
Keesokan harinya,
Tak tampak lagi raut sendu di wajah Vina, bahkan pagi ini ia terlihat begitu semangat dan sangat ceria.
Bukan hanya lega, tapi Aku turut bahagia ketika disela-sela pelajaran disaat Aku mencuri-curi pandang padanya terlihat Vina tersenyum-senyum sendiri, Aku tak tahu apa yang sedang ia bayangkan dan pikirkan sehingga Dia seceria hari ini.
Tiba-tiba saja kecemasan mendadak menghampiri hatiku, mungkinkah Agung berhasil menghapus kesedihannya hingga berganti bahagia?
Perasaan lega yang timbul kini berganti gelisah.
Waktu terus berjalan,
Tak terasa tengah hari datang menandakan saat pulang sekolah akan tiba.
Tak lama, dering bell sekolah menciptakan kegaduhan dikelas.
Aku mendekati 4 sahabat perempuanku.
Belum sempat kusapa Vina, ia lebih dulu tancap gas meninggalkan kelas berlari dengan sangat semangat, membuat Aku, Nina, Elza dan Tari saling pandang.
Nina dengan cepat mengejar sampai batas gerbang sekolah, begitupun dengan Aku dan Elza namun tidak dengan Tari.
Nafas Nina tersengal-sengal ketika tiba di samping Vina, Ia kini setengah membungkuk memegang perutnya sembari mengatur nafas.
"Vin... Kamu kenapa? buru-buru.. mau kemana.. ?"
Tuturnya terbata dan ngos ngosan.
"Mau pulang"
Jawab Vina singkat.
"Tumben, pulang kayak dikejar hansip?? emang mau ngapain sih buru-buru amat?"
Sambung Elza sembari memelintirkan ujung poninya sok cantik.
"Kamu beneran cuma mau pulang Vin??"
Tanyaku tak yakin dengan jawaban Vina barusan.
"He ehm..."
Vina hanya menjawab dengan anggukan.
"Eh... Tari mana ya??kok Aku baru ngeh ternyata Dia gak nyusulin kita?"
Nina celingak celinguk mencari keberadaan Tari yang tak kunjung keluar kelas.
"Iya ya.... kemana Dia??"
Elza turut melongokkan kepalanya.
"Mungkin masih mencatat tugas di papan tulis tadi, udah ya Aku duluan,"
Seperti sedang terburu-buru, Vina bergegas pergi begitu nampak bis sekolah berhenti di depan halte tak jauh dari gerbang sekolah.
Aku semakin curiga ada yang disembunyikan Vina dari kami.
"Vin, tunggu!!"
Cegatku, begitu Vina hampir meninggalkan kami.
"Ada apa?"
vina kembali berbalik menghadap kami.
Aku berjalan mendekati.
__ADS_1
"Tumben naik Bis,, ??"
Pancingku, sebab yang Aku tahu semenjak SMA, Vina lebih suka memesan Ojek online ketimbang naik Bis.
"Lagi pingin nostalgia ya Vin??"
Celetuk Nina sembari tersenyum.
Vina membalasnya dengan kerlingan mata menggoda.
Aku terdiam, mencoba mencari-cari jawaban sendiri dari tingkah Vina yang tak biasa.
Melihat Kami terdiam, Vina dengan cepat naik kedalam Bis yang sudah bersiap melaju meninggalkan Halte SMA.
Vina melambaikan tangannya pada kami ketika berada didalam Bis sesaat sebelum Bis melaju.
Meski terlihat wajahnya dipenuhi rona bahagia, akan tetapi entah mengapa Aku malah merasakan kecemasan didalam hatiku, Aku takut terjadi apa-apa pada Vina.
"Ehm... Za, kamu pulang sendiri ya...!"
Ucapku pada Elza yang masih mematung sepeninggalan Vina.
"Lah, emangnya kenapa? Kamu mau kemana?"
Tanyanya heran.
"Ehm... Aku ada urusan!"
Jawabku, yang kini sibuk mengetik ponsel memesankan ojek online untuk Elza.
"Hemm.... Daniel.... kamu tega deh,, terus... Aku pulangnya gimana?? naik apa?? Bisnya udah pergi!!!"
Elza merengek sembari menarik-narik bajuku hampir saja membuatku terhuyung.
"Gak usah manja!!! gak usah merengek-rengek gitu juga!! pulang sendiri, nih dah Aku pesankan ojek, bentar lagi datang,, Aku duluan ya!!!"
"Iichh... sebeelllll....!!! Danieeellll!!"
Pekik Elza geram.
Aku bergegas melangkah cepat menuju parkiran, tak kupedulikan teriakan Elza, di otakku kini hanya terlintas Vina.
Sampai Aku tiba lagi di gerbang sekolah, ojek yang kupesankan belum lagi sampai, Aku sempat membuka kaca helm melihat Elza yang kini berdiri sendirian sembari menunduk di pojok gerbang, sepertinya Nina sudah pulang.
Sebenarnya Aku tak tega melihat Elza mematung sendiri menunggu ojek, ingin sekali Aku menemaninya sampai ojeknya datang, tapi saat ini Vina lebih penting.
"Maafin Aku Za,"
Gumamku kemudian berlalu.
Dengan kecepatan maksimal Aku berusaha mengejar Bis yang sudah tak terlihat lagi.
Hampir mendekati halte pemberhentian di depan perumahan Vina, senyumku terkembang melihat buntut Bis yang melambat bertanda akan berhenti.
Aku memperlambat laju motorku, dan memilih berhenti agak jauh dari halte dan memarkirkan sepeda motorku disana.
Aku mengamati setiap penumpang yang turun.
Dan tiba giliran Vina yang turun dari Bis.
Aku perlahan berjalan mendekat diam-diam sambil terus mengamati gadis itu yang kini berjalan membaur bersama orang-orang yang cukup ramai di halte menunggu Bis.
Aku terus memperhatikan Vina yang berjalan pelan melintasi satu persatu orang yang ada dihalte tersebut.
"Apa yang sedang Dia lakukan?"
Tanyaku sendiri.
__ADS_1
Sampai diujung, Terlihat Vina berhenti sesaat sebelum akhirnya kembali mengulangi melintasi satu persatu orang-orang disana.
Kini wajah ceria dan penuh semangatnya berganti muram, dengan langkah kaki yang gontai Vina menuju ujung bangku halte dan terduduk lemas disana, kepalanya menunduk.
Aku semakin penasaran, sebenarnya siapa yang Dia cari,
Langit terlihat mendung, disertai angin kencang yang bertiup, sebentar lagi akan turun hujan lebat, kenapa Dia tak segera pulang, malah duduk dengan kepala tertunduk seperti itu.
Dan benar saja, tak berapa lama gerimis turun mengguyur Kota ini.
Nampak dikejauhan sebuah Bis Akan kembali tiba di halte tempat Vina duduk saat ini, Dia menoleh, dan menghapus air matanya.
Dengan cepat Vina berdiri,, menyambut Penumpang keluar dari dalam Bis yang berhenti.
Tapi ternyata Bis tersebut kosong, Sementara satu persatu orang yang ada di halte tempat Vina duduk masuk kedalam Bis kemudian Bis kembali melaju meninggalkanya seorang diri.
Kini hanya tinggal Vina seorang diri duduk di ujung bangku halte, bersama hujan deras dan suara petir yang menggelegar terlihat Vina menunduk sembari menutup wajahnya bahunya terlihat berguncang menandakan Dia sedang terisak.
Aku sudah tak tahan lagi melihatnya, dan memutuskan untuk mendekatinya.
Vina sedikit kaget saat mendongakkan kepalanya.
"Daniel??"
gumamnya pelan.
"Kamu kenapa??"
Tanyaku dengan mata lurus memandang wajah Vina.
Vina menggeleng dan kembali menunduk.
Dengan mengumpulkan keberanian dan menarik nafas dalam-dalam.
Aku menangkupkan kedua tanganku di wajah Vina, lalu mengusap bawah matanya yang basah.
"Lihat kamu sekarang!! begitu menyedihkan!!"
Ujarku.
Vina menelan ludah.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa masih disini?"
Aku mengeluarkan sapu tangan dan menyodorkan padanya.
"Filing Aku benar, pasti kamu kenapa-kenapa, makanya Aku susulin kamu, dan benar saja, duduk sambil menangis sesegukan dipojokan halte seperti ini!!
Ujarku kali ini dengan duduk disamping Vina.
Vina tetap diam tidak menjawab, bahkan semakin menunduk.
"Kamu nungguin siapa?? cinta pertamamu? lalu kenapa menangis?? Dia tak menepati janjinya??"
Kucecar Vina dengan pertanyaan beruntun membuatnya semakin menangis.
"Aku gak ngerti ya sama kamu!! Aku gak tau, apa isi hati dan kepala kamu, hingga kamu begitu yakin tentang cinta pertama yang sampai detik ini tak ada kabar sejak dia meninggalkan kamu tanpa kepastian apa-apa!"
kepalaku mendadak sakit, menyaksikan sikap Vina, Aku memijat pelipisku sesaat kemudian kembali menatap Vina yang terpaku lesu.
"Buka mata dan hati kamu Vin, masih banyak yang mungkin lebih baik dari sekedar mengharap sebuah ketidak pastian!"
Sambungku lagi.
"Berhenti membodohkan mata hati demi sebuah perasaan sepihak!!!"
ujarku sembari meraih tangan Vina dan menggenggam jemari yang telah dingin kaku akibat percikan air hujan.
__ADS_1
Bersambung***