
Aku tersenyum menatap wajah didepanku yang kini bagai tomat masak.
"Heyy.... kok malu-malu gitu?"
Kusentuh dagu ranum itu.
Vina tak menjawab, hanya menggeleng dan menghindari tatapan mataku.
"Ya udah, Aku pulang ya... Malam ini di langit tak ada satupun bintang, kelam dan suram.. sekarang Aku mengerti, ternyata bintangnya tengah ada dihadapanku!"
Pujiku, berniat mencairkan suasana canggung antara Aku dan Vina akibat suatu tindakan yang tak jadi kulakukan barusan, mungkin saja itu yang membuat Vina malu menatap mataku.
Kusentuh Pipinya dengan siku jari, pada akhirnya Vina berani menatapku.
"Apaan sich... sejak kapan belajar gombal?? udah buruan pulang, langit gak ada bintang karena lagi mendung, bentar lagi hujan... makanya buruan pulang!!"
Ujarnya dengan tersenyum.
Ahh... syukurlah, akhirnya Aku bisa melihat senyum itu lagi, Sungguh Aku tak ingin berada di situasi canggung seperti ini berlama-lama.
"Ehmmm... Sayangnya, kenapa mendungnya baru sekarang ya...?!"
Aku berpura-pura bingung, dengan menengadahkan kepalaku menatap langit yang gelap.
"Lah.. emang kenapa?"
Tanya Vina bingung dan kini ikut-ikutan melihat keatas langit.
"Coba aja dari tadi, kan seru tuh berdua naik motor hujan-hujanan bareng kamu, jadi kayak Film India!! Hahhha"
Tawaku menggelegar.
"Uhh... dasar!! udah pulang sana!!"
Vina mendorong punggungku, dan ikut tertawa.
"Okey... Iya Aku pulang, kamu langsung istirahat ya...."
Aku berbalik, lalu berlalu meninggalkan Vina.
Dan benar kata Vina, belum sampai ke kost-kost an, hujan deras mengguyur, tak hanya itu petir dan kilat juga turut menyertai hujan lebat malam ini, seolah turut menggambarkan rasa yang ada di hatiku, membasuh luka yang pelan-pelan terbuka dan meradang,, jalanan gelap dan mulai sepi membuat Aku melambankan laju kendaraanku sengaja menikmati dinginnya guyuran air hujan yang menerpa tubuhku lalu mencoba berhenti dan menepi, di jalan sepi. Aku turun dari motor, sengaja membuka helm yang menutupi kepala dan menengadah membiarkan air hujan menimpa wajah dan sekujur tubuhku yang sejak tadi sudah basah.
Arrrgghhhhhh....!!!!!!!
Aku berteriak sembari meremas rambutku yang basah.
Tanpa sadar,, air mata ini luruh menyatu bersama air hujan.
Entahlah, mengapa Aku bisa semelow ini,, ditengah hati yang perih, kubuang gengsiku untuk menangis, peduli apa dengan gengsi! bahkan dijalan yang gelap dan sepi disertai kucuran derasnya hujan, tak akan ada yang melihatku menangis, malam ini untuk pertama kalinya Aku menangisi pedihnya patah hati.
Puas meratapi nasib cinta yang bertepuk sebelah tangan, Aku menyalakan motor dan kembali menerobos deras hujan menuju kost.
Sampai di depan kamar kost,
Tubuhku menggigil hebat, dengan gigi yang gemeretak,
Segera kuganti pakaian basahku, dan merebahkan diri diatas tempat tidur memeriksa ponsel yang sebelumnya sempat kuselamatkan di dalam jok motor.
__ADS_1
Lama kuperhatikan, tak ada pesan yang masuk dari Vina, padahal Aku sangat berharap Vina mengirimiku pesan, setidaknya menanyakan kabarku.
Tapi ah... sudahlah,, tak seharusnya Aku mengharapkan perhatian lebih dari Vina,, sebab Aku bukanlah siapa-siapa baginya.
Namun, kenapa... Aku tak bisa sedetik saja melupakan Dia dari pikiranku, bahkan saat ini saja rasa rindu kembali datang dan sungguh ini menyiksaku.
Mencoba memejamkan mata, membolak balik tubuhku mencari posisi ternyaman, bahkan menutup mukaku dengan bantal sekalipun tak membuat Aku tertidur dan melupakan rindu...
"Sial!!!"
umpatku kesal, merasa bahwa Aku memang sudah gila karena cinta.
kulihat jam hampir pukul Sembilan, "Mudah-mudahan Vina belum tidur,,"
Ujarku lirih sembari mencari kontak Vina dan menelponnya.
"Halo... kamu dimana?"
Suara Vina begitu telponku diangkat, lagi dan lagi hal seperti ini membuatku kembali merasa jika Vina perhatian,, dan semangatku berkobar, padahal sebenarnya itu belum tentu.
"Langsung ditodong? Salam dulu kek!"
Jawabku.
"Iya... Assalamualaikum, kamu dimana?"
"Nah.. gitu dong, walaikum salam, Aku di kost an lah, kenapa cemas ya?? hehehhe"
Aku tertawa.
Kata-kata ketus, tapi Aku suka dan sempat membuat hatiku berbunga-bunga.
"Ya ampun, mimpi apa Aku semalam, bisa di pikirin sama Kamu? lagian kalo beneran cemas kenapa gak nelpon? ohh,, Aku tau... Kamu gengsi ya? Hahhhha"
Aku menggodanya,
"Bukannya gengsi, tadi mau nelpon tapi takut disambar petir kamunya kalau angkat telpon lagi dijalan!"
Mendengar itu, Aku bangkit dari tempat tidur berjingkrak-jingkrak persis orang yang baru saja memenangkan lotre.
"Ya Tuhan.... baik banget sih... sampe segitunya takut Aku kenapa-kenapa, Asli... asli nih ya, malam ini Aku gak bisa tidur!!"
"Loh, kenapa?? Masuk angin??"
Tanyaku bingung,
"Oh... bukan, bukan masuk angin, tapi lebih dari itu"
"Lebih dari itu?? maksudnya apaan, jangan bikin makin panik!"
Lagi dan lagi Aku melompat kegirangan,,
Apa?? Vina panik karena aku? pendengaranku masih berfungsi baik kan?
Ya Tuhan,, begini saja sudah membuatku hampir gila,,bagaimana jika suatu hari Aku mendengar pengakuan cintanya?! mungkin bisa-bisa Aku pingsan!
Batinku.
__ADS_1
"Nahh,, lagi.... Makin panik, makin gak bisa tidur Aku!! "
Jawabku pada Vina.
"Apaan sich.... yang jelas!!!"
"Ya itu,, Aku bakalan gak bisa tidur sebab ada seseorang yang mencemaskan Aku, panik karena Aku, mikirin Aku.. makasih ya Vin, itu udah lebih dari cukup!"
Diam...
Sunyi...
Senyap....
Hening....
Aku memperhatikan layar ponselku,
Sambungan telepon masih berlangsung, tapi kenapa tak ada suara?
"Vin, halo... kok diem? masih nyambungkan? kamu masih disana?"
panggilku.
"Ehm.. Iya.. Halo... Kamu gak perlu mikir macem-macem ya Gung, kita kan sahabat, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi sahabat"
Jawab Vina pelan.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya, hampir terbiasa dengan rasa seperti ini,, tapi anehnya selalu saja Aku tersanjung, terbuai dan terlena meski setelah ini, luka itu kembali terbuka, namun Aku pasti akan kembali menyemangati diriku sendiri untuk tak berhenti berharap, meski banyak kekecewaan yang kerap kualami.
"Iya... kamu tenang aja, Aku tau diri... Dari dulu, bahkan hingga detik ini, Aku tak pernah berharap dan menuntut kamu untuk memberiku rasa yang lebih dari apa yang kamu mampu berikan untukku, biarkan semuanya mengalir begitu saja"
Mengucapkan kalimat yang sebetulnya mengiris hatiku sendiri itu berat,, namun Aku harus kuat.
"Gung, Makasih ya..."
Ucapnya,
"Tak perlu berterimakasih Vin, kayak apa aja!"
"Ehm... ya udah ya.. Matiin telponnya,Aku ngantuk"
"Oke, selamat tidur ya..."
"Oke bye"
Klik,
panggilan terputus.
Kupandangi gambar wajah yang tengah tersenyum di ponselku,
Vina... kenapa Aku harus mencintai kamu? sedangkan sedikit saja sudah tak ada lagi ruang dihatimu untuk Aku,, tapi mengapa Aku tak bisa membuang rasa cinta ini bahkan sekedar menepikannya memberi ruang untuk cinta yang lain masuk kehatiku,, bahkan sejak dulu.. hingga detik ini,, hanya kamu!! cuma kamu!! tak ada gadis lain yang mampu mencuri hatiku,, kecuali...
Tiba-tiba Aku mengingat Tari, entah kenapa wajahnya melintas begitu saja di pikiranku.
Bersambung***
__ADS_1