Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 98 klarifikasi masa lalu


__ADS_3

"Terus... gimana tanggapan Tari"


Tanyaku tak sabar menunggu kelanjutan cerita Dirga.


"Aku sama sekali gak tau kalau kalian teman dekat,, sebab waktu Aku tanya kenal gak sama Kamu,, Dia bilang Tau.. tapi gak kenal-kenal banget, cuma sebatas teman satu sekolah"


Aku menelan ludah, ada sakit yang tiba-tiba menyapa hatiku, rasa terluka saat seseorang yang kita anggap sahabat ternyata tak menganggap hal yang sama seperti kita.


"Terus?"


Desak ku ingin Dirga buru-buru melanjutkan ceritanya.


"Dia Nanya ke Aku,, apa kamu adalah pacarku,, dan Aku jawab... bahwa Kamu adalah orang yang selalu Aku minta kepada Tuhan untuk menjadi takdirku sejak dulu, Dia pernah bilang ke Aku kalau kamu sudah punya pacar disitu Aku rasanya sakit sekali,, Aku kecewa, sampai pada suatu hari, Tari ngasih lihat ke Aku beberapa Foto dari ponselnya"


Dirga bercerita dengan mata nanar seolah mengenang kembali ceritanya.


"Hah?? foto?? foto apa??"


Dengan sangat tegang dan bingung, Aku menggeser posisi duduk untuk menghadap Dirga dengan menyorot matanya.


"Foto kamu bersama Agung ada juga foto kamu dengan laki-laki lain selain Agung"


Mataku membulat, Aku benar-benar kaget dengan cerita Dirga,, Tari sampai segitunya.


"Foto sama Agung? sama laki-laki lain???


ulangku masih tak percaya.


"Tari bilang, kamu sudah punya pacar seorang mahasiswa yang tinggal diluar kota,, dan kamu juga punya pacar satu kelas sama kamu"


Saat itu Ingin sekali Aku tak percaya berita itu, rasanya ingin sekali datang menemui kamu untuk bertanya, tapi Tari begitu sangat meyakinkan Aku dengan bukti foto itu,, hal itulah yang sampai sekarang begitu sangat kusesali"


Dirga menunduk,


"Foto apa?? foto bagaimana??"


Aku merasa seperti sedang ditusuk dari belakang oleh orang yang paling sangat Aku percaya.


"Sebentar,, sepertinya Aku masih menyimpan foto-foto itu"


Dirga membuka ponselnya dan mencari keberadaan foto yang dia maksud.


Aku tak sabar menunggu, beberapa kali leherku memanjang untuk melihat galeri foto milik Dirga.


"Ini....!!"


Dirga menyodorkan ponselnya padaku.


Dengan hati berdebar dan tangan gemetar, Aku menerima ponsel itu,


Aku menarik nafas dalam-dalam menyiapkan mental untuk melihat foto tersebut,


Aku juga sempat menatap mata Dirga yang ditanggapi dengan anggukan dari Dirga seolah menguatkan.


Jreng!!!


Aku menatap foto pertama, netra mataku melebar,


sebuah foto yang diambil ketika Agung tengah memakaikan helm di kepalaku, segera kugeser slide berikutnya, tampak Agung menyentuh wajahku, lalu.. adalagi tangkapan Zoom ketika Agung memegang tanganku, dan yang lebih membuat Aku geleng-geleng kepala adalah foto di dua slide terakhir,, foto Aku bersama Daniel sedang duduk di perpustakaan,, dan satu nya terlihat Daniel menyentuh bahuku.

__ADS_1


Air mataku tumpah, sakit sekali rasanya di khianati sahabat sendiri dengan cara yang licik.


Melihat Aku tersedu, Dirga merangkul bahuku, lalu Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Sudahlah... tak usah menangis,, semua sudah berlalu,, dan sekarang Aku sudah tau kebenarannya."


Ujar dirga mengusap bahuku, sementara sebelah lagi tangannya mengusap pipiku yang basah karena air mata.


"Tapi Aku gak nyangka Dir,, Tari bisa sejahat itu.. dia terlalu tega"


"Tari sebenarnya perempuan baik Vin, cuma mungkin saat itu Dia sedang tak tentu arah,, dia sedang butuh perhatian, Dia saat itu sedang hancur dan butuh pegangan,, untuk membuat dia bisa berdiri,, meskipun caranya salah"


tutur Dirga.


Aku melepaskan diri dari pelukan Dirga,


"Maksud kamu?? Kenapa dari kemarin sepertinya kamu selalu membela Tari!!"


Aku menatap tajam mata Dirga dengn raut tak suka.


"Kamu jangan salah paham,,!!"


"Salah paham apa,,??! pantas saja kamu tak ada sedih-sedihnya melepaskan Aku bertunangan dengan Agung, sekarang Aku sudah dapat jawabannya,, karena setelah itu.. kamu akan bersama Tari,, kamu suka sama Tari!!!"


Luapku dalam emosi sembari berdiri dan bersiap meninggalkan Dirga, yang tengah memijat pelipisnya.


"Vin... Vin... tunggu Vin....!!!"


Dirga berdiri dan berusaha mengejarku yang berjalan cepat meninggalkannya.


"Vina!!! mau kemana?? tunggu dulu!!"


"Vina!!!!"


Dirga berhasil mencegahku, dengan menarik bahuku, membalik badanku lalu mendekapku dalam pelukan hangatnya dibawah temaramnya lampu taman kota, tak jauh dari gerbang keluar.


Aku yang masih menangis, dengan nafas memburu karena emosi hanya bisa berdiri mematung dalam pelukan Dirga.


"Aku gak suka sama Tari!!! Apalagi berniat bersamanya setelah kamu bertunangan!! Aku sedih Vin,, harus kamu tinggalkan bertunangan sama Agung,, Aku juga pedih, kecewa, marah,, bahkan Aku juga menangis ketika sendiri,, tapi Aku bisa apa??, tak mungkin Aku membawa kamu lari dari Agung dan orang tuamu,, tak mungkin Aku mengacaukan acara kamu minggu nanti!!"


Mendengar itu, hatiku bertambah sakit, tangisku semakin menjadi.


Dirga melepaskan pelukanku,, menatap wajahku sembari memegang bahuku.


"Aku mencintai kamu,, sangat mencintai kamu!! Aku sayang sama kamu Vin..."


Dirga mengecup keningku.


Aku menelan ludah dan memejamkan mata meresapi semua yang tengah terjadi.


"Lalu... untuk apa kamu bilang seperti tadi??"


Tanyaku dengan suara bergetar,,


Dirga menyibak rambutku yang tergerai di bagian wajah, membawanya kebelakang dan merapikannya.


Sambil tersenyum,


"Kamu cemburu sayang??"

__ADS_1


Aku menggigit bibirku, dan semakin menangis... lalu mengangguk pelan,


Dirga kembali membawa Aku dalam pelukannya,, mengusap rambut belakangku.


"Kamu Tau,, Aku bahagia... sangat bahagia!!"


Mendengar itu, Aku membalas pelukan Dirga.


"Aku antar pulang ya..."


Aku melirik jam tanganku, ternyata tak terasa ini sudah sangat malam, hampir jam sepuluh malam.


Aku mengangguk.


Di dalam mobil,


"Ehm... Vin,, Aku antar kamu sampai rumah ya.. ini sudah malam.."


Mendengar itu, Aku menoleh Dirga,,


"Gak usah,, seperti biasa saja"


tolakku.


"Vin, ini sudah malam.. Aku takut aja kamu pulang sendirian...please!! Izinkan Aku untuk satu pekan ini.."


Setelah berpikir agak lama,


"Lalu mobil Aku?? "


Gampang nanti Aku urus,, kita mampir dulu ke kafe,, biar Aku bicara sama satpam jaga disana.


Tak kuasa menolak, Aku akhirnya mengangguk.


Sampai di kafe,


"Kamu tunggu di mobil dulu ya,,"


pinta Dirga yang bergegas turun, terlihat Dirga bercakap-cakap dengan dua orang satpam jaga disana, kemudian terlihat juga Dirga memberikan uang kepada dua satpam tersebut, setelah itu buru-buru kembali ke mobil.


"Udah,, aman... Kamu tenang aja, mulai besok Aku akan antar jemput kamu sampe hari itu tiba."


Dirga mengusap pipiku lembut.


Aku menarik nafas, karena itu artinya Aku harus berpikir tentang alasan apa yang akan kuberikan pada orang tuaku jika mereka bertanya tentang ini, namun, untuk menolak Dirga rasanya hati ini tidak mampu,, sebab Aku menginginkan semua ini terjadi.


Mobil kembali melaju,,


"Ehm Vin, kamu tau gak,, dalam keadaan hati yang patah, kacau dan berantakan, Aku memutuskan untuk menemui kamu,, aku datang kesekolah Kamu,, tapi saat itu Aku lihat Ada Agung disana, setiap hari Aku menunggu kamu di halte,, tapi tak pernah bertemu,, ingin sekali datang kerumah kamu,, tapi Aku malu.


dan pada hari itu, hari yang membuat Aku patah hati sekali lagi, ketika Aku melihat kamu di bonceng Agung, mesra.. dan terlihat bahagia,, hatiku ngilu,, hancur lebur.. terlebih ketika saat kamu melihat Aku namun tak ada ekspresi,, kamu tau... hari itu Aku sudah seperti orang yang tak waras."


Mendengar cerita Dirga dan menatap wajah sendunya membuat hatiku semakin tak ingin kehilangan Dia untuk yang kedua kalinya,,


"Dir...Saat itu,, Aku seperti tersihir, Aku seakan tak percaya dengan apa yang ada didepan mataku, hingga Aku tak bisa berbuat apa-apa, dan begitu aku sadar.. kamu sudah lebih dulu pergi meninggalkan Aku,, dan kamu tau Dir... Aku menyesal!!"


Jawabku dengan menahan tangis.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2