
Aku segera berangkat ke Kafe, menyelesaikan semua urusan yang masih tersisa, agar Aku bisa meninggalkannya dengan tenang,
Sebelum tengah hari, semua urusan sudah selesai, Aku juga sudah berpamitan pada semua karyawan dan temanku yang kutunjuk sebagai penanggung jawab kafe.
Berjalan pelan menuju rumah tempatku tinggal selama berada dikota ini, pikiranku kembali tertuju pada Vina, sejak menelponnya pagi tadi, hingga siang ini tak ada kabar darinya, ketika Aku mengirimkan pesan-pesan,, hanya centang satu, bahkan ketika kucoba untuk menelponnya ponselnya kembali tak bisa dihubungi,, ada apa sebenarnya dengan Vina? kenapa akhir-akhir ini sering sekali mematikan ponsel, sering menghilang tanpa kabar.
Sampai dirumah, Aku yang lelah memikirkan Vina, mengurungkan niat untuk mengemas pakaianku, rasa malas membuatku memilih berbaring dan memejamkan mata.
"Aku melihat Vina berjalan sembari tersenyum dan melambai menjauh dariku bersama seorang pria dan Aku sama sekali tak bisa berbuat apa-apa kecuali menatapnya dan merelakannya"
Aku terkesiap, dan membuka mataku.
Astaga!!!
Aku baru saja bermimpi...
Aku mengusap muka dan menghembuskan nafas,
Kenapa rasanya sakit sekali hati ini, meski tadi itu hanyalah mimpi.
Aku melihat jam,
Pantas saja Aku mimpi buruk,, sudah magrib.. teringat kembali Aku pada omongan Mama, katanya gak boleh tidur saat magrib, karena akan dapat mimpi buruk.
Ternyata Aku ketiduran lama sekali, baru bangun jam segini.. itupun karena mimpi tadi.
Tapi... mimpi itu,,, Aku malah jadi kepikiran tentang mimpi itu,, kenapa sampai Aku bisa bermimpi seburuk itu,, bahkan lebih buruk dari hanya sekedar mimpi dikejar Zombie atau jatuh dari gedung yang sangat tinggi yang sangat sering Aku mimpikan.
Vina.... Apa ini ada kaitannya dengan perubahan sikap Vina?
Ahh... semoga ini hanya karena Aku tengah gundah gulana memikirkan Vina, makanya mimpinya jadi ngelantur.
Buru-buru mandi, dan keluar beli makan, perut yang dari siang belum diisi, sudah menagih jatahnya.
Selesai makan, Aku kembali memeriksa ponsel, memandang semua pesan yang kukirimkan pada Vina, masih centang satu, belum ada yang terkirim,
Menekan tombol panggilan, mencoba menelpon, Aku kembali menggelengkan kepala tatkala nomor tersebut masih tak bisa dihubungi, berada diluar jangkauan..
Ya Tuhan,, kemana Vina?
Ada apa dengannya?
Aku jadi takut, cemas dan gelisah bercampur baur jadi satu,, Aku takut menghadapi kenyataan untuk pulang besok jika sampai malam ini saja Vina tak bisa dihubungi,
apa yang sebenarnya terjadi?
DHUAARRR!!!!
Aku yang sedang memandang wajah Vina pada layar depan ponselku dikagetkan dengan suara petir yang menggelegar,, tak lama hujan turun dengan lebat, perasaanku semakin tak menentu, rasa gelisah dan tak enak hati terus saja menyelimuti hati yang dingin ini.
Tak pernah kurasakan sebelumnya, gelisah yang luar biasa parah, semua jadi terasa serba salah,, ada apa denganku, Aku memegang dada, hatiku terus terasa tak enak, mungkinkah ini firasat buruk...
Ya Tuhan.. Aku mohon, jauhkan Aku dari segala sesuatu yang buruk,, jika ini firasat buruk dan pertanda yang tak baik akan berlaku.
Aku kembali berbaring dan mematikan ponselku.
......................
Pagi datang,
__ADS_1
Masih sama... tak ada tanda-tanda balasan pesan dari Vina, apalagi berharap Vina menghubungiku.
Siang ini Aku pulang, dan Vina janji menjemputku di bandara,, tapi hingga pagi ini Tak ada kabar darinya,,
Apa Vina lupa?
betapa tak pentingnya Aku dalam hidup Vina jika ia sampai melupakan hal itu.
Aku meraih koper kecil dibawah tempat tidur dan mulai berkemas, memasukkan satu persatu pakaian yang tergantung dilemari pakaian.
Setelah semua siap, Aku duduk ditepi tempat tidur,, mulai kembali mengirimkan beberapa pesan pada Vina, berharap ponselnya segera aktif dan membaca semua pesan-pesan yang kukirimkan.
Terakhir, Aku mengirimkan gambar tiket penerbanganku pada Vina.
Tengah hari, dengan diantar taxi Aku menuju bandara, dengan hati yang tak tau lagi bagaimana bentuknya, dengan perasaan yang terus gelisah.
Satu jam sebelum penerbangan, mataku membulat ketika melihat perubahan warna centang pada pesan yang kukirimkan.
Hatiku terasa lega, dengan menghela nafas Aku segera mengirimkan kembali pesan pada Vina,
"Sayang, akhirnya 2 centang biru, handphone kamu kenapa,, dari semalem dihubungi gak bisa?"
Tak lama pesan balasan kuterima,
"Iya maaf,, baru aktif"
Hanya itu! sebuah pesan singkat untuk membalas puluhan pesan yang kukirimkan dari kemarin-kemarin,
Ya Tuhan,, sabarkan Aku lagi... lebih dan lebih sabar lagi...
Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri dengan menyentuh dadaku dan membisikkan pada hati, jika Semua akan baik-bik saja.
Aku kembali mengirimkan pesan untuk mengingatkan Vina barangkali ia lupa.
Kamu nanti hati-hati ya..."
"Oke"
Lagi dan lagi, hanya ketikan cepat dan singkat,,
Aku mematikan ponsel dan menyimpannya,
Semoga saja, Vina melakukan ini hanya untuk sebuah kejutan menyambut kepulanganku, dengan sengaja membuat Aku kesal seperti yang pernah Aku tonton di acara-acara televisi.
Aku berjalan gontai meninggalkan ruang tunggu.
Di dalam pesawat, wajah Vina selalu terbayang, rasa rindu membuncah mengalahkan segala rasa.
Kubuang semua pikiran-pikiran buruk tentang semua kekhawatiranku mengenai hubungan ini, terlebih setelah mimpi kemarin, Aku berharap semua keresahan ini akan berakhir begitu Aku bertemu Vina kembali beberapa jam kedepan.
Aku tersenyum...
Tak terasa,
Pesawat mendarat,,
Dengan penuh semangat Aku bergegas turun dengan langkah yang cepat,
ketakutanku hanya satu.. Aku takut Vina lelah karena menungguku terlalu lama,
__ADS_1
Namun mataku tak juga menangkap sosok Vina di antara orang-orang yang tengah menjemput kerabatnya yang baru saja sampai di bandara.
Entah mengapa langkahku menuntun menuju parkiran mobil, seperti yakin Akan bertemu Vina disana, dan benar saja dari jauh Aku melihat Mobil yang begitu sangat Aku kenal, bibirku menyunggingkan senyuman, niat menelpon Vina kuurungkan, segera Aku berlari mendekati mobil tersebut.
Namun Aku kecewa begitu tau, mobil tersebut kosong,
Dengan lemas, Aku bersandar pada badan mobil.
Tak lama, seorang laki-laki datang menghampiriku dengan botol minum ditangannya.
"Maaf... Ada apa ya Mas? ini tadi mobil yang saya Bawa"
Ujarnya.
"Maaf Pak,, maksud Bapak, ini mobil Bapak? tapi.... ini..."
Tanyaku yang berpikir mungkin saja pria ini supir kantor Vina yang sedang bersama Vina untuk menjemputku, namun belum sempat Aku melanjutkan pertanyaanku, Pria tersebut segera menyanggah.
"Ohh... bukan Mas, bukan mobil Saya... Saya cuma yang bawa"
ujarnya.
"Oh,, Ini mobilnya Bu Vina kan, dia teman saya"
Ujarku.
"Waduh,, Saya kurang tau ya Mas, Saya cuma disuruh cuci mobil dan antar mobil kesini,, sebentar lagi katanya mau diambil"
Aku terkejut mendengar penjelasan Pria tersebut.
"Kalau boleh tau,, yang menyuruh Bapak siapa ya? mungkin Saya kenal?"
Tanyaku lagi dengan hati berdebar-debar, perasaan tak enak kembali menyeruak.
seiring dengan berdegupnya jantung yang tak beraturan.
"Pak Dirgantara Abinata Mas,, "
Deg!!
Jantungku seakan berhenti seketika, mulutku menganga mendengar nama itu disebut oleh pria tersebut.
"DIRGANTARA ABINATA?"
ulangku,
"Ya... Mas, atasan saya.."
"Apa Dia akan kesini?"
Tanyaku dengan hati yang terus berdebar,
"Iya Mas, paling sebentar lagi sampai"
Ujarnya,
Aku mengangguk,
"Oke, makasih ya Pak... permisi"
__ADS_1
Pamitku lalu meninggalkan mobil Vina, berjalan menjauh.
Bersambung***