Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 60 Aku cemburu,,,


__ADS_3

Tuhan begitu baik, harapanku jadi kenyataan, tak hanya satu sekolah dengan Vina tapi Aku juga kembali satu kelas dengannya, sama seperti dulu hal yang paling Aku sukai tak pernah berubah yaitu menatap Vina diam-diam. Jika dulu Aku tak pernah berharap hal yang lebih dari persahabatanku dengannya, entah kenapa semakin kesini Aku semakin terpikat dan berharap lebih.


Satu hal yang kutakutkan ketika hatiku tak bisa menerima jika Vina harus dimiliki orang lain, sementara Aku sendiri tak punya nyali untuk mengungkapkan.


Rumit!!


Tentang Dirga, sampai detik ini tak pernah sekalipun Aku melihat sosoknya, seperti apa raut wajahnya, bagai mana sikap dan pribadinya.


Aku hanya berharap benar-benar dia menghilang dan tak pernah muncul lagi.


Ingin sekali rasanya Aku mencari tahu soal bagaimana hubungan Vina dan Dirga yang sebenarnya, tapi... sudahlah, itu bukan urusanku, Aku takut Vina akan marah dan menjaga jarak dariku, sebab itu akan lebih menyakitkan dari pada sekedar mencintai dalam diam.


Begitulah Aku dan sekelumit ketidak percayaan diriku dalam mencintai Vina dari hari kehari, sama sekali tak ada perkembangan hanya memendam rasa yang entah kapan berani kuungkapkan, menelan kecewa saat rasaku tak terbalas, menahan rasa cemburu ketika menyaksikan betapa cinta pertamanya benar-benar menguasai matanya yang indah berbinar.


Aku benar-benar cemburu pada Dia yang disebutnya cinta pertama, bahkan rupanya saja Aku tak pernah tau, bagai mana Aku bisa secemburu dan sekesal ini,


lagi-lagi Aku meratapi betapa menyedihkannya diriku ini.


......................


Waktu terus berlalu, tak terasa tiba ditahun terakhir kami di SMA Putra bangsa, Aku terus membiarkan hatiku berada dalam ketidak pastian harapan, tentang sakit, kesal dan marah jangan pernah ditanya, semua seperti rutinitas wajib yang harus Aku terima dan kujalani.


Siang itu, saat istirahat..


seperti biasa tempat terfavorit adalah kantin, Aku melihat Nina dan Elza yang menarik lengan Vina, apalagi kalau bukan karena si Beruang kutub cantik itu sedang kelaparan dan ingin cepat-cepat mengajak Vina ke kantin.


Aku tersenyum lalu mendekati mereka dan mengajak mereka bersama-sama ke kantin.


Aku tak menyangka bahwa siang ini, lagi-lagi hatiku akan terbakar cemburu.


Berada di kantin, Aku yang seperti biasa memilih duduk di hadapan Vina agar lebih leluasa memandangnya merasakan sesuatu yang lain, ketika raut wajahnya tiba-tiba berubah tak berapa lama setelah ia memperhatikan ponsel Tari, entah apa yang baru saja dilihatnya, hingga dia harus melihat ulang ponsel Tari berkali-kali.


Aku terus memperhatikan gelagat Vina, dan mendengar percakapan mereka yang terkesan berbisik-bisik.


Yang kutangkap dari obrolan pelan mereka adalah tentang foto diponsel Tari, dan Nama Dirga. Darahku mendidih setelah mendengar Nama Dirga disebut-sebut mereka berdua, hingga Aku menarik kesimpulan bahwa Vina baru saja melihat foto Dirga di ponsel Tari dan ternyata Tari mengenal Dirga.


Aku semakin gelisah begitu mendapati Vina beranjak dari kursinya dan berlari cepat meninggalkan Kami tanpa bicara.


Cukup lama tak kembali,

__ADS_1


Sampai mi rebus dimangkok ku dan semua kandas, Vina tak juga datang.


Ada apa ini??


Hatiku mulai bertanya-tanya.


Aku menghabiskan minuman digelasku dan bermaksud menyusul Vina ke kelas, namun Aku mengurungkan niatku begitu kulihat Vina kembali dengan senyuman, nampak kertas putih ditangannya, begitu sampai dimeja, Vina memberikan kertas itu pada Tari,


Sungguh Aku penasaran sebenarnya kertas apa itu?


Selepas dari kantin, dan menuju kelas berbarengan dengan bunyi bel tanda masuk, Aku mendekati Vina, sulit bagiku menyimpan rasa penasaran kali ini.


"Vin, emang tadi kamu kemana sih? terus yang tadi itu apa?"


Tanyaku sedikit berbisik.


"Ehm.. surat"


Jawabnya singkat.


"Hah... Surat?! Surat apaan?"


Tanyaku heran sembari mengerutkan dahi.


Jawabnya lagi dengan penekanan diujung kalimat.


"Wkwkkwk... Hari gini?! Emangnya masih jaman pake surat? si Doi tinggal di pedalaman, sampe-sampe gak kenal teknologi?"


Aku mencoba menutupi panas hatiku dengan tertawa lepas.


Hap..!!!!


Vina menutup mulutku cepat dengan telapak tangannya.


"Berisik!!!!"


Ujarku ketus.


"Ya Maaf, lagian kamu jaman udah modern gini masih kirim surat!"

__ADS_1


Aku mendengus berjalan cepat meninggalkannya.


Sungguh Aku benar-benar jengkel.


Andai saja kau tau Vin, Aku tak suka seperti ini, sakit yang Aku sendiri tak pernah bisa memahaminya, kesal dan ingin marah.. tapi tak tau kemana tempat untuk ku membuang emosi ini.


Hanya bisa menarik nafas pelan dan menelan ludah saat Aku sadar, bahwa Aku tak berhak atas kamu.


Melanjutkan pelajaran di jam terakhir dengan hati kesal dan panas membuatku sulit berkonsentrasi, mengingat surat cinta yang dikatakan Vina tadi membuatku semakin gelisah.


Ditambah lagi gelagat Vina yang terus senyum-senyum sendiri sembari melamun membuatku terbakar cemburu.


Bagaimana rupa si Dirga hingga membuat Vina jadi seperti sekarang ini, padahal Dirga tak ada disini, tapi Dia berhasil membuat darahku mendidih.


Sehebat itukah Dirga?


Tak hanya Aku yang memperhatikan Vina, kulihat Tari, dan Nina pun menatap Vina bingung.


"Vin.... Kamu gak lagi sakitkan? Atau kamu lagi kesurupan??"


Nina mengusap muka Vina, hingga membuat Vina kaget.


"Apa?! Vina kesurupan?!!"


Elza beranjak dari kursinya lalu mendekati meja Vina, suaranya yang nyaring membuat semua mata menatap kearah Vina.


Sesaat Vina menutup mukanya malu,


"Ya ampun..... kalian ih,, berisik Ssttt!!! Aku gak papa! udah... Bubarrrr!!!"


Serunya hingga membuat mereka kembali ketempat duduk masing-masing.


"Huhh!! Untung saja gak ada guru!"


gerutunya.


Aku yang juga mendekati Vina tak kuasa ikut mengomentari tingkah anehnya.


"Lagian kamu bengong sambil senyum-senyum gitu! kan aneh kayak orang stres tau!!"

__ADS_1


Dengan menendang kaki kursinya jengkel Aku kembali ke tempat duduk.


Bersambung***


__ADS_2