
Sampai dirumah Vina, langit sudah remang-remang, indah dengan warna jingganya membuat damai hatiku entahlah sejak Vina memutuskan untuk menerimaku sebagai kekasihnya, semua yang kulihat menjadi sangat indah.
Aku tak sabar untuk pulang kerumah menemui Mama dan segera mengabarkan berita penting ini padanya dan pada kedua saudaraku.
Aku yakin, Mama.. Mbak Echa dan Mas Irfan akan terkejut mendengar kabar ini dariku.
Bukankah ini yang mereka tunggu-tunggu selama ini, tak sabar untuk melihatku segera memiliki kekasih, dan segera menikah seperti yang waktu itu mereka bahas saat sebelum Aku memutuskan kembali ke Palembang mengajak Mama menetap disini.
Aku kembali mengingatnya, bagaimana mereka seperti tengah menyidangku malam itu...
"Umur kamu udah gak muda lagi Gung... kapan kamu mau membuka hati kamu untuk mengenal gadis diluar sana,,? dan mengenalkannya pada Mama sebagai calon istri?!"
Kalimat Mama membuka obrolan malam itu bersamaku, Mbak Echa dan Mas Irfan.
"Bagaimana Dia bisa membuka hatinya Ma,, jika hatinya saja masih berharap pada Vina,, cinta pertamanya itu"
Sambung Mas Irfan yang kebetulan sedang berlibur di rumah Mbak Echa.
Mama menarik Nafas dalam, lalu menatapku iba.
"Dek,, kamu boleh mencintai siapa saja,, dan itu gak salah... tapi kalau ternyata orang yang kamu cintai tak memiliki rasa apa-apa ya untuk apa? sama saja kamu membuang-buang waktu,, cinta gak bisa dipaksakan! dan Vina sama sekali tak memberikan harapan apa-apa pada kamu,,lupakan Dia,, biarlah persahabatan kalian seperti ini selamanya."
Mbak Echa menasehatiku.
"Iya Gung,, Mama setuju dengan apa yang dikatakan Mbakmu, Mama suka sama Vina,, dia anak baik, cantik.. terlebih lagi Tante Yuni itu sudah seperti keluarga kita,, tapi ya... kalau Vinanya gak suka sama kamu mau gimana?"
Jawab Mama lagi.
Aku masih terdiam, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada mereka mengapa sampai saat ini Aku masih menaruh harapan yang besar kepada Vina.
"Ayolah...Dek, sudahi impian kamu yang belum tentu jadi kenyataan itu,, keluar dari angan-angan... buka mata dan hati kamu... diluar sana banyak sekali gadis-gadis yang mungkin tertarik sama Kamu sementara kamu tak memberi mereka ruang untuk mengenalnya lebih dekat"
Mbak Echa kembali membujukku, dan Mama mengusap pundakku, sementara Mas Irfan hanya menatapku dari kursinya yang berada didepanku.
Satu persatu kutatap wajah mereka, lalu Aku menghela nafas.
"Agung tau, kalian mencemaskan Agung,, tapi.. ini tentang perasaan,, tak bisa berubah dengan cepat, secepat kita memutuskan sesuatu yang lain. Agung percaya... suatu saat, Vina akan membuka hatinya dan melihat bagaimana Agung selalu menunggu cinta darinya.. kalian percaya sama Agung.. dan doakan saja"
Aku beranjak dan meninggalkan mereka masuk kedalam kamar.
Aku tersenyum mengingat itu,,
"Ehm Sayang, Aku langsung pulang ya...."
Setengah berbisik Aku berpamitan pada Vina.
Mendengar Aku memanggil Vina dengan embel-embel sayang, membuat Tante Yuni sedikit kaget dan menatap Aku dan Vina bergantian dengan tatapan curiga.
"Ehm... ehm... meski bisik-bisik, tapi Mama bisa denger loh.... "
seloroh Tante Yuni, Aku tersenyum malu-malu sementara Vina menunduk.
"Ehm... gak mau duduk dulu?"
Tawar Vina padaku, tak lama setelah kedua orang tuanya Masuk kedalam.
__ADS_1
Sambil tersenyum, aku berbisik di telinganya,
"Tak sabar cerita sama Mama dan saudara-saudaraku tentang kabar gembira ini"
"Ya udah, Aku pamit ya... Ayang...heehhe, "
Godaku.
"Ihh.. apa sih,, lebay banget pake Ayang-ayangan"
Dengan pipi merona, Vina mencubit pinggangku.
"Ya udah, kalo gak suka Ayang, Bebeb aja, Ehm.. atau.. gimana kalo honey...???"
Aku terus menggoda Vina, kali ini dengan menaik turunkan alis mataku.
"hiaahhhh... makin alayyy,, honey bunny sweety..hahaahh!!!"
Vina tertawa.
"Mau??"
"Gak ahhhh... malu tau!!! kita bukan remaja lagi, udah tua!!"
cetusnya.
"Yaa..... dikatain dah tua!!"
"Katanya mau pulang, kok gak pulang-pulang?"
"Ngusir nich??"
"Ya enggak gitu, cuma kalo mau ngobrol lama mending masuk kan?"
kilahnya.
"Heheh,, okeh... Aku pulang dulu ya Sayang..., ya udah kamu masuk gih...!"
Mendengar itu, Vina berbalik bergegas untuk masuk ke dalam rumah.
"Tapi... Eeiittt,, tunggu dulu!!"
cegahku, menghentikan langkahnya sehingga membuat Vina kembali berbalik menghadapku lagi.
"Sini... sini!!"
Panggilku.
Vina melangkah pelan mendekatiku dengan raut bingung.
"Tadi nyuruh masuk, sekarang dipanggil lagi, kenapa?"
Tanyanya agak kesal.
"Sebentar aja kok, Aku masih mau mandang kamu bentar, buat cadangan kalo Aku rindu, anggap aja sekarang lagi charge biar full"
__ADS_1
Alasan yang kubuat-buat bikin Vina jadi tersenyum malu.
"Kamu makin kesini, makin alay!! dah kayak ABG!!"
Aku ikut tersenyum, lalu dengan lembut Aku menarik lengannya agar mendekat padaku lebih dekat lagi.
"Sebenarnya kamu tau gak, ini bukan Alay sayang..., ini adalah bentuk rasa cinta yang tulus yang sudah lama tersimpan, dan ketika cinta ini tercurah, sementara Aku tak tau bagaimana dan dengan bahasa serta cara seperti apa untuk membuat kamu faham bahwa betapa berartinya kamu untuk Aku,,"
Mendengar ucapanku, Vina terdiam,
"Maaf kalau cara ini terlihat norak, Aku bukan orang yang pandai dalam menciptakan bahasa dan kata yang romantis, tapi Aku tau bagaimana memperlakukan seseorang yang Aku sayang dengan manis"
Sambungku lagi
Kupandangi wajah anggun dihadapanku, kutatap matanya, hidung dan Bibir manis itu..
Kini tanganku menangkup kedua belah rahang Vina, matanya menatapku tak berkedip, bibirnya yang merah muda itu merekah indah, hatiku berdebar, begitupun dengan detak jantung yang iramanya kian cepat.
Wajahku mendekat, mendekat dan semakin mendekat, dan dalam hitungan detik kini bibir itu kembali menyatu.
Jika pada hari itu, Vina hanya diam ketika Bibirku mengecupnya, lalu kemudian dengan cepat mendorongku untuk menjauh, tidak kali ini..
Vina seolah membiarkan itu terjadi, bahkan mungkin sama sepertiku yang tengah merasakan sensasi luar biasa yang timbul didalam hati.
Setelah ******* demi ******* yang membuatku hampir kehabisan nafas, Aku melepaskan pagutan itu, terlihat Vina juga nampak tersengal.
"Ehm... Udah, buruan pulang.. ntar keburu magrib"
Ujarnya canggung, lalu menunduk malu.
"Hey...sayang, gak usah kikuk gitu dong, makin gemes tau gak!"
Kuangkat dagunya ke atas.
"Siapa yang kikuk?"
Balasnya, yang kini berani menatapku.
"Hehehe.... ya udah, kali ini beneran, masuk gih...Aku pulang ya..."
Pamitku, lalu berbalik meninggalkan Vina yang masih berdiri mematung menatapku masuk kedalam mobil.
Hatiku masih terasa berdenyut-denyut, kugigit bibirku sendiri merasakan kembali bekas bibir Vina yang seolah masih menempel disana.
Aku membuang nafas lega,, lalu membuka mataku lebar-lebar..
masih merasa tak percaya, bahwa mulai hari ini Statusku dan Vina yang semula hanya sahabat baik kini berganti pacar, bahkan tak lama lagi ia akan segera menjadi tunanganku.
Tuhan begitu baik,,
batinku.
Aku menambah kecepatan mobil, tak sabar sampai kerumah dan menemui Mama.
Bersambung***
__ADS_1