Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 113 Beberapa jam lagi


__ADS_3

Mobil menepi pada sebuah kafe di pinggir jalan.


Dirga bergegas turun begitu mobil berhenti, dan segera berlari memutari mobil, untuk membukakan pintu mobil untukku.


Dengan mengulurkan tangannya tanpa suara, Dirga membantuku untuk turun lalu menggandeng tanganku masuk kedalam kafe.


Aku menatap wajahnya yang seolah sengaja menghindari tatapanku.


Sampai di dalam kafe,


"Mau makan apa?"


Tanyanya dingin.


"Terserah kamu aja"


Jawabku masih tetap menatap matanya yang sama sekali tak ingin menatapku dengan terus menghindari kontak mata denganku.


Setelah memilih beberapa menu, Seorang pelayan kafe menerima pesanan Dirga dan meninggalkan kami.


Kecanggungan dan kekakuan masih mendominasi sikap kami berdua, hanya sesekali beradu pandang dan secepatnya Dirga mengalihkan kembali pandangannya.


Tiba-tiba saja perasaan rindu suasana sebelum ini merangkak naik kehatiku, membuatnya ngilu.


Untuk mengusir jenuh, Aku mengingat ponsel didalam tas yang dari semalam ku matikan, merogoh tas dan kuaktifkan kembali ponsel ku.


Getaran berturut-turut dari ponsel menandakan banyak sekali pesan yang masuk.


Aku melewatkan semua pesan yang masuk, dan membuka pesan terbaru dari Agung.


Sebuah foto tiket maskapai penerbangan.


Tak lama kemudian, pesan susulan masuk.


"Sayang, akhirnya 2 centang biru, handphone kamu kenapa,, dari semalem dihubungi gak bisa?"


"Iya maaf,, baru aktif"


Balasku singkat.


Satu pesan kembali masuk.


"Okelah, sayang Aku bentar lagi Take off"


Kamu nanti hati-hati ya..."


"Oke"


Aku kembali memasukkan ponselku kedalam tas,


Aku terhenyak begitu Aku mengangkat kepala, ternyata Dirga sedang memperhatikanku.


"Lagi chat sama Agung?"


Tanyanya, dengan wajah datar, namun sorot mata tajam.


Aku menelan ludah sembari mengangguk.


"Jam berapa dia take off?"


Tanya Dirga lagi.


"Bentar lagi,, "


Dirga mengangkat lengan kirinya untuk melihat jam,


"Setengah satu,, berarti... sekitar jam setengah lima pesawat landing, masih 4 jam lagi"


Ujarnya, dan Aku mengangguk.


Tak lama, pelayan kafe datang membawa pesanan,


Dan Dirga segera melahap makanannya tanpa banyak basa basi, terlihat sekali jika Dirga tengah lapar hebat, bagaimana tidak.. dari pagi belum ada apa-apa yang masuk kedalam perut, hal serupa juga tengah Aku rasakan, meski hati tengah bersedih, namun perut tak bisa dibohongi, terus saja berteriak minta diisi.


Aku menarik piringku agar lebih dekat, dan pelan pelan mulai menyendok makanan didepanku.

__ADS_1


Setelah makan siang berakhir, Dirga kembali menatapku, dan kembali melihat jam ditangannya.


"Jam 1,, perjalanan ke bandara sekitar satu jam, masih ada waktu.. kamu mau kemana?"


Tanyanya.


Aku menggeleng,


"Oke..."


Ucap Dirga pelan sembari mengangguk seperti ada rasa kecewa yang tergambar di matanya.


"Yuk!!"


Dirga beranjak dari kursinya dan mengulurkan tangan padaku, Aku menatap matanya kemudian beralih ke uluran tangannya, dan menyambut tangan itu.


Berjalan kembali menuju mobil meninggalkan kafe.


Sampai di dalam mobil, Dirga terdiam bersandar pada jok mobil.


Aku hanya bisa menatapnya, lidahku terasa berat untuk bersuara, bingung harus berbicara apa di situasi sedingin ini.


Dirga tak sehangat kemarin, mungkinkah dia kecewa dan marah atas sikapku pagi tadi, hingga untuk melontarkan senyum saja rasanya Dia sangat malas.


"Dir,, kamu marah?"


Tanyaku menyentuh bahunya.


Dirga menolehku, menggeleng dan memegang jemariku.


"Marah? kenapa mesti marah?? bahkan untuk sekedar kesal saja Aku sudah tak ada hak, kamu sudah memilih jalan kamu sendiri, dan kita.. hanya tinggal menunggu jarum jam berputar beberapa putaran saja lagi,, setelah itu, semua akan berakhir,, iya kan? bukankah kamu sendiri yang bilang,, bahwa kita hanyalah bagian dari cerita masa lalu?!"


Kata-kata yang diucapkan Dirga begitu terasa tajam dan menghunus kedalam relung hati, sakit sekali.


"Dir... Aku..."


"Iya... Aku mengerti, disaat cinta tak bisa diperjuangkan hanya karena sebuah konsekuensi, ini sangat berat namun harus dijalani.. kamu pasti mau bilang begitu"


Aku menunduk.


"Vin, sebenarnya sejak semalam Aku sudah mengikhlaskan semuanya,, tapi entah kenapa.. karena kejadian pagi tadi... rasa ikhlas itu menguap begitu saja berganti dengan ketidak relaan jika harus melihat kamu tertekan seperti ini"


Air mata kembali menggenang dan jatuh menetes mendengar ucapan Dirga barusan.


Dirga mengusap air mata itu,


Disaat itu juga, Dirga menyalakan musik dari audio mobil, sebuah lagu melow terdengar begitu pas dengan suasana yang tengah kami rasakan.


"Ehm.. Vin, ntar minggu Aku datang ke acara kamu ngajak bella boleh?"


Tanyanya.


Aku mengangguk.


"Aku mau nyanyi ah... boleh??"


Ujarnya dengan senyum getir.


Mataku membulat menatap Dirga yang sepertinya bersungguh-sungguh.


"Mau nyanyi??"


Tanyaku tak yakin,


"Kenapa?? kamu ragu dengan kemampuan dan suara Aku? Gini-gini Aku jago nyanyi.. "


"Enggak,, bukan gitu... maksud Aku kamu mau nyanyi apa?"


"Nyanyi lagu ini!


Dirga menunjuk ke audio mobil.


"baguskan?? tapi kamu jangan baper ya,, ntar Aku diusir lagi, dari acara kamu, gara-gara bikin calon pengantin nangis"


sambung Dirga lagi.

__ADS_1


Aku bersandar pada jok mobil, menelan ludah ketika mendengar jawaban Dirga, lagu yang bercerita tentang penyesalan seseorang ketika tak pernah menyatakan perasaannya kepada pujaan hatinya dan disaat kesempatan itu datang, cinta itu sudah menjadi milik orang lain.


"Gak papa kan?? ehm, kira-kira Agung masih ingat wajah Aku gak ya?"


Dirga terlihat seperti tengah berpikir.


"Dir... Yuk kita jalan"


Potongku, mengalihkan pembicaraan.


Dirga menarik nafas, kemudian menjalankan mobil meninggalkan kafe menuju bandara.


Diperjalanan, Dirga bersikap biasa saja, sedang Aku merasakan canggung luar biasa.


Ditengah perjalanan,


"Waduh.. kayaknya macet parah..."


Dirga menunjuk deretan mobil yang begitu rapat didepan tak jauh dari kami, perlahan mobil berhenti, Dirga membuka kaca mobil dan melongokkan kepala melihat kondisi didepan.


"Behhh... panjang sekali!"


Ujarnya.


Aku menatap deretan mobil yang tak bergerak,


Hampir setengah jam terjebak dikemacetan yang parah, Dirga kembali membuka kaca mobil, bertanya pada orang-orang yang ada disekitar jalanan.


"Bos,, ni macet kenapa ya?"


Tanyanya.


"Owhh,, ini ada kecelakaan beruntun didepan Mas,, mobil nya belum di derek,,lagi nunggu"


"Owh... begitu, makasih ya bos"


Dirga kembali menutup kaca mobil dan menatapku.


Dirga tersenyum dan menyentuh pipiku.


"Sabar ya sayang...."


Ucap Dirga membuatku terperangah,


Panggilan sayang itu kembali Dirga ucapkan, dan entah kenapa hatiku seketika bergetar, seperti padang gersang dan tandus yang tiba-tiba tersiram curah air hujan,, sejuk dan nyaman.


Aku mengangguk dan tersenyum.


Suasana canggung dan kaku yang telah terjadi berjam-jam tadi seketika mencair kembali hangat dan nyaman.


Hampir satu jam tak bergerak, akhirnya mobil kembali bisa bergerak, maju perlahan-lahan dan kembali normal.


Dirga kembali menolehku, memberiku senyum tipis, udara mobil yang awalnya terasa sejuk, kini tiba-tiba berubah hangat, Aku seperti kembali menemukan cinta yang hilang,, kembali nyaman dan kembali terjerat romansa yang tadi hampir menguar begitu saja.


Mobil melamban ketika memasuki kawasan bandara, jam menunjukkan pukul 15.30.


sampai di parkiran, mataku terfokus pada sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mobil Dirga berhenti.


"Itu mobil Aku?"


Aku menunjuk mobil tersebut, dan menoleh Dirga.


Dirga mengangguk,


Tak lama, seseorang dengan pakaian safari hitam turun dari mobil tersebut dan berjalan menghampiri kami yang masih berada di mobil.


Melihat itu, Dirga bergegas turun.


"Tunggu sebentar ya sayang,,"


ujarnya lalu menghampiri laki-laki tersebut sebelum laki-laki tersebut sampai.


Aku memperhatikan dengan seksama mereka berdua.


Terlihat laki-laki itu menyerahkan kunci mobil.

__ADS_1


Dari gesturnya, terlihat sekali tata krama dan sopan santun dari silelaki itu terhadap Dirga, sepintas seperti seorang bawahan terhadap atasannya.


Bersambung***


__ADS_2