
Agung, memejamkan matanya sesaat kemudian menggeleng, lalu membawa Aku kedalam pelukannya.
Aku seperti tak punya lagi pilihan selain menenggelamkan kepalaku di dadanya, lalu menangis terisak.
"Menangislah.. keluarkan semua sesak yang menghimpit, Aku ada disini untuk menguatkan kamu Vin"
Bisik Agung di dekat telingaku.
Tangisanku semakin pecah, tanpa sadar tanganku membalas rangkulan di pinggang Agung, kepalaku semakin terbenam di dada bidangnya yang begitu harum.
Perlahan kurasakan usapan lembut di kepalaku, terasa tenang, damai dan nyaman. Sesaat kurasakan cinta yang tulus itu mengalir di dalam hatiku yang sedang rapuh.
"Setelah kamu merasa tenang, kamu bisa ceritakan semua bebanmu kepadaku Vin, untuk sekarang menangislah, sebab perasaan sedih itu wajar... Aku paham itu"
Kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu sejuk seperti hujan yang turun untuk menyirami hatiku yang sedang panas.
Begitu nyaman hingga tak kusadari jika film yang akan kami tonton sudah diputar sejak tadi.
Hampir 10 menit mendekap di tubuhnya, perlahan Aku melepaskan pelukan itu dan kembali ke posisi duduk tegap.
Beberapa kali kuseka pipi dan sudut mataku.
Entah sudah seberantakan apa riasan diwajahku.
"Sini..."
Agung memberi isyarat agar Aku mendekat, kemudian Dia mengusap pipiku dengan lembut.
"Masih cantik kok..."
Hiburnya membuat Aku tersenyum.
"Gimana? udah mendingan??"
Aku belum bisa menjawab, hanya anggukan kecil dan senyum tipis.
Agung tersenyum lalu menepuk bahunya isyarat agar Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
Lagi-lagi Aku menuruti perintah itu.
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya, kemudian Agung kembali mengusap-usap kepalaku.
"Belum mau cerita??"
Tanyanya,
Aku menggeleng,
"Oke,, Aku siap nunggu sampe kamu siap"
Sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalaku.
Menit demi menit berlalu, lawakan-lawakan kocak dari film yang kami tonton sedikit demi sedikit bisa membuat Aku tersenyum meski hati tak bisa dibohongi bahwa Aku masih merasakan perihnya patah hati.
Tuhan, beginikah rasanya patah hati yang sepatah-patahnya??? mengharapkan dan selalu bermimpi tentang indahnya cinta harus berakhir kecewa, menantikan seseorang yang ternyata tak pernah mengharapkan kita bahkan kini ia telah bahagia dengan keluarga kecilnya membuat hatiku tak lagi patah melainkan hancur berkeping-keping.
Tapi... saat ini, Agung hadir bagai perban yang membalut luka, mengobati dan berusaha menyembuhkan luka ini.
Dia bukan orang baru di hidupku, bahkan kehadirannya beriringan dengan hadirnya Dirga di hidupku, berjalan berdampingan menawarkan rasa yang selalu berusaha kutepis.
Selalu mata dan hatiku dibutakan dengan cinta pertama hingga Aku tak menyadari ada hati yang mungkin juga sering tersakiti olehku.
Haruskah ku buang kunci yang selama ini menutup rapat hatiku, haruskah ku coba membukanya untuk Agung.
__ADS_1
Orang yang bertahun-tahun selalu sabar untukku.
Aku mendongakkan kepala menatap nya.
Menyadari hal itu Agung menundukkan kepalanya mengecup hangat keningku.
Hatiku bergetar,
Mungkinkah selama ini sebenarnya ada cinta untuknya hanya saja, tak pernah kusadari karena terlalu sibuk memikirkan Dirga.
Tangannya meraih jemariku dan menggenggamnya erat.
2 jam berlalu,
Keluar dari bioskop dengan tangan masih bertaut.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku menggenggam tangannya melibatkan hati, meski bertahun-tahun tangan itu selalu ada untukku.
Sesampainya di muka pintu,
"Ehm... Aku ke toilet bentar ya..."
Pamitku pada Agung.
"Iya, Aku tunggu disini"
Ujarnya.
Aku berlalu, bukan untuk buang air kecil, Aku hanya butuh cermin, untuk berbicara dengan bayanganku sendiri.
Di depan kaca lebar yang ada di depan wastafel toilet Aku berdiri menatap tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
berjalan pelan semakin mendekati cermin, menatap mataku yang selalu basah setiap mengingat kenangan tentang Dirga dan harapan-harapan ku yang kini hancur berantakan.
"Sudah saatnya Aku melupakan masa lalu yang sudah jelas tak akan bisa menjadi masa depan,
Sudah saatnya kumatikan cinta pertama yang tak mungkin bisa lagi menjadi cinta sejati,
Aku mengangguk mantap, menarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan, sejenak mematung kemudian melangkah keluar dari toilet.
Seseorang itu menyambutku dengan senyum hangat lalu kubalas pula dengan senyum yang tak kalah hangat.
"Udah segar, gak sedih lagi donk.... kita mau kemana sekarang?"
Tanyanya tak lupa kembali melekatkan jemarinya untuk menggenggam tanganku.
Aku mengangkat bahu, yang dibalas gelengan kepala dari Agung.
Menghabiskan siang dengan berkeliling di seputaran Mall menunggu jam makan siang adalah pilihan kami.
Namun langkahku terhenti ketika tak jauh dariku nampak seseorang yang sangat ku kenal.
Meski kini penampilannya sedikit berbeda namun Aku masih sangat hafal dengan mata teduh itu, mata yang sudah membuatku jatuh cinta bahkan hampir gila memikirkannya setiap waktu.
Kini tubuh hitam manis itu jauh lebih tinggi dan semakin tegap, rambut yang tebal terbiar tanpa pomade.
"Dirga....."
Tanpa kusadari nama itu terucap dari mulutku.
"Kenapa Vin??"
Tanya Agung bingung yang mendapati Aku tiba-tiba mematung dengan mata tak berkedip.
__ADS_1
Aku tak bisa menjawab, mataku terus terpaku menatap Dirga yang tengah berjalan dengan seorang perempuan yang sedang menggendong bayi, sementara Ditangan Dirga terdapat beberapa kantung belanja.
Agung mendekatiku merangkul pundakku.
Sementara Dirga yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan juga nampak terkejut melihatku, langkahnya juga terhenti, matanya yang teduh juga menatapku tak berkedip.
Didetik yang sama, kini mata kami saling pandang, tanpa keluar sepatah kata, hanya sorot pandang yang lurus seolah menyiratkan sebuah kerinduan yang dalam yang mungkin kini sudah tak bisa diungkapkan, tatapan yang mewakili hati yang entah tak dapat dipahami.
Sekian detik terjebak dalam tatapan mata yang menusuk hingga ke relung hati, menyisakan sakit yang teramat dalam, Aku mencoba mengalihkan pandangan pada sosok wanita di sebelahnya yang juga nampak bingung dengan sikap Dirga.
Anggun dan elegan, sepintas wajah mereka nampak mirip, inikah yang dinamakan jodoh,
Aku terus memandang wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, benar-benar sempurna, kelihatan cerdas dan berkelas.
Aku yakin, Dirga bahagia menjadi pendamping wanita secantik Dia.
"Vin..."
Agung menggandeng tanganku lalu mengangguk, kemudian menarik lembut tanganku untuk meninggalkan pemandangan yang menyakitkan hatiku.
Aku pasrah, dan mengikuti langkah Agung setelah beberapa langkah meninggalkan Dirga yang masih berdiam diri, entah apa yang membuatku tergerak untuk kembali menoleh,
Aku terperangah ketika ternyata Dirga juga melakukan hal yang sama sepertiku,
Dirga masih mematung seraya menolehku dengan tatapan sendunya.
Buru-buru kupalingkan mukaku,
"Selamat tinggal Dirga... Aku semakin yakin untuk menerima kenyataan, belajar perlahan-lahan untuk melupakan kamu.. tapi percayalah, Aku tak membencimu sedikitpun.. kamu berhak bahagia, begitupun Aku..."
Ujarku dalam hati.
Agung mengajakku masuk disalah satu tempat makan siap saji,
Setelah memesan makanan, Agung duduk berhadapan denganku seraya mengaduk softdrink didepannya dengan sedotan.
Ia terus menatapku.
"Kenapa sih, ngeliatinnya gitu banget?"
Tanyaku kikuk.
"Kamu sedih ya?? atau mungkin kaget lihat Dirgantara tadi?"
Pertanyaan itu keluar.
"Ehm... enggak kok, bahkan Aku sudah tau itu sejak pagi tadi dari Nina"
Jawabku jujur.
"Oh... jadi ini yang buat kamu nangis tadi?"
Agung menghisap minumannya.
"He..em.. jadi Nina tadi cerita, katanya beberapa hari yang lalu Nina ketemu Dirga dan keluarganya di Baby shop, Aku cuma gak nyangka aja, orang yang selama ini Aku tunggu sudah bahagia menikah dan memiliki anak"
"Jadi sekarang kamu udah bisa terima kenyataan?"
Aku mengangguk.
"Lalu,,, apa Aku ada kesempatan untuk masuk di hatimu menggantikan Dirgantara?"
"Aku tak menjawab, lidahku masih berat.
__ADS_1
Bersambung***