Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 79 Pengumuman dari Agung


__ADS_3

Seolah tahu akan kegelisahan yang tengah kurasakan, Agung beberapa kali menenangkanku dengan menggenggam tanganku, sesekali ia menepuknya pelan, serta mengelus punggung tanganku.


Tak lama,


Mataku menangkap kehadiran Daniel, Elza, Nina dan Alif tak lupa dengan Baby Twins.


Senyumku melebar sembari berdiri dan melambai kearah mereka yang dengan cepat merespon sambutanku, terutama Elza yang heboh berlari menghampiriku.


"Vina... uuhh,, kangennn... udah hampir sebulan gak sih kita gak ketemu??"


Elza memelukku manja, begitupun Nina.


Sementara Daniel Diam mematung matanya nampak mengamati seisi ruangan, bahkan kaos couple yang tengah ku pakai tak luput dari perhatiannya.


"Iya ihh... sama, Aku juga rindu sama kalian, sayang ya... Tari gak ada disini..."


Aku menunduk, rasa rinduku pada Tari tiba-tiba menyerang, membuat mata terasa panas.


"Iya, kemana ya tuh anak, sama sekali gak ada kabar, hilang gitu aja kayak ditelan Bumi!"


Jawab Elza manyun.


"Eh.. Iya, sebenarnya ini ada acara apa sih, kita semua diundang tanpa tau dalam rangka apa?"


Sambung Nina yang memperhatikan seisi kafe.


"Bau-baunya ada udang dibalik batu.. hahhha"


celetuk Elza.


"Iya sich, dilihat dari baju couple yang mereka pakai kayaknya kita semua udah bisa nebak, ya gak Niel??"


Ujar Elza lagi kali ini menyenggolkan bahu pada Daniel yang terlihat tak bersemangat.


"Nanti ya... , kalian akan tahu.... sabar.. ini surprise.. hehe"


Agung menjawab dengan mata melirik Aku yang hanya tersenyum paksa.


"Kalian duduk aja dulu,, pesan dan makan apa aja terserah..."


Agung mempersilahkan semua untuk duduk di meja yang berdekatan dengan meja kami, sementara Agung menuju panggung kecil yang tersedia.


Terlihat Agung sedang bercakap dengan beberapa orang disana.


Daniel menatapku dengan tatapan yang membuatku salah tingkah terlebih ketika ia beranjak dari kursinya dan duduk disampingku, ditangannya terlihat sebuah benda kotak kecil berwarna merah.


"Vin, maaf... boleh Aku bicara?"


Tanyanya membuatku kikuk.


Kualihkan pandanganku pada Agung diatas panggung, ada rasa tak enak hati ketika tau ternyata Agung tengah memperhatikan kami.


"Mau bicara apa? serius banget mukanya,,"


Tanyaku mencoba mencairkan suasana. Mataku terus memperhatikan benda yang tengah dipegang Daniel, secara sembunyi-sembunyi.


"Apa ini artinya, kamu sudah move on dari Dirga?"


Daniel menunjuk kaos yang kukenakan.


Aku mengehela nafas, berat sekali untuk Aku menjawab bahwa Aku sudah menerima Agung menjadi kekasihku, bahkan 3 bulan lagi kami akan bertunangan.


"Vin, kenapa diam?"


Daniel memegang bahuku sembari menatapku semakin dalam.


Aku mengangguk, Daniel melepaskan tangannya dari bahuku kemudian menyandarkan tubuhnya pada badan kursi.

__ADS_1


Sejenak terdiam, kemudian menghela nafas dan memijat pelipisnya.


Terlihat Daniel memutar-mutar benda ditangannya yang sedari tadi ia genggam, kemudian memilih memasukkannya di saku kemejanya.


"Ehm.. itu apa?"


Kuberanikan diri untuk bertanya.


"Oh.. ehm, enggak bukan apa-apa, Ehm... kalian udah jadian??"


Tanya Daniel dengan mata sedikit memerah.


Aku menelan ludah sebelum akhirnya lagi-lagi Aku hanya bisa mengangguk tanpa sepatah kata yang keluar.


Kutoleh wajah Daniel.


Ia tampak menengadahkan kepalanya, terdengar tarikan nafas panjang yang ia hela, kemudian mulutnya mengatup rapat, matanya mengerjap-ngerjap.


Mungkinkah ia terluka atas keputusan yang Aku ambil?


"Niel...."


Sapaku pelan,


Daniel memalingkan wajahnya dariku.


"Niel... kamu kenapa??"


Ulangku kali ini dengan menyentuh pelan bahunya.


Daniel menggeleng, kemudian menatapku tersenyum dengan mata memerah.


"Kamu baik-baik aja?? kamu kenapa??"


Desakku ketika melihat seperti ada luka yang ia simpan rapat.


Aku terperangah ketika melihat bulir bening itu tiba-tiba jatuh dari kelopak mata seorang Daniel yang buru-buru ia seka.


"Ehm... Maaf.. maaf,, Aku jadi melow,, jadi cengeng.. Aku terharu"


Ujarnya sebelum sempat mulutku berkomentar tentang air mata itu.


"Niel,, kamu nangis?"


Tanyaku masih tak percaya.


"Eng... enggak kok, ini cuma terharu aja.. bahagia karena kamu udah bahagia.. Aku ke belakang sebentar ya..."


Daniel bangkit dari tempat duduknya lalu bergegas meninggalkanku.


Tak lama setelah kepergian Daniel, Elza dan Nina mendekatiku.


"Vin, Daniel kenapa? kok kayaknya kalian tadi


ngomong serius banget?"


Tanya Elza.


Aku mengangkat bahu,


"Tau tuh, aneh banget.. tadi katanya mau bicara serius, tapi malah pergi, semalem juga gitu!"


"Hah?? Semalem??"


Potong Nina.


"Iya Nin, semalem Daniel datang kerumah,, katanya mau ngomong,, tapi sampe pulang malah Dia bilang momennya gak pas, anehkan??"

__ADS_1


Aku menjelaskan.


"Ehmm... Apa mungkin dia mau nembak Vin??"


celetuk Elza.


"Eh tau gak, 2 hari yang lalu.. Daniel minta temenin Aku beli kalung, katanya buat seseorang, tapi sampe aku cecar pun dia gak bilang buat siapa"


Deg!!


Jantungku berdetak ketika mendengar cerita Elza barusan.


Kalung?? apa mungkin kotak merah yang dari tadi di genggam Daniel, apa mungkin... itu ia siapkan untukku? dan benarkah hari ini sebenarnya dia mau nembak Aku??


Ya Tuhan,, mungkinkah Aku sudah mematahkan hatinya hari ini?


Aku bergumam sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan dalam hati.


"Minta perhatiannya sebentar ya teman-teman...!"


Suara microphone dari panggung kecil itu mengalihkan perhatian Aku dan semua tamu yang ada di kafe.


Semua mata tertuju pada Agung yang tengah berdiri di sana.


"Pertama-tama Aku mau mengucapkan terimakasih dulu buat kalian semua yang sudah menyempatkan waktu untuk datang memenuhi undangan.


Hari ini adalah hari spesial buat Aku dan seseorang yang sedang duduk disana!"


Agung menunjukku membuat semua mata beralih menatapku, hal itu membuat Aku menjadi canggung.


Nina dan Elza memelukku tersenyum bahagia.


"Aku mau bilang, bahwa berdirinya Aku disini untuk menyampaikan kabar gembira dan sebuah pengumuman bahagia kepada teman-teman semua, tapi sebelumnya Aku mau Vina!! untuk kesini menemaniku berdiri"


Agung melangkah turun, dan menghampiri mejaku, wajahnya sumringah, terlihat sekali bahwa ia tengah berbahagia atas hari ini.


Sampai didepanku, matanya menatapku lembut, meraih tanganku membantu untuk berdiri dan menuntunku menuju panggung kecil.


Aku pasrah mengikuti langkahnya, tak ada alasan buatku menolak, sebab ini adalah keputusan yang sudah kupilih.


Sampai diatas panggung, mataku tertuju pada Daniel yang terus menunduk seolah menghindari untuk menatap pemandangan didepan matanya.


"Oke teman-teman semua, mungkin sebagian dari teman-teman semua sudah mengenal perempuan cantik disampingku ini, dan untuk yang belum mengenalnya, hari ini akan Aku kenalkan, Dia bernama Vina, Ervina Delia.


Perempuan cantik yang pertama kali ku kenal di bangku Smp, Dan Dia adalah cinta pertamaku..."


Deg!!


Jantungku berdegup mendengar penuturan Agung barusan, mataku segera beralih menatap wajahnya.


Sungguh Aku tak menyangka bahwa Aku adalah cinta pertamanya.


"Bertahun-tahun Aku memperjuangkan untuk mendapatkan hatinya, bertahun-tahun itu pula Aku menjaga hatiku berjuang untuk mendapatkan cintanya, dan tepatnya kemarin, Tuhan mengabulkan doaku, Dia membuka hatinya untuk menerima cintaku, dan kami berencana pertunangan akan kami gelar 3 bulan lagi"


Kalimat demi kalimat yang diucapkan Agung disambut tepuk tangan meriah dari seisi kafe, termasuk Nina dan Elza namun tidak dengan Daniel,


Raut mukanya sama sekali tak menampakkan kebahagiaan.


Disaat Aku tengah memperhatikannya, terlihat Daniel membisikkan sesuatu pada Elza dan beranjak dari kursinya berjalan menuju pintu keluar.


Sempat berhenti sesaat kemudian menolehku lalu kembali berbalik dan melangkah keluar meninggalkan keriuhan di dalam kafe.


Tanpa pikir panjang,


"Ehm... Gung, maaf.. Aku keluar sebentar.."


Tanpa menunggu jawaban dari Agung, Aku berlari keluar berusaha mengejar Daniel.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2