
Sudah hampir setengah jam terdiam, kebisuan membelenggu kami, baik Aku maupun Vina hanya saling diam bagai dua patung bernyawa.
Banyak sekali yang ingin Aku utarakan pada Vina, namun entah mengapa mulut ini seperti terkunci tak berdaya untuk membukanya.
Terlebih melihat sikap Vina yang terlihat santai dan biasa-biasa saja tak menunjukkan rasa takut kehilangan, semakin membuatku tak berani mencurahkan segala isi hati.
"Ehm... Vin, kami udah mau pulang?"
Aku mencoba memancing pertanyaan pada Vina yang menunduk.
"Ya... ini sudah terlalu siang, Aku takut Mama khawatir"
Jawaban Vina semakin membuatku kecewa, secara tidak langsung Vina ingin menyatakan Ia ingin segera pergi dariku.
Kini Aku tertunduk semakin hilang percaya diri,
10 menit berlalu,
"Dir.. Aku pulang ya..."
pamit Vina padaku menyisakan sesak dihatiku.
Aku mengangguk sembari menghela nafas, mencoba membuang sesak yang terasa kian menghimpit.
Vina beranjak dari bangku dan bersiap melangkah meninggalkanku.
"Vin... tunggu!!"
cegahku membuat langkah Vina terhenti.
Aku bangkit dan meraih lengan Vina serta membalik tubuhnya menghadapku.
Sudah bulat tekatku untuk menyatakan perasaanku padanya,
"Vin... Aku... Ehm... Aku..."
Ahhh...susah sekali kalimat ini keluar dari kerongkonganku.. lidahku terasa kaku terlebih ketika menatap binar mata itu.
"Dir... Apa? Kamu mau ngomong apa?"
Tanya Vina, sembari menatap lekat wajahku membuat tubuhku gemetaran dan berkeringat, tak tahan dengan tatapan itu kutundukkan kembali wajahku.
Ahh.. betapa payahnya Aku!!
Umpatku dalam hati.
"Aku.... Aku temenin kamu nunggu Bis ya...."
hanya ini yang terlintas cepat di otakku untuk menutup kecanggunganku.
Vina mengangguk.
Aku dan Vina berjalan berdampingan menyusuri lorong koridor sekolah yang mungkin akan menjadi saksi bisu kebersamaan kami 3 tahun ini.
__ADS_1
Semua kenangan, kejadian dan kebersamaan yang pernah berlalu bagai kolase indah melayang-layang dipikiran dan kenangan yang akan selamanya terprasasti dihatiku.
bagai memutar kembali semua yang pernah terjadi antara kami, dan hari ini.. mungkinkah menjadi episod terakhir kisah manis ini..
entahlah,, yang pasti.. Aku tak ingin semua berakhir begitu saja,,
Kutarik nafas dalam-dalam lalu ku genggam jemari lembut itu, Vina tersentak dan menolehku.
Aku tak peduli, terus saja menatap jalan didepanku tanpa ekspresi.
Vina membalas genggamanku, erat dan hangat.
Seperti tengah mengecapi manisnya rasa tanpa kata, terkungkung rindu yang mungkin nanti akan membelenggu,
Tanpa kusadari tangan ini masih melekat hingga sampai didepan kantin.
"Nah... Hayooo, udah lengket aja tu tangan!! harus ada pajak nya nih.... "
Ledek Nina sontak membuat tangan kami saling menarik dan terlepas.
"Ih.. Nina...!!! Apaan sih.."
Ujar Vina malu-malu.
"Emangnya kalian udah resmi jadian ya??"
Tanya Nina lagi, kali ini membisik lebih dekat ke telinga Vina.
Vina menggeleng, menimbulkan kebingungan di wajah Nina.
Tanyanya lagi yang dengan cepat, segera Vina mendaratkan cubitan di pinggangnya.
"Aawww... sakit Vin!!!"
Teriaknya sembari menggosok pinggangnya beberapa kali sambil mendengus.
Tak lama berselang,
"Yuk pulang..."
Ajak Vina pada kami.
"Eh.. Viin, kamu masih hutang ya sama Aku!"
Bisik Nina.
"Hah..?! Hutang?? Hutang apalagi??"
Tanyanya heran bercampur bingung.
"Hutang buat cerita apa yang terjadi!!"
cetus Nina.
__ADS_1
Aku melirik Nina, membuat Vina segera berkedip pada Nina.
Di halte Bis,
"Aku pulang duluan ya.....!!"
Pamit Nina.
Tinggal Aku dan Vina.
Lagi-lagi kami cuma saling Diam.
Hingga Bis yang ditunggu tiba.
Vina bersiap untuk meninggalkanku.
"Vina... Jika ini pertemuan terakhir kita, Aku berharap jangan lupakan Aku"
Ujarku setengah berbisik ditelinga Vina.
Vina menolehku, segera ku ulurkan tangan padanya.
Vina menyambut tanganku, sambil mengangguk.
"Ya... Aku janji, Aku akan selalu mengingat kamu!"
Jabatan tangan yang begitu erat, hangat dan membuat hati ini terasa damai.
"Vin... Aku.."
Belum selesai kalimatku terucap..
TIIINNNN...!!!
klakson Bis berdentin keras, membuatku kaget dan membuyarkan semua kalimat yang dengan susah payah kurangkai di kepalaku.
"Apa Dir?"
jawab Vina.
"Kamu cepat naik, Bisnya mau jalan!"
Jawabku bingung.
Vina melangkahkan kakinya menaiki Bis, meninggalkanku dan semua kenangan yang pernah tergores dihalte ini.
Bis mulai berjalan pelan, ketika kupandangi wajah Vina dari balik kaca Bis yang mulai menjauh.
Perih hati terasa berderit-derit seiring semakin menjauhnya Bis membawa Vina berlalu dari hadapanku, kuangkat tangan untuk melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Vina berlalu... membawa separuh hatiku yang terus terukir namanya,, membawa rindu yang mungkin akan menyiksaku,, membawa semua rasa yang dulu selalu ku banggakan, membawa kisah yang tak pernah ada kepastian,, bahkan cinta yang tak pernah bisa kunyatakan.
Aku mencintaimu Gadisku...
__ADS_1
Bersambung***