
Mobil tiba di kediaman Agung, entah apa yang menjadi alasan Agung tak ingin menggelar resepsi di hotel atau gedung mewah padahal semua orang tahu Agung mampu untuk itu semua.
Suasana ramai tamu undangan terlihat memadati tenda megah yang terpasang di sepanjang jalan dan halaman rumah serta lapangan yang tepat berada di samping rumahnya.
Aku menarik nafas panjang sebelum memutuskan untuk turun dari mobil, Dirga menolehku kemudian tersenyum dan menggenggam tanganku.
"Kamu gak papa?"
Ujarnya.
"Ya.. Aku baik-baik saja.."
Aku mengangguk dan mengelus lengan Dirga.
"Ya udah,, yuk kita turun"
Ajak Dirga.
Hatiku terasa berdebar kencang, entahlah..
Kenapa tiba-tiba saja, Aku merasa begitu deg-degan.
Kembali teringat kata-kata Agung, jika suatu saat ketika kami siap untuk kembali bertemu Kami juga harus siap dengan status yang sudah berbeda.
Dan semua itu akan terjadi di hari ini..
Dimana untuk pertama kalinya Antara Aku, Agung dan Tari bertemu, dan Aku harus siap,, datang sebagai tamu undangan untuk menghadiri pernikahan mereka dan memberi ucapan selamat kepada mereka.
Huffth... tapi tak bisa dipungkiri,, ada perasaan gelisah, gugup serta canggung yang menyertai keikhlasanku untuk melangkah, meski disisiku kini ada tangan yang menggenggam jemariku, menggandeng penuh cinta untuk mendampingiku memberikan rasa nyaman serta menguatkanku.
"Eh,, itu Nina...!"
Ujar Dirga menunjuk Nina yang sudah duduk di tengah-tengah para tamu undangan.
"Oh iya... tapi kok,, gak bawa Twins ya??"
Jawabku heran yang hanya melihat Nina duduk berdua bersama Alif tanpa anak-anak mereka.
Aku dan Dirga melangkah menghampiri Nina.
"Hai Nin..."
Sapaku.
"Vinaaa.... sini... sini,, duduk disini aja...."
Nina begitu antusias menyambut kedatangan kami.
"Eh,, ngomong-ngomong berduaan aja nich,, mana Twins? kok gak diajak...?"
Ujarku menanyakan kedua anak kembar Nina yang tak kelihatan.
"Iya,, kebetulan Nenek mereka datang kerumah,, jadi tinggal deh.."
"Ohh... gitu, eh Elza belum datang ya? Diki juga belum kelihatan"
Sambungku sembari celingak celinguk.
"Iya,, mana ya mereka"
Ucap Nina turut memperhatikan sekeliling.
"Ehm... Vin, Aku masih gak percaya loh,, Tari bisa menikah dengan Agung,, gimana ya.. Aku penasaran loh,, apa nanti kita tanya langsung aja kali ya..?"
Ide nina membuat Dirga menoleh cepat seolah tak menyukai pembahasan yang sedang kami bicarakan.
"Ehm... kayaknya gak enak deh Nin,, udahlah.. biar aja,, Nah itu Elza sama Daniel..!!"
Aku menunjuk ke arah gerbang penerimaan tamu undangan.
__ADS_1
Disana terlihat Elza digandeng mesra dan sangat hati-hati oleh Daniel, dengan nuansa pink membalut tubuh mereka.
Namun mataku justru tertuju pada perut Elza yang membuncit.
Nina melambaikan tangan, disambut senyum sumringah dari Elza dan Daniel.
Belum jauh Elza melangkah, Diki dan Istrinya muncul dengan busana syar'i tetap dengan warna pink.
Sekali lagi Nina berdiri dan melambai mengajak mereka berkumpul duduk bersama.
Seketika suasana kangen-kangenan mewarnai hati kami masing-masing di acara pernikahan Tari dan Agung.
"Tunggu....tunggu,, dari tadi Aku merhatiin ini lohh...!!"
celetukku sembari menunjuk perut Elza membuat semua mata tertuju kearah yang sama.
Elza tertawa, sementara Daniel tersenyum bahagia.
"Selamat ya sayang......! "
Aku memeluk Elza dan mengusap perutnya.
"Makasih Vin,, "
Jawab Elza.
"Dah berapa bulan Za?"
Tanya Nina.
"Masuk 5 bulan.."
"Sehat-sehat ya... semoga diberi kelancaran"
Sambung Diki, dan diaminkan oleh kami semua dan Istrinya yang juga tengah hamil besar.
Tak sengaja mataku menatap kearah pelaminan, Agung dan Tari ternyata memperhatikan kami yang tengah bercengkrama hangat dan kompak.
sungguh ini adalah reuni yang tak disengaja dan tak direncanakan sama sekali.
"Kapan nih, Vina dihalalin? kalo kemarin-kemarin ada batu penghalangnya kan,, nah sekarang tunggu apa lagi Dir?? "
Celetuk Nina disambut anggukan kepala dari yang lain.
"Doakan saja secepatnya ya.... "
Balas Dirga tersenyum menatapku, Aku menyandarkan kepalaku di bahu Dirga membalas senyumnya.
"Iya bener banget,, dulu banyak banget halangan kalian untuk bersatu ya... malah Aku ngiranya Vina bakalan jadi sma kamu loh sayang..,, ternyata jodohnya Kamu Aku,, ha.. ha... ha partner berantem setiap hari!!!"
Komentar Elza membuat Daniel melirik kearahku, dan mata itu sempat beradu pandang beberapa detik dengan mataku namun kemudian segera menghindar dan menunduk sambil tersenyum yang tak lepas.
Entah apa artinya, Aku sendiri merasa seperti ada rasa yang terkunci rapat disana.
Mungkinkah Daniel masih menyimpan rasanya padaku,
Ahh... semoga itu tak terjadi,, dan ini hanyalah perasaanku saja.
"Iya... itulah jodoh, tak ada yang tau,, semua sudah di gariskan,, meski harus berbelok-belok dulu sebelum bersatu, ujung-ujungnya jika sudah takdir siapa berjodoh dengan siapa, maka tak akan pernah tertukar, begitu juga dengan rejeki dan maut, kita tak akan pernah tau,, kapan ajal menjemput dan kematian akan melamar kita,,"
penjelasan panjang dari Diki membuat suasana hening beberapa saat.
Acara terus berjalan, hingga tak terasa kami sudah berada diujung acara,
Satu persatu dari kami naik keatas pelaminan untuk bersalaman dan mengucapkan selamat kepada pengantin.
Tiba giliranku,
Salamku disambut hangat oleh kedua orang tua Tari yang sudah bercerai namun kembali dipersatukan duduk di kursi pelaminan pernikahan putri semata wayang mereka, Aku melanjutkan langkahku tepat didepan Agung, sesaat mata kami saling pandang, perasaan canggung menyergap tiba-tiba.
__ADS_1
"Vin..."
Sapanya,
"Selamat ya Kakak kuuuu...."
Aku berusaha mencairkan suasana canggung antara kami, sambil menyalaminya, meski hatiku benar-benar tak bisa kukendalikan.
"Makasih ya udah datang... Aku tunggu undangan kalian"
Balasnya sembari menatap Dirga yang kemudian menjabat tangan Dirga lalu memeluk dan menepuk-nepuk pundak Dirga beberapa kali.
Dirga membalas perlakuan ramah dari Agung.
Tiba didepan Tari, Aku tak kuasa menahan air mataku, begitupun dengan Tari yang segera menyambar tubuhku memelukku erat, sangat erat.
Air mata kami sama-sama terburai lepas dalam pelukan hangat kerinduan.
"Maafkan Aku Vin... Maaf,,"
Aku menggeleng dan melepas pelukan itu, sembari menghapus air matanya,
"Udah ya... jangan minta maaf lagi,, Aku sudah melupakan semuanya... selamat ya... kamu cantik sekali... jangan menangis... Aku sudah maafin Kamu.."
Tari menatap dirga yang dibalas anggukan dari Dirga.
"Vina... tolong jangan pulang dulu, selepas ini.. Aku ingin ngobrol sama kamu,, Nina dan Elza.. Aku mau kalian tau dan mendengar penjelasanku"
Pinta Tari.
"Tak perlu Tar... Udah jangan dibahas lagi ya..."
Aku menggenggam tangannya.
"Vina Please.....!!"
Aku menoleh Dirga, Dirga mengangguk pelan.
"Ya udah,, kami gak langsung pulang.."
Mendengar itu Tari tersenyum lega.
Aku melanjutkan langkahku menghampiri Tante Ruri dan Mas Irfan,
Aku segera memeluk Tante Ruri, begitupun Tante Ruri, tatapan tulusnya dan pelukan hangatnya masih sama seperti dulu, seperti pada saat Aku masih menjadi calon menantunya, dan Dia adalah calon mertuaku.
"Vina... Tante masih gak nyangka, hari ini.. kamu hadir disini hanya sebagai tamu undangan,,"
"Maafkan Vina Tante...."
Hanya kalimat itu yang mampu Aku ucapkan,
Tante Ruri mengangguk, mengusap wajahku penuh kasih sayang.
"Inikah calon suamimu Nak??"
Tanya Tante Ruri begitu Dirga menyalaminya.
Aku mengangguk,
"Tante tunggu undangannya ya Nak..."
Sambung Tante Ruri lagi.
"Makasih ya Dek, udah datang..."
Ujar Mas Irfan begitu Aku menyalaminya.
Aku mengangguk dan turun dari pelaminan menuju kursi di pojok pelaminan, menunggu yang lain.
__ADS_1
Bersambung***