Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 84 Masih bolehkah Aku rindu?


__ADS_3

*Kok Diam?*


Pesan kembali kuterima.


*Lalu, kamu berharap Aku bagaimana?, terus bertanya tentang kehidupanmu?Atau bertanya nama Anak-anakmu? atau mengomentari kecantikan istrimu??!*


Aku mengetik kan pesan balasan dengan geram dan penuh amarah.


*Cantik? emangnya kamu tau yang mana istriku?*


Aku kembali terperangah mendapat balasan seperti itu.


"Dirga kayaknya benar-benar deh... amnesia separuh mungkin, Dia lupa atau bagaimana?? bukannya waktu itu ketemu sama Aku dia lagi bareng Istri dan anak bungsunya"


Ocehku pelan.


*Aku boleh minta nomor ponsel kamu, setelah Aku pikir-pikir lebih enak kalo kita telponan langsung aja, Aku capek ngetik*


Aku menelan ludah, bagaimana ini??


Seorang yang berstatus suami orang meminta nomor hp ku untuk menelpon?, bagaimana jika istrinya tau??


Batinku.


Ragu dan bimbang kini bergantian membayangi hatiku.


*Vin, boleh?? Atau kamu takut Dia marah??*


"Dia?? Dia siapa yang dimaksud Dirga, bukankah Dia tidak tau kalau Aku dan Agung sekarang menjalin hubungan.


*Oke,, Kamu diam,, Aku paham!! makasih!!*


Ada rasa tak rela ketika Dirga menyudahi aktivitas berbalas pesan denganku.


Dengan menarik nafas panjang, kuberanikan diri untuk mengambil resiko,


Aku mengetikkan deretan 12 angka pada pesan yang kukirimkan.


Aku pasrah jika buntut dari ini semua Istri Dirga akan berpikir macam-macam tentang Aku.


"Tuhan... Maafkan hamba,, bukan maksud hati untuk masuk di kehidupan rumah tangganya, Aku hanya ingin kejelasan, dan penyelesaian agar kelak ketika Aku dan Agung menjalani kehidupan baru sudah tak ada lagi beban dan rasa penasaran yang membayangi hati"


Batinku.


Tak ada lagi balasan, meski kulihat pesan yang kukirim telah terbaca oleh Dirga.


Selang beberapa menit,


Ponselku berdering, dengan malas kutekan tombol angkat.


"Halo,,,"


sapaku, namun tak ada jawaban hening beberapa saat hingga Aku mengulangi sapaku sekali lagi.


"Halo... siapa??"


"Ya... halo..."


Suara berat dan tebal dari seberang sana membuatku bergeming, dadaku terasa berdebar, meski Aku belum tau siapa yang tengah menelponku, namun hati kecilku begitu yakin itu adalah Dirga.


"Dir.... Ga...."


Ucapku terbata, tak percaya.


"Ya... ini Aku, jika sudah tak bisa lagi Aku meminta takdirku bersamamu.., setidaknya Aku masih diperbolehkan menelponmu, meski hanya sekali ini saja"


Tuturnya.

__ADS_1


Apa Aku sedang bermimpi? seseorang yang selama ini ku tunggu kabarnya,, kuharapkan kehadirannya, di detik ini tengah berbicara denganku meski hanya melalui sambungan telepon.


Aku berjalan pelan menuju kursi yang sengaja kutarik menghadap jendela kamar,


pandanganku jatuh pada temaramnya lampu jalanan.


"Vin,, Aku... Aku ingin ketemu kamu, sebentar saja... kapan kamu ada waktu?"


"Bisa.... bisa... Besok, pulang kantor"


Tanpa berpikir panjang Aku segera menyetujui permintaan bertemu dari Dirga, Aku tak peduli apa yang akan terjadi nanti.


Didetik ini pula Aku merasa cinta telah membutakan Aku, dan masa lalu telah memasungku dengan rantai rindu, hingga Aku tak bisa menolak ketika jiwa ini memanggil untuk menyelami cerita indah itu sekali lagi.


"Nanti kamu kabarin aja tempatnya, Aku tidak tau dimana kamu bekerja"


"Ya udah, Aku tutup telponnya ya... sampai ketemu besok"


Aku memilih untuk menyudahi telepon ini, Aku tak tahan lagi, jika semakin lama Aku takut tak bisa mengendalikan diri dan akan semakin terperangkap dan terjebak didalam indahnya perasaan masa lalu.


Bersamaan dengan itu juga, telepon dari Agung masuk, bahkan sudah yang ke 3 kalinya.


"Vin, tunggu...jangan matiin dulu"


Imbuhnya.


"kenapa??"


sambungku cepat.


"Ehm... Vin, masih bolehkah Aku merindukan kamu??"


Deg!!


Jantungku seperti berhenti berdetak, mendengar penuturan Dirga barusan.


"Dir... Aku... Aku tak ingin merusak semua yang sudah bahagia dijalannya."


Sebenarnya sakit sekali hati ketika mengucapkan kalimat ini, karena sampai detik ini pun Aku juga masih merindukan Dia.


"Ehm...Maaf,, Vin.. Iya,. Aku ngerti... Maaf,, Aku hanya terbawa suasana,, Aku lupa... jika seseorang yang masih ingin sekali kurindukan, sudah memilih bahagianya sendiri"


Klik! Tut.... Tut.... Tut....


Panggilan terputus.


Aku tersentak,


Kalimat apa itu??


Memilih bahagianya sendiri bagaimana? Bukankah selama ini Dia yang menghilang, dan Dia yang telah bahagia,, bukan Aku!!


Terlalu banyak hal yang tidak kupahami dari sepanjang obrolan bersama Dirga malam ini, mulai dari chat hingga telepon.


Seolah-olah, Aku lah yang meninggalkan Dia, seakan-akan Dia adalah orang yang paling terluka, padahal kenyataannya Hidupnya kini bahagia dengan istri dan 3 orang anaknya.


ck!!


Mulutku berdecit, dengan hati yang terasa kacau balau.


Aku membanting ponselku diatas tempat tidur.


kemudian langkah gontaiku mengantar Aku pada tempat tidur dan memutuskan untuk tidur berharap esok pagi hati ini akan baik-baik saja.


Baru saja memejamkan mata, tiba-tiba mataku kembali terbuka mengingat sesuatu.


Aku beranjak dan mencari ponsel yang baru saja kubanting.

__ADS_1


Bukankah tadi Agung berkali-kali menelponku ketika Aku sedang menerima telpon dari Dirga.


"Astaga!!! bisa-bisanya Aku lupa!!"


Aku menepuk jidat lalu melakukan panggilan Vidio pada Agung.


"Haloo... sayang.... sibuk banget dari tadi ditelpon gak masuk-masuk"


Agung tersenyum, terlihat ia tengah berbaring ditempat tidurnya.


"Maaf ya..."


Jawabku singkat, sebab tak tau mesti bicara apa.


"Emang lagi telponan sama siapa malam-malam gini?"


"Ehm... itu...eh... telponan sama... ehmm sama Nina,, iya... sama Nina"


Jawabku gugup dan terpaksa berbohong, Aku tak ingin membuat Agung terluka jika tau Bahwa Dirgalah yang baru saja menelponku.


"Sayang, kamu berkeringat... cuaca disana lagi panas ya??"


Agung ternyata memperhatikan dahi dan beberapa bagian diwajahku yang berkeringat akibat tegang telah berbohong padanya tentang telpon.


"Ehm... Enggak juga sih.. mungkin efek habis minum obat,"


Lagi-lagi Aku berbohong.


"Sayang kamu sakit??.. jadi gimana keadaan kamu sekarang? apa keluhannya,, sudah ke dokter??"


Agung bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah cemas.


"Apa sih Gung, lebay deh... Aku cuma masuk angin biasa, minum obat dan istirahat juga ntar sembuh"


Jawabku santai.


"Sayang, kamu jangan gitu ah, jangan abai sama kesehatan, jangan sepelekan gejala masuk angin"


"Iya... iya... bawel... .!!!"


Aku mencoba tersenyum senatural mungkin.


"Oh ya,,, kamu sudah lihat baju kamu buat minggu nanti?? tadi Aku dikirimin Mama fotonya"


"Iya... udah,, keren... Aku suka"


jawabku datar.


"Kamu pasti makin cantik pake gaun itu.."


"Kamu pulang hari apa?"


Aku mencoba mengalihkan obrolan, sejujurnya Aku agak risih jika Agung terus-terusan memujiku.


"Hari sabtu pagi, kenapa?? kamu udah gak sabar ya ketemu Aku?? mau dibawain oleh-oleh apa?"


"Ehm... kamu selain gombal,, sekarang kamu juga tambah pede dan ge er!! udah, gak usah repot-repot, asal kamu hati-hati aja Aku sudah senang"


"Oh Tuhan.... Aku tidak salah memilih perempuan, terimakasih telah mentakdirkan Ia menjadi jodohku!!"


Celotehnya dari seberang sana.


Mendengar Agung menyebut takdir jodoh, hatiku terasa ngilu seperti tersayat,


Aku tak menyangka jika Takdirku bukanlah bersama Dirga cinta pertamaku, melainkan bersama Agung sungguh ini diluar kendaliku,, Aku tak ingin berdosa menentang takdir?


Meski sejujurnya Aku masih sangat berharap ini tak terjadi..

__ADS_1


Sebab hati tak bisa berbohong, jika Agung bukanlah pilihan hati yang sebenarnya.


Bersambung***


__ADS_2