Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 108 Permintaan Dirga.


__ADS_3

Setelah sedikit tenang, dengan menyeka air mata yang masih tersisa, Aku kembali merapikan posisi duduk ku.


"Udah ya melow nya,, kita kesinikan tujuannya untuk senang-senang menghabiskan sisa hari yang kita punya"


Dirga mengusap pipiku yang dingin.


"Ehmm oh iya, kamu gak kerja hari ini??"


Tanyaku yang baru sadar.


"Enggak, kan kamu cuti.. buat apa Aku kerja? Aku tak mau menyia-nyiakan waktu bersama kamu, apalagi ini mungkin terakhir kalinya kita bersama."


Aku tersenyum mendengar ucapan Dirga.


"Kamu sudah pernah datang kesini??"


Tanya Dirga,


Aku menggeleng.


"Aku benar-benar gak nyangka... ternyata Anak gaul seperti kamu jarang tau tempat-tempat wisata,,"


ejek Dirga sembari menggaruk dagu dengan jari telunjuknya.


"Aku bukan anak gaul, Aku anak rumahan, jomblo, gak punya pacar, ya wajar donk kalau Akunya kuper"


"Gak lah,, Aku malah kagum..."


Dirga mengangkat daguku, agar menatapnya.


"Kamu tau Vin, Aku bingung mau senang atau sedih,, senang karena sekarang berada disisi kamu, sedih ketika mengingat bahagia ini hanya tinggal sedikit lagi"


Aku menunduk, tak tau harus menjawab apa,, sebab apa yang tengah Dirga ucapkan adalah apa yang juga tengah Aku rasakan.


"Dirga... apa setelah hari ini,, kita sama sekali takkan pernah berjumpa lagi??"


Aku menatap mata Dirga dengan pandangan buram terhalang air mata yang sepertinya Akan kembali terburai.


Lama menatapku tanpa suara, Dirga mengangguk, membuat hancur hatiku, air mataku benar-benar mengalir deras.


"Aku mencintai kamu sayang, dan Aku tau.. kamu pun sama.. tapi,,, sebuah ikatan yang akan segera berlangsung itu yang akan membuat Aku tak bisa lagi menemui kamu, Aku tak ingin merusak hubungan kalian, Aku tak boleh menjadi pengganggu dalam sebuah ikatan, Aku akan menghargai dan menjaga perasaan Agung"


ujar Dirga dengan mata memerah.


"Walau perasaan kamu sendiri terkoyak?"


selaku.


"Aku tak bisa berbuat apa-apa, Aku tak punya Hak untuk mempertahankan hubungan ini,, Maafkan Aku,, Aku tidak bisa memperjuangkan cinta ini"


Dirga menunduk, kemudian mendongakkan kepala dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


Aku menarik Nafas, menyadari semua ini bukan salahnya, ini kesalahanku murni kesalahanku kala itu.


Andai dengan mengutuk diriku sendiri bisa mengembalikan keadaan seperti sedia kala waktu sebelum Aku memutuskan membuka hati untuk Agung dan menerima tawarannya untuk segera bertunangan, Aku rela mengutuk ribuan kali diriku sendiri.


Harusnya Aku yang meminta maaf Dirga,, bukan kamu...


Aku yang membuat situasi menjadi genting seperti saat ini.


Hampir 2 jam duduk menikmati kebersamaan,


"Dir,, kita pulang sekarang,, "


Ajakku pada Dirga,


Dirga menatapku, lalu meraih lenganku membawanya dalam genggaman mesra.


"Kenapa harus sekarang??"


"Ini sudah hampir jam 2 Dir,, sampai rumah sudah pasti malam,"


Jawabku.


Dirga menghela nafas, lalu beranjak dari duduknya menarik lenganku berjalan kearah mobil.


Sampai di dalam mobil,


Dirga terdiam, dengan tangan memegang setir.

__ADS_1


"Dir,, kamu kenapa??"


Aku mengusap wajahnya yang muram.


Dirga menangkap tanganku dan berulang kali mengecup telapak tanganku sembari memejamkan matanya,,


sungguh pemandangan yang begitu mengiris hatiku.


"Vin,, kita tak bisa menolak keadaan,, waktu ini akan segera berakhir... dan jika ini adalah kesempatan terakhir untuk kita bertemu,, Aku tak ingin ada waktu yang terlewati begitu saja, tanpa kebersamaan, Aku ingin menghabiskan sisa waktu ini bersama kamu!"


Tatap mata memelas dari Dirga membuatku terenyuh.


"Maksud kamu??"


"Aku masih ingin bersama kamu,, habiskan sisa hari ini, malam ini dan esok pagi bersama kamu"


Dirga kembali menggenggam tanganku dengan kedua tangannya kemudian mengecupnya.


"Dir....."


"Vin... Please...!!!"


"Maksud kamu.... kita bermalam disini?"


Dirga mengangguk.


"Tapi Dir....."


"Aku mohon,, jangan menolak Sayang... anggap ini permintaan terakhir Aku sebelum pergi dari kehidupan dan hati kamu"


Aku menelan ludah,,


Disatu sisi, Aku tak ingin kebersamaan ini berakhir,, tapi disisi lain.. Aku tak mungkin tak pulang malam ini,, apa alasanku untuk Mama.


"Tak bisa??"


Tanya Dirga, dan Aku menoleh..


Sesaat saling pandang, entahlah Aku benar-benar tak kuasa untuk menolak permintaan Dirga hingga dengan penuh kemantapan Aku mengangguk.


"Aku mau!"


Senyum terukir seketika di raut wajah Dirga.


"Makasih sayang...."


Dirga mendekat dan mendekap tubuhku beberapa detik sebelum akhirnya kembali menyalakan mobil dan melaju.


"Kita mau kemana??"


Tanyaku.


"Kamu ikut aja,,"


Jawab Dirga.


Hanya beberapa menit saja, mobil berhenti disebuah tempat.


Dirga mengajakku turun,


Mataku memandang puluhan kendaraan ATV yang berjejer rapi tak jauh dari posisi mobil berhenti.


"Yuk.....!!"


Dirga menarik lenganku setengah berlari menuju parkiran ATV.


Setelah memilih salah satu, Dirga menolehku kemudian menaikkan alisnya dengan tersenyum.


"Kamu serius mau main ini?"


Tanyaku yang sebenarnya tak berani.


"Kamu takut??"


Aku mengangguk.


Dirga merangkul bahuku.


"Kamu naik sama Aku aja ya..."

__ADS_1


Aku mengangguk tersenyum.


Duduk di belakang Dirga dengan jantung yang berdegup,


"Pegangan ya sayang...."


Dirga menarik kedua lenganku lalu melingkarkan di pinggangnya, hal tersebut otomatis membuat tubuhku dan tubuhnya begitu rapat, Aku cuma berharap, Dirga tak merasakan debaran hatiku, serta degup jantung yang tak beraturan.


"Siap??!"


Tanya Dirga, menolehku, Aku mengangguk, kemudian mengeratkan pelukanku di pinggangnya.


ATV melaju seiring teriakan lepas dari Dirga.


"Huuuuuuu.....!!!"


"Dir.... jangan kenceng-kenceng,, sumpah Aku takut...."


Teriakku di belakang telinganya.


"Tenang sayang... jangan takut.... gak apa-apa,, coba deh.. kamu teriak biar takutnya hilang....!!"


Teriak Dirga dengan sedikit menoleh kebelakang.


" Teriak apa??"


Jawabku.


"Apa aja... biar plong"


Aku menarik nafas, lalu memberanikan diri untuk berdiri,


"Aaakuuuuuu bahagiaaaaa..........!!!!"


Pekik ku dengan merentangkan tangan.


Dirga benar,, hatiku terasa enteng... seketika ketakutan yang dari tadi kurasakan membias tak berbekas.


"AKU MENCINTAI VINAAAAAAAAA... KEMARINNN... HARI INIII.... ESOKKKK DAN SELANYAAAAAA!!!!!!"


Pekik Dirga membuatku terperangah, kemudian merangkul lehernya, tangan Dirga meraih lenganku dan mengecup punggung tanganku.


"Tuhan.... Maafkan Aku,, tak bisa menguasai diri,, tapi Aku bahagia Tuhan... Aku bahagia... Aku tak ingin rasa ini berhenti,, Aku tak ingin waktu berlalu pergi... Aku ingin waktu berhenti..."


Titik air mata tiba-tiba meleleh pelan.. namun segera ku seka sebelum Dirga menyadarinya.


Hampir satu jam bermain ATV, Dirga mengakhirinya di depan sebuh pondok istirahat,


ATV berhenti, Dirga menolehku.


"Kita istirahat dulu ya..."


ujarnya, Aku mengangguk.


Dirga membantuku turun dari ATV, baru saja kakiku melangkah, heels yang aku gunakan terlalu licin untuk menapak bagian tepi ATV, hingga Aku terpeleset, dengan sigap Dirga menangkap tubuhku yang nyaris jatuh terjerembab ke tanah.


Namun, karena gerakan cepat dan tiba-tiba membuat Dirga tak mampu menyeimbangkan dirinya yang tengah menopang tubuhku agar tak terjatuh,, malah membuat tubuhnya terhuyung kebelakang dan...


BRUKKKK!!!


Kami roboh berdua dengan posisi tubuhku menimpa tubuhnya.


Seketika, mataku dan mata Dirga terbelalak saling pandang tanpa suara, menelan ludah masing-masing dengan nafas memburu. Anehnya, baik Aku maupun Dirga sama sekali tak segera bangkit dari posisi jatuh yang membuat kami menempel diatas tanah kering.. seolah-olah tengah menikmati adegan romantis seperti yang ada di film-film Bollywood.


Beberapa detik kemudian, canggung dan salah tingkah terjadi diantara kami, seperti tersadar dari sebuah khayalan, Aku buru-buru bangkit dan menjauhkan diri dari tubuh Dirga yang masih tergeletak diatas tanah.


"Ehm... maaf... maaf... Dir,, "


Ujarku yang kini duduk di sebelahnya.


Dirga tersenyum, kemudian meletakkan lengan kiri dibawah kepalanya, sementara tangan kanannya meraih lenganku dan mengecupnya.


"Gak apa-apa... yang penting kamu gak terluka,, sudah terlalu banyak luka yang tergores di hati kita,, Aku tak ingin luka juga menggores di kulit kamu"


Aku tersenyum dengan mengatupkan bibir serta melengos membuang muka ku dari pandangan mata Dirga.


Aku tak ingin, rona merah yang sudah pasti tergambar di pipiku membuat Dirga kembali meledekku.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2