
Ujian selesai,
Libur satu minggu sebelum pembagian rapot. Rasa rindu akan Si gadis manis membuatku merasa menyesal mendiamkan Dia di pertemuan terakhir sebelum libur kemarin,,
rasa takut akan dijauhi Vina membuatku semakin gelisah,tak sabar ingin kembali masuk sekolah dan berjumpa, andai saja Aku diciptakan memiliki sayap, mungkin saja saat ini Aku sudah terbang menemuinya dan berkata Aku rindu.
Rasa sepi dirumah membuatku memutuskan untuk menemui Salsa dan mengajaknya main kerumah Paman Usman, mungkin saja disana Aku bisa sejenak tidak memikirkan rindu yang menyebalkan ini.
"Ca,, kerumah Cia yuk...."
ajakku begitu tiba di depan kamar Salsa.
"Ayuk,, Aku juga lagi males gak ngapa-ngapain"
Beranjak dari tempat tidurnya, Salsa segera menarik lenganku sembari berlari.
Sampai di rumah Paman Usman,
"Cia... Bella...."
Kebiasaan buruk Caca ketika sampai di rumah Paman Usman adalah berteriak memanggil Cia dan Bella, meski hal ini selalu kuingatkan berkali-kali,, namun Caca tetap saja mengulangi.
"Hemm... selalu!! bisa gak Sih Ca,, kasih salam dulu kalau masuk,, jangan teriak-teriak!! nyelonong gini! gak sopan!!"
ocehku pada Caca yang dibalas cengiran di wajah manis Caca.
"Haiii.... baru aja kami mau nelpon nyuruh kalian datang,, ternyata kita memang satu hati"
Tak membuang waktu, kami segera menyibukkan diri dengan segudang aktifitas, yang bisa membuat kami menghilangkan kejenuhan selama libur sebelum pembagian raport.
Hampir senja,
Aku dan Caca memutuskan untuk pulang,
namun tiba-tiba Aku teringat pesan dari wali kelas, bahwa penerimaan rapot kenaikan kelas ini, harus diambil oleh wali murid.
Sementara Aku faham, kedua orang tuaku pasti tak memiliki waktu untuk itu.
Sejenak Aku murung.
"Abi,, kok melamun... kenapa?"
Tanyanya sembari menggoyangkan bahuku.
"Ehm... Aku lagi bingung"
Jawabku masih setengah menunduk.
__ADS_1
"Bingung kenapa?"
Jawab Cia, Bella dan Caca kompak.
"Pembagian rapot nanti,, harus bawa orangtua, sementara kalian tau kan orang tuaku tak mungkin punya waktu.
Mereka bertiga terdiam,
"Jangan bingung Abi,, Bibi yang akan ambilkan rapot kamu, nanti Bella sama Cia biar Pamanmu yang ambil"
Sela Bi Umi yang tiba-tiba muncul mendekati kami.
Segera kutatap wajah Bi Umi.
"Beneran Bi?"
Ucapku tak percaya, Bi Umi menanggapinya dengn anggukan serta senyuman.
Aku segera berlari menghampirinya dan memeluknya.
Sebuah pelukan hangat dari seorang Anak yang merindukan kasih sayang dari orang tua.
Semua tersenyum bahagia.
Hari pembagian rapot tiba,
*Anakku Abi,, Selamat sarapan,, lagi dan lagi Kami belum bisa menemani..
Ayah dan Ibuk Tau,, hari ini hari pembagian hasil belajar kamu,, kami percaya hasilnya akan sangat baik,, sebab kami yakin.. kamu anak yang pandai*
Aku kembali melipat kertas pesan tersebut sembari menghela nafas.
Bi Umi yang tengah menemaniku duduk di meja makan, menepuk pundakku lembut.
"Sabar ya Bi, semua demi masa depan kamu"
Aku menatap Bi Umi, dan mencoba tersenyum padahal dalam hati ingin rasanya menangisi rindu ini.
"Ayo habiskan sarapanmu cepat, nnti kita terlambat"
Ujar Bi Umi.
Selesai sarapan, dengan sepeda motor miliknya Aku dan Bi Umi berangkat menuju sekolah.
Sampai di sekolah, segera kami menuju gedung aula, dari kejauhan nampak Vina yang sedang bersiri berkali-kali merapikan rambutnya.
Dia terlihat sangat cantik, ingin sekali Aku berlari menghampirinya,, tapi Aku malu, ditambah lagi sekarang Aku sedang bersama Bi Umi.
__ADS_1
Aku memilih menahan diri... dan berharap Aku bisa menyapanya ketika berpapasan nanti, namun apa yang terjadi denganku...
saat melintasi Vina, lidahku terasa sangat kelu, mulutku kaku untuk sekedar memberinya senyuman, jantungku berdebar kencang, hatiku tak karuan.
Ya Tuhan... Ada apa ini?!
Aku mendadak seperti orang bodoh yang sedang terhipnotis oleh pesona Vina,, padahal Aku sudah satu tahun mengenalnya kenapa masih saja canggung dan memalukan seperti ini.
Segera Kucari tempat duduk yang masih kosong, buru-buru kujatuhkan tubuhku di kursi sebelum diri ini jatuh pingsan.
Acara berlangsung,
Dimulai dengan kata sambutan kepala sekolah sampai pada akhir nya membacakan urutan prestasi perkelas mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 3.
"3 peringkat dari kelas 1.1 diraih oleh.....
peringkat 3 Ayunda Adisti..peringkat ke 2 Anisa Harahap..peringkat pertama Diraih juara bertahan Ervina....."
Aku tersenyum bangga ketika mendengar nama Vina disebut, menjadi juara bertahan tahun ini.
Tepuk tangan mengiringi langkah kaki Vina
naik ke atas Panggung bergabung dengan nama-nama yang lebih dulu di panggil.
Bahkan ia tak hanya menjadi peringkat pertama di kelas,,Vina juga menjadi juara umum sekolah.
Sungguh prestasi luar biasa, Aku semakin terpesona dan jatuh cinta.
Sejenak Aku berpikir, tak mungkin sanggup Aku mengucapkan selamat kepadanya secara langsung,, Aku pasti akan gugup dan malu-maluin.
Aku memutuskan untuk mengucapkan selamat lewat sepotong surat pendek.
mengeluarkan buku dari dalam dan mulai menulis.
Setelah penyerahan hasil raport beserta piagam prestasi,, Vina berlari turun dari panggung dengan senyum dan binar mata indahnya.
Pembawa acara melanjut kan membacakan peringkat 4 hingga 10 besar perkelas.
Dan Aku sangat bersyukur, ketika Aku masuk dalam nama yang disebutkan di 5 besar.
Saat acara hampir selesai,
Aku berpura-pura ingin ketoilet dan meminta izin pada Bi umi.
Berjalan pelan mendekati Vina, dengan cepat kulemparkan surat yang baru saja kubuat dan kuremas hingga bulat sempurna
Vina nampak tersentak kaget, semwntara Aku terus berjalan meninggalkannya tanpa menoleh,, Aku cuma berharap Vina akan memungut bola kertas itu dan membacanya.
__ADS_1
Bersambung***