Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 156 Maaf atas luka itu


__ADS_3

POV >>> VINA


Aku sama sekali tak dapat memejamkan mata, kata-kata yang diucapkan Agung seperti tengah mengulitiku, Aku tak tau, apa Aku bahagia atau berduka karena ini, yang jelas saat ini,, rasa penasaran tengah bersarang diotakku,


Penasaran tentang tau darimana Agung tentang semua ini,, dan kenapa akhirnya Agung menyerah, padahal selama ini yang kutahu Agung orang yang selalu menerima, santai dan bersabar serta tak pantang menyerah, lalu apa yang pada akhirnya membuat ia serapuh ini?


Bahkan dulu meski telah ditolak mentah-mentah, Agung tetap sabar dan tak kenal menyerah,, tapi kali ini... Apa ada sesuatu yang telah terjadi yang Aku tak tau,


Tiba-tiba saja ketakutan menyergap hatiku, bagaimana jika ternyata Agung tau tentang yang kulakukan dibelakangnya saat itu, tentang Dirga dan satu pekan itu?


Ya Tuhan.... bagaimana ini? tiba-tiba saja tungkai kakiku lemas,,


Aku tak ingin Agung membenciku,, meski Aku tak pernah mencintainya sepenuh hati tapi Aku juga tak ingin dibenci olehnya.


Dengan cepat kuraih ponselku yang tergeletak diatas bantal, kemudian memutar-mutarnya ragu,, memilih mengirimkan pesan atau menelponnya.


Lama berpikir, akhirnya kuputuskan untuk mengirimi Agung pesan.


"Agung,, sekali lagi Aku mau minta maaf atas apa yang sudah terjadi,, dan jika boleh Aku bertanya,, apa yang akhirnya membuat kamu mengambil keputusan ini? lalu... kamu tau dari mana tentang Dirga?"


Pesan terkirim, dan kini berubah centang biru,, itu artinya Agung sudah membacanya,, hatiku deg-degan menunggu balasan.


5 menit, 10 menit, hampir setengah jam tak ada balasan, hal itu semakin membuatku penasaran.


Apa mungkin, Agung sekarang tak ingin lagi mengenalku?


Aku sungguh-sungguh tak ingin dibenci olehnya.


Tak kuat menahan gelisah, kuputuskan menelpon Agung.


Tut.... Tut... Tut.....


Nada sambung terdengar, namun tak juga diangkat Agung.


"Agung Please.... angkat....!!!"


Ucapku lirih.


Panggilan ke dua, panggilan ke tiga, Panggilan ke empat,


Agung tetap tak mau menerima panggilan dariku.


"Oke,,!! Aku coba sekali lagi.... jika kali ini Agung tetap tak mau menerima, berarti benar... Agung tak ingin mengenal Aku lagi,, Sesakit itukah hatimu padaku..."


Panggilan ke lima,,


Tut... Tut... klek,,!!


hufft.... Aku menghela nafas, Akhirnya...

__ADS_1


"Haloo... Gung,, makasih masih mau angkat.."


Ujarku.


"Ya... Vin,, apa?"


Jawabnya dingin dan kaku tak seperti biasa.


"Gung... please,, adakah Yang sudah kamu ketahui selain tentang Dirga?"


Tanyaku spontan.


"Selain??! sebanyak itukah rahasia yang kamu sembunyikan dari Aku mengenai Dirga Vin?


Apa selain itu ada yang lebih sensitif lagi yang kamu tutupi?"


Deg!!


Aku terhenyak, lalu menepuk jidat,, sepertinya Aku salah bicara, kini Aku terjebak dipertanyaanku sendiri.


Lalu, Aku harus jawab Apa??


"Halo,, Vin.. kenapa Diam... Apa harus kuceritakan semua yang sudah Aku ketahui?"


Nada ketus dan tajam terdengar sangat menakutkan ditelingaku.


Tak ada pilihan lain,, Aku memang harus tau semuanya.


Air mataku kembali mengalir,,


"Kenapa Aku harus membenci kamu? tidak Vin.. itu tak akan pernah Aku lakukan,, bahkan terniatpun tidak sama sekali.."


Ucapan tulus itu benar-benar membuktikan Agung laki-laki terbaik.


"Aku tau,, Dirga belum menikah,, Dia bekerja di pabrik pupuk, dan memiliki salah satu jabatan tinggi disana, kalian masih saling mencintai,, kalian juga sering bertemu saat Aku pergi sebelum kita bertunangan, dan itu menjadi penyebab hape kamu jarang aktif, sulit dihubungi, tak membalas pesan hingga tak mau menerima panggilan dariku,"


Sambung Agung, membuatku lemas menutup mulutku dengan telapak tangan,,


"Gung... Aku...."


"Aku juga tau,, Kamu tak pernah menginap di rumah Nina sehari sebelum kepulanganku, dan Nina tak pernah mengadakan Acara di malam itu, Aku tak tau Vin,, alasan kamu memakai blazer di hari cuti kerja itu apa dan kenapa??! dan untuk alasan menginap dirumah Nina,,, yang jelas itu artinya hari itu, kamu tidak pulang kerumah,, Aku tak tau kamu kemana, dan dengan siapa?"


Sambung Agung tak memberiku waktu untuk bicara.


Aku tak menyangka,, Agung tau semuanya... kini hatiku bagai diremas-remas mendengar semua cerita Agung.


"Yang pasti,, Kamu datang ke bandara bersama Dirga, sementara Mobil kamu sudah ada disana jauh sebelum kamu sampai bandara"


Astaga!!!

__ADS_1


Agung juga tau ini!!


Apa jangan-jangan Agung tau soal kejadian di mobil itu?


jantungku berdegup kencang,


"Dan.... Kamu tau Vin,, Aku melihat semuanya..."


Kalimat Agung terhenti,


"Semua??"


Tanyaku.


"Ya...SEMUANYA!! tak perlu kujelaskan secara detil, Aku yakin kamu masih ingat apa saja kejadian di dalam mobil itu!"


Mendengar itu, tubuhku terasa ringan seperti melayang, tungkai kakiku lemas membuat Aku jatuh terduduk di lantai, kepalaku mendadak berat, bersama air mata yang mengucur deras,,.


Ya Tuhan... begitu besar sakit hati yang sudah ku torehkan pada Agung..


"Maafkan Aku Vin,, harusnya pertunangan itu tak kupaksakan terjadi,, agar tak membuatmu tertekan,,"


Agung meminta maaf,, harusnya Aku yang meminta maaf,, bukan Dia...!! Agung tak salah...!!


"Hanya saja saat itu, Aku belum siap kehilangan kamu, Aku egois!! Aku tak ingin merelakan kamu untuk Dirga begitu saja setelah bertahun-tahun memperjuangkan kamu,, apalagi Yang Aku tau Dirga sudah berkeluarga, tapi setelah Aku tau Dirga masih sendiri.. Aku sadar... jika cinta tak bisa dipaksakan,"


Aku semakin merasa bersalah, mendengar Ucapan terakhir Agung yang begitu tulus.


Laki-laki terbaik yang berhati malaikat.. yang pernah kukenal.


"Entah harus bagaimana Aku meminta maaf sama Kamu Gung.. atas semua yang sudah kulakukan ke kamu.. yang jelas,, kamu begitu baik.. Aku tak pernah tau,, akan jadi seperti ini,, semua terjadi begitu saja diluar kendaliku..


Aku cuma berharap,, kamu tidak membenciku... Aku berharap hubungan kita masih bisa seperti dulu... Aku doakan yang terbaik untuk kamu.. dan semoga setelah ini,, kamu meraih bahagiamu bersama seseorang yang juga terbaik lebih semuanya dariku."


Agung diam, tanpa suara..


lalu panggilan terputus.


Tak lama, sebuah pesan masuk kuterima.


"Maaf keputus Vin, sepertinya sinyal sedang tidak bagus... yang harus kamu tau,, saat ini Aku butuh sendiri,, Aku patah hati... Aku terluka dan Aku hanya sedang kecewa dan tidak untuk membenci"


Membaca pesan tersebut, hatiku remuk.. terbuat dari apa hatinya yang begitu tulus memaafkan dan merelakanku dengan ikhlas.


Aku yakin,, Agung sengaja memutus panggilan telepon bukan karena sinyal melainkan tengah menenangkan hatinya sendiri yang mungkin hancur berkeping-keping atas pengkhianatanku.


Karena hal ini, Aku jadi merasa menjadi manusia paling jahat sedunia.


Maafkan Aku Gung... Aku tau, begitu dalam luka yang sudah kugoreskan dihatimu, Aku juga tau, kata-kata maaf tak akan sanggup mengobatinya, bahkan meski dengan seribu maaf sekalipun.

__ADS_1


Aku cuma bisa mendoakan secepatnya cinta lain hadir dihidupmu, agar bisa menyembuhkan luka itu..


Bersambung***


__ADS_2