini! bulan depan Aku akan menikah dengan Dirga, Bahkan besok malam... keluarga Dirga akan datang untuk melamarku,, kamu tau sendirikan... Dirga adalah orang satu-satunya di hatiku,, "


Mendengar penjelasanku Elza tertunduk.


Tak lama, ia kembali menatapku dan tersenyum.


"Iya... Aku bahagia mendengarnya.. selamat ya Vin,, semoga semua prosesnya lancar.."


Elza mendekapku dan menangis terisak seolah menumpahkan semua beban yang ada dihatinya.


"Maafkan Aku Za..."


Ucapku.

__ADS_1


"Aku yang harusnya minta maaf sudah ganggu waktu kamu dan menambah beban pikiran untuk kamu"


Bersambung***


__ADS_2