
Aku berjalan menuju ruang aula, dari kejauhan nampak Nina melengoskan mukanya ketika ia melihat Aku menuju kearahnya.
"Nina... kok kayaknya marah ya...?"
Tanyaku dalam hati.
Aku bergegas mempercepat langkahku mendekatinya.
"Hey.... kok jutek?"
Sapaku begitu tiba dihadapannya.
"Tau ah... males"
Nina ngeloyor menjauh dariku.
Aku terbelalak dengan sikap Nina.
"Astaga..... Aku lupa, bukannya tadi Aku nyuruh Dia nunggu di kantin!"
Aku menepuk jidat.
"Nin... Ngambek ya.... Maaf ya...."
"Ih... Vina, Aku Be-Te deh sama kamu, Aku nungguin kamu lama tau!!! Kamunya gak datang-datang!!"
"Iya.... Sorry... Sorry... Aku lupa,, Ehm... Nich, buat kamu"
Aku menyodorkan sebatang coklat sebagai permintaan maaf, Nina menyambarnya dengan senyum sumringah.
"Huffthh... untung tadi Aku bawa coklat dari rumah"
Batinku.
"Makasih ya tayangggg.... gumusshhh banget dehhh..."
Nina mencium pipiku berkali-kali.
Ya... secepat itulah mood Nina berubah, jika disogok dengan cemilan.
Tak lama berselang,
Kulihat Dirga masuk keruangan, dan duduk disebelah Perempuan yang kelihatannya sedikit lebih tua dari usia Mama, menurut Nina itu Ibunya Dirga.
Sekilas Dirga menatapku, dan Aku melemparkan senyum yang dibalas anggukan kecil dari Dirga hingga sebuah tangan gembul mengusap mukaku yang membuat Aku kaget.
"Hayooooo.... tatap-tatapan mulu!!"
"Ninaaa!!!! apaan sihh!!"
Segera kutepis tangan Nina yang kini tengah tertawa cekikikan.
Sampai ketika satu persatu Nama kami disebutkan, dan dinyatakan lulus seratus persen.
Bahagia tergambar jelas diraut muka semua yang ada diruangan.
Satu hal yang membanggakan adalah, ketika namaku dan nama Dirga dipanggil untuk naik ke atas, sebagai lulusan dengan nilai terbaik.
Aku dengan percaya diri melangkah naik disusul Dirga dibelakangku, berdiri berdampingan dengan menyandang status Siswa berprestasi dengan Nilai tertinggi, membuat kami menjadi sorotan semua mata yang berada diruangan.
Selempang predikat dan buket bunga kami terima dengan wajah bahagia campur haru.
"Ciee... Best couple.."
Ledek Nina begitu Aku kembali ke kursiku.
"Selamat ya Sayangku...."
Sambungnya lagi sembari membisikkan
"Ditunggu traktirannya pulang dari sini ya....."
Aku tertawa dan mengangguk mengiyakan.
"Selamat ya sayang... Makasih sudah buat Mama dan Papa bangga"
Mama mencium dan memelukku.
"Makasih juga Ma... Oh iya... Ma, jangan lupa kabarin Papa"
Ujarku.
Mama mengangguk lalu kemudian mengetikkan pesan pada Papa.
Selepas acara kelulusan, Semua berlalu meninggalkan ruangan termasuk Aku dan Mama.
__ADS_1
Dirga melintas disampingku, matanya melirik kepadaku seolah memberiku kode dan Aku paham hal itu.
"Ehm...Ma, Vina disini dulu ya... Mama pulang duluan aja"
"Loh.. Vin, emangnya kamu mau ngapain?"
Tanya Mama Bingung.
"Ehm... Ini Ma, teman-teman mau ngerayain kelulusan ini, mau ke kantin.. Ehm... ini juga,, itu.. Anu.. Nahh... Nih si Nina minta traktir!!"
Dengan bingung, dan terbata-bata
Segera kusambar tangan Nina yang tengah melintas tak jauh dari tempat Aku berdiri bersama Mama.
Wajah Nina yang bingung hanya melongok tak paham.
"Iya kan Nin..."
Ujarku cepat sembari menginjak ujung kaki Nina.
"Apa??"
Tanyanya lagi.
"Kita mau makan-makan dikantin!!"
Sambungku cepat.
Seolah baru paham, Nina segera tersenyum lebar dan mengangguk cepat.
"Oh... itu, Iya... iya tante... secara Vina kan lulus dengan nilai terbaik, jadi Nina minta ditraktir he..he..he.."
"Oh, ya udah kalau begitu... tapi jangan terlalu sore ya Nak... pulangnya nanti hati-hati "
"Siap Ma... Dah Mama..."
"Hufffttt.... Maafin Vina Ma, mesti bohong sama Mama..."
Vina menghela nafas.
Mama berlalu meninggalkan gerbang sekolah begitupun dengan sebagian siswa yang lain, hanya tinggal sebagian saja yang masih terlihat mondar mandir di halaman sekolah.
"Ayuuukkk come on.... kita ke kantinnnnn"
Nina menarik lenganku penuh semangat.
Langkah Nina berhenti tatkala mendengar ucapanku barusan.
"Terus??? traktirannya???"
Nina murung,
"Ohh... masalah itu kamu jangan khawatir,, pokoknya Aku tetap traktir kamu.. makan aja sepuasnya apa aja yang kamu mau ya, nanti Aku bayar"
Mendengar penuturan ku senyum Nina yang sempat menciut kembali terkembang.
"Lalu kamu sekarang mau kemana?"
Tanyanya lagi.
"Aku mau nemuin Dirga di perpustakaan"
Jawabku.
"Oh.. ya udah, buruan gih, Dirga pasti udah nungguin kamu.."
"Iya, makasih ya Nin, maaf ya gak bisa nemenin kamu makan"
"Oke, gak papa... hati-hati ya bye"
Nina melambai.
Setengah berlari Aku segera menuju perpustakaan.
Dan benar, Dirga sudah berdiri di depan pintu perpustakan.
Aku memperlambat langkahku mendekat padanya.
"Ehm.. sudah lama nunggu?"
tanyaku Basa basi sebagai awal percakapan.
"Lumayan, kok lama?"
"Iya nih.. tadi ngobrol dulu sama Nina"
__ADS_1
Entah kenapa, gugup itu selalu saja hadir ketika Aku sedang ngobrol berdua dengn Dirga, meski sudah 3 tahun mengenalnya, rasa deg degan masih saja sama seperti awal-awal pertemuan dulu.
jantungku mulai berdebar, darah terasa berdesir cepat.
"Duduk disitu yuk!"
Ajak Dirga menarik lenganku menuju kursi didepan ruang perpustakaan.
Aku yang kaget hanya pasrah mengikuti kemana tangan Dirga menarikku.
"Ehm.. Selamat ya...."
Dirga mengulurkan tangannya setelah kami duduk berdampingan.
Aku menerima uluran tangannya.
"Makasih, selamat juga buat Kamu"
"Vin, Aku pasti Akan rindu sekolah ini setelah hari ini"
Dirga membuang tatapannya jauh lurus kedepan.
Aku diam tak tau mesti menjawab apa.
"Terlebih kepada kamu!"
Kali ini Dirga mengalihkan tatapannya padaku.
Aku menunduk tak kuasa menerima tatapan itu.
"Vin, setelah hari ini, Aku tak tau entah kapan lagi kita bisa duduk berdua seperti ini, bahkan untuk sekedar berbincang atau saling menatap dan menyapa"
Terdengar nafas yang dibuang kasar oleh Dirga dan Aku masih saja diam.
"Vin, Aku ingin kamu selalu mengingat Aku, tapi apa itu mungkin?"
Sebuah pertanyaan mudah yang terlontar dari mulut Dirga namun entah kenapa begitu sulit untuk Aku jawab.
Aku hanya bisa menatap matanya yang seperti menyimpan rasa tapi entah apa.
Hening beberapa saat sebelum akhirnya Dirga mengeluarkan sesuatu dari tas dipunggungnya.
"Vin, ini buat kamu"
Dirga memberiku sebuah kotak kecil.
"Ini apa?"
Tanyaku ketika menerima kotak itu.
"Buka saja... bukan barang mewah tapi"
jawaban Dirga membuatku tersenyum, lalu membuka kotak Itu.
Sebiji permen dengan bungkus bertuliskan I MISS U.
"Vin... Maaf, Aku gak bisa ngasih kamu barang kenangan, sebab Aku gak tau kamu sukanya apa, Aku bingung tapi permen itu sudah cukup mewakili Aku untuk bilang kalau stelah ini Aku pasti akan sangat merindukan kamu, bolehkan?"
Aku hanya mengangguk.
"Vin, dari tadi perasaan Aku mulu yang ngomong, kamu gak mau ngomong?"
Pertanyaan Dirga membuat Aku salah tingkah.
"Ehm... Ngomong apa ya?? Aku bingung"
Jawabku semakin deg-degan, sungguh jauh didalam lubuk hatiku ingin sekali Aku bertanya tentang bagaimana perasaan Dirga terhadapku selama ini, tapi entahlah bibir ini terkunci, Aku tak berani menyatakannya.
"Kamu gak nyaman ya berdua sama Aku disini, kok kayaknya dari tadi gelisah banget?"
Lagi-lagi pertanyaan Dirga membuat Aku tak bisa menjawab.
"Ehm.. enggak kok, ehm..bukan gitu.. "
"Lalu??"
"Ehm... Dir, menurut Kamu.. apa mungkin setelah ini kita bisa ketemu lagi?"
"Entahlah Vin, Aku tak tau"
Mendengar jawaban Dirga barusan seketika Aku terdiam.
"Dir.. Andai saja kamu tau, bahwa Aku akan tetap selalu berharap kita selalu sama-sama"
batinku.
__ADS_1
Bersambung***