Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 141 Buka hatimu untukku


__ADS_3

Cukup lama Vina berada dalam dekapanku, menangis melepaskan semua rasa sakit yang ia rasakan sementara Aku tak tau apa penyebab sakit itu, yang Aku tau ini semua bermula dari Cerita Nina tentang Dirgantara yang ia temui di Baby shop.


Perlahan kurasakan Vina melepaskan pelukannya dan kembali ke posisi duduk semula.


Vina menyeka mata dan wajahnya.


"Sini..."


Aku memberi isyarat agar Vina mendekat, kemudian kuusap pipinya dengan lembut.


"Masih cantik kok..."


Hiburku membuat Vina tersenyum.


"Gimana? udah mendingan??


Tanyaku, melihat Vina sudah bisa tersenyum meski sesaat.


Vina mengangguk,


sambil tersenyum, kutepuk bahuku agar Vina bersandar.


Vina menyandarkan kepalanya di bahuku, kemudian Aku kembali mengusap-usap kepalanya.


"Belum mau cerita??"


pancingku


Vina menggeleng,


"Oke,, Aku siap nunggu sampe kamu siap.


Jawabku kemudian mengecup pucuk kepalanya.


Jarum jam terus berputar, Vina kurasakan mulai nyaman, sesekali ia mendongakkan kepala menatapku tersenyum, dan kuhadiahi dengan kecupan hangat dikeningnya.


Tanganku meraih jemarinya dan menggenggamnya erat.


2 jam berlalu,


Aku menggandeng tangan Vina keluar dari pintu teater bioskop.


Sesampainya di muka pintu,


"Ehm... Aku ke toilet bentar ya..."


Pamit Vina padaku.


"Iya, Aku tunggu disini"


jawabku.


Kutatap perempuan manis itu, berjalan meninggalkanku menuju toilet.


Mungkinkah suatu saat Dia bisa menjadi milikku utuh?


Tuhan, Aku mencintainya sangat mencintainya,, namun Dia mencintai orang lain yang Dia sendiri tak pernah tau bagaimana perasaan orang tersebut?


Salahkah Aku dengan perjuanganku ini Tuhan??


Salahkah jika bertahun-tahun Aku masih bertahan dengan harapan ini?

__ADS_1


Aku bersandar pada kursi tepat didepan pintu teater.


Menghela nafas dan mengatur perasaan yang berkecamuk dalam relung hati.


Tak lama, kulihat Vina keluar dari toilet wajahnya tampak segar tak lagi berantakan, sisa-sisa air mata sudah tak terlihat di sudut-sudut matanya.


Kusambut kedatangannya dengan senyum hangat lalu ia membalas pula dengan senyum yang tak kalah hangat.


"Udah segar, gak sedih lagi donk.... kita mau kemana sekarang?"


Tanyaku, tak lupa kembali melekatkan jemari untuk menggenggam tangannya.


Vina mengangkat bahu,


Menghabiskan siang dengan berkeliling di seputaran Mall menunggu jam makan siang adalah pilihan kami.


Namun langkah Vina terhenti, membuatku bingung dan menatap wajahnya yang tiba-tiba berubah tegang dan pucat pasih.


Belum sempat Aku bertanya apa apa, Vina sudah lebih dulu mengucapkan nama itu pelan,


"Dirga....."


Ujarnya lirih.


Hatiku berdetak mendengarnya.


"Kenapa Vin??"


Tanyaku, memperhatikan Vina yang kini mematung dengan mata tak berkedip.


Aku mencoba mengikuti arah pandangan Vina.


Batinku ketika melihat sosok laki-laki yang sejak dulu telah mengambil hati Vina hingga tak menyisakan sedikit saja ruang dihati Vina untukku,,


Namun, ada tanda tanya besar dalam hatiku, melihatnya hari ini, dengan wanita muda disampingnya dan seorang bayi.


Mungkinkah ini penyebab yang membuat Vina menangis sejak tadi?


Benarkah pemandangan yang kulihat ini?


Aku mendekat pada Vina dan merangkul pundaknya.


Sementara Dirga yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan juga nampak terkejut melihat kami, wajahnya tak kalah tegang langkahnya juga terhenti, dengan pandangan mata tak berkedip.


Kubiarkan mereka terjebak saling pandang, menumpahkan segala kerinduan yang mungkin saat ini tengah mereka rasakan,


Merasa tatapan itu perlahan berubah menjadi luka, dan bias-bias air mata mulai nampak di pelupuk mata Vina, Aku memutuskan mengajak Vina pergi dari situasi yang sudah tidak nyaman untuk hatinya.


"Vin..."


Kugandeng tangan Vina lalu mengangguk, memberi isyarat untuk pergi kemudian menarik lembut tangannya untuk meninggalkan pemandangan yang menyakitkan hatinya.


Vina mengikuti langkahku, untuk meninggalkan Dirga dan tatapan sendunya.


Namun baru beberapa langkah saja, Vina berhenti melangkah dan kembali menoleh kearah Dirga, sementara Dirga masih menatapnya.


Menyadari Dirga masih memperhatikannya, Vina memalingkan wajahnya dan melanjutkan melangkah bersamaku.


Aku tak tau, apakah Aku harus sedih melihat Vina patah hati seperti ini,, atau sebaliknya bahagia karena itu artinya Vina menyadari bahwa perasaan cintanya selama ini sia-sia dan perlahan akan melupakan Dirga dan menghapusnya dari dalam hati, dengan begitu, Aku akan ada kesempatan untuk masuk dan mendapatkan balasan perasaan dari Vina.


Aku menghembuskan nafas, mencoba menepis perasaan yang baru saja muncul.

__ADS_1


Aku mengajak Vina masuk disalah satu tempat makan siap saji,


Setelah memesan makanan, Aku duduk berhadapan dengan Vina, sembari mengaduk Minuman didepanku dengan sedotan.


Aku terus menatapnya, mencoba menyelami luka yang ada disana.


"Kenapa sih, ngeliatinnya gitu banget?"


Tanyanya yang jadi salah tingkah karena tatapanku.


"Kamu sedih ya?? atau mungkin kaget lihat Dirgantara tadi?"


Tanyaku.


"Ehm... enggak kok, bahkan Aku sudah tau itu sejak pagi tadi dari Nina"


Jawab Vina.


"Oh... jadi ini yang buat kamu nangis tadi?"


Kuhisap minuman didepanku, setelah mendengar jawaban itu.


Ternyata, tebakanku benar.


"He..em.. jadi Nina tadi cerita, katanya beberapa hari yang lalu Nina ketemu Dirga dan keluarganya di Baby shop, Aku cuma gak nyangka aja, orang yang selama ini Aku tunggu sudah bahagia menikah dan memiliki anak"


Tutur Vina, membuat Aku sedikit lega, entahlah mengapa seperti terlepas dari beban berat ketika mendengar Vina mengutarakan itu, mungkinkah ini awal dari kebahagiaanku untuk bisa menjalani hari-hari bersama Vina tanpa bayang-bayang dirga lagi?


"Jadi sekarang kamu udah bisa terima kenyataan?"


Pertanyaan sensitif itu meluncur bebas, dan Aku menjadi semakin bersemangat ketika melihat Vina mengangguk mantap.


"Lalu,,, apa Aku ada kesempatan untuk masuk di hatimu menggantikan Dirgantara?"


Tanpa membuang waktu, dengan cepat kulanjutkan pertanyaan berat ini pada Vina,,


Namun sayang, Vina tak berani menjawab, Dia menunduk dan diam seribu bahasa.


Itu membuatku kembali gundah,


Begitu sulitkah untuk Vina membuka hatinya buatku?


Setidak berarti itukah Aku di bandingkan dengan Dirga, hingga Vina tetap tak bisa melihat ketulusanku meski kini Dia tak lagi berharap pada Dirga.


Ya Tuhan... tenangkan hatiku, sabarkan Aku sekali lagi.


Aku menghela nafas, lalu kembali menatap Mata yang kini kembali menatapku.


"Vin, Aku serius... "


Kuraih tangannya dan mengusapnya pelan, namun Vina menarik lengannya dari tanganku, membuat hatiku terasa perih, terlebih ketika Vina menjauhkan tubuhnya dari meja merubah posisi duduknya yang kini bersandar tegap.


"Kenapa Vin? keraguan apa yang kamu rasakan? sesulit itukah memberi Aku ruang dihati kamu? atau, Aku masih harus berjuang untuk bisa meluluhkan hati kamu? Jika iya... Aku tak keberatan melakukannya untuk kamu, tapi setidaknya berikan Aku gambaran batas waktu, sampai kapan??


Bukannya Aku lelah, tapi setidaknya itu akan menjadi semangat untuk Aku,"


Dengan hati yang tak karuan, kulepaskan semua rasa beban dihatiku lewat pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kusimpan dalam hatiku.


Perih yang kurasakan saat ini membuat kepalaku mendadak terasa berat, dengan mata yang mulai terasa panas, Aku menelan ludah dan mendongakkan kepala, menahan jangan sampai air mataku kembali lepas kontrol didepan Vina.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2