
Seketika pipiku terasa memanas, sudah pasti tergurat rona merah disana, dan seketika itu juga Aku sangat berharap semoga Agung tak menyadari hal itu.
"Benar-benar konyol!! Apa yang baru saja Aku pikirkan? kenapa bisa pikiran kotor itu sampai hinggap di kepalaku, hingga Aku melakukan hal memalukan seperti tadi!! Huuuhh... kesalll..!!"
Gerutuku dalam hati.
Bukan tidak mungkin, untuk ukuran laki-laki mahasiswa seusia Agung yang sudah bisa dikatakan dewasa, tidak paham dengan gelagatku barusan.
Memejamkan mata ketika seorang laki-laki mendekatkan kepalanya kearah wajah,, apalagi kalau bukan berharap dicium.
"Ya Tuhan..... Malunya Aku!!!"
Dengan sedikit meringis menahan malu kepalaku tertunduk dalam.
"Heyy.... kok malu-malu gitu?"
Agung menyentuh daguku.
"Tuh... kan Agung ternyata tau Aku sedang malu, bahkan sangat malu saat ini!"
Ujarku dalam hati.
Aku tak menjawab, hanya menggeleng tanpa berani menatap mataya.
"Ya udah, Aku pulang ya... Malam ini di langit tak ada satupun bintang, kelam dan suram.. sekarang Aku mengerti, ternyata bintangnya tengah ada dihadapanku!"
Agung menyentuh pipiku dengan jarinya sangat lembut.
Hatiku terasa hangat, namun Aku segera menepisnya membuang semua perasaan aneh-aneh disana.
"Apaan sich... sejak kapan belajar gombal?? udah buruan pulang, langit gak ada bintang karena lagi mendung, bentar lagi hujan... makanya buruan pulang!!"
Aku berusaha bersikap biasa, tak ingin memberikan Agung harapan yang tinggi, sebab dihatiku telah terkunci sebuah nama dan itu selamanya takkan terganti.
"Ehmmm... Sayangnya, kenapa mendungnya baru sekarang ya...?!"
Agung menengadahkan kepalannya menatap langit yang gelap.
"Lah.. emang kenapa?"
Tanyaku yang kini ikut-ikutan melihat langit.
"Coba aja dari tadi, kan seru tuh berdua naik motor hujan-hujanan bareng kamu, jadi kayak Film India!! Hahhha"
"Uhh... dasar!! udah pulang sana!!"
Aku mendorong punggung Agung menyuruhnya segera pulang.
"Okey... Iya Aku pulang, kamu langsung istirahat ya...."
Aku mengangguk.
Agung berbalik, bersiap meninggalkanku.
selang berapa detik, Agung pun berlalu dari hadapanku.
Aku berlari masuk kedalam rumah, dan segera menuju kamar.
Malam yang dingin,,, Ketika hujan benar-benar turun dengan lebat disertai angin kencang dan sambaran kilat dengan suara petir yang saling bersahutan.
Mungkin saja Agung belum sampai dikost-kostannya.
__ADS_1
Kasian Dia, mungkin saat ini ia tengah basah kuyup menerobos hujan, atau sedang kedinginan di bawah atap gedung untuk berteduh.
Ada keinginan untuk menghubunginya sekedar bertanya dimana Dia sekarang, tapi petir-petir besar tengah menggelegar.
Tanpa sengaja, terselip doa untuknya malam ini, semoga Tuhan melindunginya.
Agung...
Tak pernah terbayangkan olehku, seseorang yang dulu sangat menyebalkan bagiku karena selalu saja membuat kesalahpahaman antara Aku dan Dirga, kini bisa menjadi salah satu sahabat terbaik rasa saudara.
Agung selalu siap menjadi wadah curhatku, mendengarkan segala ceritaku tak peduli jam berapapun Aku menelponnya, ia selalu berusaha ada meski hanya lewat telepon.
Akan tetapi untuk rasa yang lebih, Aku rasa itu hal yang tidak mungkin, Aku yakin, hatiku tak kan tergoyahkan sedikitpun untuk menggeser Dirga dari tahtanya di ruang hatiku.
Aku belum bisa memejamkan mata, berulang kali Aku membolak balik tubuhku untuk mencari posisi ternyaman tetap saja pikiranku berkelana jauh.
Aku melirik jam dinding, 5 menit menuju tepat pukul 9 malam.
Drrrtttt.... Drrtttt...
Ponselku bergetar, sebuah panggilan masuk.
Kulirik nama yang tertera.
"Agung.."
gumamku.
📞📞📞
"Halo... kamu dimana?"
"Langsung ditodong? Salam dulu kek!"
Jawabnya.
"Iya... Assalamualaikum, kamu dimana?"
"Nah.. gitu dong, walaikum salam, Aku di kost an lah, kenapa cemas ya?? hehehhe"
Agung terkekeh.
"Ihh.. ge-er.. bukan apa-apa, hujan petir sama angin juga, ya wajarlah Aku kepikiran Kamu!"
"Ya ampun, mimpi apa Aku semalam, bisa di pikirin sama Kamu? lagian kalo beneran cemas kenapa gak nelpon? ohh,, Aku tau... Kamu gengsi ya? Hahhhha"
Tawa Agung terdengar sangat puas sebab merasa diatas angin diperhatikan olehku.
"Bukannya gengsi, tadi mau nelpon tapi takut disambar petir kamunya kalau angkat telpon lagi dijalan!"
"Ya Tuhan.... baik banget sih... sampe segitunya takut Aku kenapa-kenapa, Asli... asli nih ya, malam ini Aku gak bisa tidur!!"
"Loh, kenapa?? Masuk angin??"
Tanyaku bingung,
"Oh... bukan, bukan masuk angin, tapi lebih dari itu"
"Lebih dari itu?? maksudnya apaan, jangan bikin makin panik!"
"Nahh,, lagi.... Makin panik, makin gak bisa tidur Aku!! "
__ADS_1
"Apaan sich.... yang jelas!!!"
"Ya itu,, Aku bakalan gak bisa tidur sebab ada seseorang yang mencemaskan Aku, panik karena Aku, mikirin Aku.. makasih ya Vin, itu udah lebih dari cukup!"
Glek..
Aku menelan saliva mendengar penuturan Agung barusan, tak tau mesti menjawab seperti apa.
"Vin, halo... kok diem? masih nyambungkan? kamu masih disana?"
Sapanya ketika beberapa saat Aku terdiam.
"Ehm.. Iya.. Halo... Kamu gak perlu mikir macem-macem ya Gung, kita kan sahabat, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi sahabat"
Jawabku pelan.
"Iya... kamu tenang aja, Aku tau diri... Dari dulu, bahkan hingga detik ini, Aku tak pernah berharap dan menuntut kamu untuk memberiku rasa yang lebih dari apa yang kamu mampu berikan untukku, biarkan semuanya mengalir begitu saja"
Jawaban Agung kali ini entah mengapa seolah menyimpan luka yang dalam baginya.
"Gung, Makasih ya..."
"Tak perlu berterimakasih Vin, kayak apa aja!"
"Ehm... ya udah ya.. Matiin telponnya,Aku ngantuk"
"Oke, selamat tidur ya..."
"Oke bye"
Klik,
panggilan terputus.
Aku sengaja bebohong tentang Aku yang mengantuk, Aku cuma tak ingin obrolan semakin panjang dan ngelantur kemana-mana.
Konsentrasiku saat ini adalah Dirga, tentang sikapnya siang tadi di halte menyimpan tanda tanya besar di hatiku.
"Ahh... Setidaknya, mungkin tadi Tari sudah menyampaikan surat keduaku untuknya, mungkin juga saat ini Dirga tengah membaca isi suratku, atau malah jangan-jangan sekarang Dirga sedang menulis balasan untukku"
Aku bergumam sendiri sembari mondar mandir di dalam kamar.
"Oh... iya, Aku hampir lupa, tadi Aku juga menuliskan no hapeku di dalam kertas surat, mungkin saja Dirga sedang mengetikkan pesan untukku"
Dengan cepat kusambar ponselku yang tergeletak diatas tempat tidur.
Satu persatu Aku mengecek pesan baru, berharap kudapati pesan dari nomor baru disana, tapi nihil.
Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.
"Apa mungkin, karena kemalaman, jadi Tari belum memberikan surat itu pada Dirga ya?"
Tanyaku dalam hati.
Aku kembali merebahkan diri diatas tempat tidur, meletakkan ponsel didekat bantal, berharap ketika hape bergetar Aku bisa segera terbangun, berharap Dirga menghubungiku.
Kantuk itu datang juga, perlahan kupejamkan mata, dengan otak dan hati yang masih melekat semua tentang Dirga, berharap mimpi bisa menemukan kami.
Entah di menit keberapa, akhirnya Aku tertidur lelap.
Bersambung***
__ADS_1