Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 202 Luka tapi tak berdarah


__ADS_3

Ini,, adalah kesekian kalinya kugantungkan harapan untuk bertemu Vina,, setelah sebelumnya beberapa kali kucoba untuk mendatangi sekolah Vina, tapi sayangnya bukan pertemuan menggemaskan seperti yang selalu kukhayalkan melainkan adegan romantis menyakitkan hatikulah yang malah menyambutku.


Kalau saja Aku pada saat itu lupa bahwa Aku seorang laki-laki, mungkin Aku sudah terisak-isak menangisi pemandangan menyesakkan dada didepanku.


Untungnya Aku sudah terlatih menghadapi situasi menyedihkan bahkan lebih dari ini.


Dengan satu tarikan nafas, kuputar badanku dan memilih meninggalkan sekolah itu.


Dan, siang ini Aku tak tau untuk yang ke berapa kalinya Aku menantikan pertemuanku dengan Vina di Halte yang menurutku telah menggoreskan kenangan indah pada masa lalu, harapanku tak pernah padam meski selalu sia-sia tak pernah sekalipun Aku melihat Vina saat Bis sekolah berhenti,, sebenarnya Aku sudah mengetahui jawabannya,, tentu saja Agung atau mungkin laki-laki disekolahnya itu yang selalu mengantar jemputnya hingga Vina tak perlu naik Bis,, tapi... tetap saja,, Aku yakin... suatu saat Akan berjumpa Vina di Halte ini.


Dan,, benar saja... Hari ini Aku berjumpa!!


tapi sayang, perjumpaan ku dengannya tak semanis harapanku.

__ADS_1


Jantungku berdegup tak berirama ketika mataku menangkap kehadiran Vina di seberang sana,, yang membuat hatiku teriris adalah ia datang tak sendirian melainkan bersama Agung, mereka terlihat begitu mesra, bahkan begitu serasi, tubuh tegap Agung begitu selaras dengan tampang rupawan miliknya begitu berbanding terbalik dengan Keadaanku saat ini, tentulah Vina lebih bahagia memiliki pacar seperti Agung yang ku ketahui saat ini adalah seorang mahasiswa yang sudah pasti memiliki masa depan yang cerah,, tidak seperti Aku yang belum jelas selepas SMA ini ingin melanjutkan kemana, bahkan kuliah saja Aku masih belum yakin Aku bisa.


Sekian detik saling pandang, tak ada tanda-tanda kerinduan dimata Vina yang hanya bisa tercengang, tak berusaha menyapa, melambaikan tangan bahkan untuk tersenyum kepadaku saja sepertinya tak terjadi


Dengan perasaan hati yang hancur dan kecewa, kuputuskan untuk pergi ketika dalam waktu yang bersamaan Bis datang, segera kutinggalkan halte yang telah menorehkan luka dihatiku siang ini.


Bersama bis yang melaju membawa hancurnya hatiku yang telah tergores luka yang tak berdarah.


Apa ini pertanda jika memang sudah saatnya Aku melupakan Dia,, Dia yang telah mengisi hatiku sejak pertama kali Aku mengenal cinta.


Tapi kenapa begitu sulit, untuk Aku menghapus rasa ini Tuhan,,


Harus berapa banyak sakit hati lagi yang harus Aku rasakan untuk meraih bahagiaku.

__ADS_1


Ahh... Sudahlah,,


Tak sepatutnya kuratapi kecewa ini.


Pulang dengan perasaan hancur, mencoba melupakan dan membuang rasa agar hati ini tak terlalu tersiksa, berharap lambat laun cinta ini bisa menghilang dengan sendirinya tanpa menyisakan luka.


Tak lagi ku coba untuk menemui Vina,, baik di halte maupun mendatangi sekolahnya, bukan karena sakit hati terhadapnya, hanya saja terlalu iba pada hatiku sendiri jika harus menyaksikan adegan yang sebetulnya tak kuharapkan. Akan kubiarkan hatiku mencari bahagianya dengan kesendirian tanpa memaksanya mengikuti ambisiku.


Namun, jujur saja harapan ini masih sangat besar namun segalanya kuserahkan pada takdir, karena pada akhirnya manusia akan menyerah pada takdir yang telah digariskan.


Dan aku berharap, takdirku dan takdirnya Akan bertemu pada titik yang sudah di gariskan.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2