
Tahun terus berganti, label anak sekolah sudah kutanggalkan, tapi itu tak membuatku berubah, Aku tetaplah Dirga yang selalu sendiri.
Bukan tak memiliki teman hanya saja kesan tertutup dan pendiam sudah terlanjur melekat dalam citra diri ini.
Aku masih tinggal bersama Paman Usman dan anggota keluarga yang lain, namun ditempat yang berbeda, setelah lepas dari bangku SMA, Aku bekerja sebagai buruh pabrik di sebuah pabrik pupuk di kotaku, atas saran dari atasanku, Aku memberanikan diri untuk kuliah sambil tetap bekerja dengan harapan jenjang karir yang bagus dan lebih menjanjikan.
Dan semua terbayar ketika Aku lulus sarjana, karierku sebagai buruh juga berakhir berkat promosi jabatan yng Aku dapatkan.
Menduduki posisi yang bagus sebagai salah satu manager di sana membuat Aku bisa memiliki tabungan untuk membeli sebuah rumah impian yang kelak Akan menjadi istana bagi Aku dan Vina jika kami berjodoh, tak hanya rumah, Aku juga sudah mampu membeli kendaraan, tak ingin tinggal sendirian Aku memboyong semua anggota keluarga Paman Usman untuk tinggal bersamaku di rumah baru yang memang lebih luas dari rumah Paman Usman.
Namun sayang, sepertinya harapanku hanya akan menjadi sebatas kenangan, jodoh tak berpihak pada Aku dan Vina.
Vina sudah lebih dulu memilih jalan bahagianya.
Ah... Sudahlah, untuk apa membebani otakku dengan pikiran-pikiran berat yang tak berkesudahan,
sedang untuk masalah hati,, Aku sudah tak peduli lagi.. untuk mencintai dan dicintai rasanya sudah tak penting lagi,, mungkin ini yang dikatakan orang putus asa dan kehilangan rasa.
Aku sudah kehilangan rasa percaya diriku untuk mencintai sejak Aku menyadari bahwa ternyata Vina sudah bersama Agung,, dan mungkin saja mereka sudah menikah dan bahagia saat ini.
Setelah pertemuan dengan mereka beberapa waktu lalu di pusat perbelanjaan, ketika itu Aku sedang mengantar Cia berbelanja,
Vina yang berjalan mesra bersama Agung terlihat begitu bahagia, masih sama seperti saat-saat dulu, Vina hanya menatapku, tak tersirat kerinduan di bola mata indah itu.
Hanya mematung sesaat tanpa ekspresi.
Dan Tari... Satu-satunya Sahabat yang biasanya menghiburku,, entah bagaimana kabarnya sekarang, mungkinkah kini Dia juga sudah menikah, Aku tak tau.
Hingga disuatu sore, sebuah kejadian yang memang sejak siang hari sudah kurasakan hatiku bergetar seolah akan ada kejadian istimewa yang akan kutemui.
Benar saja, saat iseng-iseng membuka aplikasi biru yang sudah lama tak ku sentuh, Aku mendapatkan pesan dari sebuah Akun yang foto profilnya samar-samar kukenali.
Hatiku berdebar kencang, setelah mengamati foto itu lebih lama.
"Vina?"
Untuk apa Dia mengirimiku pesan dan meminta pertemanan, bukankah Dia sudah menikah dan bahagia bersama Agung sang pengusaha muda.
Masih dengan perasaan bingung, keputuskan untuk menerima pertemanannya dan membalas pesan chat darinya yang menanyakan apakah Akun ini benar adalah Aku.
🧒*Iya, ini Aku Dirgantara Abinata, kabarku baik*
Mataku masih tak berkedip menunggu balasan apa yang akan Aku terima.
🙎*Kamu gak tanya, kabar Aku gimana?*
Sungguh rasanya tak percaya, benarkah ini Vina,, atau jangan-jangan ini Agung yang sedang menjebak ku.
🧒*Untuk apa? kurasa itu tak perlu, karena Aku tau.. kamu dalam keadaan bahagia*
🙎*Bahagia?? karena apa?? dan kenapa kamu bisa menulis seperti itu?*
🧒*Tak perlu balik bertanya, kurasa kamu sendiri tau, maksud dari tulisanku*
__ADS_1
🙎*Dir... dari dulu kamu tak pernah berubah, masih saja seperti ini, sulit untuk dipahami!! "
Balasan dari Vina semakin membuat hatiku bingung,, untuk apa dia memancingku seperti ini.
🧒*Ya!! Aku memang seperti ini, tak berubah... Bahkan semuanya masih seperti dulu!*
🙎*Kamu keterlaluan!! Aku pikir waktu bisa merubah sedikit saja sifat dan sikap kamu, ternyata Aku salah!! Kamu masih saja seperti dulu,, meski status kamu sudah sudah berubah menjadi suami dan Ayah!! tapi sifat kamu masih seperti Dirga Smp dulu!!!!*
Mataku terbelalak lebar membaca kalimat terakhir yang ia kirimkan, Suami?? Ayah?? Apa maksudnya??
Percakapan ini semakin aneh menurutku,
Segera kubalas pesannya.
🧒*Tunggu.... Tunggu, Suami?? Ayah?? maksud kamu apa??*
🙎*Kamu Amnesia?*
Amnesia??
Sebenarnya apa yang terjadi?
Apa yang dimaksud Vina??
🧒*Sumpah gak paham!!*
🙎*Ya Suami!! Kamu sudah nikah dan punya Anak kan??*
Seketika Aku tertawa dan menepuk jidat,, jadi ternyata Vina mengira Aku sudah menikah?
🧒*🤔🤔😆,*
🙎*Kenapa ketawa?*
Tanpa membuang waktu, segera ku kirimkan balasan,
🧒*Iya, Aku sudah punya Anak!! 3 !!*
Hening, tak ada denting balasan chat lagi setelah pesan terakhir itu.
Aku masih menatap layar ponselku, dan membiarkan Aplikasi biru dalam keadaan terbuka dan online, menunggu kira-kira balasan apa yang Vina kirimkan.
Hingga beberapa menit, tak kuterima pesan balasan, kuputuskan untuk memancing obrolan lagi,
🧒*Kok Diam?*
🙎*Lalu, kamu berharap Aku bagaimana?, terus bertanya tentang kehidupanmu?Atau bertanya nama Anak-anakmu? atau mengomentari kecantikan istrimu??!*
Chat Dari Vina semakin ngaco, sama sekali Aku gak habis pikir, apa yang sebenarnya ada di kepalanya,, dari nada kalimat tersebut seperti ada tersirat kecemburuankah? Atau ini hanya perasaanku saja yang terlalu berharap.
🧒*Cantik? emangnya kamu tau yang mana istriku?*
Aku makin bertambah bingung dengan balasan Vina.. Apa lebih baik Aku menelponnya biar puas hati.
__ADS_1
🧒*Aku boleh minta nomor ponsel kamu, setelah Aku pikir-pikir lebih enak kalo kita telponan langsung aja, Aku capek ngetik*
Sekian menit, tak ada balasan ku putuskan untuk kembali mengirimkan pesan.
🧒*Vin, boleh?? Atau kamu takut Dia marah??*
🧒*Oke,, Kamu diam,, Aku paham!! makasih!!*
Meski begitu, Aku masih sangat berharap bisa mendengar suaranya.
Dan... Setelah sekian menit, pesan yang berisi deretan 12 angka khitnya kuterima dari Vina, tanpa membuang waktu segera kutekan tombol Call pada nomor tersebut.
📞📞
🙎"Halo,,,"
Ya Tuhan... Benarkah ini suara Vina? Gadis yang sangat kurindukan, gadis yang mati-matian ingin kulupakan,, tapi kenapa disaat hati ini sedang berusaha sekuat tenaga, malah sekarang takdir seolah membukakan jalan untuk kembali terhubung seperti ini.
🙎"Halo... siapa??"
🧒"Ya... halo..."
Dengan berat dan terbata, kupaksa menjawab sapaan lembut disana.
🙎"Dir.... Ga...."
🧒"Ya... ini Aku, jika sudah tak bisa lagi Aku meminta takdirku bersamamu.., setidaknya Aku masih diperbolehkan menelponmu, meski hanya sekali ini saja"
kalimat ini meluncur bebas begitu saja sesuai apa yang ada di hati dan otakku.
"Vin,, Aku... Aku ingin ketemu kamu, sebentar saja... kapan kamu ada waktu?"
🙎"Bisa.... bisa... Besok, pulang kantor"
Jawaban cepat dari Vina membuatku tersenyum lega, setidaknya akan ada kesempatan untuk Aku menatap wajahnya meski mungkin untuk yang terakhir kalinya, karena Aku sadar statusnya tak lagi sama seperti dulu.
🧒"Nanti kamu kabarin aja tempatnya, Aku tidak tau dimana kamu bekerja"
🙎"Ya udah, Aku tutup telponnya ya... sampai ketemu besok"
🧒"Vin, tunggu...jangan matiin dulu"
🙎"kenapa??"
🧒"Ehm... Vin, masih bolehkah Aku merindukan kamu??"
🙎"Dir... Aku... Aku tak ingin merusak semua yang sudah bahagia dijalannya."
Jawaban Vina, seketika menyadarkan hatiku bahwa Aku terlalu terbawa suasana.
🧒"Ehm...Maaf,, Vin.. Iya,. Aku ngerti... Maaf,, Aku hanya terbawa suasana,, Aku lupa... jika seseorang yang masih ingin sekali kurindukan, sudah memilih bahagianya sendiri"
Segera kumatikan sambungan telepon.
__ADS_1
Bersambung***