Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 167 Dinding foto


__ADS_3

Pemandangan dinding yang penuh dengan tempelan foto, membuatku terpana.


Aku mendekat bahkan sangat dekat untuk memperhatikan detail foto yang memenuhi dinding.


Astaga!!


Bagaimana bisa ada fotoku disini!! dan ini...!! ini...!! ini lagi...! lagi...! lagi dan lagi..!! semuanya...!!


Ya semua foto yang tertempel di dinding kamar Dirga adalah wajahku.


Aku mengalihkan pandanganku ke Syintia, Dia tersenyum sambil melipat tangan di dada dan mengangkat kedua alis matanya.


Kembali Aku menatap dinding yang penuh dengan tempelan foto itu lagi, pas foto yang Aku gunakan untuk ijazah SMP, terlihat dicetak ratusan lembar,, lalu di tempel menjadi bentuk love yang sangat besar.


Dari mana Dirga mendapatkan foto ini?


Tiba-tiba ingatanku kembali pada masa itu,, seingatku saat itu,, foto siswa yang mengikuti ujian akan di tempel di depan dinding kelas,, mungkinkah Dirga mencuri fotoku diam-diam, lalu mencetaknya lagi?


kemudian disisi lain,, terdapat juga foto-foto yang tak kalah membuatku tercengang yaitu foto kelulusan, ketika Aku dan Dirga meraih nilai tertinggi kala itu, foto berdua berdampingan dengan selempang predikat kelulusan dengan nilai terbaik dan buket bunga ditangan.


Mataku berkaca-kaca melihat semua itu..


Bagaimana bisa dan dari mana Dirga mendapat foto-foto ini sementara Aku saja tidak memilikinya selain kenangan yang hanya tersimpan didalam memori otakku saja,,


Lalu Aku berjalan dan mengamati lagi foto yang lain,, dalam bingkai emas besar, beberapa foto tersusun rapi,,


Ya,, foto di kebun teh kala itu. Ternyata Dirga sudah mencetaknya dan membingkainya,


Senyum hangat dari foto tersebut mengingatkan Aku betapa manisnya kenangan itu, kenangan yang betapa ingin kuulangi lagi.


Bagaimana debaran hati dan detak jantung terasa tak beraturan ditambah rasa kecemasan dan ketakutan atas kesalahan termanis yang kulakukan dibelakang Agung.


Tanganku meraba kaca bingkai tersebut lalu berjalan bergeser ke sisi yang lain.


Glek!!


Aku menelan ludah, begitu melihat sisi dinding yang lain,, foto yang pernah ditunjukkan Dirga saat pertemuan kami kala itu,, Ya... Foto kiriman Tari yang menunjukkan gambarku sedang bersama Agung dan Daniel.


Namun yang membuat Aku terperangah adalah coretan tinta merah yang memenuhi wajah Agung begitupun dengan wajah Daniel yang sepertinya sengaja dibuat Dirga.


Syintia berjalan mendekatiku, lalu memegang pundakku,


"Sekarang kamu ngertikan, kenapa kami semua sudah sangat mengenal wajah kamu sebelum bertatap muka secara langsung.."


Aku tersenyum mengangguk,


Kami berjalan keluar, baru saja Syintia menutupkan kembali pintu kamar,


"Cia... Vina... kalian ngapain? kenapa keluar dari kamarku? kalian berdua sedang apa dikamarku?"


Dirga menatapku dan Syintia bergantian dengan wajah bingung.


Aku menoleh pada Syintia yang juga terlihat kebingungan.


"Cia.... kamu...."


Dirga mendekati syintia dan membuka pintu kamar lalu melongokkan kepala kedalam, kemudian kembali menutupnya rapat.


Dirga terdiam sejenak begitupun dengan Aku dan Syintia yang kini saling pandang, menunggu reaksi selanjutnya dari Dirga.


Terdengar Dirga menghela nafas, kuberanikan diri mengangkat kepala untuk menatapnya, Dirga terlihat mengusap wajahnya.


"Jadi... Kamu sudah lihat isi kamarku?"


Tanya Dirga memandangku, Aku mengangguk.


"Vina.... Aku..."


"Assalamualaikum...."

__ADS_1


Salam dari pintu depan membuat ucapan Dirga terhenti, dan fokus kami teralihkan.


"Walaikum salam...."


Jawabku, Dirga dan Syintia berbarengan.


Bersamaan dengan itu Bella juga keluar kamar bersama Mimi.


"Itu Ayah dan Ibuk sudah pulang, mari Aku kenalkan..."


Dirga menarik lenganku, diikuti Syintia.


"Baru pulang Yah?"


Sapa Dirga, begitu sampai di depan pasangan Suami Istri tersebut.


"Iya,, eh... Ada siapa ini....?"


Tanya Bibi Dirga yang wajahnya pernah kulihat bersama Dirga pada saat kelulusan dulu, hanya saja lebih sedikit menua jika dibanding kala itu.


"Kenalin Buk, ini Vina... calon istriku.."


Ujar Dirga mantap, membuat Aku tercengang dan dengan cepat menatap wajah santai Dirga.


"Vina, kenalin ini Bibi Aku, namanya Bi Umi Ibunya Cia dan Bella, semenjak kedua orang tuaku pergi,, Aku sudah terbiasa memanggilnya Ibuk.."


Dirga menatapku sembari tersenyum.


"Ehmm hai Bi.. eh.. Buk..Halo.. "


Aku mengulurkan tangan pada Bibinya Dirga dengan gugup.


Astaga!! bahasa apa ini? kenapa kalimat aneh ini yang keluar dari mulutku,,? Ah.. benar-benar tidak sopan!!"


sesalku dalam hati.


"Halo Vina,, Ibuk senang akhirnya Dirga mengenalkan calonnya pada kami,, sudah sangat lama kami menunggu momen ini, dan sempat bikin kami khawatir juga,, maklum sudah dewasa,, "


"Ini Paman Usman, atau yang kini kupanggil Ayah menggantikan Ayahku"


Sambung Dirga mengenalkan Suami Bi Umi.


Dengan senyum ramah Paman Usman lebih dulu mengulurkan tangannya padaku.


Sungguh sambutan yang hangat dari keluarga Dirga kepadaku membuat Aku terharu.


Setelah perkenalanku pada kedua orang tua Syintia yang sempat membuatku jantungan, obrolanpun berlanjut di ruang tamu, mulai dari pertanyaan-pertanyaan seputar keluarga, kesibukan, sampai obrolan-obrolan santai layaknya calon mertua dan calon menantu.


Hal ini tentu saja membuatku merasa benar-benar diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga super baik ini.


Tak terasa, jam dinding menunjukkan pukul tiga sore, terlihat Dirga beranjak dari kursi meninggalkan kami.


Tak lama ia kembali dengan jaket ditangannya,


"Vin, kita pulang sekarang ya... udah sore"


Ujarnya, yang kembali mendekat pada kami, Aku menoleh pada Dirga.


"Ehm.. Yah, Buk...Aku nganter Vina dulu ya.."


Pamit Dirga.


"Ehm... Vina pamit pulang ya Buk.. Pak eh Yah..."


Pamitku yang masih canggung dalam memanggil Ayah dan Ibuk pada kedua orang tua Syintia, sembari mencium tangan mereka.


"Iya,, hati-hati ya... salam untuk Papa dan Mamanya,, nanti kapan-kapan Ibuk sama Ayah silaturahmi kerumah Vina.."


Bi Umi memelukku dan mencium pipiku.

__ADS_1


"Yuk, Cia.. Bella.. Aku pamit ya.. dadah.. Mimi,, Aunty pamit pulang dulu ya...."


"Kapan-kapan main kesini lagi ya Vin..."


Ujar syintia.


Aku mengangguk.


"Jangan ngebut ya Abi... jagain dan anterin pulang Kak Vinanya,, jangan dibawa kabur lagi ke gunung!!"


Celetuk Bella,


Aku terperanjat mendengarnya, lalu dengan cepat menoleh Dirga.


Tak kusangka memang tak ada rahasia antara mereka,


"Bella..!! Ssttt!!"


Hardik Dirga, membuat Bella tersenyum memicingkan mata dan menggaruk kepalanya.


"Sorry...!!"


Ujarnya kemudian mundur dan berbalik masuk kamar.


Aku dan Dirga berjalan menuju mobil, Dirga membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Aku untuk masuk.


Setelah berada di mobil, dan mobil mulai melaju perlahan.


Kami masih saling diam, rasanya mulutku sudah tak bisa menahan lagi, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan, tapi Aku tak tahu harus memulainya dari mana.


"Ehm,, Vin.. Kamu mau langsung pulang?"


Tanya dirga mengawali percakapan memecah keheningan antara kami.


Aku menolehnya tersenyum.


"Terserah kamu"


Jawabku.


"Kok terserah Aku, kamu maunya gimana?"


Dirga balas menolehku sesaat.


"Ya Terserah,, kalau mau pulang ya pulang"


Jawabku lagi.


Dirga tersenyum,,


"Jawaban kamu bikin Aku berpikir, kalau kamu sebenernya masih ingin bersama Aku,, iyakan?"


Mendengar itu Aku jadi salah tingkah dan buru-buru membuang muka,,


"Ngaku gak?"


Tanya Dirga sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Gak gitu... maksud Aku..."


"Udahh... iya,, iya... gak mau ngaku juga gak papa,, mau ngeles juga gak papa,, gini aja... Aku kok, yang masih mau berlama-lama sama kamu..."


Mendengar itu Aku kembali membuang muka meski dalam hati sebenarnya Aku bahagia luar biasa.


"Kita ke Danau mau??"


Tanya Dirga.


Aku menoleh dan mengangguk.

__ADS_1


Dirga mengusap kepalaku.


Bersambung***


__ADS_2