
Minggu depan Aku pulang,, tapi sikap Vina terhadapku semakin terasa asing, bahkan untuk membalas pesanku saja Dia tak menyempatkan waktunya,
Aku membuka ponselku untuk melihat pesan yang kukirimkan semalam,,
"Sudah centang biru, itu artinya Vina sudah membacanya tapi kenapa ia tak merespon"
ujarku pelan.
Rasa kesal dihati sedikit muncul, namun segera kutepis, Aku tak ingin rasa kesal ini perlahan berubah benci,, sungguh Aku tak ingin membenci Vina,, Aku sungguh menyayanginya.
Bergegas mandi dan bersiap berangkat ke kafe yang sekarang sudah mulai ramai, dan stabil, para karyawan juga sepertinya sudah mulai mandiri dan bisa dilepas.
Aku berniat untuk pulang lebih cepat, Aku tak tahan lagi ingin segera menatap wajah Vina secara langsung.
Jarum jam terus berputar, hingga jam makan siang Vina tak ada kabar, rasa tak tahan lagi,, Aku akhirnya menelponnya,,
Hasilnya nihil, nomor Vina tidak bisa dihubungi, bahkan kucoba berulang setiap setengah jam sekali,, hasilnya tetap berada diluar jangkauan.
Hatiku cemas, takut dan benar-benar kacau.
Apa yang sebenarnya terjadi...?
Kemana Vina?
Dengan siapa Dia saat ini..?
Pertanyaan yang sama terus berputar-putar di kepalaku,
Pesan-pesan pada nya terus kukirim setiap kali Aku menelpon dan nomornya tak bisa dihubungi.
Hingga sore hari,
💌
*Vina, kamu sudah sampai rumah? istirahat ya sayang*
*Vin, kok gak bales,,, kan Aku bilang tidak akan menelpon bukan berarti kita tidak boleh berbalas pesan,, jadi balas ya sayang....*
*Vin, kamu kenapa? dimana?? Kamu baik-baik sajakan? tiba-tiba perasaanku jadi gak enak*
*Duh, Vin tolong jangan bikin aku cemas,, maaf Aku telpon,, Aku jadi gak tenang sekarang*
*Ya Allah Vin, kamu sebenarnya kemana sih,, lagi apa? kenapa gak ada kabar?*
Vina sama sekali tak membalas pesanku, dan sampai saat ini ponselnya tetap tak bisa dihubungi.
Malam hari,
*Vin, sampai malam pun kamu masih belum ada kabar, sebenarnya kamu kenapa sih sayang, Aku telepon Mama kamu juga gak bisa masuk*
*Aku berharap, kamu baik-baik saja sayang... segera hubungi Aku ketika kamu sudah membaca semua pesan-pesanku*
Tak ada satupun balasan dari Vina, kecewa dan sakit hati rasanya, tapi bagaimana jika ternyata sudah terjadi apa-apa pada Vina?, tapi... kalau itu yang terjadi tak mungkin Mama tak mengabariku,
Huffth.... Aku membuang nafas sembari memainkan ponsel ditangan.
Tak lama,,
*Maafkan Aku ya Gung, tadi Aku gak pegang hape dan Aku ketiduran, Aku baik-baik saja.. sampai ketemu dihari minggu*
Dari sekian banyak pesan yang kukirim,, hanya seperti ini balasan Vina,, lagi-lagi kucoba memahami.
Aku tak membalasnya, kubiarkan saja.. lagian Vina mungkin juga tak mengharap balasanku.
Beranjak tidur dan melupakan semua problematika tentang Vina,
__ADS_1
Pagi minggu,
Aku yang sedang lari pagi, sulit sekali rasanya untuk berkonsentrasi, bayangan Vina selalu turut serta, kemanapun Aku melangkah.
Hingga kuputuskan untuk video call.
Dan Aku merasa beruntung sekali, panggilanku segera diangkat Vina.
"Halooo sayang.... baru bangun ya....?"
Sapaku yang sedang berolah raga.
"Iya,, ehh... kok nelpon?? vidio call lagi?? Katanya gak mau menghubungi Aku sampai minggu??"
Vina menjawab santai seolah tidak terjadi apa-apa,, tak sadarkah Dia sudah membuat hatiku porak poranda dengan sikapnya.
"Maunya sih gitu,, tapi gara-gara kamu menghilang gak ada kabar,, Akunya jadi cemas, ehm... kamu baik-baik sajakan... tapi kok... kayaknya mata kamu sembab sayang?? kamu nangis??"
Tanyaku yang sejak awal memang sudah memperhatikan mata sembab Vina,
"Ya wajar donk, kan baru bangun tidur, belum mandi,, belum dandan... itu kamu lagi ngapain kok pagi-pagi dah di luar aja??"
Jawab Vina.
"Oh,, gitu... Ehm... ini Aku habis lari pagi... ya udah,, kamu mandi gih... Aku mau lanjut olah raga,, Btw... hari ini ada rencana apa??"
Tanyaku lagi,
"Ehm... ada acara kantor, mungkin pulangnya malem, jadi maaf ya kalau nanti Aku susah dihubungi.."
Jawaban Vina membuatku kembali menelan ludah, itu artinya hari ini akan sama dengan kemarin-kemarin, Aku semakin ngerasa Vina sengaja menjauh,
"Oke sip.... hati-hati ya... sayang..."
Jawabku dengan memasang wajah seceria mungkin, meski hatiku hanya Aku dan Tuhan sajalah yang tau.
"Bye sayang"
Vina mematikan ponselnya.
......................
Hari ini semua urusanku sudah selesai, dan Kafe juga sudah bisa kutinggal, hal itu membuat Aku memutuskan untuk kembali besok.
Berniat memberi kabar gembira pada vina.
Aku Video Call,
"Halo Gung..."
"Halo sayang..... dah bangun yaaa,,???"
"Eh hem.... kok senyum-senyum gitu???''
"Kamu cantik banget polosan gini... suka dehh"
"Gombal terus..., Aku belum mandi,, kamu yang tumben nelpon subuh gini?"
Vina mengalihkan kameranya tidak mengarah padanya.
"Iya itu tadi yang aku bilang,, kamu itu makin belum mandi makin cantik,, Aku nelpon kamu subuh gini karena gak sabar nunggu siang,, kebelet rindu"
"Hem.... kabar kamu gimana?"
"Aku sedang tidak baik-baik saja,"
__ADS_1
"Kenapa? kamu sakit??"
"Iya, sakit karena menahan rindu... tapi Aku ada kejutan buat kamu sayang...."
"Kejutan apa?"
"Ehmmm.... kasih tau gak yaaaaaa??"
"Apaan? ih... males ah!"
"Oke... oke,, jadi... besok... Aku pulaaaaanggg!!!!"
pekikku pada Vina, berharap mendapat sambutan manis dari Vina,
Ternyata itu sama sekali tak terjadi, yang ada hanya hening...
"Sayang..... halo,, sayang... kamu masih dengar Aku kan?? halooo...Vina!!"
beberapa kali Aku memanggil-manggil namanya,
"Vina.... sayang... kamu gak kenapa-napakan??"
"Ehm... Iya,, aku denger"
Jawabnya setelah beberapa saat terdiam.
"Ya Tuhan,, Vina... dari mana aja??"
"Maaf... maaf,, Aku ketiduran, apa... apa... kamu bilang apa tadi??
"Astaga!!! kok bisa?? kamu ngantuk? begadang ya?? hati-hati lohh,, mending tidur dulu bentar ya,, Aku khawatir kamu berangkat kerja ntar malah ketiduran lagi nyetir,, bahaya sayang... besok Aku pulang"
Dengan perasaan campur aduk, Aku kembali mengutarakan niat kepulanganku besok.
"Ah,, gak papa,, ni udah segeran,, kok kamu dadakan pulangnya??
"Oh,, gitu,, Ehm... ya... karena Aku pengen cepet-cepet ketemu sama calon tunangan Aku,,oh ya, kamu cuti mulai kapan sayang??"
Pertanyaanku kembali membuat Vina seperti terkesiap.
"Ehm... Ehmmm... kamis,,"
jawab Vina.
"Wah bisa pas donk,, kalau gitu.. ntar Kamu jemput Aku di bandara ya sayang.... Aku berangkat sore."
"Eh... Iya.. "
"Ya udah,, Aku tutup teleponnya ya... Aku mau mandi dulu.."
Terkesan buru-buru Vina segera mematikan sambungan Video call.
"Oke!"
Jawabku yang masih memikirkan perubahan sikap Vina bicara terbata dan selalu nampak gugup, seolah ada rahasia yang sedang ia simpan.
Aku berharap ini hanyalah pemikiran seorang yang tersiksa rindu,
Aku tak ingin berpikir yang tidak-tidak tentang Vina, Aku tau Vina gadis baik,, dia tak akan mengkhianatiku.
Bukankah Dia sendiri yang memutuskan menerimaku menjadi kekasihnya.
Vina.... I Miss u
Aku mengecup layar ponselku yang terpampang wajah Vina.
__ADS_1
Bersambung***